Lampu studio berwarna oranye hangat itu menyala, kontras dengan hawa dingin yang menusuk dari pendingin ruangan yang dipasang maksimal. Di tengah ruangan, duduk seorang pria dengan headset profesional melingkar di lehernya. Namanya Bayu Pratama, sang "Raja Konten" dengan pengikut puluhan juta. Di hadapannya, seorang anak perempuan kecil berusia sembilan tahun, sebut saja Melati, duduk gelisah. Wajahnya tertutup topeng plastik murah bergambar beruang, namun jemari kecilnya yang gemetar di atas pangkuan tidak bisa menyembunyikan trauma yang ia pikul. Di sampingnya, sang ibu duduk terisak, memegang tisu yang sudah hancur menjadi serpihan basah.
"Jadi, Melati..." Bayu memulai dengan suara bariton yang dibuat seolah-olah penuh empati, namun matanya sesekali melirik ke arah monitor di samping kamera yang menampilkan angka penonton live streaming. "Bisa kamu ceritakan sedikit, apa yang paman itu lakukan padamu di gudang belakang sekolah? Jangan takut, di sini aman. Semua orang ingin membantumu."
Melati diam. Bahunya naik turun. Dari balik lubang mata topeng itu, terlihat mata yang merah dan sembab. Ia baru saja dipaksa mengingat kembali bau apek gudang, rasa sakit yang merobek tubuh kecilnya, dan ancaman yang membungkam mulutnya selama berbulan-bulan. Kini, demi "keadilan" yang dijanjikan sang podcaster, ia harus menguliti lukanya sendiri di depan kamera.
"Ayo, Bu. Mungkin Ibu bisa bantu sedikit? Biar masyarakat tahu betapa bejatnya pelaku itu," desak Bayu lagi. Sang ibu, yang dijanjikan biaya pengobatan psikologis dan bantuan hukum oleh tim Bayu, mulai bercerita dengan detail yang seharusnya tidak menjadi konsumsi publik. Ia membedah penderitaan anaknya, sementara Bayu sesekali menghela napas panjang, memasang wajah prihatin yang sangat "cinematic".
Video itu diunggah dengan judul bombastis: "EKSKLUSIF: BOCAH SD KORBAN RUDAPKASA BERSUARA! KITA KAWAL SAMPAI PELAKU MEMBUSUK!" lengkap dengan thumbnail wajah Melati bertopeng dan tanda panah merah yang mengarah pada area sensitif yang disensor kasar.
Dalam hitungan jam, dunia maya meledak.
Layar ponsel di seluruh negeri menyala. Kolom komentar berubah menjadi medan perang yang penuh amis darah emosi. Di satu sisi, massa "pembela konten" bersuara lantang.
"Terima kasih Bang Bayu! Kalau bukan karena podcast ini, kasusnya pasti tenggelam. Polisi baru gerak kalau viral! Up terus!" tulis seorang netizen.
"Gila, gue nangis denger ceritanya. Biadab banget pelakunya! Bang Bayu emang pahlawan buat orang kecil," timpal yang lain.
Namun, di sudut lain internet, gelombang kemuakan mulai pasang. Para aktivis hak anak, psikolog, dan netizen yang masih memiliki nurani mulai menyadari ada yang salah—sangat salah—dengan tontonan ini.
"Ini bukan edukasi, ini eksploitasi! Kenapa anak kecil dibawa ke studio? Kenapa ditanya detail kejadiannya? Kalian sadar nggak, trauma anak itu bisa kambuh berkali-kali karena video ini permanen di internet?" cuit seorang psikolog anak yang langsung viral.
Hujatan mulai mengalir deras kepada Bayu. Netizen mulai menyoroti bagaimana iklan-iklan produk judi online (slot) dan minuman energi muncul di sela-sela cerita tentang pemerkosaan seorang anak. Mereka melihat bagaimana Bayu dengan sengaja memotong video di bagian-bagian paling menyedihkan hanya untuk menyelipkan iklan "Cuan Bos!".
