Angin sore di pinggiran kota selalu membawa aroma yang sama: tanah basah dan asap pembakaran sampah yang tipis. Bagiku, aroma itu adalah aroma kerinduan yang telah basi. Namaku Arumi. Usiaku baru saja menyentuh angka dua puluh, sebuah usia yang seharusnya penuh dengan rencana masa depan dan tawa bersama teman sebaya. Namun, di balik senyum yang kupaksakan setiap hari, ada sebuah lubang besar di hatiku yang tak pernah bisa kutambal.
Dua puluh tahun. Sepanjang itulah aku kehilangan sosok laki-laki yang seharusnya menjadi pilar kekuatanku. Ayah.
Ingatanku tentang Ibu jauh lebih jelas, meski beliau pergi saat aku masih mengenakan seragam putih-merah kelas 3 SD. Aku masih ingat bagaimana jemari Ibu yang kasar namun hangat selalu mengusap kepalaku sebelum tidur. Aku ingat rasa masakan lodehnya yang sedikit terlalu asin, dan aku ingat bagaimana matanya meredup saat ia batuk berkepanjangan di malam hari.
Namun, ingatan tentang Ayah hanyalah serpihan yang buram. Sebuah foto usang yang warnanya sudah menguning adalah satu-satunya bukti bahwa ia pernah ada. Di foto itu, Ayah menggendongku yang masih bayi. Ia tersenyum lebar, menampakkan lesung pipit yang kini menurun padaku.
Kepergian Ibu adalah luka pertama. Namun, hilangnya kabar Ayah adalah luka yang terus menganga, membusuk oleh ketidakpastian.
***
"Rum, makan dulu. Jangan melamun terus di depan jendela," suara Nenek memecah keheningan. Nenek adalah satu-satunya orang yang membesarkanku sejak Ibu meninggal. Tubuhnya kini sudah bungkuk, langkahnya diseret pelan di atas lantai tegel rumah kami yang sederhana.
"Iya, Nek. Sebentar lagi," jawabku pelan. Mataku masih menatap jalanan di depan rumah. Setiap kali ada motor lewat, atau ada laki-laki paruh baya yang berjalan kaki dengan tas ransel, jantungku berdegup kencang. Aku selalu berharap, suatu hari nanti, salah satu dari mereka akan berhenti di depan pagar kayu kami, lalu memanggil namaku.
Nenek duduk di sampingku, menghela napas panjang. "Masih berharap dia pulang?"
Aku menoleh, mataku berkaca-kaca. "Nek, apa benar Ayah sudah meninggal? Waktu Mama meninggal dulu, orang-orang bilang Ayah sudah nggak ada. Tapi kenapa ada juga yang bilang Ayah sebenarnya cuma pergi dan menikah lagi di kota lain?"
Nenek terdiam cukup lama. Tatapannya kosong, seolah mencoba menggali kembali memori belasan tahun lalu. "Kabar itu simpang siur, Nduk. Ayahmu pergi merantau sebelum Ibumu sakit parah. Saat Ibumu pergi, kami mengirim surat, mencari lewat orang-orang, tapi tidak ada jawaban. Ada yang bilang dia kecelakaan di proyek, ada yang bilang dia sudah punya keluarga baru. Nenek tidak tahu mana yang benar."
"Kalau dia sudah punya keluarga baru, kenapa dia nggak pernah menengokku sekali saja?" suaraku bergetar. "Apa aku nggak cukup berharga untuk diingat?"
Nenek memelukku. Bau minyak kayu putih dari tubuhnya menenangkanku sedikit. "Dunia ini luas, Arumi. Kadang manusia tersesat dalam egonya sendiri, atau tersesat dalam garis takdir yang kejam. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, Ibumu sampai napas terakhirnya tidak pernah membenci Ayahmu. Dia selalu bilang, 'Tunggu Ayah pulang, Arumi'."
Kalimat itu seperti sembilu. "Tunggu Ayah pulang". Aku sudah menunggu selama dua puluh tahun, Nek. Berapa lama lagi?
