Pagi berikutnya, Milo bangun dengan satu pemikiran besar:
Perusahaan ini harus berkembang.
Dia tidak bisa terus mengandalkan satu karyawan yang kadang telat bangun, sering mengeluh, dan—yang paling fatal—lupa isi mangkuk makan.
Tidak efisien.
Jam 06.00.
Milo kembali melakukan inspeksi.
Mangkuk makanan: terisi.
Milo berhenti.
Menatap.
Mengendus.
Lalu menatap pemiliknya yang berdiri sambil tersenyum bangga.
“Milo, aku sudah isi dari tadi loh!”
Milo tetap diam.
Standar terpenuhi. Tapi ini bukan prestasi. Ini kewajiban.
Hari itu, Milo punya rencana besar:
Ekspansi wilayah.
Dia berdiri di dekat jendela, menatap keluar.
Di sana… ada dunia lain.
Ada burung.
Ada kucing tetangga.
Ada kemungkinan kekuasaan baru.
Beberapa menit kemudian…
Milo berhasil membuka sedikit jendela dengan teknik rahasia:
dorong pakai kepala + kesabaran tingkat dewa.
Dia menyelinap keluar.
Langkahnya pelan.
Anggun.
Seperti bos yang turun langsung ke lapangan.
Di halaman, dia bertemu dengan kucing lain.
Seekor kucing oren dengan tatapan santai.
“Lo siapa?” tanya kucing itu.
Milo menatap dingin.
“Aku CEO.”
Kucing oren itu mengedip.
“CEO apaan?”
“Perusahaan ini.”
“…ini halaman Bu Santi.”
Milo diam.
Detail kecil.
Tanpa basa-basi, Milo duduk.
Menatap ke depan.
Menguasai situasi.
Kucing oren itu akhirnya ikut duduk.
“Nama gue Ucil,” katanya.
Milo mengangguk sedikit.
Baik. Kandidat karyawan.
Tiba-tiba…
Dari kejauhan muncul seekor anjing.
Besar.
Bulu tebal.
Aura: HRD galak yang siap memecat semua orang.
Ucil langsung panik.
“BRO LARI!”
Milo tetap diam.
Dia berdiri perlahan.
Menatap anjing itu.
Seorang pemimpin tidak lari.
3 detik kemudian…
Milo lari paling depan.
“INI BUKAN BAGIAN DARI STRATEGI!!”
Mereka berdua lompat masuk kembali lewat jendela.
Milo jatuh… tepat di atas meja.
Menjatuhkan gelas.
Menjatuhkan buku.
Menjatuhkan harga dirinya sedikit.
Pemiliknya teriak dari dapur:
“MILOOOO!!”
Milo langsung duduk rapi.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Ucil masih terengah-engah.
“Gila… itu hampir mati kita.”
Milo menjilat kaki dengan santai.
“Itu… simulasi krisis.”
Beberapa jam kemudian…
Pemilik Milo masuk ke ruang tamu dan melihat…
dua kucing.
“Milo… ini kucing siapa?”
Milo menatap Ucil.
Lalu menatap pemiliknya.
Tatapan penuh arti.
Ini rekrutan baru.
Pemiliknya menghela napas.
“Yaudah deh… satu lagi nggak apa-apa.”
Milo menutup mata perlahan.
Ekspansi berhasil.
Malam hari.
Sekarang ada dua kucing di rumah itu.
Ucil tidur di lantai.
Milo tetap di dada pemiliknya.
Hierarki harus jelas.
Sebelum tidur, Milo berpikir:
Perusahaan berkembang.
Karyawan bertambah.
Wilayah mulai meluas.
Langkah berikutnya…
Dominasi total.
Di luar rumah…
Anjing tadi duduk.
Menatap jendela.
Dengan ekspresi serius.
Seolah berkata:
Perang belum selesai.
Di dalam rumah…
Milo membuka satu mata.
Dan tersenyum tipis.
Bagus.
Akhirnya… ada kompetitor.