Kabut di pagi hari merayap di antara bangunan-bangunan batu Kota Denvis, menelan cahaya lampu gas yang mulai redup. Udara terasa berat dengan aroma jelaga dan limbah pabrik yang mengepul dari cerobong-cerobong asap yang tinggi di kejauhan. Kemajuan telah membawa kesejahteraan bagi sebagian orang, namun bagi sebagian lainnya, ia hanya membawa kesengsaraan yang lebih dalam.
Di sudut jalan berbatu yang basah, seorang anak laki-laki berusia sebelas tahun berdiri dengan setumpuk koran lusuh di tangannya. Namanya Thomas Whitmore, meski tak ada orang-orang yang memedulikan nya. Mantel wool tipis berwarna cokelat kehitaman menutupi tubuh kurusnya—terlalu kecil untuk ukurannya, dengan lubang-lubang kecil di siku dan jahitan yang sudah mulai lepas. Celana berbahan katun murahan yang ia kenakan penuh tambalan, berdebu, dan kotor oleh lumpur jalanan. Sepatu bot kulitnya yang usang hampir terlepas solnya, memberikan sedikit perlindungan dari dinginnya batu jalanan yang basah.
Wajahnya pucat dengan pipi yang cekung, mata abu-abunya yang besar memandang dengan tatapan kosong ke arah kerumunan orang-orang yang melintas. Topi flatcap kusamnya hampir menutupi rambut coklatnya yang tak terurus.
"Koran! Koran pagi! Berita terbaru!" teriaknya dengan suara serak, nyaris tenggelam dalam kebisingan kereta kuda yang berlalu lalang di jalan berlumpur.
Jam menunjukkan pukul tujuh pagi, namun langit kota Denvis tetap kelabu—selalu kelabu. Asap hitam dari pabrik-pabrik tekstil dan besi mencemari langit, menciptakan kanopi kelam yang seolah mengurung kota dalam kesuraman.
Seorang pedagang dengan jas lusuh melirik Thomas, melemparkan beberapa pence ke tangannya yang gemetar, dan mengambil selembar koran tanpa sepatah kata pun. Thomas membungkuk hormat, meski tak seorang pun yang memperhatikannya.
Tiga jam berlalu begitu cepat. Dari lima puluh koran, hanya delapan belas yang terjual. Kantong kecil di pinggangnya berisi koin-koin tembaga yang terasa terlalu ringan—tidak cukup, tak pernah cukup untuknya.
Thomas menghela napas panjang, menghirup udara dingin yang membakar paru-parunya. Ia memutuskan untuk mengemas sisa korannya dan bersiap pulang. Setidaknya ini lebih baik dari kemarin yang hanya terjual dua belas.
Di belakangnya, dua pria bertubuh besar dengan pakaian compang-camping muncul dari bayang-bayang gang sempit. Wajah mereka kasar, berjanggut tidak terurus, mata mereka merah—entah karena alkohol, obat-obatan atau kelelahan, atau ketiganya?. Mereka adalah pengangguran, salah satu dari ribuan orang yang terbuang oleh roda kemajuan yang kejam ini.
"Lihat, lihat," ujar salah satunya dengan suara parau, meludah ke jalanan. "Bocah kaya raya dengan koin di kantongnya."
"Berapa kau dapat hari ini, nak?" tanya yang satunya, melangkah mendekat dengan senyum yang lebih mirip seringaian.
Thomas mundur, memeluk koran-koran yang tersisa di dadanya. "T-tidak banyak, Tuan. H-hanya beberapa pence untuk keluarga saya—"
"Keluarga?" lelaki pertama tertawa kasar. "Keluargaku juga lapar, bocah. Serahkan."
"T-tapi—"
Sebelum Thomas bisa menyelesaikan kalimatnya, tangan besar mencengkeram kerah mantelnya dan melemparkannya ke dinding batu. Punggungnya membentur keras, koran-koran berserakan di jalanan yang basah. Tangan lainnya merampas kantong kecilnya dengan paksa, merobek tali yang mengikatnya di pinggang.
"Ini akan cukup untuk makan malam," ujar lelaki itu, menimbang-nimbang kantong di tangannya.
Thomas jatuh berlutut, tangannya terulur dengan tatapan memohon. "Kumohon... ibu saya sakit... Aku butuh itu untuk—"
Sebuah tendangan mendarat di perutnya, menghempaskan tubuh kecilnya ke genangan air berlumpur. Dua lelaki itu tertawa dan berjalan pergi, meninggalkan Thomas terbaring di jalanan dengan koran-koran yang basah dan robek berserakan di sekelilingnya.
Tidak ada yang peduli. Orang-orang terus berjalan, seolah Thomas tak lebih dari sekedar sampah yang tergeletak di jalanan.
Ia bangkit perlahan, tubuhnya gemetar—bukan hanya karena dingin, tapi karena perasaan hampa yang mulai meresap ke dalam dadanya. Dengan tangan yang kotor dan berdarah di lutut, ia mengumpulkan koran-koran yang masih bisa diselamatkan, meski ia tahu itu akan sia-sia.
