๐๐ฆ๐ฏ๐ซ๐ข ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฅ๐ข๐ต๐ข๐ฏ๐จ ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฑ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฏโฆ
๐ฅ๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช ๐ต๐ฆ๐ณ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ค๐ฆ๐ฑ๐ข๐ต.
๐๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช ๐ฌ๐ข๐ฎ๐ถ.
Aku duduk di bangku taman yang sa๐ฎ๐ข, yang catnya sudah mengelupas, yang dulu kamu bilang jelek tapi nyaman.
Lucu yaโฆ dari sekian banyak tempat, aku masih memilih duduk di sini.
Tempat terakhir kita tidak baik-baik saja.
Angin sore lewat begitu saja, menyentuh pipiku yang entah sejak kapan terasa lebih dingin dari biasanya.
Aku menggenggam ujung lengan bajuku, kebiasaan lama saat aku tidak tahu harus merasa apa.
Atauโฆ saat aku tahu, tapi tidak mau mengakuinya.
Aku merindukanmu.
Tapi itu bukan bagian terburuknya.
Yang paling menyakitkan ๐ข๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฉ,
aku tahu, semua ini bukan sepenuhnya salah keadaan.
Sebagianโฆ salahku.
---
Aku masih ingat hari itu dengan terlalu jelas.
Hari di mana kamu duduk di sebelahku, tapi rasanya jauh sekali.
โ๐๐ธ๐ ๐ฐ๐ฎ๐ฝ๐ฒ๐ธ, ๐๐ฎโฆโ
Suaramu pelan.
Tidak seperti biasanya. Tidak ada nada bercanda. Tidak ada tawa kecil di akhir kalimat.
Dan aku?
Aku malah menghela napas panjang, kesal.
โ๐พ๐๐ฅ๐๐ ๐๐ฅ๐ ๐จ๐๐? ๐๐๐ข๐ช ๐๐๐ ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐ฉ๐๐ง๐ก๐๐ก๐ช ๐๐๐ฅ๐๐ ๐๐ง๐๐ฃ.โ
Aku masih ingat ekspresi wajahmu waktu itu.
Bukan marah.
Lebih keโฆ ๐๐๐๐๐๐.
Tapi aku terlalu egois untuk menyadarinya saat itu.
---
Kita selalu bilang kita sahabat.
Perempuan yang saling ngerti tanpa harus dijelasin.
Tapi ternyataโฆ aku salah besar.
Aku tidak pernah benar-benar mendengarkanmu.
Aku cuma mendengar apa yang ingin aku dengar.
---
โ๐๐ธ๐ ๐ป๐ด๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ ๐๐ฒ๐ป๐ฑ๐ถ๐ฟ๐ถ๐ฎ๐ป, ๐๐ฎ.โ
Kamu bilang itu sambil nunduk.
Jari-jarimu saling menggenggam, seperti menahan sesuatu agar tidak jatuh.
Dan lagi-lagiโฆ aku menjawab dengan cara yang salah.
โ๐๐ ๐๐๐ฃ๐๐๐ฃ ๐๐๐ฉ๐ช ๐ก๐๐. ๐๐๐ฃ ๐๐๐ ๐๐ ๐ช.โ
Kalimat yang harusnya menenangkanโฆ
malah terdengar kosong.
Karena aku bilang itu tanpa benar-benar ada.
---
Sekarang aku baru sadar.
๐๐ฆ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐ช๐ต๐ถ ๐ฃ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ญ๐ข๐ญ๐ถ ๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ด๐ฆ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ณ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐จ๐ช.
๐๐ข๐ฅ๐ข๐ฏ๐จโฆ
๐ฌ๐ข๐ณ๐ฆ๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐จ๐ข๐จ๐ข๐ญ ๐ฉ๐ข๐ฅ๐ช๐ณ ๐ด๐ข๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ณ๐ฆ๐ฌ๐ข ๐ฃ๐ถ๐ต๐ถ๐ฉ.
