Namaku Ratih, 28 tahun. Sudah empat tahun menikah dengan Andi, suamiku yang baik, bertanggung jawab, dan bekerja sebagai supervisor di pabrik otomotif. Kami tinggal di rumah ayahku, Pak Hadi (54 tahun), karena rumah kami sendiri masih dalam proses cicilan yang panjang. Ayah adalah duda sejak ibuku meninggal delapan tahun lalu. Beliau orangnya tenang, sabar, dan selalu penuh perhatian terhadapku.Sejak kecil aku sangat dekat dengan ayah. Beliau yang membesarkanku sendirian setelah ibu tiada. Setelah menikah, kedekatan itu tetap ada — malah semakin terasa. Andi sering lembur atau dinas ke luar kota, jadi hampir setiap malam hanya aku dan ayah di rumah besar itu.Awalnya semua terasa normal. Ayah sering memasak untukku, menanyakan kabar kerjaanku, bahkan kadang memijat pundakku saat aku pulang capek. Tapi belakangan ini, aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang membuat aku gelisah, malu, dan semakin sulit tidur setiap malam.Semuanya bermula dari pisang Ambon ayahku.Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai memperhatikannya. Mungkin sejak aku sering melihat ayah keluar dari kamar mandi hanya memakai sarung yang longgar setelah mandi malam. Atau saat ayah jongkok memperbaiki keran di dapur, sarungnya naik sedikit dan aku melihat kontolnya yang besar, tebal, dan berat menggantung di antara paha yang kekar. Bentuknya persis seperti pisang Ambon yang matang — panjang, agak melengkung ke bawah, kepala bulat mengkilap, dan urat-urat tebal yang terlihat jelas.Setiap kali melihatnya, memekku langsung basah. Aku merasa kotor, berdosa, dan hina. Dia ayahku sendiri. Orang yang membesarkanku, yang memberi aku makan, yang mengantar aku ke sekolah dulu. Tapi nafsu itu semakin kuat setiap hari.Aku sering colmek di kamar mandi sambil membayangkan pisang Ambon itu masuk ke dalam tubuhku. Aku menangis setelah orgasme karena merasa sangat bersalah, tapi besoknya godaan itu datang lagi.Pagi itu, seperti biasa, ayah keluar dari kamar mandi hanya memakai sarung. Aku sedang menyiapkan sarapan di dapur. Saat ayah lewat di belakangku, sarungnya sedikit tersingkap. Pisang Ambon itu menggantung berat, kepalanya terlihat jelas. Aku langsung basah. Paha ku saling gesek di bawah meja makan, berusaha menahan diri.Andi duduk di meja makan, sibuk dengan ponselnya. Ayah duduk di seberangku. Matanya sebentar menatap mataku, lalu turun ke dada aku yang naik-turun karena napas yang mulai tidak teratur.“Ratih, kamu baik-baik saja?” tanya ayah dengan suara lembut seperti biasa.Aku tersenyum gugup. “Iya, Yah… cuma… agak capek.”Sepanjang sarapan, aku tidak bisa berhenti mencuri pandang ke pangkuan ayah. Sarungnya agak longgar, dan aku bisa melihat bentuk pisang Ambon itu yang sudah setengah tegang. Aku merasa sangat kotor. Aku istri Andi, tapi aku tergoda dengan ayahku sendiri.Siang harinya, Andi pergi ke pabrik. Rumah hanya aku dan ayah. Aku sedang membersihkan ruang tamu ketika ayah keluar dari kamarnya. Sarungnya longgar seperti biasa. Saat ayah membantu aku mengangkat vas bunga yang berat, tubuh kami bersentuhan. Pisang Ambon ayah menyenggol pinggulku sebentar.Aku langsung basah. Aku mundur cepat, tapi ayah melihat reaksiku.“Ratih… ada apa?” tanyanya pelan.Aku menggeleng cepat. “Tidak ada apa-apa, Yah.”Tapi malam harinya, godaan itu semakin kuat. Andi sudah tidur lelap di kamar. Aku tidak bisa tidur. Aku bangun pelan-pelan, keluar kamar, dan berjalan ke dapur untuk minum air. Lampu dapur menyala redup. Ayah ternyata sudah di sana, duduk di kursi makan sambil minum kopi hitam.“Belum tidur, Ratih?” tanyanya pelan.Aku menggeleng. Aku mengambil gelas, berdiri di depan kulkas. Saat aku membungkuk mengambil air dingin, daster tipisku naik. Aku sengaja membiarkannya naik lebih tinggi dari biasanya.Ayah diam. Tapi aku tahu dia melihat. Aku berbalik, dan melihat sarung ayah sudah agak naik. Pisang Ambon itu mulai mengeras, menonjol jelas di balik kain sarung.Aku mendekat pelan. “Yah… aku gak bisa tidur.”Ayah menatapku dalam. “Kenapa, Nak?”Aku berdiri tepat di depannya. Tanganku gemetar saat aku mengangkat dasterku pelan sampai pinggang. Celana dalamku sudah basah.