“Aku harus pergi meninggalkan kota ini,” ucap Dewi pelan, memecah keheningan sore.
Bram menoleh. Tatapannya penuh harap, seolah berharap kalimat berikutnya akan membatalkan semua yang baru saja ia dengar.
“Tekadmu sudah bulat untuk melanjutkan kuliah di sana?” tanyanya lirih.
Dewi tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk perlahan sambil menatap matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat. Cahaya jingga yang membias di langit seolah menyelimuti kegelisahan di hatinya. Sore itu begitu indah, tetapi justru terasa menyakitkan.
Sejak lama, Universitas di Bali adalah impiannya. Setelah perjuangan panjang, akhirnya ia diterima. Namun, kebahagiaan itu harus dibayar mahal: ia harus meninggalkan Surabaya, meninggalkan rumah, dan yang paling berat, meninggalkan Bram.
Jarak Surabaya dan Bali bukanlah sesuatu yang bisa ditempuh hanya dalam satu atau dua jam. Pertemuan mereka tak lagi semudah sebelumnya.
“Jadi... keputusanmu bagaimana?” Bram kembali bertanya. “Kamu mau mengakhiri hubungan kita begitu saja?”
Dewi menggeleng.
“Kalau kamu masih mau bertahan dengan jarak ini, aku juga mau menjalaninya.”
“Maksudmu... kita LDR?”
“Iya.”
Bram terdiam sesaat.
“Tapi... apa kamu yakin kita bisa?” tanya Dewi hati-hati.
Bram menggenggam tangan Dewi erat, seolah takut gadis itu benar-benar pergi.
“Aku akan berusaha. Aku akan menjaga hati ini sampai kamu kembali.”
Bram tersenyum tipis.
“Kamu janji?”
“Janji.”
Jemari mereka saling menggenggam semakin erat. Saat itu, keduanya sama-sama percaya bahwa cinta mereka cukup kuat untuk mengalahkan jarak.
Enam Bulan Kemudian
“Hai, Dewi! Lagi apa?”
Suara itu membuat Dewi menoleh sebentar sebelum kembali menekuni buku-buku yang berserakan di meja perpustakaan.
“Cari referensi buat tugas.”
“Sini aku bantu. Kayaknya kamu kesulitan nyari di tumpukan buku sebanyak itu.”
“Enggak usah. Kamu bisa bantu aku dengan cara pergi dan berhenti ngikutin aku.”
Jawaban Dewi begitu dingin.
Roy hanya tersenyum canggung.
“Maaf kalau aku ganggu. Aku pergi dulu.”
Ia pun berjalan pergi.
Dewi mengembuskan napas lega. Baginya, Roy terlalu sering muncul di setiap kesempatan. Entah di perpustakaan, kantin, atau halaman kampus. Kehadirannya mulai terasa mengganggu.
“Kamu keterlaluan,Wi.”
Eva duduk di hadapan Dewi sambil menggelengkan kepala.
“Walaupun kamu enggak suka sama dia, enggak harus sekasar itu.”
Dewi hanya diam.
“Lagian... kayaknya Roy suka sama kamu.”
“Udah ya. Please jangan bahas dia lagi. Okay?”
Dewi segera mengambil ponselnya. Ia teringat pada Bram. Sudah dua hari mereka belum sempat mengobrol karena sama-sama sibuk.
“Mau chat si Bram?” tanya Eva.
Dewi mengangguk sambil mulai mengetik pesan.
Namun Eva tiba-tiba berkata pelan,
“Wi... waktu aku pulang ke Surabaya kemarin, aku enggak sengaja lihat Bram lagi jalan sama mantannya.”
Jari Dewi langsung berhenti bergerak.
“Mantan? Maksudmu... Ayu?”
“Iya.”
“Bram cerita soal itu ke kamu?”
Eva menggeleng.
Dewi berusaha tetap tenang.
Mungkin mereka hanya bertemu sebagai teman, pikirnya.
Ia mencoba mengusir rasa curiga yang perlahan mulai tumbuh.
Keesokan Harinya
Bram: Va, kamu dimana?
Eva: Di kos. Kenapa?
Bram: Aku ke sana ya? Ada yang mau aku tanyain.
Eva: Loh? Kamu di Bali? Sejak kapan?
Bram: Nanti aja ceritanya. Tapi jangan bilang Dewi kalau aku ada di Bali.
Eva: Oke.
Tak lama kemudian Bram tiba di kos Eva.
Ia bercerita bahwa dirinya sengaja datang ke Bali untuk memberi kejutan kepada Dewi. Selain melepas rindu, ia juga ingin melihat bagaimana kehidupan Dewi selama kuliah.
Belum lama mereka mengobrol, seseorang mengetuk pintu.
Ternyata Roy.
“Va, aku nitip surat ini buat Dewi ya.”
“Surat apa?”
Roy tersenyum malu.
“Aku capek terus ditolak sebelum sempat ngomong apa-apa. Jadi... aku pengen dia tahu perasaanku lewat surat.”
Bram yang mendengarnya langsung terdiam.
Dadanya terasa sesak.
Ia baru sadar, selama mereka berjauhan, ada orang lain yang perlahan mendekati perempuan yang sangat ia cintai.
“Dia temanmu?” tanya Roy sambil melihat Bram.
“Iya, dia Bram. Kekasih—”
“Aku teman Eva,” potong Bram cepat sambil mengulurkan tangan.
Ia sengaja menyembunyikan identitasnya.
Bukan karena malu, tetapi ia tidak ingin membuat keadaan menjadi rumit.
Setelah Roy pergi, Eva menatap Galang heran.
“Kenapa kamu enggak bilang aja kalau kamu pacarnya Dewi?”
Bram tersenyum hambar.
“Enggak perlu.”
