Snar matahari pagi menembus kaca besar ruang makan. Aroma kopi hitam yang baru dituang mengepul pelan, bercampur wangi pisang rebus hangat. Gadis berambut panjang itu duduk berhadapan dengan Oma Ina yang sibuk mengupas kulit pisang dengan telaten.
Oma melirik cucunya sambil mengernyit, seakan membaca sesuatu yang disembunyikan.
“Ra, kenapa ya kamu akhir-akhir ini sering banget ke loteng? Oma sampai heran. Sejak kecil, kamu paling malas kalau disuruh ke sana. Padahal, tempat itu penuh debu,” ujarnya sambil menyeruput kopi
Aira tersentak kecil, buru-buru menutupi kegugupan dengan senyuman tipis.
“Ah… itu, Oma. Cuma… Aira penasaran aja dengan buku-buku lama Oma.Buku kuliah Oma sangat bagus dan layak sebagai bahan tugas kuliah,” jawabnya, pura-pura santai mengalihkan.
Wanita tua itu mengangguk pelan, tapi sorot matanya masih di penuhi dengan tanda tanya.
“Hm. Ya sudah. Tapi ingat, Nak. Barang-barang tua itu kadang menyimpan cerita yang tak semua orang bisa pahami. Oma dulu pun suka merasa… aneh kalau terlalu lama di sana.”
" Apa yang Oma rasakan ?Atau kah Oma pernah mengalami peristiwa aneh ?"
Oma mengunyah pisang menatap wajah cucunya lamat, " Ah, tidak apa apa, Nak ku. Oma hanya bingung melihat tingkah mu akhir akhir ini.
“Tenang aja, Oma. Aira nggak apa-apa kok,” sahutnya sambil cepat-cepat mengalihkan pandangan.Dalam hatinya ia bergumam: Oma nggak boleh tahu. Kalau sampai Oma lihat buku itu sudah terisi tulisan baru yang aneh, aku bisa dianggap gila.
====
Malam harinya, ketika rumah tua peninggalan Belanda itu terlelap, Aira kembali menyelinap ke loteng. Tangga kayu berderit pelan setiap ia pijak. Debu beterbangan disinari cahaya bulan dari jendela kecil. Kotak kayu itu menunggu di pojok, seakan memanggilnya.
Aira membuka sketchbook dengan hati berdebar. Tulisan tinta biru sudah ada di sana.
“Aira, malam ini aku tak bisa tidur. Suaramu—meski hanya lewat tulisan—terus terngiang mengusik. Kamu bilang semua orang di zamamu sibuk dengan layar?layar apa sih ? Sementara di dunia kami di sini gaduh, tapi hangat. Dunia kalian ramai, tapi sunyi. Itu menyedihkan.”
Aira tersenyum miris mengambil pena membalasnya
“Iya, Bim. Layar sosmed, handphone namanya Kadang gue ngerasa punya semua kemudahan, tapi tetep aja kesepian. Eh, btw, kalian di kampus tahun 1965 ngapain sih selain rapat-rapat?”apa kalian gak nyari pacar ?"
Ups Aira menutup mulutnya, apakah gue lancang menanyakan pacar ?
Balasan muncul pelan pelan huruf demi huruf seakan ditulis di hadapannya.
" Handphone ?apa itu ? internet ?
Gadis itu tertawa kecil, sungguh sulit untuk menerangkannya, " Handphone Telpon yang bisa dibawa kemana mana." Internet jaringan data
" Telpon yang bisa dibawa ? jaringan ? Memangnya data bisa berpindah ? Aku mahasiswa teknik tapi aku sendiri masih bingung bagaimana cara nya."
" Ah sudah lah, Bim, pertanyaan gue belum lu jawab."
"Ah kamu ada ada aja Aira, aku belum memikirkan nya kesana, lagian aku sibuk, Aira, atau...Eh gak usah ah.
Lalu, jawabanmu ?
“Selain rapat, kami punya teater mahasiswa. Ada musik—gitar tua dengan tiga senar saja sudah cukup bikin kami bernyanyi sampai larut. Pernah listrik padam, kami menyalakan lilin, lalu menyanyi bersama. Gelap gulita, tapi hangat. Apa di zamanmu masih ada begitu?”
Gadis itu terkekeh lirih, pertanyaannya tidak dijawab
“Hahaha… di sini kalau listrik mati orang malah update status: ‘Listrik padam, guys!’ Terus ribut minta kompensasi. Gue sih bengong aja nunggu HP lowbat.”
