Malam turun perlahan, menutup rumah tua itu dengan sunyi. Dari luar jendela, hanya terdengar suara katak dan jangkrik bersahutan di halaman yang lembap oleh embun. Di dalam kamar, Aira berbaring dengan mata terbuka lebar. Sejak siang, pikirannya terus terjebak pada satu hal: sketchbook bersampul kulit di loteng.
Ia memeluk bantal, berguling ke kanan-kiri, tapi bayangan tulisan tinta biru itu tak mau hilang. Kata-kata asing yang muncul begitu nyata, seolah sedang menantangnya untuk kembali.
"Kenapa gue malah makin penasaran sih…?” bisiknya sedikit frustrasi.
Jam dinding kuno di ruang tengah berdentang duaaa belas kali. Suara itu menggema, menegaskan bahwa malam sudah larut.
Dengan langkah hati-hati, Aira keluar dari kamar. Lantai kayu berderit pelan, seakan memperingatkan. Cahaya lampu minyak di ruang tamu bergetar tertiup angin, menambah kesan rumah itu seperti sedang bernafas
Tangga ke loteng menunggu dalam gelap. Aira menyalakan senter HP, meneguk ludah, lalu menaiki anak tangga satu per satu.
“Kalau ini mimpi… semoga gue gak bangun sekarang,” gumamnya lirih.
Pintu loteng terbuka. Bau kayu tua dan debu menyeruak lagi, tapi kali ini tak membuatnya mundur. Kotak kayu di sudut seakan bersinar samar, menariknya untuk mendekat.
Sketchbook itu masih tergeletak di atasnya. Aira menaruh senter di lantai, lalu membuka halaman yang ia tulisi malam sebelumnya.
Matanya membelalak. Di sana, sudah ada balasan. Tulisan tinta biru yang rapi, dengan gaya bahasa yang kaku namun hidup:
Namaku Bima. Tahun 1965. Aku mahasiswa teknik, " The Yellow Jacket" Aku tidak tahu bagaimana mungkin tulisanku bertemu dengan tulisanmu. Tapi… apakah benar kamu berasal dari lintas waktu tahun 2025 ?
Aira terdiam lama, jantungnya berdetak begitu kencang hingga ia bisa mendengar denyutnya sendiri. Tangannya gemetar saat menyentuh huruf-huruf itu.
“Ini… nyata,” bisiknya dengan rasa penasaran yang mengguncang, bukan karena takut, melainkan karena rasa takjub yang melampaui nalar.
Dengan tangan bergetar ia menulis balasan cepat di bawahnya:
Bima… gue Aira. Gue gak tahu kenapa kita bisa terhubung. Tapi gue serius hidup di tahun 2025. Lu yakin tahun sekarang 1965? Jakarta lagi kayak gimana?"
Begitu titik terakhir tinta tertoreh, Aira menutup buku erat-erat, menekannya ke dada seolah takut tulisan itu hilang. Ia duduk lama di lantai loteng, menatap cahaya senter yang redup, merasakan tubuhnya bergetar oleh rasa penasaran dan sebuah awal yang entah akan berakhir di mana.
Malam itu, ia tahu: hidupnya tidak akan sama lagi.
====
Kebiasaan Aira sekarang berubah setelah sarapan pagi, biasanya ia akan mengobrol dengan Oma, tapi sekarang pikiran dan matanya langsung terarah kepada loteng dan buku sketsa, Ia selalu memberikan alasan yang tepat supaya Oma Ina tidak bertanya tanya seperti pagi ini
Begitu sarapan selesai, ia tak sabar bergegas ke tangga kayu yang mengarah ke loteng. Setiap langkah membuat papan berderit, seolah rumah tua itu menyimpan rahasia yang hanya mau dibagikan padanya. Aira menarik napas dalam, lalu membuka pintu loteng yang berat. Debu tipis beterbangan, berkilau di cahaya matahari yang masuk lewat jendela kecil.
Kotak kayu itu masih ada di sudut, sama seperti semalam. Sketchbook kulit tua berbaring tenang di dalamnya. Dengan tangan gemetar, Aira mengangkatnya, membuka halaman di mana ia kemarin menulis balasan isengnya.
Matanya langsung melebar. Ada tulisan baru. Tulisan rapi dengan tinta biru, seolah tinta itu masih basah beberapa jam lalu.
