Di sebuah masa ketika para dewa masih berjalan di antara manusia, hiduplah seorang gadis bernama Medusa.Ia bukan monster, bukan pula makhluk mengerikan seperti yang diceritakan orang-orang kemudian hari.Medusa adalah wanita paling cantik di tanah Yunani—rambutnya panjang berkilau seperti emas, matanya lembut seperti senja yang tenggelam di laut.
Ia memilih hidup sederhana sebagai pelayan di kuil suci milik Athena.Di sana, Medusa bersumpah menjaga kesucian dirinya dan mengabdikan hidupnya untuk sang dewi.
Namun takdir memiliki jalannya sendiri.
Pada suatu senja, ketika langit berubah jingga dan ombak berbisik pelan, seseorang datang dari lautan.Ia adalah Poseidon, penguasa samudra yang ditakuti sekaligus dikagumi.
Tatapannya tertuju pada Medusa.
Untuk pertama kalinya, sang dewa laut merasa terpesona oleh manusia.Bukan karena kekuasaan, bukan karena kecantikan semata—melainkan karena ketenangan yang terpancar dari diri Medusa.
Hari demi hari, Poseidon kembali.Ia datang dalam bentuk manusia, berbicara pada Medusa dengan suara selembut ombak.
“Jika kau mau,” bisiknya suatu hari, “aku bisa memberimu seluruh lautan.”
Namun Medusa hanya tersenyum tipis.“Aku sudah memilih jalanku,” jawabnya pelan.
Perasaan Poseidon yang semakin dalam berubah menjadi sesuatu yang lebih kuat—hasrat yang tak lagi bisa ia bendung.
Pada suatu malam, badai mengguncang kuil Athena.Petir menyambar langit, ombak menghantam pantai dengan ganas.Di tengah kekacauan itu, Poseidon datang lagi.
Namun malam itu berbeda.
Di dalam kuil suci, takdir Medusa berubah selamanya.
Ketika badai mereda, hanya tersisa keheningan… dan murka seorang dewi.
Athena turun dari langit dengan mata penuh amarah.Kuil sucinya telah ternodai.
Namun bukan Poseidon yang ia hukum.
Melainkan Medusa.
“Mulai hari ini,” ucap Athena dingin, “kecantikanmu akan menjadi kutukan.”
Dalam sekejap, rambut Medusa berubah menjadi ular-ular hidup yang mendesis.Wajahnya yang indah berubah mengerikan.Matanya—yang dulu lembut—kini membawa kematian bagi siapa saja yang menatapnya.
Medusa menjerit.Bukan karena berubah… tapi karena ketidakadilan.
Medusa diusir.Ia hidup sendirian di pulau terpencil, jauh dari manusia, jauh dari dunia yang pernah ia kenal.
Ia tak lagi bisa menyentuh siapa pun.Tak lagi bisa dicintai.
Setiap orang yang melihatnya berubah menjadi batu.
Sementara itu, Poseidon… tetap menjadi dewa laut yang agung.Tak tersentuh hukuman.Tak tersentuh penyesalan—atau mungkin, ia hanya menyembunyikannya dalam kedalaman samudra.
Di malam-malam sepi, Medusa sering berdiri di tepi tebing, memandang laut yang luas.
Tempat di mana semua ini bermula.
“Apa salahku…?” bisiknya pada angin.
Namun laut tak pernah menjawab.
Hanya ombak yang datang dan pergi…
seperti kenangan yang tak bisa kembali.
Medusa bukanlah monster sejak awal, melainkan korban dari takdir dan kemarahan para dewa.
Tamat.