Kota Denpasar matahari turun seperti gong pecah diatas genteng Pure, menetes di sela helai daun kamboja, dan merayap di dinding toko usang yang mengelupas. Asap dupa pura ujung jalan Sutomo bercambur baur dengan sate lilit dan knalpot bus pariwisata. Burung gereja bertengger di kabel listrik meregangkan sayapnya, menegur pagi untuk tetap bertahan hidup didalam kota yang riuh.
Luh Sasmita perempuan cantik berkulit putih pasir pantai Sanur. Rambutnya hitam disanggul bunga kamboja. Sepasang bola mata hitam memancarkan keteguhan mencoba merangkai kenangan bersama Wayan suaminya. Tapi laki laki itu telah pergi ditelan malam, sinar lampu petromak dan genangan air. Orang-orang hanya bisa berkata, waktu bisa mengapung dan tenggelam. Kota tidak acuh bertekuk lutut didepan istana petuah Balian yang diingkari.
Jalan memantulkan langkah ke lutut, kenangan ke dada dan kipas angin yang bernapas. Perempuan itu menekuri kain prada pudar, selendang aroma minyak kelapa dan kembang sepatu dari upacara doa terakhir. Jarinya menyentuh sisa bedak cermin retak, menelusuri wajahnya dalam lekuk peta buta.
Rumahnya terletak di gang sempit Renon dikelilingi pot-pot plastik, radio dangdut dan suara pedagang keliling menjerit. Di sudut lemari, tersimpan gelungan pernikahan emas karatan, tapi bagi Luh, itu seperti prasasti tulis. Dan semenjak bulan pecah dilaut gelungan itu tak pernah lagi turun menjadi saksi hidup kota yang bersolek.
“Ngayah doang yang tersisa,” gumamnya mengikat rambut sambil menghapus keringat dahi yang di lumuri burat murah. Ia mencoba melatih jarinya yang dulu lentik, menyusunnya menjadi abjad tak tertulis, dari gerakan sendi tutur tubuh. Menari adalah bahasa kesunyian di keramaian, tapi Parijs van Bally terlalu gaduh, dentingan gamelan pura tenggelam, Bebek Betutu terlindas food court, iklan billboard memekik kencang dari pada doa pagi Pure.
===
Malam ini kesempatan bagi Luh datang ke aula pusat seni Ubud untuk menari, setelah sekian lama menghilang. Orang orang bermata hijau duduk rapi bagaikan burung laut mengintai ikan, mata mereka licin memainkan gawai merekam tari.
Gamelan Semar Pagulingan berdenting, dang, ding, deng bumi berdeham. Ia mulai mengangkat tangan mengunci tatapan, dunia retak menyatu dalam dendang tubuh. Di atas panggung, ia bukanlah seorang balu putung yang menghitung koin di bawah sorotan lampu lima watt, tapi ini adalah jalan pulang baginya. Setiap kedipan mata menjadi sehelai padi, gerak bahu menjelma menjadi perahu di Selat Badung. Ia menari bukan untuk penonton, tapi Wayan— dimensi yang tak bisa dilipat, dihitung oleh tabuh, atau dimaknai oleh kata.
Selepas pementasan, kota kembali menjadi kota. Dingin aula terputus, dan keringat memeluk lehernya. Ia tidak pulang menjual bunga canang yang dirangkai subuh di trotoar jalan. Sebuah kelopak kenanga, selembar pandan, serpihan cendana, semat janur, dan uang logam terhampar. Mereka yang masih percaya pada doa harian singgah, menyelipkan senyuman dan receh.
Terkadang anak jalanan berkulit coklat membantunya menimbang bunga bagaikan menimbang nasib. “Buat ibu,” katanya sekali waktu, menaruh satu canang di atas pangkuan Luh Sasmita. Hadiah paling ringan, pikirnya tetapi menjadi guratan manis di dada.
===
Di pasar Kumbasari, pagi datang menghafal sedih. Lorong-lorong sempit berbau serai, ikan, dan peluh. Perempuan itu berjalan di antara ibu-ibu yang terjepit hutang, orang tua bicara jujur melihat sayuran yang sama, cinta sama, orang sakit, sekolah mahal, banjir bandang, dan beras.
“Denpasar sekarang makin padat,” bisik Komang Tini, tetangganya yang menjual kain.
“Kota ini cepat, kita yang ketinggalan.” Ucap Luh melihat kawanan sepeda motor belalang sembah. Dalam kaca helm yang memantul, ia melihat wajahnya sendiri, setengah tertawa setengah gila.
Ingatannya selalu terpatri kepada laki laki berkamen yang dulu sering memanggul kayu untuk proyek bangunan tangan berbau hujan. Mereka membangun cinta sederhana, nasi hangat, teh manis, cerita malam yang dingin, dan doa kecil agar Tuhan tidak kaget.
Wayan jarang berkata, tapi selalu datang pulang. Suatu malam, ia tak datang. Jalan licin, kata orang. Truk yang tak berhenti, kata yang lainnya. Sungai menelan suara hingga kini tak ada lagi yang pasti; kasur kosong, dan bantal diam. Ketika semuanya hilang, bukan hanya suaminya yang lenyap—peta pulang di kepalanya pun hanyut.
Ada kalanya ia mendengar ketukan pintu tengah malam, darah memanjat di kerongkongan, menoleh pada gelungan di atas lemari membuka pintu. Angin membawa desah duka. Di langit malam bintang tersangkut, ekornya berkibar memberi tanda tanya yang tidak diminta.
