“Heart!”
Suara Nala pecah di dalam kamar.
Tangannya gemetar, mencengkeram selembar surat yang sudah kusut.
“Keluar. Sekarang.”
Sunyi.
Detik berjalan.
Napas Nala makin cepat.
“Jangan bikin aku kelihatan gila… keluar!”
Dan seperti biasa
Heart muncul.
Berdiri di dekat pintu.
Diam.
Seolah semuanya… biasa saja.
Nala langsung melempar surat itu ke arahnya.
“Kamu jelasin ini!”
Kertas itu jatuh tepat di kaki Heart.
Dia tidak mengambilnya.
Hanya melihat.
“Kamu udah baca,” katanya pelan.
“JANGAN BALIKIN PERTANYAAN!”
Nala melangkah maju.
Matanya merah, bukan cuma karena nangis tapi karena marah.
“Ini apa?!”
“…surat.”
“JANGAN SOK TENANG!”
Nala tertawa kecil.
Tapi nadanya patah.
“Lucu ya…”
“Kenapa?”
“Aku baru tau kamu mau pergi… dari KERTAS.”
Sunyi.
“Bukan dari kamu. Bukan dari obrolan. Bukan dari… apa pun.”
Suaranya mulai turun.
Lebih pelan.
Lebih dalam.
“Dari surat.”
Heart akhirnya menunduk.
“Aku mau bilang…”
“KAPAN?!” Nala langsung memotong. “Setelah kamu hilang?!”
“Na—”
“Jangan panggil aku kayak gitu sekarang!”
Hening.
Berat.
“Sejak kapan?”
Heart diam.
“Jawab aku.”
“…udah lama.”
“Udah lama?” Nala mengulang, pelan. “Berarti selama ini kamu tau… kamu bakal pergi?”
“Iya.”
Dan itu…
Lebih sakit dari semua kemungkinan.
“Jadi kamu ngapain aja selama ini, Heart?”
Nala menatapnya lurus.
“Nemenin aku… sambil tau kamu bakal ninggalin aku?”
“Aku nggak—”
“ITU PERSIS YANG KAMU LAKUIN!”
Air mata jatuh lagi.
Kali ini lebih kasar.
Lebih penuh emosi.
“Kamu ngomong, ketawa, dengerin aku… seolah semuanya bakal tetap sama!”
“Aku cuma mau—”
“Mau apa?! Bikin aku nyaman dulu baru kamu hancurin?!”
Heart menggenggam tangannya sendiri.
“Aku nggak bermaksud nyakitin kamu.”
“Tapi kamu lakuin!”
“Kalau aku bilang dari awal—”
“Aku bakal lebih siap!” Nala langsung menyela.
“Enggak.”
Nala membeku.
“…apa?”
“Kamu nggak bakal siap.”
“SETIDAKNYA AKU PUNYA PILIHAN BUAT NYIAPIN DIRI!”
Sunyi.
Kalimat itu menggantung.
“Sekarang aku cuma… ditinggal.”
Suara Nala melemah.
“Tanpa peringatan.”
“Tanpa alasan jelas.”
“Tanpa kesempatan buat bilang… apa pun.”
Heart menatapnya.
Lama.
“Aku tulis alasannya di surat itu.”
Nala tertawa.
Benar-benar tertawa.
Tapi sakit.
“Kamu pikir itu cukup?!”
“Itu yang aku bisa.”
“Enggak, itu yang PALING GAMPANG.”
Nala mendekat.
Jarak mereka sekarang cuma beberapa langkah.
“Kamu pengecut, Heart.”
Kalimat itu pelan.
Tapi tajam.
“Aku tau.”
“Jangan gampang ngaku!”
“Karena itu kenyataannya.”
“Kalau tau… kenapa nggak berubah?!”
Heart diam.
Dan diamnya kali ini…
benar-benar seperti jawaban.
“Aku cuma pengen satu hal.”
Nala mengusap air matanya.
Menarik napas.
“Minta kejelasan itu… terlalu banyak ya?”
