Bunga di taman bermekaran dengan sangat indah.
Cekrek... sluuuusss...
Kamera polaroid milikku terus berbunyi tanpa henti, “Cantiknya,” aku mengangkat hasil foto ke udara.
"Iya, cantik banget," suara seorang pria mengagetkanku.
Pria itu hanya berjarak satu meter di belakangku. Sinar matahari menyinari wajahnya, "Ganteng banget," tanpa sadar senyum kecil nampak di wajahku.
Cekrek... sluuussss...
Jantungku langsung berdetak tak beraturan, “Maaf,” aku menunduk sambil memejamkan mata.
Pria itu tersenyum, "Gak apa-apa kok."
Aku menggaruk kepala. Badanku bergoyang kanan dan kiri. Kamera kusembunyikan di balik badanku.
Dan tanpa kusadari...
“Fotonya jatuh," ucapnya sambil menunjuk ke bawah.
“Ah, iya," jawabku sibuk mencari ke sana ke mari.
Pria itu tertawa kecil melihatku.
“Ada di bawah kaki kamu," ucapnya dengan suara lembut.
Aku menunduk, menggigit bagian dalam bibirku agar pertahananku tidak goyah.
Rambut hitam dan bergelombang pria itu terkena hempasan angin, membuat matanya terlihat jelas.
Sorot matanya terlihat seperti anak kucing. Setiap ia tersenyum matanya akan membentuk bulan sabit.
Aku terpana melihatnya, "matanya cantik," gumamku.
Aku langsung mengambil foto yang terjatuh itu, dan memasukkannya ke dalam tas pink tanpa melihatnya.
Baju yang kukenakan terlihat sangat berantakan karena terkena angin, aku pun merapikannya.
“Buset deh, gue buluk banget," pikirku. Jidatku mengernyit, dan menepuk jidatku. Tertunduk malu.
Aku juga merapikan rambutku yang terkena kibasan angin. Pria itu memperhatikanku dengan tatapan lembut.
"Saya Dion,” ucapnya tiba-tiba sambil mengulurkan tangan.
Aku melihat ke kanan dan kiri, mengatupkan bibir berkali-kali. Tanganku berkeringat dingin, “Saya...(menelan ludah)," aku terbata.
"...Diona,” sambungku. Pipiku memerah.
"Oh, nama kita sama,” sahutnya tertawa.
“Bahkan suara ketawanya bikin gue dag dig dug," batinku.
Aku menutup wajahku yang tak bisa menahan ekspresi dengan kedua tanganku.
Melihat tawa Dion di bawah cahaya matahari terasa menggetarkan hatiku.
Setiap ia tersenyum ataupun tertawa, aku bisa melihat taburan bunga berwarna pink yang mengelilinginya.
Sejak aku SMP, orang tuaku meninggalkanku seorang diri, teman-temanku juga meninggalkanku saat mereka tahu aku pernah mendapatkan perawatan di rumah sakit jiwa, “gue gak boleh kehilangan Dion,” batinku.
"Kita ngopi yuk,” ajaknya. Membuyarkan lamunanku.
Aku mengangguk. Kami pun berjalan ke cafe dekat taman.
Aku duduk, tetapi kakiku bergerak tanpa henti. Bola mataku terus bergerak ke sana dan ke mari.
"Kamu keliatan gak nyaman,” ucap Dion sambil mengaduk kopi miliknya.
"Aku gak apa-apa kok,” jawabku dengan bibir gemetar.
Dion hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.
“Aku beneran gak apa-apa," sahutku melotot.
“Iya, aku tau kok," suara Dion bergetar menahan tawa. Ia memandangiku.
“Oh My God, matanya bener-bener anugerah terindah," bisikku memandangi Dion dengan senyum tertahan.
Dion memandangku dengan heran.
"Kamu bicara apa?” tanya Dion.
"Ah, aku cuma ngomong sendiri kok,” jawabku sambil memainkan jemari.