***
Dunia NovelToon seringkali menyajikan cerita tentang anak yang dibuang lalu ditemukan oleh ayah yang ternyata seorang miliarder, atau kisah dramatis tentang pertemuan kembali yang penuh air mata di sebuah pesta mewah. Aku sering membaca cerita-cerita itu di sela-sela waktu istirahatku bekerja di sebuah toko buku. Aku membacanya bukan untuk mencari hiburan, tapi untuk meminjam perasaan bahagia mereka.
Dalam imajinasiku, Ayah tidaklah jahat. Ayahku bukan orang yang meninggalkan anaknya demi wanita lain. Dalam kepalaku, Ayah hanyalah seorang laki-laki yang kehilangan ingatan karena kecelakaan hebat, atau seseorang yang terjebak dalam situasi sulit yang membuatnya tidak bisa kembali. Aku harus membangun narasi itu agar aku tidak hancur oleh rasa benci.
Suatu sore, seorang pelanggan datang ke toko buku. Ia laki-laki tua, mungkin usianya sekitar lima puluh tahunan. Rambutnya sudah memutih, tapi tatapan matanya tajam namun teduh. Ia mencari buku tentang teknik pertukangan lama.
"Ini bukunya, Pak," kataku sambil menyerahkan sebuah buku tua.
Laki-laki itu menatapku cukup lama. Ia tampak ragu, lalu bertanya, "Maaf, Nak. Namamu siapa?"
"Arumi, Pak."
Ia tertegun. "Arumi... nama yang indah. Seperti nama bunga. Kamu... asli sini?"
"Iya, Pak. Saya tinggal bersama nenek saya tidak jauh dari sini."
Ia mengangguk pelan, jemarinya yang gemetar menyentuh sampul buku. "Saya punya seorang putri. Kalau dia masih ada di sisi saya, mungkin usianya sebaya denganmu. Matamu... sangat mirip dengan matanya."
Jantungku berhenti berdetak sesaat. "Di mana putri Bapak sekarang?"
Ia tersenyum pahit. "Kesalahan masa muda, Nak. Saya pergi terlalu jauh demi mengejar mimpi yang ternyata semu. Saat saya ingin pulang, pintu rumah sudah tertutup. Saya kehilangan jejak. Istri saya meninggal, dan putri saya dibawa entah ke mana oleh mertua saya."
Aku merasa sesak. Apakah ini Ayah? Apakah ini cara Tuhan mempertemukan kami? "Bapak... namanya siapa?" tanyaku dengan suara hampir hilang.
"Nama saya Budiman," jawabnya.
Kecewa itu datang menghantamku. Nama Ayahku adalah kurniawan. Bukan Budiman. Harapan yang tadi sempat melambung tinggi, kini jatuh terempas ke lantai toko buku yang dingin. Aku memaksakan senyum profesional. "Semoga Bapak segera bertemu dengan putri Bapak."
Laki-laki itu membayar, lalu berjalan keluar. Aku memperhatikannya sampai punggungnya menghilang di keramaian. Aku menangis di balik rak buku. Ternyata, bukan hanya aku yang mencari. Ternyata di luar sana, ada banyak ayah yang juga kehilangan jejak anaknya, dan ada banyak anak yang kehilangan jejak ayahnya.
***
Malam itu, aku bermimpi. Aku kembali menjadi anak kelas 3 SD. Aku duduk di teras rumah mengenakan pita merah di rambut. Ibu sedang menyisir rambutku. Tiba-tiba, seorang laki-laki datang membawa boneka beruang besar. Wajahnya bersinar, sangat tampan dan penuh kasih.
"Arumi, Ayah pulang," katanya.
Aku berlari memeluknya. Bau tubuhnya seperti campuran antara keringat dan wangi sabun batangan. Sangat nyata. Aku menangis di dadanya, menceritakan betapa sepinya hidupku tanpa dia. Aku menceritakan bagaimana aku harus bekerja keras sejak lulus SMA, bagaimana aku merindukan belaian tangan laki-laki di kepalaku saat aku merasa lelah dengan dunia.
