Nichi x Rin One Sided AU
Mengandung Queer, YANG HOMOPHOBIK GOSAH BACA!!!!
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘨𝘢𝘱𝘢𝘱𝘢, 𝘙𝘪𝘯?"
Kalimat itu mendadak menghancurkan lamunan nya, kepalanya menoleh pada gadis yang sudah dia anggap sebagai teman dekatnya atau lebih?
Entahlah
Disaat…
Rin, si anak yang sudah mulai stabil dengan keadaan—dengan hubungan persaudaraan yang sudah lama terpecah belah, hubungan mereka membaik seiring pertumbuhan mereka.
Dia bermain sepak bola, di klub yang sama dengan saudara sulungnya. Saat ini dia masih bersama gadis yang menemaninya sewaktu dia tidak stabil.
Kamu sendiri sudah tahu kan?
Nichika.
Si gadis 𝘰𝘭𝘥-𝘧𝘢𝘴𝘩𝘪𝘰𝘯𝘦𝘥 yang baik.
Rin mengacak-acak rambutnya. Ia tampak frustasi terhadap sesuatu, "Ya, aku baik-baik saja … 𝘐 𝘨𝘶𝘦𝘦𝘴?"
"Kalau ada apa-apa cerita, jangan dipendem."
Pikiran Rin langsung berkata, "𝘌𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘱𝘦𝘯𝘥𝘦𝘮 𝘢𝘫𝘢 𝘴𝘪𝘩."
Daripada dia gak nyaman? Ah sudahlah..
Di saat masa stabilnya, dia mulai mencari cinta lalu menyadari bahwa cintanya tulus pada gadis itu. Gadis yang mengganggunya sekaligus rumah ternyamannya, Menyebalkan 'kan?
Perasaan itu dia timbun sedalam-dalamnya seolah tak pernah ada. Namun, tiap kali bersamanya reaksi tubuhnya selalu memunculkan perasaan aneh, contohnya perutnya merasakan seperti berkupu-kupu.
Akhirnya, dia memilih memberikan ruang pada perasaan tertimbun itu—melemahkan ego juga. Ia mulai mencoba melakukan segala cara untuk merebut hati sang empu, meskipun dia agak bloon soal cinta.
Bahkan dia memikirkan pernikahan yang hangat bersamanya. Di dalam pikirannya.
Ekhem, baru pertama kali jadi wajar lah.
Kurangin ngehalu.
Harusnya, dia berhasil mendapatkan hati Nichi secara dia ini suka menggodanya dan terlihat menyukainya, kan?
Oh tentu tidak.
Dia menyukai lelaki lain?
Hmnn, harusnya Rin jadi perempuan terakhir di bumi baru Nichi bisa menerimanya.
Loh kok bisa?
"𝘎𝘰𝘣𝘭𝘰𝘬 𝘣𝘨𝘵 𝘨𝘶𝘢 𝘢𝘯𝘫𝘪𝘯𝘨, 𝘥𝘪𝘢 𝘭𝘦𝘴𝘣𝘪." Itu kalimat yang dilontarkan pada perasaan mendalamnya.
Dia sudah mengira Nichi merupakan gadis yang cocok dengannya. Mereka selalu bersama, saling membagikan kisah pilu, saling mengerti dan bahkan pernah bertaut lidah.
Sayangnya, sangat disayangkan. Semenjak Nichi menceritakan kekasih barunya yang ternyata seorang perempuan, seketika membuat si Rin mengubur perasaannya kembali.
Menganggapnya sia-sia.
Padahal dia sudah membayangkan dia menikah bersamanya—di dalam pikirannya.
Tapi ternyata menikah dalam pikiran tidak baik.
Apalagi ketika dia menceritakan bertapa cantiknya kekasihnya, bertapa baiknya kekasihnya dan ah sudahlah … Mendengarnya sudah membuat hatinya semakin tertusuk lagi. Apalagi melihat pin bendera lesbian di tasnya.
Kalau di lagu mungkin seperti ini 𝘖𝘩, 𝘱𝘪𝘯𝘬 𝘵𝘳𝘪𝘢𝘯𝘨𝘭𝘦 𝘰𝘯 𝘩𝘦𝘳 𝘴𝘭𝘦𝘦𝘷𝘦.
Rin memilih menarik kembali perasaannya, sebelum semuanya menjadi lebih menyakitkan. Namun, hatinya sudah melangkah terlalu jauh untuk berpura-pura tidak peduli. Maka ia biarkan semua yang tertahan itu runtuh, keluar dalam satu pengakuan yang terlambat.
“Aku tahu … Ini terlambat. Tapi—"
Suaranya sempat terhenti.
“I love you, Nichi.”
Nichika terdiam. Matanya melebar, jelas tidak menyangka. “Ah… aku—”
"Maaf … Aku gak tahu," katanya jujur. "Aku kira kamu suka laki-laki, makanya aku cerita semua itu ke kamu."
Rin mengangguk pelan. "… Wajar. Aku sendiri gak pernah bilang."
"B-but I really appreciate your feelings … Dan, sekali lagi maaf ya. Pasti sakit banget."
Hening sejenak.
Rin menarik napas, "Ga apa-apa…"
Ia menatap Nichika sebentar, lalu mengalihkan pandangannya. "Terima kasih," lanjutnya pelan. "Udah … ada selama ini."
“Rin…”
"Kita masih bisa temenan, kan?" tanya Nichika, suaranya penuh khawatir.
Rin mengangkat bahu ringan. "Masih."
"Anggap aja… pengakuan tadi angin lewat."
"Heh … kalau aku nggak mau nganggap gitu?"
"Harus."
— THE END
Gimana ges cerpen nya?
Aku terinspirasi dari lagu Pink Triangle dari Weezer, dengerin aja enak kok.
Oh ya si Nichika itu pansexual ya, author sendiri itu ally.