Heart menggeleng pelan.
“Enggak.”
“Terus kenapa kamu nggak ngasih?”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Kalau aku ngomong langsung… kamu bakal minta aku tetap.”
“Dan kamu bakal nolak?”
“Iya.”
“Dan itu bikin kamu nggak enak?”
“Iya.”
Nala tertawa kecil lagi.
“Jadi kamu pilih… nyakitin aku tanpa liat reaksi aku?”
“…iya.”
“Gila.”
Satu kata itu keluar pelan.
“Gila banget.”
“Heart, denger ya…”
Nala menatapnya.
Kali ini… tidak hanya marah.
Tapi benar-benar terluka.
“Aku nggak marah karena kamu pergi.”
Heart sedikit terkejut.
“Aku marah… karena kamu bahkan nggak bilang mau pergi.”
Sunyi.
“Kalau kamu ngomong…”
“Aku bakal marah juga, mungkin.”
“Aku bakal nangis, pasti.”
“Tapi setidaknya… aku tau kamu jujur.”
Air matanya jatuh lagi.
Lebih pelan sekarang.
“Ini?”
Nala mengangkat surat itu.
“Ini kayak… aku nggak cukup penting buat kamu hadapin langsung.”
Heart melangkah maju satu langkah.
“Aku takut kehilangan kamu sebelum waktunya.”
“Dan sekarang?”
“…aku tetap kehilangan kamu.”
Hening.
Lama.
“Jadi… ini akhir?”
tanya Nala.
“…iya.”
“Sekarang?”
Heart menggeleng.
“Sebentar lagi.”
“Berapa lama ‘sebentar’ kamu?”
“…nggak lama.”
Nala tersenyum pahit.
“Tuh kan. Bahkan sekarang pun kamu nggak bisa jujur soal waktu.”
“Aku masih boleh tanya satu hal terakhir?”
“Boleh.”
“Kamu pergi karena kamu mau… atau karena kamu harus?”
Heart terdiam.
Lama sekali.
“…dua-duanya.”
“Alasan spesifiknya?”
Sunyi.
Lebih lama.
“…aku nggak bisa jawab.”
Nala mengangguk pelan.
“Yaudah.”
Tidak ada teriakan lagi.
Tidak ada marah lagi.
Dan justru itu… lebih menyakitkan.
“Pergi aja.”
“Na—”
“Pergi.”
“Aku—”
“Pergi, Heart.”
Suaranya pelan.
Tapi final.
Heart berdiri di sana beberapa detik.
Seolah menunggu.
Tapi Nala tidak melihat lagi.
Ia hanya duduk.
Menatap lantai.
Dan perlahan…
Heart menghilang.
Tanpa suara.
Tanpa kata terakhir.
Sama seperti cara dia memulai semuanya.
Nala tidak langsung menangis.
Ia hanya menatap surat itu lagi.
Membacanya ulang.
Kalimat demi kalimat.
Yang tadi terasa “hangat”…
sekarang terasa dingin.
“Aneh ya…”
bisiknya pelan.
“Perpisahan bisa sehangat ini… tapi tetap bikin hancur.”
Air mata jatuh lagi.
Diam-diam.
Moral Cerita
Perpisahan bukan hanya tentang kehilangan seseorang.
Tapi juga tentang cara mereka memilih pergi.
Dan sering kali…
yang paling menyakitkan bukan kepergiannya,
tapi ketidakjujuran sebelum itu terjadi.
Catatan Penulis
Tidak semua orang cukup berani untuk mengatakan “aku akan pergi.”
Sebagian memilih diam.
Sebagian memilih menunda.
Sebagian… memilih meninggalkan surat.
Dan yang ditinggalkan
harus menerima semuanya tanpa kesempatan bertanya.
Kalau kamu pernah ada di posisi Nala,
marah itu wajar.
Karena kamu tidak hanya kehilangan seseorang,
tapi juga kehilangan kesempatan untuk mengerti “kenapa.”