Langit sore itu benar-benar muram. Awan hitam bergumpal-gumpal menutupi seluruh penjuru kota, seolah tidak memberi celah sedikit pun bagi cahaya matahari untuk bersinar. Suara guntur terdengar gemuruh dari kejauhan, bergantian dengan kilat yang menyambar-nyambar, menerangi langit yang gelap gulita sesaat sebelum kembali gelap.
Dan kemudian, hujan turun.
Bukan rintik-rintik biasa, tapi air yang jatuh membasahi bumi dengan derasnya. Butiran-butiran air itu menghantam kaca jendela, atap bangunan, dan aspal jalan dengan suara yang gaduh namun anehnya justru menenangkan bagi sebagian orang. Jalanan kota yang biasanya padat merayap kini berubah menjadi lautan air. Lampu-lampu kendaraan memantul di permukaan aspal yang basah, menciptakan pola warna-warni yang indah dilihat dari jauh.
Di dalam sebuah kafe kecil yang terletak di sudut jalan yang cukup sepi, suasana terasa sangat berbeda. Sementara di luar dunia terlihat keras dan dingin, di dalam sini hangat dan nyaman. Aroma biji kopi yang baru disangrai bercampur dengan wangi roti panggang dan cokelat leleh memenuhi seluruh ruangan, menciptakan aroma yang khas dan sangat menenangkan.
Musik jazz mengalun pelan dari pengeras suara, nada-nada bass yang dalam dan melodi piano yang lembut menjadi latar belakang obrolan para pengunjung yang terdengar samar-samar.
Dinda duduk di pojokan ruangan, tepat di sebelah jendela besar yang kini tertutup oleh air hujan yang mengalir turun seperti tirai. Ia memeluk tubuhnya sendiri, meski suhu di dalam kafe tidak terlalu dingin. Entah kenapa, setiap kali hujan turun sekeras ini, perasaannya ikut menjadi melankolis.
Matanya menatap keluar, menatap tetesan air yang bergerak turun di atas kaca. Satu per satu, bergabung menjadi aliran yang lebih besar. Seperti perasaannya. Kecil-kecil tapi lama-lama menumpuk, dan akhirnya menjadi sungai yang besar yang siap meluap kapan saja.
Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarum panjang sudah bergeser jauh dari angka dua belas. Sudah hampir satu jam ia duduk di sini. Satu jam dalam penantian.
Cangkir kopi hitam di hadapannya sudah tidak berasap lagi. Uap hangatnya sudah hilang entah ke mana, digantikan oleh suhu ruangan yang netral. Dinda mengaduk-aduk cairan hitam pekat itu dengan sendok kecil, meskipun ia tidak memasukkan gula sama sekali. Gerakan itu hanya untuk mengisi kekosongan, untuk menghilangkan rasa canggung karena duduk sendirian terlalu lama.
"Kenapa sih harus nunggu?" bisiknya pelan, hanya untuk dirinya sendiri. Suaranya tertelan oleh suara musik dan hujan.
Pertanyaan itu sudah jutaan kali ia tanyakan pada dirinya sendiri. Kenapa ia selalu bersedia menunggu orang yang sama? Kenapa ia selalu bersedia meluangkan waktunya, bahkan ketika orang itu sering kali terlambat?
Jawabannya selalu sama, dan jawaban itu selalu membuat dadanya terasa sesak namun manis pada saat yang bersamaan.
Karena itu Reno.
Hanya menyebut nama itu di dalam kepala saja sudah cukup membuat detak jantung Dinda berubah irama. Dari yang biasa saja, tiba-tiba menjadi kencang, berdebar-debar tidak karuan.
Reno adalah teman baiknya. Sahabatnya. Teman seperjuangan sejak mereka masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Sudah bertahun-tahun mereka bersama, melewati suka dan duka, tawa dan tangis. Mereka tahu segalanya tentang satu sama lain. Tahu makanan kesukaan, tahu kebiasaan aneh, tahu masa lalu, dan tahu apa yang membuat masing-masing dari mereka bahagia atau sedih.
Tapi ada satu rahasia besar yang selama ini Dinda simpan rapat-rapat. Rahasia yang bahkan sahabat terbaiknya pun tidak tahu.
