Kabut sore menyelimuti kota kecil, seakan waktu sendiri malas bergerak. Aira menarik napas. Liburan semester ini harus ia jalani jauh dari riuh kota, dari kafe dan wifi yang tak pernah padam.
" Aira temani Oma dalam libur semester kuliahmu" pesan Mamanya pada suatu sore di ruang tamu. Oma sudah sakit sakitan, tidak ada yang menemani "
" Tapi ma, Aira masih banyak tugas yang harus diselesaikan."
"Kamu bisa mengerjakannya di rumah Oma."
" Ma,. Gadis itu tercekat lidah. Ia tidak dapat membayangkan tinggal dirumah tua peninggalan Belanda bersama neneknya.
" Kamu pikir rumah Oma rumah hantu apa ? Di rumah itu mama dilahirkan. kita sering kesana kan?"
" Eh, ...Aira tergagap, mamanya tahu apa yang ia pikirkan. Aira waktu di rumah Oma tidur dengan Mama Papa."
"Udah ah, jangan kaya anak kecil, kamu sebagai cucunya mesti memperhatikan nenekmu."
Aira mengangguk dalam keraguan. Namun pelototan mata ayahnya membuatnya ia menyerah, " Baik Ma, Pa, tapi Aira cuma seminggu disana."
===
Suara klakson ojek daring yang mengantar Aira memecah keheningan jalanan tua. Begitu koper diturunkan, pintu besar rumah kayu jati berderit terbuka. Sosok seorang perempuan tua berkerudung tipis muncul, matanya teduh meski keriput sudah dalam menghias wajahnya.
“Aira… cucu Oma akhirnya datang juga,” ucap Oma Ina sambil merentangkan tangan. Suaranya bergetar, antara lega dan haru.
Aira tersenyum, langsung memeluk neneknya erat. “Oma… maaf ya, baru sempat kuliah padat banget.”
Oma Ina menepuk-nepuk punggung cucunya. “Tak apa, Nak. Rumah ini memang sudah lama menunggumu. Oma pun senang ada teman, biar tak sepi hanya ditemani burung perkutut di belakang.”
Mereka masuk bersama. Aroma kayu tua dan melati kering langsung menyergap hidung Aira. Ia mendongak, menatap lampu gantung tua yang berayun pelan.
Rumah nenek Aira berdiri anggun di pinggiran Jakarta, di sebuah jalan yang mulai sepi karena tetangga satu per satu menjual tanahnya untuk pembangunan ruko. Dari kejauhan, rumah itu tampak seperti potongan masa lalu yang terselip di tengah kota modern.
===
Hari hari Aira menemani Oma melakukan kegiatan, mulai dari memasak, membersihkan rumah, dan aktifitas yang menyenangkan, bermain games nonton tv atau joging pagi.
Suatu pagi, suara serak Oma Ina memanggil dari dalam kamarnya disaat ia sedang menyapu ruang tamu " Aira, tolong bersihkan loteng ya. Sudah terlalu lama tidak disentuh.”
" Ada apa disana, Oma ? "
" Tidak apa apa, Oma tidak sanggup ke lantai atas untuk membersihkan."
Aira mengerang. Pikirannya langsung terbayang debu, sarang laba-laba, dan kayu reyot. Namun, tak ada pilihan lain, ia mesti membantu neneknya.
Ketika ia membuka pintu loteng, cahaya tipis dari jendela kecil menembus celah, menyingkap tarian debu di udara. Di sudut ruangan, sebuah kotak kayu besar berdiri diam, seperti menyembunyikan rahasia yang enggan dibuka.
Rasa penasaran mengalahkan rasa malasnya Dengan susah payah, ia membuka gembok berkarat itu.
Roman wajahnya berubah seketika melihat didalamnya, berlapis waktu, tersimpan foto-foto kenangan nenek hitam putih yang mulai menguning, tumpukan surat dengan pita lusuh
Tiba tiba saja matanya tercekat oleh sebuah buku bersampul kulit yang usang.Buku apa ini ? bisiknya dengan rasa penasaran. Dan ternyata itu adalah sebuah buku sketsa tekhnik yang halamannya penuh dengan coretan toda gigi, dinamo, sketsa mesin, semuanya ditulis dengan tinta biru yang tegap, penuh keyakinan.
Rasa penasaran nya semakin membuncah, bermacam pertanyaan muncul dibenaknya, Siapa yang punya buku ini ? apakah punya nenek ? Tapi rasa nya ini bukan tulisan nenek, mirip tulisan laki laki yang kuat dan tegar.
Aira membolak balik halaman buku tersebut, tapi ia tidak mengerti rumus rumus tekhnik, akhirnya timbil rasa isengnya untuk mencorat coret buku mengambar wajahnya sendiri—versi chibi, lengkap dengan headphone dan hoodie
Gadis itu tertawa geli melihat hasil gambarnya yang asal asalan dan melemparkan buku itu kedalam keranjang turun dari atas loteng.