Pulang. Ia harus pulang.
---
Denvis adalah kota yang dibangun di atas penderitaan banyak orang. Bangunan-bangunan bata merah dan abu-abu menjulang dengan jendela-jendela sempit yang tertutup tirai kusam. Gang-gang sempit berkelok-kelok seperti labirin, penuh dengan tumpukan sampah dan air got yang menggenang. Di beberapa sudut, anak-anak kecil dengan wajah kotor bermain dengan riang palsu, mencoba melupakan lapar yang terus menggerogoti perut mereka.
Thomas menyusuri jalan berbatu yang basah, melewati deretan toko-toko kecil dengan papan usang. Tukang daging dengan celemek berlumuran darah, toko roti dengan aroma yang menggoda namun tak terjangkau, penjahit dengan boneka manekin di etalase—semua terasa begitu jauh dari jangkauannya.
Lampu gas di sepanjang jalan mulai dinyalakan meski siang belum sepenuhnya berakhir. Denvis adalah kota yang hidup dalam setengah kegelapan, di mana sinar matahari adalah kemewahan yang jarang terlihat.
Kakinya terasa berat, setiap langkah adalah perjuangan. Lututnya masih terasa nyeri dari benturan tadi, dan perutnya kosong sudah dua hari hanya diisi oleh air dan sepotong roti keras kemarin.
Rumahnya berada di distrik pelabuhan, bagian paling kumuh dari Denvis. Di sini, bau ikan busuk dan air laut bercampur dengan bau alkohol murah dari bar-bar murahan. Bangunan-bangunan kayu berlantai dua berdiri miring, seolah bisa roboh kapan saja. Jalan setapak berlumpur dipenuhi genangan air kotor.
Thomas berhenti di depan pintu kayu lapuk berwarna cokelat gelap dengan cat yang mengelupas. Tidak ada nomor, tidak ada tanda. Hanya sebuah rumah yang hampir identik dengan puluhan rumah lainnya di sepanjang jalan ini.
Ia mendengarnya sebelum membuka pintu—suara teriakan, benturan keras, isak tangis yang diredam.
Jantungnya berdegup kencang. Tangannya gemetar saat meraih kenop pintu yang dingin.
Ia membuka pintu perlahan.
Pemandangan yang menyambutnya adalah neraka kecil yang sudah sering dia alami.
Di sudut ruangan sempit yang gelap, ibunya—Margaret Whitmore—terbaring di lantai kayu yang kotor, tubuhnya meringkuk melindungi kepala. Gaun katun lusuhnya robek di beberapa bagian, pipinya memar kebiruan, bibir bawahnya pecah dan berdarah.
Di atasnya berdiri ayahnya—William Whitmore—dengan botol wiski kosong di tangan kanannya. Lelaki itu sempoyongan, mata merahnya penuh amarah yang tidak beralasan. Kemeja putih lusuhnya terbuka, memperlihatkan perut yang buncit dan bau alkohol yang menyengat keluar dari tubuhnya.
"Kau pikir kau bisa sembunyi dariku?!" teriak William, mengayunkan botol itu ke arah Margaret. Botol itu meleset, membentur dinding dan pecah berkeping-keping.
"William, kumohon... hentikan..." suara Margaret lemah, hampir tak terdengar.
Mata Thomas membeku. Ia berdiri di ambang pintu, tidak bergerak, tidak bernapas.
William menoleh, matanya menyipit melihat sosok kecil di pintu. "Kau! Bocah sialan! Kau pulang dengan apa, hah?!"
Thomas tidak menjawab. Bibirnya mengering.
William melangkah gontai (sempoyongan) ke arahnya, tangan besarnya terangkat. "Mana uangnya?! Berikan sekarang!"
"T-tidak ada, Ayah... ada orang yang—"
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Thomas, melemparkan tubuh kecilnya ke dinding. Rasanya seperti seluruh dunia berputar. Telinga kirinya berdenging, pipinya panas dan mati rasa.
"TIDAK ADA?! KAU BERANI PULANG TANPA MEMBAWA APA-APA?!"
Tinju berikutnya menghantam perutnya. Thomas jatuh, tersedak, mencoba bernapas tapi tidak ada udara yang masuk. Tendangan mendarat di rusuknya. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
"Berhenti... kumohon... dia masih anak-anak..." suara Margaret terdengar dari sudut ruangan, lemah namun penuh keputusasaan.
"DIAM!" William berteriak, berbalik menghadap istrinya dengan mata yang lebih menyerupai binatang buas daripada seorang manusia.
Thomas terbatuk, darah merembes dari sudut bibirnya. Tubuhnya gemetar, tapi bukan karena kesakitan—ia sudah terlalu terbiasa dengan rasa sakit. Yang membuatnya gemetar adalah perasaan hampa yang mulai menggerogoti jiwanya.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, William kehilangan minat. Ia meraih mantel lusuhnya dan terhuyung keluar dari rumah, meninggalkan pintu terbuka lebar.