Dinda mencintai Reno. Bukan sebagai teman. Bukan sebagai saudara. Tapi sebagai seorang wanita yang mencintai pria.
Perasaan itu tumbuh bukan dalam semalam. Ia tumbuh perlahan, seperti benih yang disiram setiap hari. Tumbuh dari perhatian-perhatian kecil Reno, dari cara Reno menertawakan leluconnya yang tidak lucu, dari cara Reno selalu ada ketika ia butuh bahu untuk bersandar.
Dinda menghela napas panjang, mencoba mengeluarkan semua beban di dadanya. Ia tahu posisinya. Ia tahu ia berada di zona aman yang disebut "teman". Zona di mana ia bisa selalu dekat dengan Reno, tapi tidak pernah bisa memilikinya sepenuhnya. Zona di mana jika ia berbicara jujur, segalanya bisa hancur. Persahabatan itu bisa retak, dan Dinda tidak sanggup membayangkan hidup tanpa Reno di sisinya.
Jadi ia memilih diam. Ia memilih menjadi pendengar setia. Ia memilih tersenyum setiap kali Reno bercerita tentang wanita-wanita lain yang mendekatinya, meskipun di dalam sana, hatinya teriris perlahan.
"Dasar bodoh," umpatnya pelan sambil menunduk menatapi cangkir kopinya yang sudah dingin. "Cinta sama temen sendiri itu penyakit, Din. Dan lo kena penyakit stadium akhir."
Tiba-tiba, pintu kafe didorong terbuka. Bel kecil di atas pintu berbunyi tling... tling..., menandakan ada orang baru yang masuk.
Dinda tanpa sadar mendongak.
Dan di sanalah dia.
Pria itu masuk sambil mengibas-ngibaskan payung besar yang ia bawa. Air menetes dari ujung payung itu membasahi lantai keramik di dekat pintu. Ia mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah kuyup, mencoba menghilangkan sisa-sisa air hujan yang menempel.
Wajahnya tampak sedikit kelelahan, tapi tetap saja tampan dengan cara yang membuat Dinda sulit bernapas. Jas yang ia pakai tampak lembap di bagian bahunya, celana bahan yang biasanya rapi kini sedikit kotor terkena cipratan air jalanan.
Reno.
Waktu seakan berhenti sejenak bagi Dinda. Dunia di sekitarnya menjadi buram, dan yang terlihat jelas hanyalah sosok pria yang berjalan mendekati mejanya itu.
Reno akhirnya menyadari keberadaan Dinda. Wajah yang tadinya datar langsung berubah, secercah cahaya tampak muncul di matanya. Ia tersenyum. Senyum lebar yang menampakkan deretan giginya yang rapi. Senyum yang selalu berhasil membuat hari-hari Dinda terasa lebih baik, tidak peduli seberapa buruk situasinya.
"Sorry, sorry! Macet parah banget sumpah, Din!" seru Reno sambil berjalan cepat mendekati meja, lalu menarik kursi di hadapan Dinda dan duduk dengan kasar namun tetap santai.
Suaranya. Dinda merindukan suara itu, meskipun mereka baru saja tidak bertemu selama beberapa hari.
"Ban kemaren bocor di tengah jalan, terus sekarang hujan gede begini. Macetnya bukan main, kaya dunia mau kiamat aja gitu jalannya," Reno terus bercerita dengan nada kesal tapi bercanda, sambil meletakkan tas kerjanya ke kursi sebelah.
Dinda hanya bisa menatapnya, lalu tersenyum tipis. Rasa kesal karena sudah menunggu satu jam lamanya tiba-tiba menguap entah ke mana. Hilang begitu saja digantikan oleh rasa lega karena orang itu akhirnya datang juga.
"Iya, maklum lah hujan gede gini," jawab Dinda pelan, berusaha membuat suaranya terdengar biasa saja, tidak terdengar terlalu senang atau terlalu kecewa. "Aku kira kamu kabur. Udah mau pulang aku soalnya."
Reno tertawa kecil, suaranya renyah dan menular. Ia mengusap-usap rambutnya yang basah dengan tisu yang diambilnya dari meja.
"Mana berani gue kabur. Nanti lo ngambek seminggu baru baikan," canda Reno, lalu matanya melirik cangkir kopi di hadapan Dinda. "Wah, kopinya udah dingin banget itu. Minum yang hangat dong, nanti sakit."