Aira. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan ini. Semalam aku melihat gambar anehmu di bukuku, tidak biasanya. Kamu tahu perempuan di tahun 1965 memakai rok span dan baju blus, sedangkan kamu ? Aku pikir baju makhluk luar angkasa
Dan ketika aku menulis, tulisan itu hilang berganti dengan tulisanku sendiri. Lalu… aku tidur dengan pikiran kacau.
Pagi ini, aku kembali membuka halaman itu, dan menemukan balasanmu. Tahun 2025 katamu? Itu mustahil. Sekarang tahun 1965. Dunia kita berbeda, tapi entah kenapa buku ini menjembataninya
Aira menelan ludah. Tenggorokannya kering. Ia membaca ulang pelan-pelan, takut kalau matanya salah. 1965? Hampir enam puluh tahun lalu. Usia nya pasti seangkatan nenek,
Dengan cepat ia meraih pulpen, menulis terburu-buru.
Gila, beneran ada balasan. Jadi lu beneran dari 1965? Gue dari _2025.
Dunia udah beda banget. Ada internet, HP, WiFi. Semua serba digital. Tapi kok bisa sih tulisan kita nyambung? Jangan ..jangan ..
Aira berhenti sejenak, menunggu jawaban yang jelas tak akan datang saat itu juga.
Jangan jangan hantu ? Hantu? Apakah makhluk asral bisa menulis tentang pemerintahan, mahasiswa demonstrasi? Lama lama ia bisa gila melihat semua ini.
===
Hari itu berjalan lambat menunggu jawaban yang jelas tak akan datang saat itu juga. Aira menyibukan diri menolong Oma membersihkan halaman belakang, menyapu dedaunan kering, tapi pikirannya terus kembali ke buku di loteng. Malamnya, sebelum tidur, ia naik lagi diam-diam.
Dan benar saja, ada balasan baru.
“Aira. Apa itu HP? Apa itu internet? Kamu menyebut kata-kata asing yang tak kumengerti. Listrik saja baru beberapa tahun masuk ke kampus kami. Radio tua masih menjadi hiburan utama kami. Kami mendengar kan lagu lagu perjuangan, lagu keroncong. Dan kami sering berkumpul mendengarkan berita politik tentang partai Merah, partai Nasional dan Agama .
Aku menuliskan ini dengan lampu minyak, karena listrik di asrama padam. Kamu bilang semua serba digital? Aku tak bisa membayangkan digital itu seperti apa”
Tulisan itu berlanjut panjang.
“Aku tinggal di asrama mahasiswa. Bangunannya sederhana, dindingnya cat putih yang mulai mengelupas. Kasurku tipis, hanya kapuk yang sudah kempes, tapi di sinilah aku dan teman-teman belajar tentang banyak hal.
Di siang hari, kami menghadiri kuliah dengan dosen-dosen yang keras, menekankan pentingnya membangun bangsa. Sore hingga malam, kantin kampus menjadi ruang diskusi.
Kami berbicara tentang politik, tentang teknologi, tentang Indonesia yang harus berdiri di kaki sendiri. Kami berdebat sengit, tapi diakhiri dengan tawa. Kami miskin, tapi idealisme kami kaya. Itu dunia kami, Aira. Tahun 1965.
Aira terdiam lama. Ia bisa membayangkan kehidupan itu: bangku kayu reyot, asap rokok kretek mengepul, suara mahasiswa bersahut-sahutan penuh semangat. Rasanya seperti menonton film lama perjuangan, tapi kali ini nyata karena ditulis langsung oleh seseorang yang mengalaminya.
Perlahan senyum tipis muncul di wajahnya. Dengan tangan bergetar, ia menulis kembali
Bima, gue nggak kebayang hidup tanpa HP, tanpa WiFi. Semua orang di zamanku sibuk sama layar masing-masing. Kita bisa tahu berita dunia dalam detik, tapi kadang jadi ngerasa kosong. Gue iri sama lu, bisa ketawa dan debat langsung sama temen-temen lu. Dunia gue ramai, tapi sepi.”
Aira menutup buku itu, menahan debar jantung. Ada sesuatu yang mulai tumbuh—bukan sekadar penasaran, tapi rasa hangat setiap kali menunggu tulisan biru itu muncul lagi.
Malam itu, kembali ke kamarnya dengan hati yang bergetar. Untuk pertama kalinya, ia ingin cepat-cepat menutup mata agar bisa segera pagi.
Bersambung