Lara duduk di pinggir tempat tidur kosannya yang sempit, jari-jarinya gemetar saat membuka aplikasi sugar dating malam itu. Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam, dan tagihan kos serta biaya skripsi semester tujuh menumpuk seperti gunung. Pacarnya, Raka, memang baik hati dan selalu mendukung, tapi Raka hanya mahasiswa biasa seperti dirinya. Uang saku Raka bahkan tidak cukup untuk makan mereka berdua di akhir bulan.
Dengan napas berat, Lara mengetik profilnya: mahasiswi 22 tahun, mencari pendamping dewasa yang bisa saling menguntungkan. Tak lama, notifikasi masuk. OmRey_45 mengirim pesan: “Halo cantik, foto profilmu bikin aku penasaran. Mau ketemu besok malam? Aku tanggung semua kebutuhanmu.”
Foto profil pria itu gelap, tapi yang terlihat cukup: rahang tegas, jas mahal, dan senyum yang membuat perut Lara bergejolak. Ia balas ya, meski hatinya berdebar. Keesokan malamnya, mereka bertemu di lobi hotel bintang lima. Lara memakai dress hitam sederhana yang dipinjam teman. Saat lift terbuka, Rey berdiri di sana—tinggi, bahu lebar, rambut sedikit beruban di pelipis, usia sekitar 45 tahun. Matanya tajam, seolah bisa membaca jiwa Lara.
“Rey,” katanya sambil mengulurkan tangan besarnya. Suaranya dalam dan berwibawa. “Kamu Lara? Lebih cantik dari foto.”
Malam itu berlalu dengan makan malam mewah di rooftop. Rey bercerita santai. Ia CEO perusahaan properti besar, duda dengan satu anak laki-laki yang sedang kuliah. “Aku tidak cari istri baru,” ujarnya sambil menuang wine ke gelas Lara. “Hanya teman yang bisa menghangatkan malam-malamku yang sepi. Dan kamu… sepertinya pas.”
Setelah makan, mereka naik ke suite. Pintu tertutup rapat, cahaya lampu temaram. Rey mendekat pelan, tangannya menyentuh pinggang Lara dengan lembut. “Kamu boleh bilang stop kapan saja,” bisiknya di telinga gadis itu. Tapi Lara tidak bilang stop.
Malam pertama itu, Lara merasakan perbedaan besar. Rey bukan seperti cowok seusianya yang terburu-buru. Ia sabar, telaten, seolah tubuh Lara adalah sesuatu yang harus dijelajahi dengan seksama. Setiap ciuman di leher, setiap sentuhan jari di paha dalam, membuat Lara melengkungkan punggung dan mendesah tanpa kendali. Rey mengangkat tubuhnya ke ranjang, melepaskan dress hitam itu perlahan sambil menciumi setiap inci kulit yang terbuka. Lidahnya turun ke payudara Lara, mengisap puncaknya hingga gadis itu menjambak rambut pria itu dan mengerang, “Om… ahh…”
Rey tersenyum di antara ciuman. “Panggil Ayah kalau mau,” godanya serak. Tangan besarnya membuka paha Lara lebar, lidahnya menemukan titik sensitif yang basah dan berdenyut. Lara menjerit pelan saat gelombang pertama datang, tubuhnya gemetar hebat. Rey tidak berhenti di situ. Ia bangkit, melepaskan pakaiannya sendiri. Tubuhnya masih kencang untuk usia 45 tahun—dada bidang, perut rata, dan kejantanannya yang tegang siap.
Ia masuk perlahan, memberi waktu Lara menyesuaikan. “Kamu sempit sekali, Sayang,” desis Rey sambil mendorong lebih dalam. Gerakan awalnya pelan, tapi semakin cepat seiring erangan Lara yang semakin liar. Setiap hantaman membuat payudara Lara bergoyang, membuat Rey semakin bergairah. Ia memegang pinggul Lara kuat, membalik posisi hingga gadis itu di atas. “Gerakkan pinggulmu, Lara. Tunjukkan pada Ayah seberapa lapar kamu.”
Lara menurut, naik turun dengan ritme yang semakin gila. Keringat mereka bercampur, suara kulit bertemu kulit memenuhi ruangan. Saat klimaks kedua datang, Lara menjerit nama “Ayah” berkali-kali. Rey menyusul tak lama kemudian, menumpahkan panasnya di dalam tubuh Lara sambil menggigit bahu gadis itu pelan.
Pagi harinya, Lara bangun dengan tubuh pegal manis. Di meja ada amplop tebal berisi uang tunai dan kartu kredit baru. Pesan singkat dari Rey: “Gunakan ini untuk kebutuhanmu. Besok kita ketemu lagi di apartemenku.”