Tatapannya jatuh pada amplop biru di tangan Eva.
“Biar aku aja yang ngasih surat itu ke Dewi.”
Pertemuan
Ponsel Dewi berdering.
Melihat nama Bram muncul di layar, wajahnya langsung berbinar.
“Halo!”
“Kamu lagi apa?”
“Lagi santai di kos. Kamu?”
“Aku lagi di jalan menuju kosmu.”
Dewi langsung berdiri.
“Kamu di Bali? Serius?”
“Iya.”
“Ini kejutan buat aku?”
Bram tersenyum kecil.
“Cepat siap-siap ya.”
Telepon pun ditutup.
Di sepanjang perjalanan menuju kos Dewi, pikiran Bram dipenuhi kenangan.
Ia teringat pertama kali bertemu Dewi.
Gadis sederhana itu berhasil membuatnya jatuh cinta hanya lewat senyumnya.
Enam tahun mereka bersama.
Banyak suka dan duka telah dilewati.
Namun kini, jarak mulai menghadirkan orang-orang baru di sekitar mereka.
Untuk pertama kalinya, Bran merasa takut kehilangan.
Tak lama kemudian mereka menuju Pantai Kuta.
Langit sore mulai berubah jingga.
Angin laut bertiup lembut membawa aroma asin yang khas.
Begitu turun dari mobil, Dewi langsung berlari kecil menuju bibir pantai.
Wajahnya terlihat begitu bahagia.
“Akhirnya aku bisa ke sini...”
Bran hanya memandang dari belakang.
Ia tersenyum, tetapi hatinya terasa berat.
“Kamu senang?” tanyanya.
“Iya.”
Dewi menoleh.
“Tadi kamu bilang ada yang mau dibicarain.”
Bram mengeluarkan amplop biru dari saku jaketnya.
“Buka.”
Dewi membaca isi surat itu perlahan.
Semakin lama, wajahnya semakin terkejut.
Roy benar-benar menyatakan perasaannya.
“Aku enggak tahu sejak kapan dia sedekat itu sama kamu,” ucap Bram pelan.
“Jadi... apa jawabanmu?”
Dewi menggeleng tegas.
“Aku enggak pernah kasih harapan ke dia. Aku masih menjaga janji kita.”
Beberapa detik hening.
Lalu Dewi balik bertanya,
“Kalau kamu... gimana sama Ayu?”
Bram membeku.
Ia tidak menyangka Dewi mengetahui hal itu.
“Aku tahu dari Eva.”
Bram menarik napas panjang.
“Aku memang sempat ketemu Ayu. Tapi cuma sebagai teman. Dia banyak berubah. Aku cuma kasihan sama dia. Enggak ada hubungan apa-apa.”
Dewi kembali memandang lautan.
Ombak terus datang silih berganti, lalu pecah di bibir pantai.
Seperti perasaannya yang perlahan runtuh.
“Jadi...” suara Bram terdengar lirih.
“Keputusanmu apa?”
Dewi memejamkan mata sejenak.
Setelah menarik napas panjang, ia akhirnya berkata,
“Maaf... sepertinya kita enggak bisa melanjutkan hubungan ini.”
Bram menatapnya tak percaya.
“Jadi... kamu memilih Roy?”
Dewi cepat menggeleng.
“Bukan.”
Air matanya mulai menggenang.
“Aku memilih diriku sendiri. Aku memilih kuliahku.”
Suara Dewi bergetar.
“Kamu tahu kan bagaimana kerasnya perjuangan Bapak supaya aku bisa kuliah di sini. Aku enggak mau kehilangan fokus. Aku juga enggak mau setiap hari dihantui rasa curiga... takut kamu dekat sama Ayu, atau takut ada orang lain datang mendekatiku.”
Ia mengusap air mata yang akhirnya jatuh.
“Kalau hubungan ini diteruskan, kita cuma akan saling menyakiti.”
Bram menundukkan kepala.
“Aku belum tentu balikan sama Ayu, Wi.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa?”
“Karena cinta saja kadang enggak cukup.”
Kalimat itu membuat Bram kehilangan kata-kata.
Tak ada pertengkaran.
Tak ada saling menyalahkan.
Yang ada hanyalah dua orang yang masih saling mencintai, tetapi memilih melepaskan demi masa depan dan ketenangan masing-masing.
Matahari perlahan tenggelam.
Langit jingga berubah menjadi gelap.
Pantai Kuta menjadi saksi bahwa tidak semua cinta berakhir karena kebencian.
Ada cinta yang berakhir karena keduanya terlalu saling menyayangi hingga tak ingin saling melukai.
Dalam perjalanan pulang, tak satu pun dari mereka berbicara.
Kesunyian memenuhi ruang mobil.
Sesekali Dewi melirik Bran yang fokus menatap jalan.
Di dalam hatinya, ia bertanya-tanya apakah ini keputusan yang benar.
Mungkin setelah hari ini, ia tak akan lagi menemukan seseorang yang mencintainya setulus Bram.
Namun ia tahu, beberapa perpisahan memang harus terjadi agar masing-masing bisa melangkah menuju masa depan.
Tiba-tiba lagu "Perpisahan Termanis" mengalun dari radio mobil.
Jika memang kau tak tercipta untukku miliki. Cobalah mengerti yang terjadi. Bila memang mungkin tak bisa. Jangan pernah coba memaksa'Tuk tetap bertahan di tengah kepedihanJadikan ini perpisahan yang termanis...
Tak ada lagi kata-kata.
Hanya lagu itu yang menemani perjalanan terakhir mereka sebagai sepasang kekasih.
Dan mungkin, untuk selamanya, Pantai Kuta akan menjadi tempat di mana mereka meninggalkan kisah cinta yang pernah begitu indah.
.
.
.
Tamat