Dion meminum kopinya sambil menikmati pemandangan kebun bunga. Sesekali Dion terlihat memijat kepalanya.
"Kamu gak apa-apa?” tanyaku menatapnya.
"Aku gak apa-apa kok,” jawabnya, ia sedikit menggigit bibirnya sambil tersenyum.
Semakin lama wajah Dion terlihat tidak nyaman.
“Aku ke toilet sebentar ya," ucapnya sambil berdiri dan menutup mulutnya dengan satu tangan.
Buliran keringat di wajahnya nampak jelas.
“Oh iya, hati-hati ya," jawabku khawatir.
Dion mengangguk. Jalannya terlihat limbung. Ia terus memegangi kepalanya. Kedua tangannya terlihat sibuk memegang kepala dan mulutnya.
Entah kenapa, jantungku terasa seperti tertusuk melihatnya seperti itu.
Aku terus menoleh ke arah toilet.
“Kenapa Dion lama banget?" aku menatap gelas kopi milik Dion. Sepertinya kopi itu sudah menjadi dingin.
Aku terus memutar sedotan di dalam gelas. Tubuhku bereaksi aneh, berkeringat tapi terasa dingin karena menunggunya.
“Maaf lama," ucap Dion yang sudah berdiri di hadapanku.
Kepalaku menengadah. Wajah cerah Dion berubah menjadi pucat pasi.
“Kamu sakit?" tanyaku ragu.
“Ah, cuma kurang tidur aja," jawabnya tanpa menatap mataku. Ia mengambil gelas kopinya dengan tangan gemetar.
Mata Dion terlihat goyah, ia berulang kali meminum kopi yang sudah ia habiskan sejak ia kembali dari toilet.
Setelah itu Dion mengakhiri pertemuan ini. Tidak lupa kami juga bertukar kontak. Jantungku berdegup kencang saat Dion memberikan nomornya padaku.
“Maaf ya aku pergi duluan," ucapnya sambil merapatkan kedua telapak tangannya.
"It’s okay,” jawabku tersenyum.
Dion bergegas meninggalkan cafe. Dari balkon cafe, kulihat Dion memasuki sebuah mobil berwarna hitam.
"Ah, dia dijemput supir,” gumamku.
Entah kenapa aku merasa seperti ada yang salah dengan kondisi Dion tadi.
Setelah pertemuan itu aku dan Dion selalu berhubungan.
Awalnya kami masih malu satu sama lain, bahkan sekarang kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berbicara lewat telepon.
"Dion, kamu satu-satunya orang yang aku miliki di dunia ini. Aku udah gak punya siapa-siapa lagi, aku harap kamu gak akan pernah ninggalin aku seperti yang lain,” air mataku menetes tak terkendali.
Aku tidak mendengar suara apapun dari balik telepon, "Halo?" aku melihat layar ponselku. Masih tersambung.
"Ya halo,” jawab Dion. Suaranya terdengar seperti menahan tangis. Terdengar tarikan nafas berat Dion.
Hening...
“Kita bahas yang lain aja yuk," ajakku dengan suara riang.
"Hhmm... okay,” jawabnya.
Tapi...
"Terima kasih kamu selalu ada buat aku...(menarik nafas dalam) sayang,” suara Dion terdengar halus di telingaku.
Kami terdiam...
“Iya...(menggigiti jari) sayang," jawabku. Aku menggigit bantal setelah mengatakan itu.
Terdengar suara tawa kecil dari balik telepon.
Tiba-tiba.
Uhuk... uhuk... uhuk...
"Kamu lagi flu?” tanyaku.
"Iya,” jawabnya dengan nafas tersengal-sengal.
"Kamu harus berobat ya, nafas kamu sampe kedengeran sesak begitu," sahutku khawatir.
“Hhmm... udah dulu ya. Kayaknya aku butuh minum,” suaranya terdengar semakin sesak.
"Iya, jaga kesehatan ya,” jawabku.
Ini bukan kali pertama suara nafas Dion terdengar tersengal-sengal di tengah pembicaraan.