"Maafkan Ayah, Arumi. Ayah tidak pernah meninggalkanmu. Ayah selalu ada di setiap embusan angin yang menyentuh pipimu. Ayah ada di setiap doa yang kamu panjatkan."
Lalu, sosoknya perlahan memudar menjadi butiran cahaya. Aku terbangun dengan bantal yang basah oleh air mata.
Aku beranjak dari tempat tidur, membuka lemari tua dan mengambil kotak kayu kecil milik Ibu. Di dalamnya ada beberapa surat lama yang sudah kusam. Aku membacanya satu per satu. Ada satu catatan kecil di balik sebuah kartu ucapan ulang tahunku yang ke-5. Tulisan tangan laki-laki yang rapi:
*"Untuk putri kecilku, Arumi. Tumbuhlah menjadi gadis yang kuat. Ayah pergi sebentar untuk membangun istana buat kita. Tunggu Ayah, ya?"*
Aku memeluk kertas kecil itu di dadaku. "Aku masih menunggu, Yah. Dua puluh tahun sudah berlalu. Aku bukan lagi gadis kecil dengan pita merah. Aku sudah jadi perempuan dewasa."
***
Terkadang, kenyataan memang tidak seindah bab-bab terakhir di NovelToon. Tidak semua kehilangan akan berakhir dengan pertemuan yang megah. Ada kehilangan yang memang diciptakan agar kita belajar tentang keikhlasan yang tanpa batas.
Aku tidak tahu apakah Ayah benar-benar sudah meninggal seperti kata tetangga, atau dia sedang bahagia dengan keluarga barunya di suatu tempat. Ada saat-saat di mana aku merasa marah. Ingin rasanya aku berteriak pada dunia, menanyakan di mana keadilan bagi anak yang ditinggalkan tanpa penjelasan.
Namun, setiap kali kemarahan itu muncul, aku teringat pada wajah Nenek yang makin menua. Aku teringat pada kasih sayang Ibu yang singkat namun membekas selamanya.
Jika Ayah memang sudah meninggal, aku berdoa agar Tuhan memberinya tempat terbaik, dan biarlah rindu ini tersampaikan lewat doa di setiap sujudku. Jika Ayah masih hidup dan sudah memiliki kehidupan lain, aku belajar untuk memaafkan. Mungkin, dia punya luka yang tidak bisa diceritakan pada siapa pun.
Tapi, di sudut hatiku yang paling dalam, masih ada sebuah ruang kecil yang selalu terbuka. Ruang itu kusiapkan untuk kepulangan.
Aku berdiri di depan cermin, menatap gadis berusia dua puluh tahun yang ada di sana. Aku melihat lesung pipit itu. Aku melihat ketegaran di matanya.
"Yah, kalau Ayah membaca ini dari suatu tempat... Aku baik-baik saja. Aku tumbuh menjadi anak yang seperti Ibu mau. Aku tidak benci Ayah. Aku hanya rindu. Sangat rindu."
Setiap langkahku sekarang adalah bukti bahwa aku bertahan. Dua puluh tahun tanpa Ayah memang berat, tapi aku tidak akan membiarkan ketidakhadirannya menghentikan hidupku. Aku akan terus menulis ceritaku sendiri, meski bab tentang "Pertemuan dengan Ayah" masih berupa halaman kosong yang menunggu untuk diisi oleh takdir.
Satu hal yang pasti, meski keberadaannya hilang ditelan bumi, jejaknya tetap abadi di dalam darah yang mengalir di nadiku. Aku adalah Arumi, putri dari seorang laki-laki yang pernah menjanjikan istana, dan aku akan membangun istana itu sendiri, sambil tetap menyisakan satu pintu yang tidak akan pernah kukunci. Untuknya.
TAMAT