===
Malam itu rumah tua Oma Ina tenggelam dalam sunyi. Hanya suara jam dinding kuno yang berdetak pelan dari ruang tamu, sesekali diselingi suara cengkerik dari halaman belakang. Aira berguling di tempat tidur, matanya terbuka lebar menatap langit-langit.
Bayangan gambar chibi yang ia coret di buku itu terus menghantui. Tinta biru itu timbul begitu nyata, bukan sekadar imajinasi.
Ia duduk, menatap jam dinding tua yang menunjukkan hampir tengah malam. Dadanya terasa berdebar kencang
Pelan-pelan, ia melangkah keluar kamar. Lantai kayu berderit setiap kali kakinya menapak, seakan rumah itu ikut mengawasi. Dengan senter kecil dari HP, ia menyusuri lorong gelap menuju tangga loteng.
Tangga tua itu berdecit lirih saat ia injak satu per satu anak tangganya. Nafasnya memburu. “Aira, lu gila banget… tengah malam begini naik loteng sendirian…” gumamnya, separuh menertawakan diri, separuh menahan rasa takut.
Pintu loteng terbuka. Aroma kayu lembap dan debu kembali menyergap. Cahaya senter menyorot kotak kayu di sudut ruangan. Rasa penasaran menarik langkahnya. Ia membuka buku itu lagi… dan tiba tiba tubuhnya membeku.
Di samping gambar chibinya, ada tulisan baru. Tinta biru yang sama, rapi, dan kaku.
“Gambar yang aneh. Pakaiannya tidak biasa. Dari mana ini?”
Aira mematung. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya gemetar memegang halaman.
Ini… siapa yang nulis? Oma?” gumamnya panik. Tapi mustahil, Oma tak mungkin menulis dengan gaya bahasa seperti itu.
Dengan napas tersengal, Aira meraih pulpen. Ia menulis cepat di bawah tulisan itu.
“Ini dari tahun 2025. Gue yang gambar. Lu siapa?”
Tangannya masih gemetar saat menutup buku dengan cepat dan berlari turun dari anak tangga dengan wajah pucat pasi .
===
Aroma kopi tubruk dan roti bakar menguar dari dapur tua itu. Burung perkutut Oma Ina bersahut-sahutan, sementara sinar matahari jatuh miring ke meja kayu jati yang dipenuhi retakan usia.
Oma Ina menata piring dan gelas dengan tenang, lalu memanggilnya
“Aira… ayo, sarapan dulu. Kamu pasti lapar.”
Gadis itu muncul dari arah kamar, rambutnya masih agak berantakan, matanya sayu kurang tidur. Ia berusaha menyembunyikan kegelisahannya dengan senyum tipis
Pagi, Oma,” sapanya, duduk di kursi sambil menunduk.
Oma Ina mengamati cucunya dengan mata tajam namun penuh kasih. “Kamu begadang, ya? Matamu sembab. Jangan-jangan semalaman main HP?”
Aira terkekeh gugup, menyuapkan roti bakar agar tak perlu menjawab panjang. “Ehm… iya, Oma. Biasalah, susah tidur.”
Padahal dalam benaknya, bayangan sketchbook dan tulisan misterius itu terus berputar. Rasanya ia ingin berteriak, menceritakan semuanya. Tapi… bagaimana kalau Oma Ina tidak percaya? Bagaimana kalau ia malah dianggap berhalusinasi?
Aira meneguk kopi pahit yang disuguhkan Oma, mencoba menelan rahasia bersama cairan hitam itu.
Oma Ina masih menatapnya. “Aira, kamu terlihat gelisah, Nak. Kalau ada apa-apa, jangan dipendam sendiri. Rumah ini mungkin tua, tapi dinding-dindingnya bisa jadi sahabat yang setia. Termasuk Oma.”
Ucapan itu membuat hati Aira bergetar. Tangannya mengepal di bawah meja. Ia ingin sekali bercerita tentang tulisan yang muncul entah dari masa lalu, tentang perasaan aneh yang menyeretnya semalam ke loteng… tapi mulutnya terkunci.
"Tenang aja, Oma,” jawabnya akhirnya, sambil tersenyum dipaksakan. “Aira cuma butuh penyesuaian aja. Rumah Oma kan beda banget sama Jakarta.”
Oma Ina mengangguk pelan, lalu tersenyum samar. “Baiklah. Tapi ingat, Nak, rumah tua ini punya banyak kisah. Kadang, ia memilih sendiri kepada siapa rahasia itu dititipkan.
Kalimat itu menancap di kepala Aira. Ia menunduk dalam, pura-pura sibuk mengoles selai di roti, padahal jantungnya berdetak makin kencang. Ia tahu, hari ini ia harus kembali ke loteng… memastikan apakah balasan itu akan datang.
Bersambung