Dion selalu mengatakan ia sensitif terhadap cuaca dan mudah terkena flu, tapi entah kenapa aku tidak mempercayainya.
Dan setelah itu, Dion tidak ada kabar selama beberapa hari.
Padahal biasanya hampir setiap menit jariku selalu sibuk mengetik balasan untuk Dion, dan hampir setiap jam Dion menelponku.
Sampai-sampai tidak terasa hubungan yang kami jalani sudah berlangsung cukup lama, dan kami hanya bertemu setiap hari sabtu.
"Dion, aku pengen cepet-cepet ketemu sama kamu,” ucapku di telpon.
"Nanti ya, aku masih di luar kota,” jawab Dion.
Aku merasa suara Dion berbeda-beda. Terkadang ia terdengar sangat ceria, tapi kadang-kadang terdengar sangat lemah.
Sudah sebulan lamanya Dion tidak menghubungiku. Aku terus mengecek ponselku yang tidak pernah berdering lagi.
"Jangan-jangan sakitnya tambah parah" gumamku.
Beberapa hari kemudian. Ponselku berdering. Jariku gemetar saat akan menekan layar untuk mengangkatnya. Aku menarik nafas dalam.
"Halo,” jawabku ragu.
"Halo Diona, maaf baru menghubungimu sekarang,” suara nafasnya terdengar jelas di telingaku.
“Gak apa-apa kok. Gimana kondisi kamu?" jawabku.
“Aku baikan. Maaf bikin kamu khawatir," suaranya terdengar lemah.
Tidak seperti saat pertemuan pertama kami.
“Gak apa-apa kok," jawabku.
“Besok kamu ada waktu?" tanyanya.
“Ada kok," jawabku.
“Gimana kalo besok kita ketemuan lagi di taman bunga,” ajaknya.
"Ok, jam berapa?” tanyaku dengan suara riang.
"Hhmm gimana kalo jam satu siang?" jawabnya. Suaranya terdengar ragu.
“Ok," jawabku bersemangat.
Mataku seperti akan mengeluarkan air mata. Entah kenapa aku merasa harus menemuinya besok.
Keesokan harinya. Aku sudah menunggu Dion di taman. Aku datang satu jam lebih awal dari janji pertemuan kami.
Bunga di taman hari ini terlihat lebih indah dari biasanya.
Aku memfoto salah satu bunga berwarna pink dengan kamera polaroidku.
Cekrek… sluuuussss…
"Ah iya, gue belom liat hasil foto-foto di taman waktu itu,” ucapku saat melihat hasil foto bunga tadi.
"Ah, gue lupa. Fotonya belom gue keluarin dari tas pink itu selama berbulan-bulan,” ucapku sambil menepuk jidat.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua siang. Aku menoleh ke setiap sudut taman, tidak ada tanda-tanda kedatangan Dion.
“Dion, kamu dimana? Aku udah di taman," isi pesanku pada Dion.
Aku terus memandangi ponselku. Tidak ada balasan dari Dion.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Tidak ada balasan ataupun tanda kedatangan Dion.
Langit pun berubah mendung. Rintikan hujan turun membasahi taman bunga ini. Aku berlari mencari tempat berteduh.
“Gak mungkin kan dia sakit lagi?! Masa sakit mulu?!" ucapku dengan mata memerah.
Entah kenapa kakiku terus melangkah tanpa henti, tempat untuk berteduh pun sampai aku lewati.
“Cinta pandangan pertama emang gak pernah berakhir bahagia," ucapku sambil mengusap air mata yang sudah menyatu dengan air hujan.
“Dion ingkar janji" bisikku.
Tiba-tiba ponselku berdering.
“Kamu mau bilang maaf kita gak jadi ketemuan kan?! Aku yakin kamu mau bilang kayak gitu!" kesalku pada ponsel yang terus berdering.
Jariku ragu untuk mengangkatnya, sampai dering itu lenyap.