"Akan kuhabiskan malam di bar, kalau kau pulang tak membawa apa-apa lagi kuhabisi kalian." gumamnya sebelum menghilang ke dalam kegelapan jalanan Denvis.
Ruangan itu tenggelam dalam keheningan yang mencekik.
Thomas berbaring di lantai, menatap langit-langit kayu yang berlubang di beberapa bagian. Melalui lubang-lubang itu, ia bisa melihat langit yang selalu kelabu di kota Denvis dan tak pernah berubah.
Langkah kaki pelan terdengar menghampiri Thomas. Margaret merangkak ke arahnya, wajahnya penuh luka dan air mata. Dengan tangan gemetar, ia meraih wajah Thomas, mengusap darah dari sudut bibirnya dengan lembut dan penuh perhatian.
"Thomas..." bisiknya, suaranya parau dan patah. "Maafkan ibu..."
Thomas tidak menjawab. Ia hanya menatap wajah ibunya—wajah yang dulu cantik, kini hancur oleh kehidupan yang kejam ini.
Margaret tersenyum—senyum yang sangat menyakitkan hatinya, senyum yang mencoba menutupi semua kepedihan dunia. Dengan mata yang berkaca-kaca, ia menggenggam tangan kecil putranya.
"Dengarkan ibu, Thomas," katanya pelan, setiap kata terasa begitu berat. "Apapun yang terjadi... apapun yang dunia lakukan padamu... tetaplah tersenyum."
Thomas menatap ibunya dengan mata yang mulai kosong. "Kenapa, Ibu?"
"Karena senyum adalah satu-satunya hal yang tidak bisa diambil dari kita," jawab Margaret, air matanya jatuh membasahi pipi yang lebam. "Dunia ini kejam, sayang. Sangat kejam. Tapi selama kau masih bisa tersenyum... kau masih hidup. Kau masih ada."
Thomas tidak mengerti sepenuhnya, tapi ia mengangguk perlahan. "Aku... aku akan tersenyum, Ibu."
Margaret memeluknya erat, tubuh mereka gemetar dalam kedinginan dan kepedihan. Di luar, hujan mulai turun, menyapu jalanan Denvis dengan dingin yang membekukan tulang.
Dan di dalam rumah kecil itu, seorang ibu dan anak berbagi kehangatan terakhir yang tersisa di kota yang telah melupakan apa itu kemanusiaan.
---
Enam bulan berlalu dalam siklus keputusasaan yang sama. Setiap pagi, Thomas bangun sebelum matahari terbit—meski matahari hampir tak pernah benar-benar terbit di Denvis—dan pergi menjual koran. Setiap malam, ia pulang dengan uang yang tak pernah cukup untuk ayahnya, dan terkadang ia pulang dengan luka baru.
William semakin dan semakin tenggelam dalam alkohol. Margaret semakin melemah, tubuhnya kurus kering, batuknya semakin parah. Tapi ia selalu tersenyum pada Thomas, selalu mengulangi kata-kata yang sama: "Tetaplah tersenyum."
Suatu malam, Thomas berjalan pulang melewati distrik pelabuhan. Suara tawa dan musik yang sumbang terdengar dari sebuah bar di sudut jalan—"The Rusty Anchor," sebuah tempat minum yang terkenal sebagai sarang penjudi dan pelaut mabuk.
Pintu bar itu terbuka sebentar, mengeluarkan cahaya kuning keemasan dan kepulan asap. Thomas sempat melihat ke dalam: sekelompok lelaki duduk mengelilingi meja bundar, kartu-kartu di tangan mereka, tumpukan koin di tengah meja.
Itu adalah...
Poker.
Mata Thomas membesar. Ia pernah melihat permainan itu sebelumnya, dari kejauhan. Bagaimana orang-orang bisa menang atau kalah dalam sekejap?, bagaimana keberuntungan bisa berubah dengan satu kartu?.
Tapi yang menarik perhatiannya bukan permainannya—melainkan kartunya.
Saat seorang lelaki keluar dari bar, terhuyung dan mabuk, sebuah kartu terjatuh dari sakunya. Thomas mengambilnya: seorang Joker dengan wajah badut yang tersenyum lebar, mata yang liar dan gila.
"Kenapa aku tidak belajar sulap kartu?" pikir Thomas tiba-tiba.
Ide itu datang seperti kilat. Ia pernah melihat pertunjukan jalanan—seorang pria dengan setelan compang-camping yang memainkan trik sulap dengan kartu, membuat kerumunan terpesona, dan mendapat cukup uang untuk makan selama seminggu.
Keesokan harinya, dengan uang hasil menjual korannya, Thomas membeli satu pack kartu remi yang murah dari toko kelontong tua. Ia tidak punya tempat untuk berlatih kecuali di gang-gang sempit dan sudut-sudut gelap di
kota.