---
Langit di atasku mulai berubah warna.
Oranye keabu-abuan, seperti perasaan yang setengah hidup, setengah mati.
Aku menatap kosong ke depan, tapi yang kulihat justru potongan-potongan kenangan.
Kamu tertawa sambil nyenggol bahuku.
Kamu marah karena aku telat.
Kamu diamโฆ saat aku terlalu sibuk dengan duniaku sendiri.
Dan yang paling aku ๐ฃ๐ฆ๐ฏ๐ค๐ช,
aku ingat semua itu sekarang, saat semuanya sudah terlambat.
---
โ๐๐๐ง๐ช๐จ๐ฃ๐ฎ๐ ๐๐ ๐ช ๐๐๐ฃ๐๐๐ง๐๐ฃ ๐ ๐๐ข๐ช ๐ฌ๐๐ ๐ฉ๐ช ๐๐ฉ๐ชโฆโ
Kalimat itu keluar pelan dari bibirku.
Nyaris seperti bisikan yang bahkan tidak ingin didengar oleh dunia.
Harusnya.
Aku benci kata itu.
Karena โ๐๐๐๐๐๐๐๐โ tidak pernah bisa memperbaiki apa-apa.
---
Aku ingat hari terakhir kita.
Hujan turun deras.
Kamu berdiri di depanku, matamu merah, bukan karena hujan.
โ๐๐ธ๐ ๐ฐ๐๐บ๐ฎ ๐ฏ๐๐๐๐ต ๐ธ๐ฎ๐บ๐ ๐ฏ๐๐ฎ๐ ๐ฑ๐ฒ๐ป๐ด๐ฒ๐ฟ๐ถ๐ป ๐ฎ๐ธ๐, ๐๐ฎ. ๐๐๐ ๐ฎ๐ท๐ฎ.โ
Dan aku?
Aku malah menjawab dengan nada tinggi.
โ๐ผ๐ ๐ช ๐๐ช๐๐ ๐ฅ๐ช๐ฃ๐ฎ๐ ๐ข๐๐จ๐๐ก๐๐! ๐๐๐ข๐ช ๐ ๐๐ง๐ ๐๐ช๐ข๐ ๐ ๐๐ข๐ช ๐๐ค๐๐ฃ๐ ๐ฎ๐๐ฃ๐ ๐๐๐ฅ๐๐ ?!โ
Diam.
Sunyi.
Hanya suara hujan yang jatuh terlalu keras.
Dan di antara semua ituโฆ
aku melihat sesuatu di matamu.
Sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Kamu menyerah.
---
โ๐๐ธ๐ ๐ฝ๐ถ๐ธ๐ถ๐ฟ ๐ธ๐ฎ๐บ๐ ๐ฏ๐ฒ๐ฑ๐ฎ.โ
Itu kalimat terakhirmu.
Bukan teriak.
Bukan marah.
๐ป๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐.
---
Sejak hari ituโฆ kamu benar-benar pergi.
Bukan cuma menjauh.
๐๐ข๐ฑ๐ช ๐ฎ๐ฆ๐ฏ๐จ๐ฉ๐ช๐ญ๐ข๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ข๐ณ๐ช ๐ฉ๐ช๐ฅ๐ถ๐ฑ๐ฌ๐ถ, ๐ด๐ฆ๐ฐ๐ญ๐ข๐ฉ ๐ข๐ฌ๐ถ ๐ต๐ช๐ฅ๐ข๐ฌ ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ฏ๐ข๐ฉ ๐ซ๐ข๐ฅ๐ช ๐ฃ๐ข๐จ๐ช๐ข๐ฏ ๐ฑ๐ฆ๐ฏ๐ต๐ช๐ฏ๐จ ๐ฅ๐ช ๐ฅ๐ข๐ญ๐ข๐ฎ๐ฏ๐บ๐ข.
Dan yang paling kejam?
