Di sebuah kota yang katanya penuh kejahatan, ada satu organisasi mafia yang paling ditakuti…
atau setidaknya mereka berharap begitu.
Nama mereka: Keluarga Nero.
Terdengar keren?
Masalahnya, anggota-anggota di dalamnya… tidak terlalu mendukung nama itu.
Malam itu, mereka berkumpul di markas rahasia.
Bos mereka, Don Arka, duduk di kursi besar sambil menatap tajam.
“Target kita jelas,” katanya dingin.
“Kita akan mengirim pesan.”
Semua anggota mengangguk serius.
Kecuali satu orang.
“Pesan apa, Bos? WhatsApp atau SMS?” tanya Bimo.
Ruangan langsung hening.
Don Arka memijat pelipisnya.
“Pesan… dalam arti metafora, Bimo.”
“Oh… kirain paket data habis.”
Rencana dimulai.
Mereka akan mengintimidasi seorang pengusaha dengan cara klasik:
mengirim ancaman misterius.
Don Arka memberikan amplop hitam.
“Ini alamatnya. Jangan salah.”
Bimo mengangguk penuh percaya diri.
Kesalahan? Tidak mungkin.
30 menit kemudian…
Mereka tiba di sebuah rumah.
Lampu terang, ada suara musik dangdut, dan bau gorengan.
Bimo mengetuk pintu dengan gaya gangster.
Seorang ibu-ibu membuka pintu.
“Iya?”
Bimo langsung memasang wajah serius.
“Kami dari… urusan penting.”
Ibu itu menatap mereka dari atas ke bawah.
“Kalian dari arisan RT ya?”
Don Arka: “…”
Bimo: “…”
Anggota lain: ini pasti salah alamat.
Tapi Bimo tetap melanjutkan misi.
Dia memberikan amplop itu.
Ibu itu membukanya.
Di dalamnya tertulis:
"Kami mengawasimu. Hati-hati."
Ibu itu membaca keras-keras.
Lalu diam.
Kemudian berkata,
“Oh ini pasti dari Bu Rina! Dia masih dendam soal lomba nasi tumpeng kemarin!”
Situasi makin kacau.
Tiba-tiba ibu itu berteriak ke dalam rumah.
“PAK! ADA TAMU DARI KUBU LAWAN!”
Seorang bapak keluar sambil membawa sendok sayur.
“Siapa?!”
Don Arka, mafia paling ditakuti itu… mundur satu langkah.
Bimo berbisik,
“Bos… ini bukan pengusaha.”
Don Arka: “Aku juga punya mata, Bimo.”
Akhirnya mereka kabur.
Masuk mobil dengan penuh harga diri yang tersisa 3%.
Di dalam mobil, suasana hening.
Don Arka menatap Bimo.
“Alamatnya kamu lihat di mana?”
Bimo membuka kertas.
Semua mendekat.
Di situ tertulis:
Jl. Mawar No. 13
Don Arka mengeluarkan kertas aslinya.
Jl. Mawar No. 31
Semua langsung menatap Bimo.
Bimo tersenyum canggung.
“Angkanya sama, cuma dibalik… detail kecil.”
Besoknya, mereka mencoba lagi.
Dengan alamat yang benar.
Kali ini mereka sampai di rumah besar, gelap, dan sepi.
Atmosfernya sempurna.
Don Arka tersenyum puas.
“Ini baru target kita.”
Mereka masuk perlahan…
Pintu terbuka.
Dan di dalam…
Ada polisi.
Lengkap.
Sedang rapat.
Semua membeku.
Seorang polisi menatap mereka.
“Ya?”
Bimo dengan refleks berkata,
“Maaf Pak… kami dari arisan RT.”
Sejak malam itu…
Keluarga Nero memutuskan untuk pensiun dari dunia mafia.
Dan membuka usaha baru.
Jasa Antar Amplop.
Karena satu hal yang mereka pelajari:
Mereka mungkin tidak jago jadi mafia…
tapi mereka sangat berbakat…
salah alamat. 😌