Jari-jarinya kecil, kaku karena dingin, tapi ia berlatih tanpa henti. Shuffle. Cut. False cut. Double lift. Palm. Setiap gerakan ia pelajari dari mengamati pesulap jalanan dari kejauhan, dari mencoba dan gagal ratusan kali.
Minggu-minggu berlalu. Berbulan-bulan berlalu. Jari-jarinya menjadi lebih lincah, gerakannya lebih halus. Ia belajar membuat kartu menghilang dan muncul, membuat kartu melayang dari satu tangan ke tangan lainnya seolah memiliki kehidupan sendiri.
Pada suatu sore, Thomas tampil untuk pertama kalinya di alun-alun kota.
Ia berdiri di sudut, dengan kartu-kartu di tangannya, suaranya gemetar saat ia berteriak, "L-lihat pertunjukan kartu! Sulap yang menakjubkan!"
Awalnya, tak seorang pun peduli padanya. Orang-orang terus berjalan, memandangnya sekilas seperti memandang sampah yang tergeletak di jalanan.
Tapi Thomas tidak menyerah. Ia melakukan triknya—membuat Ace of Spades muncul dari udara kosong, mengubah kartu Queen menjadi King dengan sekali kibasan, membuat seluruh dek kartu menari di tangannya dengan gerakan yang rumit dan memukau.
Perlahan-lahan, orang mulai berhenti. Satu orang. Dua orang. Sepuluh orang. Kerumunan kecil kemudian terbentuk.
"Astaga! Bagaimana ia melakukannya?"
"Lihatlah tangan bocah itu!"
"Luar biasa!"
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Thomas terlihat kagum di mata orang lain—bukan kasihan, bukan jijik, tapi kagum yang tulus. Dan untuk pertama kalinya, orang-orang melemparkan koin ke topi lusuhnya yang ia letakkan di tanah.
Setiap hari, ia tampil. Setiap hari, kerumunannya bertambah. Ia mengembangkan triknya, menambahkan humor, membuat cerita kecil dengan kartunya. Joker menjadi karakter favoritnya—selalu tersenyum, selalu membawa keberuntungan atau malapetaka, tapi selalu bebas dan tak terkekang Oleh apapun.
Tiga bulan kemudian, mereka datang.
Rombongan sirkus.
"Thornfield's Travelling Circus and Oddities"—sirkus keliling yang terkenal. Mereka sedang singgah di Denvis untuk pertunjukan sebulan sebelum melanjutkan perjalanan ke kota-kota lain.
Direktur sirkus itu—seorang lelaki lumayan tinggi dengan kumis yang diminyaki dan mantel merah tua—menonton pertunjukan Thomas dengan mata yang tajam. Setelah pertunjukan selesai, ia menghampiri.
"Bocah," katanya dengan suara berat dan berwibawa, "namaku Cornelius Thornfield. Kau berbakat. Sangat berbakat."
Thomas menatapnya dengan mata lebar, tidak percaya.
"Bergabunglah dengan sirkusku," lanjut Cornelius, menyerahkan selembar kartu nama dengan tulisan berwarna emas. "Kau akan dapat tempat tinggal, makanan, dan upah yang layak. Kami akan mengajarkanmu lebih banyak, membuat trikmu lebih spektakuler. Kau akan tampil di hadapan ribuan orang."
Jantung Thomas berdebar kencang. Ini adalah kesempatannya—kesempatan untuk kabur dari neraka yang bernama rumah, kesempatan untuk membawa uang yang cukup, kesempatan untuk menyelamatkan ibunya dan membuat bahagia.
"A-aku... aku terima," jawabnya, suaranya gemetar antara takut dan gembira.
Cornelius tersenyum lebar. "Baik. Kita berangkat minggu depan. Bersiaplah, bocah. Dunia menunggu pertunjukanmu."
---
Malam itu, Thomas pulang dengan langkah yang ringan untuk pertama kalinya. Ia membawa uang dari pertunjukannya dan sebuah harapan yang rapuh namun nyata.
Ketika ia membuka pintu rumah, Margaret sedang duduk di kursi kayu tua, sedang menambal baju dengan tangan yang gemetar. Wajahnya pucat, tulang pipinya menonjol, tapi mata lembutnya berbinar saat melihat Thomas.
"Ibu," kata Thomas, berlutut di hadapan ibunya, menggenggam tangannya yang dingin. "Aku... aku mendapat pekerjaan. Dengan sirkus. Aku akan pergi, dan aku akan membawa pulang lebih banyak uang. Kita akan perbaiki semuanya. Aku janji."
Air mata mengalir di pipi Margaret. Ia mengusap rambut putranya dengan lembut. "Ibu bangga padamu, Thomas. Sangat bangga."
"Tunggu aku di rumah, Ibu," kata Thomas, tersenyum—senyum tulus pertamanya dalam bertahun-tahun. "Aku akan pulang. Dan saat aku pulang, kita akan pergi dari sini. Kita akan hidup dengan bahagia. Sampai itu tiba tunggu aku ibu."