Dua bulan berlalu dengan cepat. Lara semakin ketagihan. Rey bukan hanya memberi uang—ia memberi perhatian, hadiah, dan kenikmatan yang membuat Lara lupa segalanya. Setiap pertemuan selalu berakhir di ranjang, sofa, bahkan meja makan apartemen mewah Rey. Rey suka mendominasi, suka mendengar Lara memanggilnya “Ayah” saat sedang dalam puncak gairah. Ia suka memegang rambut Lara saat gadis itu melayaninya dengan mulut, suka membalik tubuh Lara dan masuk dari belakang sambil berbisik kata-kata kotor yang membuat Lara semakin basah.
Sementara itu, hubungan Lara dengan Raka masih berjalan. Raka lembut, penuh kasih sayang, tapi sentuhannya tidak pernah membuat Lara merasa seperti ini—penuh, dimiliki, dan tergila-gila. Lara merasa bersalah setiap kali Raka menciumnya, tapi nafsu pada Rey terlalu kuat untuk ditolak.
Suatu sore, setelah sesi panas di apartemen Rey, Lara berbaring di dada bidang pria itu. Jari Rey membelai rambutnya lembut. “Besok anakku pulang liburan semester,” kata Rey tiba-tiba. “Dia kuliah di kota yang sama denganmu. Kamu tetap bisa datang, tapi hati-hati.”
Lara tersenyum manis. “Tenang, Om. Aku nggak akan ganggu keluarga Om.”
Ia tidak tahu bahwa besok akan menghancurkan dunianya.
Raka mengajak Lara makan malam ke rumah orang tuanya. “Papa jarang di rumah, tapi kali ini sengaja libur buat ketemu kamu, Lar,” kata Raka sambil tersenyum polos.
Mobil Raka berhenti di depan rumah mewah dua lantai di kawasan elite. Lara menggenggam tangan Raka erat saat pintu depan terbuka. Pria yang berdiri di ambang pintu memakai kemeja putih lengan digulung dan celana chino gelap. Senyumnya membeku saat mata mereka bertemu.
Rey.
Lara merasa darahnya membeku. Sugar daddy-nya, pria yang dua malam lalu membuatnya menjerit dan orgasme berkali-kali di atas meja makan apartemen, kini berdiri sebagai ayah pacarnya.
“Selamat datang, Lara,” kata Rey dengan suara tenang, seolah tidak ada apa-apa. Tapi matanya berkilat bahaya dan nafsu yang sama. “Akhirnya kita bertemu juga.”
Raka memeluk ayahnya. “Pa, ini Lara, pacarku.”
Rey menjabat tangan Lara. Sentuhannya hangat, tapi jempolnya mengusap punggung tangan Lara lebih lama dari biasa. “Senang bertemu kamu, Nak. Duduklah, makan malam sudah siap.”
Sepanjang makan malam, Lara hampir tidak bisa menelan apa pun. Rey bertanya sopan tentang kuliah dan mimpi-mimpinya. Raka bercerita bangga tentang pacarnya yang “mandiri dan pintar”. Di bawah meja, ponsel Lara bergetar.
Pesan dari Rey: “Jangan tegang begitu. Senyum manis. Besok sore, hotel biasa. Ayah tunggu. Jangan berani kabur.”
Lara merasa lutut Rey menyentuh pahanya di bawah meja. Ia menarik kaki, tapi Rey malah mendekatkan kursinya. Jari kakinya naik pelan menyentuh betis Lara, lalu lebih tinggi. Lara menggigit bibir kuat agar tidak mendesah. Tubuhnya mengkhianati, celana dalamnya sudah basah hanya karena sentuhan kecil itu.
Malam itu, saat Raka mengantarnya pulang, Lara pura-pura capek. Begitu sampai kosan, pesan Rey terus berdatangan.
“Kamarmu basah tadi di meja makan? Aku tahu kamu ingat malam kemarin.”
“Raka tidur di kamar sebelahku sekarang. Besok pagi dia kuliah pagi. Datang ke rumah jam 10. Pintu belakang tidak dikunci.”
Lara menangis di bantal, tapi tangannya sudah turun ke antara pahanya, membayangkan tangan Rey. Ia ingin menolak, tapi tubuhnya sudah terlalu terlatih menikmati pria itu.
Pukul 09.55 keesokan harinya, Lara sudah berdiri di pintu belakang rumah Rey. Raka memang sudah berangkat. Rey membuka pintu hanya memakai handuk di pinggang. Dada bidangnya masih basah setelah mandi.
“Masuk,” katanya pendek, suaranya sudah serak.