Perhatian itu. Selalu saja seperti itu. Reno selalu memperhatikan hal-hal kecil. Hal-hal yang membuat Dinda berpikir, "Mungkin dia juga punya perasaan yang sama?" Tapi harapan itu selalu ia bunuh secepatnya. Jangan berharap terlalu tinggi, Dinda. Itu bahaya.
"Belum diminum kok," jawab Dinda, lalu ia memanggil pelayan dengan mengangkat tangan sedikit. "Pesen yang hangat dulu sana. Kamu kan kedinginan."
Reno mengangguk antusias. "Bener juga. Gue beku setengah mati dari luar tadi. Pesenin gue Hot Americano ya, sama pesen sesuatu yang manis buat lo. Sama kue cokelatnya satu ya, buat berdua."
Dinda tersenyum. Reno tahu persis seleranya.
Ketika pelayan datang dan mencatat pesanan, suasana kembali hening sejenak. Tapi tidak ada rasa canggung di antara mereka. Keheningan itu nyaman. Seperti dua orang yang sudah terlalu lama bersama sehingga tidak perlu selalu mengisi kekosongan dengan kata-kata.
Dinda memperhatikan Reno yang kini sibuk membersihkan kacamatanya yang berembun karena perubahan suhu. Rahang yang tegas, hidung yang mancung, dan alis yang tebal. Dinda bisa menatap wajah itu berjam-jam tanpa pernah merasa bosan.
"Kenapa liatin gue terus?" tanya Reno tiba-tiba tanpa menatap Dinda, tangannya masih sibuk mengelap lensa kacamata.
Dinda tersentak kaget, wajahnya seketika memanas. Ia buru-buru memalingkan wajah, berpura-pura melihat keluar jendela lagi.
"Enggak liatin... Cuma liatin hujan doang," jawabnya gugup.
Reno terkekeh pelan, akhirnya memakai kembali kacamatanya dan menatap Dinda lekat-lekat. Matanya yang cokelat gelap itu menatap Dinda dengan intensitas yang membuat gadis itu sulit berkedip.
"Bohong," kata Reno pelan. "Mata lo ngeliat gue. Kenapa? Ada apa di muka gue?"
Dinda menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang sekali, ia yakin Reno pasti bisa melihatnya bergetar dari luar.
"Enggak ada apa-apa," jawab Dinda berusaha tegas. "Cuma... heran. Kenapa sih kita bisa temenan sampe sepanjang ini? Bertahun-tahun lho. Jarang ada yang bisa segitu lamanya."
Reno mengangguk setuju, lalu ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap langit-langit kafe sejenak seolah sedang mengingat-ingat masa lalu.
"Iya ya... Waktu cepet banget ya jalan nya. Dari kita masih bocil, pake seragam putih biru, sampe sekarang kita udah kerja, udah gede semua," Reno menghela napas, lalu menatap Dinda lagi dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tapi jujur Din... lo adalah satu-satunya orang yang bikin gue ngerasa tenang. Di luar sana banyak orang, banyak masalah, banyak drama. Tapi tiap ketemu lo, ngobrol sama lo, rasanya semua beban itu ilang."
Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Reno. Seperti halnya biasa saja. Tapi bagi Dinda, kata-kata itu adalah racun manis yang mematikan. Setiap kalimat manis yang Reno ucapkan adalah tambahan bahan bakar untuk api harapan yang selama ini ia coba padamkan.
"Makasih," hanya itu yang bisa Dinda ucapkan. Suaranya terdengar lembut, hampir bergetar. "Aku juga ngerasa gitu kok. Kamu itu... rumah buat aku. Tempat aku pulang kalau capek sama dunia."
Reno tersenyum lagi. Tapi kali ini senyumnya berbeda. Senyum itu lebih lembut, lebih dalam.
"Rumah ya..." Reno mengulang kata itu pelan. Matanya tidak berkedip menatap mata Dinda. "Gue juga sering mikir gitu. Tapi kadang... rumah itu rasanya kurang lengkap kalau gak ada yang jagain, kan?"
Dinda terdiam. "Maksudnya?"