Margaret mengangguk, meski di matanya tersimpan kesedihan yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia tahu—entah bagaimana, ia tahu—bahwa ini mungkin perpisahan terakhir mereka.
Tapi ia tidak mengatakan apapun. Ia hanya memeluk putranya erat-erat, mencium keningnya, dan berbisik, "Tetaplah tersenyum, sayang. Apapun yang terjadi, ibu akan tetap menunggumu disini dan selamanya akan tetap bersamamu."
Seminggu kemudian, Thomas Whitmore pergi bersama sirkus, meninggalkan kota Denvis dengan hati penuh harapan.
Ia tidak tahu bahwa harapan itu akan hancur menjadi abu.
---
Perjalanan dengan sirkus adalah dunia yang sama sekali berbeda bagi Thomas. Gerbong-gerbong kayu berwarna-warni bergerak melintasi pedesaan yang hijau—hijau yang nyata, bukan kelabu Denvis yang ia kenal. Udara segar, langit yang terkadang biru, matahari yang benar-benar terbit.
Ia tinggal dalam gerbong kecil bersama pemain sirkus lainnya: akrobat, badut, penjinak binatang, penyihir api, dan lainnya. Mereka semua adalah orang-orang yang terluka dengan cara mereka sendiri—pelarian dari kehidupan yang kejam, mencari tempat di mana mereka bisa menjadi orang lain.
Thomas belajar dengan cepat. Cornelius memberinya kostum: jas hitam dengan garis-garis putih, topi tinggi, dan yang paling penting—topeng badut putih dengan senyum lebar dan mata yang kosong.
"Dalam sirkus," kata Cornelius suatu malam, "kau bukan dirimu sendiri. Kau adalah ilusi. Dan ilusi, bocah, lebih kuat dari kenyataan."
Thomas berlatih berjam-jam setiap hari. Triknya menjadi lebih rumit: kartu yang menghilang dalam ledakan asap, prediksi yang mustahil akurat, pertunjukan mental yang membuat penonton terpukau. Ia belajar membaca bahasa tubuh, memanipulasi persepsi, bermain dengan ekspektasi.
Setiap malam, ia tampil di hadapan ratusan—kadang ribuan—orang. Lampu sorot meneranginya, tepuk tangan menggelegar, dan untuk beberapa menit itu, ia lupa siapa dia sebenarnya. Ia bukan Thomas Whitmore, bocah jalanan dari kota Denvis. Ia adalah "The Smiling Joker," pesulap kartu yang misterius dan memukau.
Tapi setiap malam, sebelum tidur, ia melihat kartu Joker yang ia simpan—kartu pertama yang ia temukan di jalan itu. Wajah badut yang tersenyum lebar, mata yang liar. Dan ia teringat kata-kata ibunya: "Tetaplah tersenyum."
Surat. Ia mengirim surat setiap bulan, meski ia tidak yakin ibunya menerima semuanya. Ia mengirim uang—sebanyak yang bisa ia sisihkan dari upahnya. Ia menulis tentang perjalanannya, kota-kota yang ia kunjungi, orang-orang yang ia temui.
Tapi tak ada balasan. Tak satu pun.
Satu tahun lewat. Tiga bulan lewat.
Sirkus akhirnya kembali ke wilayah sekitar Denvis untuk pertunjukan akhir musim. Saat Thomas mendengar mereka akan singgah tidak jauh dari kampung halamannya, jantungnya berdegup kencang.
Ia harus pulang. Ia harus melihat ibunya yang sudah menunggunya.
"Aku akan pergi sehari," katanya pada Cornelius.
Lelaki itu menatapnya lama, lalu mengangguk perlahan. "Hati-hati, bocah. Masa lalu memiliki gigi yang tajam."
Thomas tidak mengerti apa maksudnya, tapi ia tidak peduli. Ia mengemas uangnya—satu tahun tiga bulan kerja keras—ke dalam tas kecil. Cukup untuk membeli rumah kecil di tempat lain, cukup untuk hidup sederhana tapi bahagia.
Ia berangkat subuh, berjalan kaki menyusuri jalan yang sudah mulai ia kenal. Semakin dekat ia ke Denvis, semakin familiar bau itu—jelaga, limbah, dan keputusasaan.
Langit kembali kelabu. Denvis tidak pernah berubah.
Kakinya bergerak cepat melewati jalan-jalan yang pernah ia jelajahi dengan koran di tangan. Melewati The Rusty Anchor yang masih buka meski pagi baru dimulai. Melewati gang-gang sempit di mana ia pernah berlatih sulap.
Rumahnya—rumah kecil dengan pintu cokelat yang mengelupas.
Ia berhenti di depan pintu, menarik napas dalam-dalam. Tangannya gemetar saat meraih kenop pintu.
"Ibu," bisiknya, "aku pulang. Aku membawa uang. Kita akan pergi dari sini."
Ia membuka pintu.
Dan dunia yang susah payah Thomas pertahankan selama ini runtuh.