“Aku… tergoda sama pisang Ambon Ayah,” bisikku dengan suara bergetar. “Setiap hari aku lihat… setiap malam aku bayangin… aku gak tahan lagi, Yah.”Ayah diam cukup lama. Wajahnya tegang, tapi kontolnya semakin keras di balik sarung.“Ratih… ini salah besar. Aku ayahmu. Kamu istri Andi,” katanya dengan suara berat, tapi matanya tidak bisa lepas dari memekku yang sudah basah.“Aku tahu, Yah… tapi aku sudah gila. Aku mau pisang Ambon Ayah… meskipun Andi ada di rumah.”Ayah menutup mata sebentar, seperti sedang berperang dengan dirinya sendiri. Lalu dia bangun, tarik aku ke pelukannya. Ciumannya langsung ganas, penuh nafsu yang sudah lama tertahan. Tangannya meremas payudaraku kasar tapi penuh hasrat.“Kamu memang nakal sekali, Ratih,” bisiknya di telingaku. “Ayah sudah lama menahan diri melihat kamu setiap hari.”Dia angkat dasterku sampai leher, hisap putingku dengan rakus. Aku mendesah pelan, berusaha menahan suara supaya Andi tidak bangun di kamar.“Ahh… Yah… hisap lebih kuat… hhh… gigit putingku… ahhh… aku sudah basah dari tadi…”Ayah duduk kembali di kursi, tarik aku ke pangkuannya. Dia geser sarungnya. Pisang Ambon itu loncat keluar — besar, tebal, urat menonjol, kepala merah mengkilap. Aku pegang dengan tangan gemetar, lalu duduk perlahan di atasnya.“Ahhh… Yah… gede banget… hhh… pelan dulu… penuh sekali… nyentuh rahimku…”Aku goyang pinggul pelan di pangkuan ayah, naik-turun dengan hati-hati supaya kursi tidak berisik. Ayah meremas payudaraku, hisap putingku bergantian sambil mendesah pelan.“Memek anak Ayah enak sekali… nyedot pisang Ambon Ayah kuat… kamu memang sudah lama menginginkan ini ya, Ratih?”“Iya Yah… ahhh… setiap hari aku lihat pisang Ambon Ayah… aku basah… hhh… sodok lebih dalam… pelan saja… jangan sampai Andi bangun…”Kami bercinta di kursi makan dengan gerakan pelan tapi dalam. Aku orgasme pertama dengan tubuh gemetar hebat, memekku berdenyut kuat di kontol ayah. Ayah menahan desahannya, lalu keluar di dalamku dengan cairan hangat yang banyak memenuhi rahimku.Kami diam sebentar, masih saling peluk. Ayah mencium keningku.“Besok malam lagi ya, Nak. Ayah sudah tidak bisa menahan godaan kamu lagi.”Aku mengangguk, masih terengah-engah. “Iya, Yah… aku juga… aku sudah ketagihan pisang Ambon Ayah.”Keesokan harinya, godaan itu semakin berani. Saat Andi mandi pagi, ayah memeluk aku dari belakang di dapur. Kontolnya yang sudah setengah tegang menekan pantatku.“Yah… Andi masih mandi…” bisikku gemetar.“Tapi pisang Ambon Ayah sudah bangun karena lihat kamu,” balasnya sambil menggesek pelan.Aku menggigit bibir, berusaha menahan desahan. Tangan ayah masuk ke dalam dasterku, meremas payudaraku pelan.Malam harinya, Andi sudah tidur lelap di kamar. Aku dan ayah duduk di ruang keluarga menonton TV. Ayah tiba-tiba tarik aku ke pangkuannya. Sarungnya sudah terbuka, pisang Ambon-nya sudah keras.“Yah… Andi di kamar…” bisikku sambil gemetar.“Tapi Ayah sudah tidak tahan lagi melihat kamu setiap hari,” balasnya sambil memasukkan kontolnya pelan ke memekku.Aku goyang pinggul pelan di pangkuan ayah, berusaha tidak berisik. Kami bercinta pelan-pelan di sofa ruang keluarga sementara suamiku tidur di kamar. Aku orgasme dua kali dengan tubuh gemetar, menahan desahan di bahu ayah. Ayah keluar di dalamku dengan desahan pelan yang tertahan.Semakin hari, aku semakin sulit menolak. Setiap kali melihat ayah keluar kamar mandi dengan sarung longgar, pisang Ambon itu menggantung berat, aku langsung basah. Aku sering colmek di kamar mandi sambil membayangkannya, lalu keluar dengan rasa bersalah yang sangat dalam.Suatu malam, Andi tidur lebih awal karena capek kerja. Aku pura-pura ke dapur untuk minum air. Ayah sudah menunggu di sana. Kali ini beliau langsung angkat dasterku, geser celana dalamku, dan sodok dari belakang sambil berdiri.