"Maksud gue..." Reno berhenti sejenak saat pelayan datang membawa pesanan mereka. Asap panas mengepul dari cangkir-cangkir kopi itu, aroma kopi yang kuat langsung tercium menusuk hidung.
Pelayan itu meletakkan pesanan dengan rapi, lalu pergi meninggalkan mereka berdua lagi.
Reno mengambil cangkirnya, menyesap sedikit kopi panas itu, seolah sedang mengumpulkan keberanian yang luar biasa besar. Tangannya terlihat sedikit gemetar, atau mungkin itu hanya perasaan Dinda saja?
"Din..." panggil Reno lagi, suaranya turun menjadi lebih rendah, lebih serius dari sebelumnya.
"Iya?" Dinda menahan napas. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda di udara. Suasana yang tegang namun manis.
Reno meletakkan cangkirnya kembali ke atas meja. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, membuat jarak antara wajah mereka berdua menjadi semakin dekat. Dinda bisa merasakan hangatnya napas pria itu.
"Sampai kapan kita bakal begini terus?"
Pertanyaan itu meluncur pelan, tapi menghantam dada Dinda seperti palu godam.
"Maksud kamu... begini gimana?" Dinda pura-pura tidak mengerti, padahal hatinya sudah berteriak histeris.
"Begini. Cuma temenan. Cuma sahabatan. Jalan bareng, cerita bareng, tapi gak pernah jadi apa-apa," Reno berkata pelan tapi tegas. Matanya menatap tajam ke dalam manik mata Dinda, mencari jawaban di sana.
Dinda merasa dunia berhenti berputar. Suara hujan, suara musik, suara orang lain... semuanya menghilang. Hanya ada dia dan Reno di dunia ini.
"Ren... kamu ngomong apa sih?" Dinda berusaha tertawa, tapi tawanya terdengar palsu dan kaku. "Kita kan temenan dari kecil. Emang salah ya?"
Reno menggeleng perlahan. Tangannya bergerak di atas meja, mendekati tangan Dinda yang sedang memegang cangkir kopi dengan erat.
"Gak salah. Gak pernah salah," jawab Reno lembut. "Cuma... gue capek Din. Gue capek nganggep lo temen. Gue capek nahan rasa ini sendirian."
Jari-jemari Reno perlahan menyentuh punggung tangan Dinda. Sentuhan itu hangat. Sangat hangat. Membuat seluruh tubuh Dinda merasakan aliran listrik yang menyenangkan.
"Rasa apa?" bisik Dinda, air matanya sudah mulai menggenang di pelupuk mata. Entah itu air mata bahagia atau takut, ia tidak tahu.
Reno menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan. Ia menggenggam tangan Dinda sekarang. Menggenggamnya erat, seolah takut jika dilepas sedikit saja, gadis itu akan menghilang.
"Rasa sayang yang lebih dari sekadar temenan, Din," Reno mengatakannya dengan jelas. Setiap kata terucap sempurna. "Gue sayang sama lo. Bukan sebagai sahabat. Bukan sebagai sodara. Tapi sebagai cowok yang sayang sama cewek. Udah lama. Sangat lama."
Dunia Dinda runtuh. Tapi bukan runtuh karena hancur, melainkan runtuh karena semua beban yang ia bawa selama bertahun-tahun tiba-tiba melayang hilang. Perasaan yang ia kira rahasia besar, ternyata bukan rahasia sama sekali. Ternyata Reno merasakan hal yang sama.
"Kamu... kamu gak bercanda kan?" tanya Dinda, suaranya pecah. Air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.
Reno tersenyum, kali ini senyum yang penuh dengan kelembutan dan cinta. Ia mengangkat tangannya yang lain, mengusap air mata di pipi Dinda dengan ibu jarinya dengan sangat pelan.
"Gue serius, Dinda. Gue gak mungkin bercanda soal hal sebesar ini. Gue takut kehilangan lo, tapi gue lebih takut kalau gue gak pernah nyoba buat punya lo sepenuhnya."
Dinda menunduk, menangis tersedu-sedu tapi bahagia. Ia merasa seperti orang paling beruntung di dunia ini. Semua rasa takut, semua rasa ragu, lenyap begitu saja digantikan oleh kehangatan yang luar biasa.
"Gila ya..." gumam Dinda sambil tert