“𝗧𝗲𝗻𝘁𝗮𝗻𝗴 𝘀𝗲𝗯𝘂𝗮𝗵 𝗿𝘂𝗺𝗮𝗵 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗶𝗻𝗶 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗯𝗲𝗿𝗶𝘀𝗶 𝗴𝗲𝗺𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗜𝗯𝘂 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗮𝗸 𝗽𝗲𝗿𝗻𝗮𝗵 𝗹𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂 𝗹𝗲𝗯𝗮𝗿𝗮𝗻 𝘁𝗶𝗯𝗮 𝗱𝗶 𝗱𝗲𝗽𝗮𝗻 𝗽𝗶𝗻𝘁𝘂.”
𝙈𝙚𝙣𝙖𝙣𝙩𝙞 𝙠𝙚𝙥𝙪𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝘼𝙣𝙩𝙤𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝘿𝙞𝙣𝙙𝙖, 𝙙𝙞 𝙨𝙪𝙙𝙪𝙩 𝙢𝙚𝙟𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙨𝙖𝙢𝙖.
(𝘋𝘪 𝘢𝘯𝘵𝘢𝘳𝘢 𝘥𝘰𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘉𝘢𝘱𝘢𝘬 𝘏𝘪𝘭𝘮𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘋𝘰𝘯𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘶𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦 𝘬𝘦𝘢𝘣𝘢𝘥𝘪𝘢𝘯).
━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━
Lampu gantung di sudut kafe kecil itu berpijar temaram, memantulkan bayangan pada wallpaper motif bunga yang mulai pudar warnanya—sama seperti kenangan yang kian menjauh. Ibu Fatimah duduk mematung di kursi kayu favoritnya. Di hadapannya, tiga cangkir teh yang masih mengepul dipesan secara refleks, seolah-olah kursi di depannya tidaklah kosong.
Semenjak suaminya, Bapak Hilman, tiada, rumah dan kafe warisan keluarga ini terasa begitu luas sekaligus menyesakkan. Keheningan adalah tamu tetap yang tak pernah mengetuk pintu.
Anton, anak sulungnya, kini telah memiliki dunianya sendiri di perantauan. Kabar darinya hanya datang lewat notifikasi ponsel yang dingin; foto cucu-cucu yang tumbuh besar tanpa pernah mencium tangannya secara langsung. Sementara Dinda, si bungsu kesayangan, sedang mengejar mimpi di negeri seberang laut yang jaraknya ribuan kilometer dari pelukan Ibu.
Ibu Fatimah mengelus pinggiran meja kayu yang halus. Ia teringat tawa Anton yang menggelegar dan rengekan manja Dinda saat mereka masih berebut sepotong kue di meja ini. Kini, hanya ada suara detak jam dinding dan desau angin dari jendela besar yang menatap jalanan sepi.
Namun, di antara ruang-ruang kosong itu, ada satu lubang di hati Ibu Fatimah yang tak akan pernah bisa terisi lagi. Doni, anak keduanya, telah berpulang di usia mudanya beberapa tahun silam. Foto kecil Doni yang tersenyum riang masih terselip di sudut bingkai di dinding kafe, menjadi pengingat abadi bahwa sebagian dari jiwanya telah lebih dulu pergi menuju keabadian.
Lebaran tinggal menghitung hari. Aroma kue kering mulai menyerbak dari dapur, namun semangatnya seolah tertahan di tenggorokan.
"Ibu, sepertinya tahun ini kami belum bisa pulang..." suara Anton di telepon tadi pagi masih terngiang, disusul permintaan maaf serupa dari Dinda lewat pesan singkat.
Ibu Fatimah tersenyum getir. Ia bangkit, merapikan tirai putih yang tertiup angin, lalu menatap ke arah pintu masuk. Ia tahu Doni dan Bapak Hilman tak akan pernah kembali mengetuk pintu itu, namun ia tetap membiarkan pintu kafe tak terkunci. Ia tetap menanti Anton dan Dinda, menyiapkan tempat terbaik di sudut ruangan yang hangat itu, berharap suatu saat nanti langkah kaki yang ia rindukan akan benar-benar nyata memecah gema sepi yang menyiksa.