Aku tidak bisa menyalahkanmu.
---
Aku menunduk, menatap tanganku sendiri.
Kosong.
Seperti hari ituโsaat aku tidak menarikmu untuk tetap tinggal.
Aku bahkan tidak mengejarmu.
Seolah aku yakin kamu akan kembali.
๐๐ฐ๐ฅ๐ฐ๐ฉ.
---
โ๐ผ๐ฅ๐ ๐๐ ๐ช ๐จ๐๐๐ช๐ง๐ช๐ ๐๐ฉ๐ชโฆ?โ
Pertanyaan itu muncul lagi.
๐ญ๐ข๐จ๐ช.
๐๐ข๐ฏ ๐ญ๐ข๐จ๐ช.
Tidak pernah ada jawaban.
---
Angin sore semakin dingin.
Tapi aku tidak beranjak.
Aku merasaโฆ kalau aku pergi sekarang, kenangan ini akan ikut hilang.
Dan aku belum siap kehilangan itu juga.
---
Aku benci pagi.
Karena pagi selalu memaksaku menerima kenyataanโฆ
bahwa kamu tidak akan tiba-tiba muncul lagi sambil bilang,
โ๐๐๐๐ ๐๐, ๐๐๐ฃ๐๐๐ฃ ๐๐ง๐๐ข๐.โ
Aku kangen itu.
Aku kangen kamu yang ngeselin.
Yang selalu tahu kapan aku lagi pura-pura kuat.
Ironis yaโฆ
Sekarang aku benar-benar lemah,
tapi kamu sudah tidak ada.
---
Air mataku jatuh.
Akhirnya.
Tanpa ditahan.
Tanpa pura-pura kuat.
---
โ๐ผ๐ ๐ช ๐ข๐๐ฃ๐ฉ๐ ๐ข๐๐๐โฆโ
Kalimat itu keluar dengan suara yang pecah.
Terlambat.
Selalu terlambat.
---
Langit perlahan menggelap.
Lampu taman mulai menyala satu per satu.
Dunia terus berjalan.
Tanpa peduli ada yang kehilangan sesuatu di dalamnya.
---
Aku menarik napas panjang.
Berat.
Tapi untuk pertama kalinyaโฆ
aku tidak menahannya.
---
Mungkinโฆ aku tidak bisa memperbaiki semuanya.
Mungkinโฆ kamu tidak akan pernah kembali.
Tapi aku mulai mengerti satu halโ
Menyesal saja tidak cukup.
Aku harus berubah.
---
Perlahan, aku berdiri dari bangku itu.
Kakiku terasa ringanโฆ anehnya.
Bukan karena aku sudah sembuh.
Tapi karena aku akhirnya berhenti menyangkal.
---
โ๐ผ๐ ๐ช ๐๐ ๐๐ฃ ๐๐๐ก๐๐๐๐งโฆ ๐๐๐๐ ๐ก๐๐๐๐ ๐๐๐๐ .โ
Entah kamu dengar atau tidak.
Tapi kali ini, aku benar-benar tulus.
---
Aku melangkah pergi dari taman itu.
Tempat di mana aku kehilanganmu.
Danโฆ tempat di mana aku mulai menemukan diriku sendiri.
---
๐ Catatan Penulis
Kadang, kita terlalu yakin seseorang akan tetap tinggalโฆ
๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐
๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐.
๐ฒ๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐
๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐
๐๐๐๐๐ ๐
๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐.
๐ฒ๐๐
๐๐๐, ๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐โ๐
๐๐๐ ๐๐๐-๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐.
๐ด๐๐๐
๐๐๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐
๐๐, ๐
๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐โฆ
๐๐๐๐
๐๐๐๐๐ ๐๐๐
๐๐๐๐๐๐, ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐
๐๐๐๐๐๐๐๐.
๐ซ๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐
๐๐,
๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐:
โ๐ต๐ฎ๐ฟ๐๐๐ป๐๐ฎ.โ