---
Ruangan itu gelap. Tirai jendela tertutup, hanya sedikit cahaya kelabu dari celah-celah yang menyinari debu yang melayang di udara. Bau alkohol menyengat. Bau darah.
Di tengah ruangan, tergeletak tubuh Margaret Whitmore.
Thomas berdiri di ambang pintu, tidak bergerak. Matanya menatap, tapi otaknya menolak untuk memproses apa yang dilihatnya.
Ibunya berbaring telentang, matanya terbuka kosong menatap langit-langit. Wajahnya penuh lebam yang sudah membiru kehitaman. Bibirnya robek. Leher dan dadanya penuh luka yang tidak beraturan—goresan, sobekan, luka yang brutal dan acak.
Di sampingnya, pecahan botol wiski berserakan, ujungnya yang tajam berlumuran darah kering berwarna hitam kecokelatan.
William Whitmore duduk di sudut ruangan, bersandar pada dinding, botol wiski lain di tangannya masih utuh, tapi sudah setengah kosong. Kemejanya robek dan penuh darah. Mata merahnya mengangkat untuk menatap Thomas.
"Kau..." suaranya serak dan terbata-bata. "Kau... sudah pulang... bocah..."
Thomas tidak bergerak. Jantungnya... jantungnya tidak berdetak. Tidak bisa. Tidak mungkin. Ini pasti mimpi buruk... Ini seharus mimpi buruk kan...? Ti... Tidak mungkin... I-ibu?
Kakinya bergerak sendiri, melangkah perlahan ke arah ibunya. Ia berlutut di sampingnya, tangannya gemetar saat menyentuh pipi Margaret yang sudah dingin dan penuh luka.
"Ibu...?" bisiknya, suaranya pecah. "Ibu... bangun... aku... aku sudah pulang... lihat... aku membawa uang..."
Tidak ada jawaban. Matanya yang kosong itu tidak berkedip.
"Ibu... kumohon... bangun..." Air mata mulai mengalir, panas membakar pipinya. "Kita... kita akan pergi dari sini... seperti yang kau inginkan... kumohon... Bangun..."
Tangannya meraih tangan ibunya—tangan yang pernah mengusap rambutnya dengan lembut, tangan yang pernah memeluknya saat dunia begitu kejam. Tangan itu kaku dan dingin seperti es.
Hatinya hancur saat melihat ibunya telah tiada oleh tangan seseorang yang dulu sangat mencintai mereka.
"IBUU!" teriaknya, suaranya menggema di rumah kecil itu, memenuhi setiap sudut dengan kepedihan yang tidak terkatakan.
Di belakangnya, William bangkit sempoyongan. Botol wiski jatuh dan menggelinding di lantai.
"Dia... dia tidak mendengarkan... dia tidak pernah mendengarkan..." gumam William, suaranya seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya sejak lama. "Aku bilang... aku bilang padanya... tapi dia terus membela mu... terus... terus... Dan terus..."
Thomas berbalik perlahan. Mata abu-abunya—yang dulu pernah penuh harapan—kini kosong dan dingin.
William meraih pecahan botol wiski yang berlumuran darah, menggenggamnya erat hingga telapak tangannya sendiri berdarah. Ia melangkah gontai (sempoyongan) ke arah Thomas, mata merahnya liar.
"Kau juga... kau juga harus pergi... seperti dia..." William mengangkat pecahan botol itu, ujung yang tajam mengarah ke Thomas. "Tidak ada yang tersisa... tidak ada lagi..."
Di matanya yang mabuk, Thomas melihat sesuatu yang lebih menakutkan dari amarah—ia melihat kekosongan. Ayahnya telah melewati batas kemanusiaan, tenggelam begitu dalam ke dalam jurang alkohol dan kekerasan hingga ia bukan lagi manusia. Ia hanya bayangan, monster yang dibentuk oleh botol demi botol wiski.
Kau bukan lagi ayahku.
"Aku mencintainya, kau tahu...?" William berbisik, suaranya tiba-tiba lembut, hampir sedih. "Margaret... aku mencintainya... tapi dia... dia membuatku seperti ini... kalian berdua membuatku seperti ini...!"
Kata-kata itu, distorsi kebenaran yang kejam—membuat sesuatu di dalam Thomas terbakar. Bukan amarah biasa. Ini adalah sesuatu yang lebih gelap, lebih dalam, sesuatu yang telah lama ia pendam sejak ia meninggalkan Denvis.
Ini adalah "kebencian" murni.
Thomas tidak bergerak. Ia hanya menatap ayahnya—lelaki yang pernah ia takuti, lelaki yang telah mengubah hidupnya menjadi neraka, lelaki yang telah membunuh satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
William melemparkan dirinya ke depan dengan gerakan canggung, pecahan botol itu meluncur ke arah leher Thomas.
Sesuatu di dalam Thomas tersulut.
Instingtif, ia berguling ke samping. Pecahan botol itu meleset, menggores bahunya dan merobek jas sirkusnya. William kehilangan keseimbangan, tersandung dan jatuh ke lantai dengan suara gedebuk yang keras.
