Di sebuah rumah sederhana, hiduplah seekor kucing bernama Milo.
Secara resmi, Milo hanyalah kucing rumahan. Tapi secara mental, Milo yakin dia adalah CEO dari perusahaan besar bernama Rumah Ini.
Setiap pagi Milo punya rutinitas penting.
Jam 6 pagi, dia berjalan keliling rumah dengan wajah serius seperti bos besar yang sedang inspeksi proyek.
Dia berhenti di depan mangkuk makanannya.
Kosong.
Milo menatap pemiliknya yang masih tidur.
“Tidak profesional,” pikir Milo.
Dengan penuh tanggung jawab, Milo naik ke tempat tidur.
Lalu… menginjak wajah majikannya.
“MEONG!”
Pemiliknya bangun kaget.
“Aduh Milo! Kenapa sih?!”
Milo duduk dengan anggun.
Target pertama hari ini: berhasil.
Setelah sarapan, Milo mulai melakukan rapat penting.
Dia duduk di atas laptop.
Pemiliknya berkata, “Milo, minggir! Aku lagi kerja!”
Milo tidak bergerak.
Karena menurut Milo, duduk di laptop adalah cara terbaik untuk memastikan semua email perusahaan telah disetujui oleh CEO.
Siang hari, Milo melakukan olahraga perusahaan.
Dia melihat seekor cicak di dinding.
Milo langsung bersiap seperti ninja.
1 menit…
2 menit…
3 menit…
Dia lompat!
...dan menabrak tembok.
Cicaknya masih di tempat yang sama.
Milo pura-pura jalan santai seperti tidak terjadi apa-apa.
Karena CEO tidak pernah salah.
Yang salah adalah tembok.
Sore hari datang tamu.
Begitu tamu duduk di sofa, Milo langsung naik dan duduk di pangkuannya.
Tamu itu berkata, “Lucu banget kucingnya!”
Milo menatap serius.
Bagus. Investor baru.
Malam hari, Milo tidur di dada pemiliknya.
Pemiliknya berkata pelan, “Milo kamu manja banget.”
Milo menutup mata.
Tentu saja.
Karena dalam pikirannya, dia bukan kucing biasa.
Dia adalah CEO yang sangat sukses.
Dengan satu karyawan.
Dan karyawan itu…
adalah manusia yang memberi dia makan.
Kalo mau lanjut silahkan klik like dan coment yah.
Makasih.