Di sebuah lembah tersembunyi di tanah Yunani Kuno, terdapat danau yang tak pernah tersentuh manusia.Airnya bening seperti kaca para dewa, dan di sanalah tinggal seorang nimfa bernama Odette—penjaga kesucian danau, dengan rambut seputih cahaya bulan.
Odette adalah ciptaan dari Artemis, dewi bulan yang menjaga kemurnian alam.Ia hidup dalam kesunyian yang damai, menari bersama angin malam dan berbicara pada pantulan bintang di permukaan air.
Namun, ketenangan itu hancur saat seorang manusia datang.
Namanya Eryon, seorang pangeran yang tersesat sepulang dari peperangan.Tubuhnya penuh luka, dan jiwanya nyaris patah. Dalam keputusasaan, ia menemukan danau itu… dan Odette.
Pertemuan pertama mereka terjadi di bawah cahaya bulan.Eryon mengira Odette adalah ilusi.Odette mengira Eryon hanyalah manusia fana yang akan segera pergi.
Namun takdir berkata lain.
Hari demi hari, Eryon kembali ke danau itu.Ia duduk di tepi air, berbicara pada Odette tentang dunia manusia—tentang tawa, luka, dan harapan.Dan untuk pertama kalinya, Odette merasa… hidup.
Cinta tumbuh diam-diam, seperti akar yang menembus tanah tanpa suara.
Namun para dewa tidak tinggal diam.
Artemis murka.Nimfa ciptaannya telah melanggar hukum suci yakni, mencintai manusia.
Dengan suara setajam panah perak, sang dewi mengutuk “Jika hatimu lebih memilih dunia fana, maka kau tak lagi pantas berjalan sebagai nimfa.Mulai malam ini, kau akan menjadi angsa putih—terikat pada danau ini selamanya.Hanya cinta yang benar-benar setia yang dapat mematahkan kutukanmu.”
Dalam sekejap, tubuh Odette diselimuti cahaya pucat.Sayap putih tumbuh dari punggungnya.Ia mencoba memanggil Eryon… tapi yang keluar hanyalah suara lirih seekor angsa.
Sejak saat itu, setiap malam, Odette berubah menjadi manusia hanya saat bulan mencapai puncaknya.
Eryon kembali… dan menemukan seekor angsa putih di danau itu.Tapi di malam bulan purnama, Odette kembali ke wujud manusianya—dan menceritakan segalanya.
Hati Eryon hancur, namun cintanya tak goyah.
“Aku bersumpah,” katanya, berlutut di tepi danau, “di hadapan langit dan para dewa, hanya kaulah yang kupilih.Tak akan ada wanita lain di hatiku.”
Sumpah itu mengguncang langit.
Namun, dari kegelapan, muncul sosok lain—Hecate, dewi sihir dan bayangan.Ia tertarik pada tragedi itu, dan dengan senyum licik, ia menciptakan ilusi.
Ia menghadirkan seorang wanita yang menyerupai Odette—sempurna, tanpa cacat, tanpa kutukan.
Di sebuah pesta kerajaan, Eryon melihatnya.
Dan ia ragu.
Hanya satu detik.
Satu keraguan kecil di dalam hatinya.
Namun bagi para dewa… itu cukup.
Langit menjadi gelap.Angin berteriak. Dan sumpah itu—hancur.
Odette merasakan kutukannya menguat.Sayapnya tak lagi bisa berubah sempurna.Tubuh manusianya perlahan memudar.
Eryon berlari kembali ke danau, memanggil namanya dengan suara putus asa.
“Aku memilihmu! Hanya kamu!” teriaknya.
Namun takdir telah menetapkan jalannya.
Odette tersenyum lembut, air mata jatuh seperti embun.
“Dalam dunia para dewa… cinta saja tidak cukup.”
Dengan langkah perlahan, ia masuk ke dalam danau—air memeluk tubuhnya, membawanya ke kedalaman yang tak tersentuh.
Eryon, tanpa ragu, melompat menyusulnya.
Dan malam itu… danau menjadi sunyi.
Namun legenda mengatakan "Di setiap malam bulan purnama, dua cahaya putih terlihat di atas permukaan air seekor angsa… dan bayangannya.
Bersama.
Akhirnya bebas dari kutukan.
Namun hanya di dunia yang tak lagi mengenal kehidupan.
Tamat.