Thomas bangkit, napasnya memburu. Matanya bergerak cepat, mencari dan menemukan.
Dapur.
Ia berlari, kakinya menghentak lantai kayu yang berderit. William berteriak di belakangnya, bangkit dengan susah payah, mengejar dengan langkahnya yang sempoyongan.
Thomas menerobos masuk ke dapur kecil yang gelap. Meja kayu yang penuh goresan. Piring-piring kotor yang sudah berhari-hari tidak dicuci. Dan di dinding, tergantung pada paku berkarat—pisau dapur.
Tangannya meraih gagangnya. Pisau itu berat, logam dingin terasa asing di telapak tangannya yang gemetar.
William muncul di ambang pintu dapur, tubuhnya memenuhi ruang sempit itu. Pecahan botol masih di tangannya, berlumuran dengan darah, darah ibunya, darah ayahnya sendiri, dan kini sedikit darahnya.
"Kemari... Anakku..." William terhuyung maju. "Kau... kau tidak berharga... seperti ibumu... tidak ada... yang berharga...!"
Kata-kata itu. Kata-kata itu yang mematahkan sesuatu di dalam Thomas yang bahkan tidak ia tahu masih utuh didalam dirinya.
Thomas melangkah mundur hingga punggungnya menyentuh dinding yang dingin. Tidak ada jalan keluar. William semakin dekat, semakin dekat.
Dan kemudian William menyerang.
Pecahan botol itu meluncur ke wajah Thomas. Ia menunduk, mendengar suara kaca membentur dinding di atas kepalanya. Dalam sekejap, sekejap yang terasa singkat itu, Thomas mengangkat pisau yang dia pegang itu.
Dan menikamnya ke perut William.
Resistensi. Daging. Tulang. Darah.
William berhenti, mata merahnya melebar dengan kejutan. Ia menatap ke bawah, melihat pisau itu tertanam di perutnya. Darah mulai merembes, mengalir menuruni celananya.
"K-kau..." William terbatuk, darah menyembur dari mulutnya sambil menatap tajam Thomas.
Thomas menarik pisau itu keluar. Terdengar suara yang basah dan menjijikkan. William terhuyung mundur, memegang perutnya, darah mengalir deras di antara jari-jarinya.
Dan sesuatu yang gelap, sesuatu yang telah tidur di dalam Thomas selama bertahun-tahun penyiksaan, penghinaan, kelaparan, dan keputusasaan—terbangun.
Kepribadian Ganda.
“kau... Seharusnya mati dari dulu." Matanya dingin, tanpa senyuman, dan tanpa ekspresi.
Thomas melangkah maju. Pisau itu terangkat.
Satu tikaman. Ke dada.
Dua tikaman. Ke perut lagi.
Tiga. Empat. Lima.
Thomas menikam William dengan brutal tanpa pernah mengedipkan atau merubah ekspresi nya.
William jatuh ke lantai, tubuhnya kejang. Darah menggenang di bawahnya, menyebar seperti danau merah yang gelap.
Enam. Tujuh. Delapan.
"Ini... untukmu... Ibu..." bisik Thomas, suaranya pecah antara tangis dan tawa yang gila. Air mata mengalir membasahi pipinya, tapi di bibirnya, di bibirnya tersungging senyum.
Sembilan. Sepuluh.
William tidak bergerak lagi. Mata merahnya menatap kosong ke langit-langit, mulutnya terbuka dalam teriakan bisu terakhir.
Thomas berdiri di atas mayat ayahnya, pisau masih tergenggam erat di tangannya yang berlumuran darah. Jantungnya turun naik, napasnya seperti orang yang baru saja berlari maraton.
Dan kemudian ia tertawa.
Tawa yang tidak ada suaranya pada awalnya, hanya getaran di dada. Lalu tawa itu keluar, tawa yang tinggi, pecah, gila. Tawa seorang anak yang sudah kehilangan segalanya dan tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan.
Ia berjalan keluar dari dapur, meninggalkan jejak kaki berdarah di lantai. Kembali ke ruang tamu di mana ibunya tergeletak.
Thomas berlutut di sampingnya, meletakkan pisau berlumuran darah itu di lantai. Dengan tangan gemetar, ia menutup mata ibunya yang terbuka, mata yang telah melihat terlalu banyak penderitaan di dunia yang kejam ini.
"Ibu..." bisiknya, suaranya lembut seperti nyanyian pengantar tidur. "Aku... aku sudah melakukannya... aku sudah membuat semuanya berhenti... kau bisa beristirahat sekarang..."
Ia mengusap rambut ibunya yang kusut, membersihkan darah dari wajahnya dengan ujung jas yang tidak terlalu kotor.
"Maafkan aku... aku terlambat pulang... maafkan aku... Aku memang bukan akan berbakti. Maafkan aku... Ibu..."