===
Pekerjaan menari senantiasa datang dan pergi, tidak tentu, kadang dipesta pernikahan, bisa pula pementasan kelompok wisatawan. Honor tak pernah tetap seperti laut pasang surut. Dan untuk hari-hari lain Perempuan itu membantu menyapu lantai warung lontong sayur Mek Nik, menghitung kembalian, menyimpan senyum untuk setiap wajah yang tak dikenalnya.
Pemilik warung, Ni Luh Purnami, selalu berkata, “Sabar, Sas. Rezeki orang tak sama.”
Ia mengangguk mengeja kata sabar seperti mantra yang tertukar.
Sore langit berat menahan air, Luh diundang menari di pura kecil gang jalan rumahnya. Upacara itu tidak besar hanya di lingkaran keluarga, tetangga, dan balita mengantuk.
Gerimis jatuh di butiran beras, kain menempel pada kulit yang lelah, tapi matanya terlihat bening. Gamelan datang dari tangan para tetua, terdengar miring, tertinggal irama, namun hangat terasa. Perempuan itu menunduk memberi salam, bibirnya mengucap pelan, “Untukmu, Wayan.”
Gerakannya lebih lambat dari biasanya, membiarkan waktu mengembang kain yang direndam. Jarinya terbuka, menutup, mengundang, bukan untuk penonton, melainkan memorinya sendiri. Anak-anak diam, orang dewasa menahan napas takut mengusik. Ia menyisipkan semua gerakan tari yang tak sempat terkatakan: permintaan maaf, terima kasih, dan tangan berdoa kepada Hyang Widhi.
Ketika musik berhenti, tidak ada tepuk tangan, air menetes dari atap, bau tanah yang kembali menjadi tanah. Luh Sasmita meletakkan canang di pelataran, menyalakan dupa. Asap bergerak mengusap punggung, pelan dan penuh pengertian. Untuk pertama kalinya semenjak kehilangan, ia menangis tersedu.
==
Kota melanjutkan kebiasaannya membangun, membongkar, mengiklankan. Ruko jadi kedai kopi, kedai kopi menjadi butik, toko butik menjadi kantor kosong. Denpasar anak perawan yang fashionable, tapi lupa menanyakan hati. Musim tak lagi patuh, hujan datang saat kalender berkata kemarau, panas menuruni malam tamu yang tidak tahu diri.
Namun di sela fluktuasi itu, ada pura kecil yang tak pernah kosong, aroma canang di pagi hari, suara perempuan rambut bergelung di depan gerbang, dan anak-anak yang memanggilnya “Mbo’ kapan menari lagi?”
===
Malam lebih sunyi dari biasanya, suara hujan bertahan di telinga. Luh Sasmita memandang gelungan di atas lemari, hatinya berdetak mengambil kursi untuk meraihnya. Galungan berbentuk sambeh bintang, dihiasai dengan bunga dan daun puring, penuh debu tapi bercahaya. “Besok kita menari di rumah, bukan untuk siapa-siapa, untuk cinta yang masih tertinggal.”
Luh Sasmita menggelar kain di lantai kamar, menutup jendela separuh. Sinar bulan mencacah lantai berkotak. Suara gamelan terdengar usang dari ponsel tua berdiri di ujung kain, napasnya keluar masuk menjajal hitungan. Gerakan indah mengalir, terkadang patah patah, tapi selalu kembali mencari jalan.
.===
Kabarnya datang seperti asap tipis di antara gemercik hujan sore. Sebuah jasad telah ditemukan di muara, hanyut dan tak lagi utuh dikenali. Bisik-bisik itu merambat cepat dari warung kopi ke empang, obrolan para ibu yang menjemur pakaian atau supir-supir ojek sekadar bertanya, "Katanya siapa tadi?" Nama Wayan ikut mengambang dalam arus itu, terseret dalam desas-desus seperti daun kering yang tak lagi punya pegangan.
Luh Sasmita mendengarnya dengan tenang, menerima kabar harga cabai naik. Tubuhnya tak lagi menggigil, menghela napas panjang, lalu berjalan sendiri ke tepi sungai saat senja mulai menelan warna. Langkahnya tidak tergesa, juga tidak lambat. Ini bukan lagi sebuah pencarian, melainkan semacam penantian terakhir.
Air sungai hitam bergerak malas membawa sampah dan rahasia yang tak terhitung. Suara malam mulai bersembunyi di telinga, jangkrik yang bersahutan, bunyi batu yang berdesau dan helaan napas yang bukan miliknya. “Kalau itu kamu, Wayan” bisiknya, “berhentilah mengembara. Aku akan menari untuk menutup jalan yang membuatmu lelah."
===
Denpasar tetap panas dan terburu-buru. Kota kehilangan kunci. Namun Luh Sasmita mulai mengerti kota hilang bisa tetap menjadi rumah, jika berani memberi nama pada lorong-lorong kebahagiaan, bukan kepada duka, bukan nestapa melainkan kepada kain usang yang dicuci, dijemur, dijahit menjadi selimut.
Cinta yang dulu tertinggal menjadi tangan yang menyuap disaat lapar, memejam mata saat dunia terang, dan menjadi langkah berani menyeberang. Ia bukan tak lagi merindukan tapi hanya berhenti menagih menanti jawaban dari pintu yang sudah roboh.
Malam terlalu jarang, ketika angin menyelinap menodai panas. Ia masih mendengar ketukan, membuka pintu sembari tersenyum, “Aku di sini bersama kota menari, Wayan, dan jangan engkau pergi lagi.”
Glassory:
Gelungan: Sanggul tradisional Bali.
Balian: Dukun atau tabib tradisional Bali.
Balu Putung: Seorang janda tidak punya anak
Kamen: Kain sarung yang merupakan bagian pakaian adat pria Bali.
Ngayah: Bekerja bakti tanpa dibayar untuk kepentingan adat dan keagamaan