"Lihat menit 15:30. Bayu sengaja nanya 'Gimana rasanya pas kejadian?' cuma supaya dapet klip tangisan yang dramatis. Lo manusia atau burung hering yang makan bangkai trauma orang, Yu?" komentar pedas seorang pengguna Twitter.
Bayu, di ruang kerjanya yang mewah, melihat angka adsense yang melonjak drastis. Ia sempat merasa was-was melihat sentimen negatif, namun tim kreatifnya meyakinkan, "Hujatan itu interaksi, Bang. Makin dihujat, makin viral. Ujung-ujungnya cuan."
Tapi mereka salah menilai rasa muak manusia.
Kasus Melati menjadi bola salju yang menghantam balik sang podcaster. Sebuah gerakan muncul dengan tagar #MatikanPodcastEksploitasi. Netizen mulai memboikot produk-produk yang beriklan di kanal Bayu. Mereka merasa jijik melihat bagaimana kemalangan seorang bocah SD dijadikan komoditas untuk membeli mobil mewah baru sang kreator.
Penderitaan Melati tidak berhenti di studio. Setelah video itu viral, identitas "topeng beruang" itu bocor di lingkungannya. Teman-teman sekolahnya, yang orang tuanya menonton podcast tersebut, mulai berbisik-bisik. "Itu si Melati kan? Yang di podcast Bang Bayu?" Melati yang seharusnya dilindungi, kini menjadi tontonan. Ia merasa seolah-olah diperkosa untuk kedua kalinya—kali ini oleh mata jutaan orang yang merasa "kasihan" tapi sebenarnya hanya penasaran.
Rasa miris itu memuncak ketika dalam sebuah sesi live lanjutan, Bayu mencoba membela diri. "Saya hanya ingin membantu! Kalau saya nggak kasih panggung, siapa yang mau peduli?" teriaknya di depan kamera, masih dengan gaya angkuhnya.
Namun, keadilan sosial bekerja lebih cepat. Komisi Perlindungan Anak melaporkan Bayu ke polisi atas dugaan pelanggaran UU Perlindungan Anak terkait penyebaran identitas korban kekerasan seksual. Tak lama setelah itu, Dewan Pers dan komunitas jurnalis mengecam tindakannya yang menyalahi etika wawancara anak.
Sanksi sosial menghancurkan karier Bayu dalam sekejap. Kanal YouTube-nya yang bernilai miliaran rupiah ditutup sepihak oleh platform karena pelanggaran kebijakan konten sensitif. Sponsor-sponsor besar memutus kontrak dan menuntut ganti rugi karena brand mereka tercemar. Bayu, yang tadinya dipuja sebagai pahlawan, kini menjadi paria.
Puncaknya, negara hadir. Bayu resmi ditetapkan sebagai tersangka. Bukan karena ia menceritakan kasusnya, tapi karena ia dengan sengaja mengeksploitasi penderitaan anak di bawah umur untuk keuntungan komersial tanpa memedulikan dampak psikis jangka panjang sang anak. Ia divonis penjara dan denda miliaran rupiah yang seluruhnya disita negara untuk biaya rehabilitasi Melati dan korban-korban lainnya.
Di sebuah desa kecil, jauh dari hiruk-pikuk kamera dan lampu studio, Melati akhirnya mendapatkan pendampingan yang sebenarnya dari psikolog pemerintah. Tanpa kamera, tanpa topeng, dan tanpa pertanyaan-pertanyaan menjebak demi konten. Namun, setiap kali ia melihat ponsel, ia teringat wajah pria di studio itu—pria yang tersenyum saat ia menangis, pria yang menghitung uang di atas lukanya.
Dunia mungkin sudah menghukum sang podcaster, tapi bagi Melati, bekas luka di jiwanya akan selalu membawa bayang-bayang lampu studio yang menyilaukan itu. Sebuah peringatan bagi kita semua bahwa di era digital ini, kemanusiaan seringkali dijual murah demi jumlah "like" dan "share", dan korbannya adalah mereka yang paling tidak berdaya. Menonton penderitaan orang lain sebagai hiburan adalah bentuk kekejaman baru yang paling nyata.