Begitu pintu tertutup, Rey mendorong Lara ke dinding koridor. Ciumannya kasar, penuh kepemilikan. “Kamu berani datang ke rumah anakku sambil pura-pura polos di depannya?” desis Rey di antara gigitan di bibir Lara. “Kamu milik Ayah sekarang, bukan milik Raka.”
Tangan Rey menyelusup ke balik rok Lara, menemukan celana dalam yang sudah basah kuyup. “Lihat ini… kamu sudah siap untuk Ayah sejak tadi malam.”
Mereka tidak sampai ke kamar. Di sofa ruang keluarga yang sama tempat Raka biasa duduk, Rey membaringkan Lara. Ia menarik rok Lara ke atas, mengecup paha dalamnya pelan sebelum lidahnya menyerang titik sensitif itu dengan rakus. Lara menjambak rambut Rey, pinggulnya terangkat otomatis. “Ayah… ahh… jangan di situ… nanti ketahuan…”
Rey tersenyum licik. “Panggil Ayah lebih keras. Anakku tidak ada di rumah.”
Lidah dan jari Rey bekerja dengan ahli, membawa Lara ke puncak dua kali berturut-turut sebelum ia bangkit dan melepaskan handuk. Kejantanannya sudah tegang maksimal. Ia mengangkat pinggul Lara, masuk dengan satu hantaman kuat. Lara menjerit, merasa penuh dan diregangkan. Gerakan Rey cepat dan dalam, setiap dorongan membuat sofa bergoyang.
“Kamu semakin sempit setiap kali kita ketemu,” geram Rey sambil memegang payudara Lara dan memilin puncaknya. “Bayangkan kalau Raka tahu ayahnya sedang menggoyang pacarnya di sofa ini.”
Kata-kata itu justru membuat Lara semakin bergairah. Ia memeluk leher Rey, kakinya melingkar di pinggang pria itu. Mereka berganti posisi—Lara di atas, naik turun dengan liar sambil menciumi dada Rey. Rey memegang pinggulnya, membantu gerakan semakin cepat. Saat klimaks datang, Lara menjerit nama “Ayah” sambil tubuhnya kejang. Rey menyusul, menumpahkan semuanya di dalam Lara dengan erangan dalam.
Mereka terbaring lemas. Rey mencium kening Lara lembut. “Kamu cantik sekali saat menyerah begini. Mulai sekarang, kamu datang ke sini setiap kali Raka kuliah. Mengerti?”
Lara mengangguk lemah, meski rasa bersalah mulai menyelinap. Tapi nafsu itu lebih kuat.
Hubungan rahasia mereka semakin berani. Rey sering memanggil Lara ke rumah saat Raka sibuk kuliah sore. Kadang di kamar Raka sendiri—Rey sengaja membaringkan Lara di tempat tidur anaknya, berbisik, “Bayangkan Raka tidur di sini setiap malam, sementara Ayah menguasai pacarnya di kasur yang sama.”
Suatu malam, Raka mengajak Lara menginap karena “Papa lagi ke luar kota”. Rey memang ke luar kota, tapi pulang lebih cepat tengah malam. Saat Raka tertidur lelap di kamar tamu, pintu kamar Lara diketuk pelan. Rey masuk hanya memakai boxer.
“Shh,” bisiknya sambil menutup mulut Lara dengan telapak tangan besarnya. “Anakku tidur di sebelah. Jangan berisik, atau kita ketahuan.”
Rey membalik tubuh Lara, membuatnya menempel di kasur dengan posisi doggy. Dari belakang, ia masuk perlahan tapi dalam, gerakan pelan agar tempat tidur tidak berderit keras. Lara menggigit bantal kuat-kuat untuk menahan erangan. Rey satu tangan memegang payudara Lara, meremasnya, sementara tangan lain menutup mulut gadis itu.
“Kamu basah sekali, Sayang,” bisik Rey di telinga Lara sambil menghantam pelan tapi kuat. “Takut ketahuan ya? Itu yang bikin kamu semakin panas.”
Setiap hantaman membuat Lara gemetar. Suara napas mereka tertahan, hanya desahan pelan yang lolos. Rey mempercepat sedikit saat merasa Lara semakin dekat. Saat orgasme datang, Rey menekan mulut Lara kuat-kuat agar jeritannya tidak terdengar. Ia menyelesaikan di dalam lagi, tubuhnya mengejang di atas punggung Lara sambil menggigit bahu gadis itu.
Mereka berbaring diam beberapa saat. Rey mencium punggung Lara lembut sebelum bangkit dan keluar kamar seperti bayangan.
Rahasia itu mulai retak. Lara semakin sulit berpura-pura di depan Raka. Setiap pelukan Raka terasa salah, tapi setiap sentuhan Rey membuatnya ketagihan. Rey semakin posesif. Ia sering kirim pesan kotor saat Lara sedang bersama Raka: “Malam ini Ayah mau di mulutmu” atau “Pakai rok pendek besok, Ayah mau akses mudah”.
