Surat balasan yang dikirimkan Ridwan ke Sukoharjo ternyata membawa gelombang yang tak terduga. Ayahnya, seorang guru mengaji yang bijak, tidak membalas dengan kemarahan. Sebaliknya, sebuah tiket pesawat satu arah menuju Jakarta terselip di dalam amplop balasan sebulan kemudian. Kalimat pendek ayahnya tertulis di sana: "Pulanglah, Nak. Selesaikan apa yang harus diselesaikan di sini. Ilmu tanpa ketenangan hati hanya akan menjadi beban."
Ridwan mendarat di tanah air dengan perasaan campur aduk. Aroma tanah basah setelah hujan menyambutnya, sangat berbeda dengan debu kering Kairo yang selama ini memenuhi paru-parunya. Namun, kejutan terbesar menantinya di bandara. Bukan ayahnya yang menjemput, melainkan sebuah mobil mewah yang dikemudikan oleh asisten Kyai di pesantren lamanya.
"Selamat datang kembali, Mas Ridwan," sapa pria itu ramah. "Kita langsung menuju ke Sukoharjo. Ada acara besar di pesantren."
Sepanjang perjalanan, jantung Ridwan bertalu-talu. Ia merasa seperti seorang terpidana yang menuju tiang gantungan. Bayangan Haura Mumtaza, sang putri Kyai yang ia anggap "terlalu tinggi", menghantuinya. Ia merasa berdosa karena dalam hatinya, nama Arini Kumalasari masih terpatri kuat seperti ukiran di batu.
Setibanya di pesantren, suasana sudah sangat ramai. Tenda-tenda putih berdiri megah. Ridwan melangkah gontai menuju kediaman Kyai. Di sana, ia melihat sosok pria tua berwibawa yang selama ini ia segani. Kyai tersenyum lebar melihat Ridwan, lalu merangkulnya erat.
"Ridwan, akhirnya kau sampai. Masuklah, ada seseorang yang ingin bicara denganmu," ujar Kyai lembut.
Ridwan melangkah masuk ke ruang tamu yang asri. Di sana, duduk seorang wanita yang mengenakan gamis berwarna nude yang sangat sederhana. Wajahnya tertutup cadar, namun matanya memancarkan ketenangan yang sangat akrab di ingatan Ridwan. Wanita itu menunduk saat Ridwan masuk.
"Ridwan," Kyai berdehem, "Banyak yang mengira Haura Mumtaza adalah sosok yang haus akan kemewahan karena statusnya. Tapi mereka lupa, nama itu hanyalah pemberian manusia. Di dalam hatinya, ia hanya ingin menjadi hamba yang sederhana."
Wanita di depan Ridwan itu mengangkat wajahnya sedikit. "Mas Ridwan... apa kau masih ingat kitab Syarah Al-Hikam yang kau pinjam sepuluh tahun lalu di perpustakaan?"
Suara itu lembut, bergetar, dan sangat familiar. Ridwan terpaku. Ia teringat catatan-catatan pinggir yang cerdas di kitab lusuh milik Arini. "Arini?" bisik Ridwan nyaris tak terdengar.
Wanita itu perlahan membuka cadarnya atas izin sang ayah. Di balik kain itu, tersenyum wajah manis yang selama ini Ridwan cari dalam doa-doanya. Namun, ada yang berbeda. Wajah itu adalah wajah Arini, tapi binar matanya adalah binar mata seorang putri yang terdidik.
"Nama kecilku Arini Kumalasari, Ridwan. Ayah memberiku nama itu agar aku bisa tumbuh membumi sebagai santri pengabdi, sebelum orang-orang mengenalku sebagai Haura Mumtaza," ucap gadis itu dengan rona merah di pipi. "Selama ini aku mengabdi di sini, menunggumu pulang dari Mesir, sambil terus memperbaiki diri agar suatu saat nanti, aku bisa menjadi istri yang 'sefrekuensi' dengan pemikiranmu."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Ridwan. Rasa tidak "selevel" yang selama ini mencekiknya luruh seketika, berganti dengan rasa syukur yang membuncah hingga ke ubun-ubun. Ternyata, sosok yang ia cintai dalam kesederhanaan dan sosok yang dijodohkan orang tuanya adalah orang yang sama. Tuhan tidak sedang memaksanya memilih, Tuhan sedang memberikan jawaban terbaik melalui plot yang paling indah.
"Jadi... selama ini kau tahu?" tanya Ridwan gagap.
Arini mengangguk kecil. "Aku sering mendengar kabarmu dari Ayah. Tentang prestasimu di Al-Azhar, juga tentang bagaimana kau menolak perjodohan ini karena merasa tidak pantas. Justru karena alasan itulah, aku semakin yakin bahwa kaulah orangnya. Kau tidak melihat status, kau mencari jiwa."
Malam itu, di bawah naungan langit Sukoharjo yang bertabur bintang, sebuah akad yang sangat syahdu dilangsungkan. Tanpa pesta yang berlebihan, sesuai permintaan keduanya yang mencintai kesederhanaan. Saat Ridwan mengucapkan kalimat qobiltu, seluruh alam seolah mengamini.
Setelah acara usai, mereka duduk berdua di teras belakang yang menghadap ke hamparan sawah. Ridwan menatap istrinya, masih merasa seperti sedang bermimpi.
"Dulu di Kairo, aku hampir putus asa," aku Ridwan jujur. "Ada Alicia, Stephanie, Elif... mereka semua adalah ujian bagiku. Tapi setiap kali aku menutup mata, hanya wajahmu yang muncul, meski aku sendiri ragu apakah kau masih mengingatku."
Arini tersenyum, menyandarkan kepalanya dengan sangat sopan di bahu Ridwan. "Doa adalah tali yang tidak bisa diputus oleh jarak, Mas. Aku mungkin tidak ada di Kairo, tapi namamu selalu ada di setiap sujudku di sini."
Ridwan mengambil tangan Arini, mengecupnya dengan penuh takzim. Rasa romantis yang mereka bangun bukan berdasarkan rayuan gombal, melainkan berdasarkan rindu yang terjaga dalam ketaatan. Ridwan merasa sangat puas. Kesabarannya di perantauan, keteguhannya menjaga pandangan, dan keberaniannya untuk jujur pada orang tua telah membawanya pada pelabuhan yang paling sempurna.
"Terima kasih sudah menungguku, Arini Mumtaza," bisik Ridwan.
"Terima kasih sudah menjemputku dengan cara yang paling mulia, Ridwan Farid," balasnya lembut.
Kehangatan itu menyelimuti mereka, sebuah akhir dari pencarian yang melelahkan. Namun, Ridwan tahu, ini barulah awal dari babak baru. Mereka tidak hanya akan membangun rumah tangga, tapi juga membangun mimpi bersama di pesantren ini. Ridwan melihat masa depan yang cerah, di mana ia dan Arini akan mengajar santri-santri mereka tentang arti cinta yang sebenarnya: cinta yang tumbuh karena iman, dan bersatu karena takdir yang indah.