Cahaya keemasan dari senja yang sama masih menembus jendela, namun kini ia hanya menyinari debu yang menari di udara. Riris, petugas pembersih apartemen, menghela napas panjang saat membuka pintu unit 402. Ruangan itu tampak persis seperti saat Dita meninggalkannya semalam—hening, rapi, namun terasa "berat."
𝗟𝗮𝗺𝗽𝘂 𝘁𝗲𝗺𝗮𝗿𝗮𝗺 𝗺𝗲𝗺𝗲𝗹𝘂𝗸 𝗸𝘂𝗿𝘀𝗶 𝘀𝗲𝗻𝗱𝗶𝗿𝗶𝗮𝗻,
𝗗𝗶 𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝘁𝗶𝗿𝗮𝗶 𝘁𝗶𝗽𝗶𝘀 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝗶𝘀𝗮 𝗰𝗮𝗵𝗮𝘆𝗮 𝗽𝗲𝘁𝗮𝗻𝗴.
𝗝𝗲𝗻𝗱𝗲𝗹𝗮 𝘁𝗲𝗿𝗯𝘂𝗸𝗮 𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗹𝗮𝗻𝗴𝗶𝘁 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗶𝗺𝗽𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻,
𝗡𝗮𝗺𝘂𝗻 𝗱𝗶 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝘀𝗶𝗻𝗶, 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗮𝗱𝗮 𝘀𝘂𝗻𝘆𝗶 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗲𝗿𝗯𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴.
"Sudah kosong, Ris?" suara berat Pak Satpam terdengar dari ambang pintu. Ia berdiri di sana, memastikan prosedur serah terima kunci berjalan lancar.
"Sudah, Pak. Barusan saya cabut kabel lampu hiasnya. Mbak Dita menitip pesan semalam, katanya meja kecil ini jangan digeser dulu sampai pemilik barunya datang," jawab Riris sambil mengelap sisa noda lingkaran kopi di atas meja—jejak terakhir dari cangkir yang tak lagi berasap itu.
𝗖𝗮𝗻𝗴𝗸𝗶𝗿 𝗱𝗶 𝗮𝘁𝗮𝘀 𝗺𝗲𝗷𝗮 𝗸𝗲𝗰𝗶𝗹 𝘁𝗮𝗸 𝗹𝗮𝗴𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗲𝗹𝘂𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝘂𝗮𝗽,
𝗠𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝘀𝗮𝗸𝘀𝗶 𝗯𝗶𝘀𝘂 𝗯𝗮𝗴𝗶 𝘄𝗮𝗸𝘁𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗿𝗮𝘆𝗮𝗽 𝗽𝗲𝗿𝗹𝗮𝗵𝗮𝗻.
𝗦𝗲𝘁𝗶𝗮𝗽 𝘀𝘂𝗱𝘂𝘁 𝗿𝘂𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗶𝗻𝗶 𝘁𝗮𝗺𝗽𝗮𝗸 𝘁𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗹𝗲𝗹𝗮𝗽,
𝗠𝗲𝘀𝗸𝗶 𝗱𝗶 𝗯𝗮𝗹𝗶𝗸 𝗱𝗶𝗻𝗱𝗶𝗻𝗴𝗻𝘆𝗮, 𝘁𝗲𝗿𝘀𝗶𝗺𝗽𝗮𝗻 𝗿𝗶𝗯𝘂𝗮𝗻 𝗸𝗲𝗴𝗲𝗹𝗶𝘀𝗮𝗵𝗮𝗻.
Di lobi bawah, Remon berdiri dengan koper di tangan, menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang memperlihatkan langit kemerahan. Ia adalah alasan mengapa Dita memutuskan untuk pergi dengan terburu-buru. Baginya, ruangan itu bukan lagi pelabuhan, melainkan pengingat akan percakapan dingin yang mengakhiri segalanya tepat di kursi cokelat tersebut.
"Semuanya sudah beres, Mas Remon?" tanya Pak Satpam saat Remon berjalan menuju pintu keluar.
Remon hanya mengangguk tipis, tanpa kata. Ia tahu, di lantai empat, Riris baru saja menutup gorden tipis itu.
𝗣𝗶𝗷𝗮𝗿 𝗸𝗲𝗰𝗶𝗹 𝗺𝗲𝗹𝗶𝗻𝗴𝗸𝗮𝗿 𝗹𝗮𝘆𝗮𝗸𝗻𝘆𝗮 𝗯𝗶𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝗷𝗮𝘁𝘂𝗵,
𝗠𝗲𝗻𝗰𝗼𝗯𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗲𝗿𝗮𝗻𝗴𝗶 𝗵𝗮𝗺𝗽𝗮 𝗱𝗶 𝘁𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵 𝗸𝗲𝗿𝗶𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗯𝗮𝘁𝗶𝗻.
𝗥𝘂𝗮𝗻𝗴 𝗶𝗻𝗶 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗽𝗲𝗹𝗮𝗯𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗴𝗶 𝗷𝗶𝘄𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗿𝗮𝗽𝘂𝗵,
𝗠𝗲𝗻𝗰𝗮𝗿𝗶 𝗸𝗲𝗱𝗮𝗺𝗮𝗶𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮 𝗯𝗮𝘆𝗮𝗻𝗴-𝗯𝗮𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶𝗻𝗴𝗶𝗻.
Riris mematikan saklar, memadamkan pendar cahaya kecil itu, dan mengunci pintu. Ruangan itu kini benar-benar kosong. Hanya ada sunyi yang terbentang, menunggu jiwa baru untuk membawa keriuhan batin yang lain, sementara kegelisahan Dita dan dinginnya bayang-bayang Remon telah larut bersama angin petang yang berhembus pergi.
Riris menarik kunci dari lubangnya dengan bunyi klik yang bergema di lorong sepi. Ia menyerahkan kunci bertag nomor 402 itu kepada Pak Satpam yang sudah menunggu di lift.
"Sudah benar-benar bersih, Ris?" tanya Pak Satpam memastikan.
"Sudah, Pak. Tidak ada yang tertinggal. Hanya bau kopi dingin dan sedikit wangi parfum Mbak Dita yang masih menempel di gorden," jawab Riris pelan.
Di bawah lampu koridor yang mulai menyala otomatis, keduanya berjalan menjauh. Di dalam ruangan itu, senja perlahan tenggelam, menyerahkan kekuasaan pada kegelapan malam. Kursi cokelat itu kini benar-benar sendirian, tanpa pijar lampu hias yang memeluknya.
Dita telah menemukan jalan pulangnya yang baru, Remon telah terkubur dalam hiruk-pikuk kota, dan ruangan itu kini hanyalah kotak kosong yang siap menampung ribuan kegelisahan milik penghuni berikutnya. Pintu tertutup rapat, menyisakan sunyi yang berdaulat penuh di atas lantai kayu yang mulai dingin.