Suatu sore, saat Raka sedang ujian, Lara datang ke rumah Rey. Mereka langsung ke kamar utama. Rey melempar Lara ke ranjang king size-nya, melepaskan pakaian dengan kasar. “Hari ini Ayah mau lama,” katanya sambil membuka paha Lara lebar-lebar.
Ia mulai dengan lidahnya yang ahli, menjilat dan mengisap hingga Lara orgasme berkali-kali. Kemudian Rey naik, masuk dengan hantaman dalam yang membuat Lara melengkung. Mereka berganti posisi berkali-kali—missionary, cowgirl, spooning. Rey suka mendengar Lara memohon, “Ayah… lebih dalam… please…”
Keringat mereka bercampur, ruangan penuh aroma seks. Rey akhirnya menyelesaikan di mulut Lara, memegang kepala gadis itu sambil mengerang puas. Lara menelan semuanya, mata berair tapi tubuhnya puas.
Tapi kebahagiaan terlarang itu tidak bertahan lama. Suatu hari, Raka menemukan chat di ponsel Lara yang tertinggal. Chat dari “Om Rey” yang penuh kata-kata panas dan foto-foto intim.
Raka membaca semuanya dengan tangan gemetar. Air matanya jatuh saat ia sadar bahwa pria yang dipanggil “Ayah” oleh pacarnya adalah ayah kandungnya sendiri.
Malam itu, di rumah, Raka konfrontasi Lara di depan Rey. “Kamu… pacarku… simpanan Papa?!”
Lara menangis, tidak bisa berkata apa-apa. Rey berdiri tenang, tapi matanya penuh kepemilikan saat menatap Lara. “Dia memilih siapa yang bisa memberinya apa yang dia butuhkan, Nak,” kata Rey dingin.
Drama meledak. Raka marah besar, memukul dinding hingga tangannya berdarah. Lara terjebak antara rasa bersalah pada Raka dan ketergantungan pada Rey—baik secara finansial maupun fisik. Rey menarik Lara ke pelukannya di depan anaknya sendiri, berbisik, “Kamu milik Ayah. Raka akan mengerti suatu hari.”
Malam setelah pertengkaran itu, saat Raka pergi meninggalkan rumah, Rey membawa Lara ke kamarnya. Ia menghibur Lara dengan cara yang hanya ia tahu—dengan sentuhan lembut yang berubah menjadi gairah liar. Rey membaringkan Lara di ranjangnya, menciumi air mata di pipi gadis itu sebelum turun ke bawah.
“Kamu tidak perlu memilih malam ini,” bisik Rey sambil masuk perlahan. “Biarkan Ayah yang urus semuanya.”
Gerakan mereka malam itu penuh emosi—campuran nafsu, kepemilikan, dan sedikit kasih sayang terlarang. Lara menjerit nama Rey berkali-kali, tubuhnya menyerah total. Rey menyelesaikan di dalamnya lagi, memeluk Lara erat setelahnya.
“Besok kita mulai lagi dari awal,” kata Rey sambil membelai rambut Lara. “Kamu tetap sugar baby Ayah, dan Ayah akan pastikan kamu tidak kekurangan apa pun.”
Lara mengangguk di dada Rey, meski hatinya hancur. Ia tahu ini salah, tahu ini tabu, tapi tubuh dan kebutuhannya sudah terikat pada pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
Hubungan mereka berlanjut dalam bayang-bayang. Raka akhirnya memutuskan hubungan, tapi tidak pernah memberitahu ibunya yang sudah cerai dengan Rey. Lara terus datang ke rumah Rey, kadang diam-diam, kadang terang-terangan. Setiap pertemuan semakin intens—di mobil Rey, di kantornya, bahkan di kamar hotel yang sama tempat mereka pertama kali bertemu.
Rey semakin dominan, semakin suka meninggalkan tanda di tubuh Lara. “Supaya kamu ingat siapa pemilikmu,” katanya sambil menggigit leher Lara saat mereka bercinta di balkon apartemennya yang menghadap kota malam.
Lara tahu suatu hari rahasia ini akan benar-benar meledak. Tapi untuk sekarang, ia menikmati setiap sentuhan, setiap hantaman, setiap erangan “Ayah” yang keluar dari mulutnya. Karena di antara semua kesalahan itu, hanya Rey yang membuatnya merasa hidup sepenuhnya.
Dan Rey? Ia tersenyum setiap kali melihat Lara datang. Baginya, gadis ini bukan hanya sugar baby. Ia adalah miliknya—meski harus merebutnya dari anak sendiri.