Pagi itu… suasana rumah tidak lagi damai.
Milo duduk di atas lemari, menatap keluar jendela dengan aura dingin.
Di sampingnya, Ucil duduk sambil makan… lagi.
“Fokus,” kata Milo pelan.
Ucil mengunyah.
“Aku fokus… ke makanan.”
Milo menutup mata sebentar.
SDM perlu pembinaan.
Di luar sana…
Anjing itu kembali.
Berdiri tepat di depan rumah.
Tatapannya tajam. Diam. Tidak menggonggong.
Ini bukan kunjungan biasa.
Ini… tantangan terbuka.
Milo berdiri.
“Hari ini… kita perang.”
Ucil langsung berhenti makan.
“Perang? Lawan dia?!”
“Iya.”
“Dia segede lemari, kita segede remote TV!”
Milo menatap dingin.
“Ukuran bukan segalanya.”
Ucil melirik ke arah anjing itu.
“…tapi itu faktor besar sih.”
Milo mulai menyusun strategi.
Dia berjalan bolak-balik di meja, seperti jenderal perang.
“Rencana kita sederhana.”
Ucil menunggu.
Milo berhenti.
“Kita ganggu mentalnya.”
“…gimana caranya?”
Beberapa menit kemudian…
Milo dan Ucil keluar.
Pelan. Terkoordinasi.
Mereka berdiri di depan anjing itu.
Hening.
Angin berhembus dramatis (padahal cuma kipas dari dalam rumah).
Milo menatap anjing itu.
Lalu…
menjatuhkan pot bunga kecil.
“PRANG!”
Anjing itu kaget.
Mundur sedikit.
Ucil ikut.
Dia menendang ember plastik.
“DUK!”
Anjing itu makin bingung.
Milo berbisik,
“Serangan psikologis.”
Ucil mengangguk serius.
“Kayak horor ya.”
Anjing itu akhirnya menggonggong.
“GUK! GUK!”
Milo tetap diam.
Lalu berjalan maju satu langkah.
Tatapan tajam.
Aura dingin.
2 detik.
3 detik.
Anjing itu… mundur.
Perlahan.
Lalu pergi.
Ucil melongo.
“ANJIR… kita menang?!”
Milo memalingkan wajah dengan tenang.
“Seperti yang direncanakan.”
Padahal dalam hati:
Untung dia gampang panik.
Mereka kembali ke dalam rumah sebagai pemenang.
Hari itu terasa seperti kemenangan besar.
Tapi malamnya…
Semuanya berubah.
Pemilik Milo pulang lebih larut dari biasanya.
Bukan dengan santai.
Tapi dengan wajah serius.
Dia duduk di meja.
Membuka laptop.
Milo langsung naik ke atas meja.
Insting CEO-nya aktif.
Rapat malam.
Di layar laptop…
bukan email biasa.
Bukan kerjaan kantor biasa.
Ada banyak grafik.
Foto.
Data.
Dan… gambar wajah orang-orang dengan tanda merah.
Milo menyipitkan mata.
Ini bukan perusahaan biasa.
Pemiliknya berbicara pelan di telepon:
“Iya… targetnya sudah jelas.”
“Besok kita mulai.”
“Tidak boleh ada yang tahu.”
Ucil yang mengintip dari bawah meja langsung gemetar.
“Bro… ini bukan arisan RT…”
Milo tetap diam.
Tatapannya berubah.
Lebih tajam.
Lebih dalam.
Selama ini…
dia pikir dia satu-satunya “bos” di rumah ini.
Tapi ternyata…
Pemiliknya juga punya perusahaan.
Dan perusahaan itu…
jauh lebih berbahaya.
Pemiliknya menutup laptop.
Menatap Milo.
Lama.
“Milo…”
Dia tersenyum tipis.
“Jangan bilang siapa-siapa ya.”
Milo tidak bergerak.
Untuk pertama kalinya…
CEO kecil itu menyadari satu hal:
Dia mungkin menguasai rumah ini…
Tapi dunia di luar sana…
sudah lebih dulu dikuasai oleh seseorang.
Milo perlahan duduk.
Menjaga wibawa.
Baik.
Kalau begitu…
ini bukan akhir.
Ini…
awal kolaborasi.
Di bawah meja, Ucil berbisik:
“Kita… kerja sama sama manusia?”
Milo menjawab pelan:
“Bukan kerja sama…”
Tatapannya dingin.
“Ini… merger.”