Tapi anehnya...
Dion terus menelponku tanpa henti. Tidak seperti biasanya.
Aku terdiam menatap layar ponselku. Aku merasa seperti harus mengangkat telepon itu.
Jariku ragu, jantungku berdetak cepat.
Hujan yang membasahi tubuhku seperti tidak terasa sama sekali.
"Halo,” jawabku ragu.
"Halo... kamu Diona?” tanya si penelpon ragu.
"Kenapa suara perempuan? Suaranya kayak abis nangis," batinku.
"Iya, saya Diona,” jawabku terbata.
Terdengar tarikan nafas berat di seberang telepon. Jantungku langsung merasa seperti akan copot.
“Maaf, Dion tidak akan bisa menepati janji bertemu kamu di taman," suaranya seperti menahan tangis.
“Ada apa?" tanyaku.
“Karena Dion…(hening) sudah pergi," jawabnya terbata-bata.
“Pergi... kemana?” tanyaku dengan tubuh gemetar.
Tapi yang kudengar hanya suara tangis.
Kakiku langsung terasa lemas.
Air hujan yang membasahi tubuhku terasa seperti pisau yang menusuk kulitku.
Aku membeku di bawah guyuran hujan.
Telingaku terasa sangat berisik tetapi anehnya...
Kepalaku terasa kosong...
“Aaaaaaaaakkkkkkkk......," teriakku.
Aku berlari setelah Ibu Dion memberitahukan tempat peristirahatan terakhir Dion.
Taman bunga dan tempat peristirahatan terakhirnya hanya berjarak dua kilometer, tapi entah kenapa jaraknya seperti ribuan kilometer.
Bunga-bunga indah di taman terasa seperti layu saat aku melewatinya.
Aku terus berjalan hanya dengan sebelah sepatu. Entah dimana sepatu itu terlepas. Kakiku lecet karena menginjak aspal.
Aku berdiri mematung melihat rumah baru Dion.
Rumah Dion saat ini hanya berupa gundukan tanah yang diguyur hujan.
“Maaf aku terlambat," ucapku parau.
Wanita yang tadi menelepon menghampiriku dan memelukku.
Aku menangis keras di pelukan wanita itu, dia adalah Ibu kandung Dion.
Aku berdiam diri selama dua jam lamanya, sebelum akhirnya Ibu Dion mengantarku untuk pulang.
Di perjalanan...
"Sebenarnya sudah sebulan terakhir ini kesehatan Dion menurun,” ucap Ibu Dion dengan suara tersendat.
"Hari ini Dion berencana untuk menemui kamu, dia berangkat pagi-pagi sekali untuk menyiapkan kejutan untuk kamu. Tapi...(menangis)," suaranya tercekat.
“Saat di perjalanan menuju taman bunga, Dion...(terdiam),” tangisnya pecah.
Aku terdiam mendengarnya.
“Dion menepati janjinya," batinku.
Aku menutup wajah dengan kedua tanganku. Tangisku pecah saat mengingat momen hangatku bersama Dion.
Aku berjalan ke kamarku dengan langkah gontai. Kakiku terasa seperti tidak memiliki tulang.
Bajuku sudah sangat basah.
Aku duduk menyendiri di pojok kamarku.
Kulihat tas pink yang saat itu kupakai saat pertama kali bertemu Dion.
Kukeluarkan seluruh isi tas. Ada banyak foto yang dihasilkan saat itu.
Aku melihat satu persatu hasil foto itu. Dan...
"Kenapa ada foto Dion?” ucapku parau.
Saat pertemuan pertama itu, aku tidak sengaja memfoto Dion karena terkejut.
Dan foto yang terjatuh itu adalah foto Dion.
Mata Dion membentuk bulan sabit di dalam foto itu. Senyumannya disinari oleh cahaya matahari hari itu.
"Senyuman terindah yang akan selalu aku ingat,” ucapku tersenyum dengan penuh air mata.
Hening...
“Dion, tunggu aku ya.”