Aroma kopi yang kuat dan cahaya sore yang menerobos jendela besar kafe itu masih sama, namun rasanya sudah berbeda. Dulu, tempat ini penuh dengan anyaman bambu dan perabotan kayu jati tua yang berat—tempat di mana Ibu Angel, Angelista Marwan, dan Ayah Bob, Bob Brickle, sering menghabiskan waktu sembari bertukar tawa kecil. Kini, semuanya telah berubah menjadi modern dan minimalis, persis seperti hubungan mereka yang mulai mendingin dan kaku.
Di salah satu sudut meja, Ibu duduk terdiam. Di hadapannya, Ayah tampak sibuk dengan dunianya sendiri, sementara Gemi, Gemini Asylla, istri kedua Ayah, duduk dengan anggun di samping suaminya. Kehadiran wanita itu seperti sekat kaca yang tak terlihat namun tajam, memisahkan masa lalu Ibu dengan realita pahit saat ini.
"Dulu kita pernah bercanda di meja ini, Bob," gumam Ibu pelan, jemarinya mengusap tepian meja kayu yang kini terasa terlalu halus dan asing.
"Saat itu, kafe ini masih memakai lampu minyak di setiap sudutnya."
Ayah hanya mendongak sekilas, tatapannya datar tanpa emosi. Gemi tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih terasa seperti kemenangan daripada keramahan.
"Zaman berubah, Kak Angel. Yang tradisional harus diperbarui agar tidak tertinggal," sahut Gemi dengan nada yang tenang namun menyakitkan.
Di atas panggung kecil di dekat bar, aku memetik senar gitar akustikku, memecah kesunyian yang canggung itu. Aku, Arlo Sean Brickle, putra semata wayang mereka, berdiri di sini dengan wibawa dan kesedihan yang mendalam. Nama yang dulu mungkin terdengar lain, namun kini aku hadir dengan identitas baruku, membawa semua kenangan yang pernah ada.
Aku memainkan melodi tua yang dulu sering dinyanyikan Ayah untuk menidurkanku saat masih bayi bernama Sean. Suara gitar ini seolah memanggil kembali bayangan masa lalu ke dalam ruangan yang kini penuh gaya ini. Aku melihat Ibu memejamkan mata, mungkin ia sedang teringat saat aku masih kecil dan kami bertiga adalah sebuah keutuhan di kafe tradisional ini.
Namun saat aku menatap fokus ke arah meja mereka, mataku tidak memancarkan keceriaan. Ada luka yang tersembunyi di balik setiap nada yang ku mainkan—sebuah protes bisu atas kehancuran rumah tangga orang tuaku dan kehadiran sosok baru yang kini dengan santai mengisi kursi di samping Ayah.
Di bawah lampu-lampu gantung yang estetik itu, masa lalu dan masa kini berbenturan tepat di hadapanku. Kafe ini mungkin telah bersolek menjadi cantik dan modern, namun bagiku setiap sudutnya tetap menyimpan sisa-sisa candaan yang kini telah berubah menjadi kenangan pahit yang tak mau diulang lagi.
Dan aku hanya bisa membiarkan musikku yang berbicara mewakili segala rasa yang tak mampu diucap.Setiap senar yang kusetrik terasa seperti mengempar-gemparkan dada sendiri. Melodi itu berputar terus, menguar di udara yang perlahan menjadi dingin meski matahari sore masih bersinar. Aku melihat bagaimana Ayah, akhirnya menaruh ponselnya. Tatapannya tertuju padaku, namun ada jarak ribuan kilometer di antara pandangan kami. Ia mungkin mengenali lagunya sendiri, namun sepertinya ia lupa wajah siapa yang kini memainkannya.
Di sebelahnya, Gemi hanya bersandar manja, bertepuk tangan pelan seolah aku hanyalah penghibur yang menyenangkan, tidak lebih. Ia tidak tahu bahwa setiap nada yang keluar dari gitar ini adalah darah dan air mata yang kami tahan agar tidak tumpah di meja itu.
"Indah sekali suaranya, Mas," ucapnya lirih, namun cukup keras sampai terdengar di telingaku.
"Seperti ada cerita sedih di baliknya."
Aku tidak menjawab. Aku hanya mengalihkan pandangan ke arah Ibu. Bahunya mulai bergetar pelan. Ia menunduk, menyembunyikan wajah di balik tangan yang saling menggenggam erat. Aku tahu ia sedang menangis dalam diam, berjuang menahan isak agar tidak terdengar. Hati ini rasanya hancur melihatnya begitu rapuh di hadapan wanita yang merebut tempatnya.
Lagu itu berakhir dengan satu denting panjang yang perlahan memudar, sama seperti harapan kami bahwa keluarga ini bisa utuh kembali. Keheningan kembali menyelimuti ruangan, kali ini lebih berat dari sebelumnya.
Aku meletakkan gitar, lalu turun dari panggung dengan langkah yang berat. Aku berjalan melewati meja mereka, berhenti tepat di samping kursi Ibu.
"Terima kasih untuk lagu lamanya, Nak," suara Ayah akhirnya terdengar, datar dan kaku.
Aku menoleh, menatapnya dalam-dalam.
"Lagu ini tidak pernah tua, Yah. Hanya orang-orang yang melupakannya yang merasa asing."
Aku lalu menyambar tangan Ibu yang dingin dan basah oleh air mata.
"Ayo kita pulang, Bu. Tempat ini sudah bukan rumah kita lagi. Meja kayunya mungkin masih sama bentuknya, tapi rasanya... sudah asing."
Ibu mengangguk pelan, bangun dan berjalan bersamaku meninggalkan mereka berdua di sana.
Di balik pintu kaca yang tertutup, aku tahu melodi itu akan tetap tertinggal, terperangkap di antara dinding modern yang dingin, sebagai saksi bisu bahwa cinta yang dulu dibangun di atas kayu jati dan anyaman bambu tidak bisa sekadar diganti dengan kemewahan yang hampa.
Dan aku akan terus memetik senar ini sampai luka ini menjadi cerita dan cerita ini menjadi pelajaran bahwa beberapa pertemuan akhirnya hanya tersisa sebagai kenangan yang tak ingin diulang.