Sejak ibunya meninggal, Aruna tidak pernah benar-benar pulang.
Ia masih tinggal di rumah yang sama—rumah kecil bercat hijau pucat di ujung gang sempit—tetapi rasanya berbeda. Dindingnya tetap berdiri, jendelanya masih berderit saat dibuka, dan jam dinding di ruang tamu tetap berdetak seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tidak bisa ia sebutkan.
Atau mungkin, tidak berani ia sebutkan.
Setiap pagi, Aruna bangun sebelum matahari muncul. Ia menyeduh teh, dua cangkir, seperti dulu. Yang satu selalu dibiarkan di meja makan, mengepulkan uap tipis yang perlahan menghilang.
Ia tidak pernah meminumnya.
Tetangga-tetangga mulai berbisik. Mereka bilang Aruna belum bisa menerima kenyataan. Mereka bilang ia hidup dalam bayangan.
Mungkin benar.
Atau mungkin, mereka hanya tidak tahu.
Suatu malam, saat hujan turun pelan seperti mengetuk kenangan, listrik tiba-tiba padam. Rumah menjadi gelap, hanya diterangi kilatan petir sesekali. Aruna duduk diam di kursi kayu, mendengarkan suara hujan yang merayap di atap.
Lalu ia mendengar sesuatu.
Bukan suara hujan.
Bukan juga angin.
Langkah kaki.
Pelan. Hati-hati. Seperti seseorang yang tidak ingin mengganggu.
Aruna tidak bergerak. Napasnya tertahan.
Langkah itu berhenti di depan dapur.
“Na…” suara itu lirih, hampir tenggelam oleh hujan. “Tehnya kebanyakan gula lagi.”
Tubuh Aruna membeku.
Itu suara yang ia kenal.
Suara yang sudah lama ia simpan dalam ingatan, takut ia lupakan.
Dengan tangan gemetar, ia berdiri dan berjalan ke dapur. Dalam gelap, ia bisa melihat siluet samar di kursi tempat ibunya biasa duduk.
Tidak jelas. Tidak utuh.
Tapi cukup untuk membuat hatinya runtuh.
“Ibu?” suaranya pecah.
Tidak ada jawaban.
Hanya bunyi sendok yang perlahan menyentuh cangkir.
Aruna ingin mendekat, ingin memeluk, ingin memastikan. Tapi kakinya terasa berat, seperti ditahan oleh sesuatu yang tak terlihat.
“Ibu… jangan pergi lagi,” bisiknya.
Hujan semakin deras.
Siluet itu perlahan memudar, seperti kabut yang disentuh cahaya pagi.
Dan saat listrik kembali menyala, dapur itu kosong.
Hanya ada dua cangkir di meja.
Yang satu—tehnya sudah berkurang setengah.
Sejak malam itu, Aruna tidak lagi membuat dua cangkir teh.
Bukan karena ia menyerah.
Tapi karena ia tahu—
rumah itu tidak pernah benar-benar kehilangan.
Ia hanya… mengingat dengan cara yang berbeda.
Dan kadang, di antara sunyi dan hujan, rumah itu membantu seseorang pulang.