“Ahhh… Yah… pelan… hhh… gede… jangan keras-keras… Andi di kamar…”Ayah gerak pelan tapi dalam, tangannya menutup mulutku pelan supaya desahanku tidak kedengaran. “Memek kamu semakin enak setiap hari, Ratih… Ayah sudah gila karena godaan kamu…”Aku orgasme dengan tubuh gemetar, cairanku netes ke lantai dapur. Ayah keluar di dalamku sebentar kemudian.Keesokan harinya, godaan itu semakin berani. Saat Andi mandi pagi, ayah memeluk aku dari belakang di dapur, kontolnya sudah keras menekan pantatku. Aku berusaha menolak, “Yah… Andi masih di rumah…” tapi ayah tetap gesek pelan sambil bisik, “Cuma sebentar, Nak… Ayah cuma mau rasain memek kamu sebentar.”Aku akhirnya menyerah. Aku membungkuk di meja dapur, ayah sodok pelan dari belakang sambil Andi masih mandi di kamar mandi. Aku orgasme dengan cepat, menahan desahan di lengan ayah.Semakin hari, aku semakin sulit menolak. Aku masih berusaha menolak di dalam hati, tapi tubuhku sudah tidak bisa bohong lagi. Setiap kali ayah memeluk aku dari belakang saat aku mencuci piring, setiap kali pisang Ambon ayah menyenggol pantatku, aku langsung basah.Suatu malam, Andi tidur lelap setelah makan malam. Aku dan ayah duduk di ruang keluarga. Ayah tiba-tiba tarik aku ke pangkuannya. Sarungnya sudah terbuka. Pisang Ambon itu sudah keras.“Yah… Andi di kamar…” bisikku sambil gemetar.“Tapi Ayah sudah tidak tahan lagi,” balasnya sambil memasukkan kontolnya pelan ke memekku.Aku goyang pinggul pelan di pangkuan ayah, berusaha tidak berisik. Kami bercinta pelan-pelan di sofa ruang keluarga sementara suamiku tidur di kamar. Aku orgasme dua kali dengan tubuh gemetar, menahan desahan di bahu ayah. Ayah keluar di dalamku dengan desahan pelan yang tertahan.Setelah itu, hubungan kami semakin sering terjadi meskipun Andi ada di rumah. Kadang ayah memeluk aku dari belakang saat aku mencuci piring, kontolnya menekan pantatku. Kadang aku sengaja membungkuk di depannya saat mengambil barang di lemari bawah, supaya dia melihat memekku yang sudah basah. Kadang kami melakukannya cepat di dapur, di garasi, atau bahkan di kamar mandi saat Andi tidur lelap.Setiap kali pisang Ambon ayahku masuk ke dalam tubuhku, aku selalu merasa penuh dosa sekaligus kenikmatan yang luar biasa. Aku tahu ini salah. Aku tahu aku sudah mengkhianati suamiku dengan ayahku sendiri.Tapi setiap kali melihat pisang Ambon ayahku yang besar, tebal, dan berat, semua penolakan itu lenyap. Aku sudah tidak bisa lepas lagi dari godaan itu.Aku adalah istri Andi di depan umum.
Tapi di balik pintu rumah ini, aku adalah perempuan yang ketagihan pisang Ambon ayahku sendiri.Dan godaan itu… semakin hari semakin kuat, semakin dalam, dan semakin sulit untuk ditolak.Aku sering menangis sendirian di kamar mandi setelah bercinta dengan ayah. Aku merasa kotor, hina, dan berdosa. Tapi setiap kali ayah memeluk aku dari belakang dan pisang Ambon-nya menekan pantatku, semua penyesalan itu hilang diganti nafsu yang membara.Suatu malam, Andi tidur di kamar. Aku dan ayah sedang di dapur. Ayah memeluk aku dari belakang, kontolnya sudah keras.“Yah… Andi di kamar…” bisikku sambil gemetar.Ayah tidak menjawab. Beliau hanya geser dasterku, geser celana dalamku, dan memasukkan pisang Ambon-nya pelan dari belakang.“Ahhh… Yah… pelan… hhh… gede… jangan keras-keras…”Ayah gerak pelan tapi dalam, tangannya menutup mulutku pelan supaya desahanku tidak kedengaran. Aku orgasme dengan tubuh gemetar, cairanku netes ke lantai dapur. Ayah keluar di dalamku sebentar kemudian.Aku tahu aku sudah terlalu dalam. Aku sudah tidak bisa lepas dari godaan pisang Ambon ayahku.Dan entah sampai kapan godaan ini akan berakhir