Air matanya jatuh di wajah Margaret yang pucat. Ia memeluk tubuh ibunya yang kaku, mengguncangnya dengan lembut seperti dulu ibunya mengguncangnya saat ia masih kecil.
Dan kemudian, dari sakunya, Thomas mengeluarkan kartu Joker—kartu yang sudah lusuh, sudah terlipat berkali-kali, tapi wajah badut itu masih tersenyum lebar dengan mata yang liar.
Thomas menatap kartu itu. Pelan, sangat pelan, senyum mulai terbentuk di wajahnya—senyum yang sama dengan Joker. Lebar. Kosong. Dan Gila.
Dengan darah di tangannya, ia mengusapkan nya ke wajahnya sendiri. Membuat garis merah di bibir, membuatnya tampak seperti senyum yang lebar, terlalu lebar untuk wajah manusia. Ia menggoreskan darah di sekitar matanya, membuat lingkaran yang membuat matanya tampak besar dan liar.
"Tetaplah tersenyum," bisiknya, mengulang kata-kata ibunya. "Tetaplah tersenyum meski dunia kejam..."
Ia berdiri, berjalan ke cermin retak yang tergantung di dinding. Memandang bayangannya, wajah yang dicat dengan darah, senyum yang lebar dan mengerikan, mata yang kosong dari segala harapan.
Ia terlihat seperti joker. Sempurna.
Thomas tertawa lagi, tawa yang menggema di rumah kecil penuh mayat itu. Ia mengambil kartu-kartu sulap dari sakunya, melemparkannya ke udara. Kartu-kartu itu berputar, jatuh seperti salju berdarah.
"Ladies and gentlemen!" teriaknya dengan suara yang teatrikal, suara yang ia gunakan di sirkus. "Witness the greatest trick of all! The disappearing boy! The Smiling Joker!"
Kartu-kartu terus berputar di udara. Ace. King. Queen. Jack. Dan Joker—selalu Joker.
Thomas meraih pisau itu lagi. Menatapnya lama. Logam yang dingin, berlumuran darah ayahnya.
"Tapi tidak ada lagi yang perlu kuselamatkan, Ibu," bisiknya, suaranya tiba-tiba tenang—tenang. "Tidak ada lagi alasanku untuk tersenyum... kecuali karena kau memintaku..."
Ia duduk di lantai, bersandar pada dinding di samping ibunya. Pisau itu tergenggam di tangannya.
Di luar, hujan mulai turun. Denvis kembali tenggelam dalam air dan kegelapan. Kota yang kejam. Kota yang tidak peduli pada siapapun dan apapun.
Thomas menatap langit-langit yang berlubang, melihat hujan yang jatuh melalui celah-celah itu. Tetes-tetes air dingin mengenai wajahnya, mencuci sebagian darah.
"Pertunjukan terakhir," bisiknya, senyum masih terukir di wajahnya, senyum yang sudah menjadi topeng permanen baginya. "The Smiling Joker... bids... farewell..."
Ia mengangkat pisau itu. Mengarahkan ujungnya ke dadanya sendiri, tepat di tempat jantungnya yang sudah mati oleh realita kehidupan.
"Tetaplah tersenyum, Ibu. Aku akan tersenyum... selamanya... Tunggu aku disana." Thomas tersenyum dengan tulus sambil melihat ibunya yang sudah tiada.
Dan dengan satu gerakan, ia menusukkan pisau itu.
Rasa sakit. Tajam. Membakar. Tapi juga... bebas.
Thomas terbatuk, darah menyembur dari bibirnya. Tubuhnya merosot, kepalanya bersandar pada bahu ibunya yang dingin.
Kartu-kartu sulap masih berserakan di lantai, basah oleh hujan dan darah. Joker tersenyum dari tengah-tengah tumpukan kartu itu, seolah mengejek, seolah memahami apa itu penderitaan.
Mata Thomas mulai buram. Dunia mulai kabur. Tapi senyum—senyum itu tidak hilang dari wajahnya.
Napas terakhirnya keluar dalam desahan pelan, seperti angin yang melalui retakan pintu tua.
Dan Thomas Whitmore, bocah yang pernah menjual koran di jalanan Denvis, yang pernah belajar tersenyum di tengah kepedihan, yang pernah bermimpi menyelamatkan ibunya—Thomas Whitmore mati dengan senyum di wajahnya.
Di luar, kota Denvis terus berjalan. Pabrik-pabrik terus mengepulkan asap. Orang-orang terus berjalan melewati rumah kecil dengan pintu cokelat yang mengelupas. Tidak ada yang peduli. Tidak ada yang tahu.
Tiga mayat di rumah kecil yang gelap. Seorang ibu yang mati karena dipukuli. Seorang ayah yang mati ditikam anak sendiri. Dan seorang anak yang mati karena tidak ada lagi alasan untuk hidup.
Dan kartu Joker yang berlumuran darah, masih tersenyum, selalu tersenyum di tengah kekacauan itu.
---
Masih pemula jadi agak kaku sama jelek ceritanya. Jadi monggon maap ni.