Tulisan Bima muncul dengan cepatnya,
“Status? Apa itu? Mengapa semua orang harus tahu lampu padam? Lucu sekali.”
Aira menggigit bibir menahan senyum, konyol terasa olehnya
“Status itu semacam… catatan publik. Jadi semua orang bisa lihat. Kalau gue nulis ‘lagi bete’, orang tahu gue lagi bete, kalau gue lagi kangen, orang juga tahu."
Laki laki itu membalas pelan seakan otaknya dipenuhi dengan pertanyaan besar.
“Jadi kalau kamu menulis ‘lagi rindu’, semua orang tahu kamu rindu? Aneh ya. Rindu seharusnya ditulis diam-diam, di halaman buku, untuk orang yang tepat, bukan di beritahu kepada Mak comblang.
Dada gadis itu tiba tiba bergemuruh menjawab dengan ragu.
“Kalau begitu… gue nulis di buku ini, ada perasaan yang lain, Gue nungguin tulisan lu tiap hari. Itu… termasuk rindu nggak?" Apakah lu juga merasakannya ? "
Tiba tiba hening tanpa ada ada balasan lagi. Apakah gue salah menanyakan hal ini, Bim? Bisiknya rintih. Ataukah engkau malu untuk mengungkapkan perasaan lu ?
Ia akhirnya menutup buku dengan pipi panas, lalu turun kebawah kembali masuk ke dalam kamarnya dengan hati gundah.
====
Pagi berikutnya, saat ia kembali ke loteng, tulisan itu sudah memenuhi halaman.
“Iya, Aira. Itu rindu. Dan aku pun sama. Aku menantikan tiap tulisanmu. Meski wajahmu hanya sebuah sketsa aneh, aku membayangkanmu tiap malam. Kamu membuat dunia asrama yang gaduh ini terasa sunyi dengan cara yang menyenangkan.”
Senyuman manis tersungging di bibir tanpa disadarinya. Ada rasa hangat menjalari dada Aira membuatnya senang.
" Aku ingin melihat asrama mu, Bim, melihat mu bercengkrama dan bercerita dengan teman teman dengan heroik.
Balasan Bima
"Datang lah kemari gadis cantik, aku akan menunggumu."
Dan hari-hari berikutnya, percakapan mereka semakin panjang, terkadang lucu dan konyol.
Aira pernah menggambar hamburger dan kentang goreng membuat laki laki itu membalas dengan bingung:
“Apa ini roti sebesar batu bata? Dan tongkat kuning kecil ini… apa benar untuk dimakan?”
Aira tertawa terbahak di loteng
“Itu makanan cepat saji, Bima, Burger dengan kentang. Enak banget, Bim! Tapi kata orang gak sehat."
Bima membalas dengan cepat
"Aku tidak suka Aira , jika kamu ada disini pasti akan aku akan traktir tempe goreng dan sambal. Itu baru makanan yang lezat."
Bayangan seorang pemuda sederhana menawarkan tempe goreng membuat jantung Aira berdebar tak menentu, hanya disuguhi tempe saja jantungnya meloncat loncat ? Apalagi di cium nya...Waduuh, ciuman ma hantu.
Malam berikutnya gadis itu kembali menulis
“Bim, di sini orang bisa video call. Jadi bisa ngobrol sambil lihat wajah lawan bicara lewat layar.”
Balasan Bima penuh keterkejutan dan keheranan
“Astaga…benarkah demikian ? Apakah seperti televisi tapi hanya untuk dua orang? Kalau benar adanya aku ingin sekali melihatmu. Tapi aku tahu itu mustahil, karena dunia kita berbeda.”
Aira menahan senyum getirnya membalasnya dengan perasaan yang membuncah
“Gue juga pengen lihat lu, Bim. Tapi entah kenapa, gue selalu kebayang lu lagi nulis sambil nyengir, lucu pastinya.
Tulisan biru kembali muncul, singkat tapi mengena
“Dan aku selalu membayangkan kamu membaca tulisanku dengan mata berbinar. Itu cukup bagiku, Aira, ingin rasa nya aku terbang melewati lorong waktu menjengukmu."
Gadis itu terdiam lama. Hatinya bergetar dengan perasan yang berkecamuk, matanya basah. Ia belum pernah merasakan kedekatan sedalam ini dengan siapa pun. Seorang pemuda dari masa lalu, yang seharusnya tak mungkin hadir, kini memenuhi ruang hatinya.
Apakah ini yang namanya rindu? pikirnya lirih
Bersambung