Arga bangun tidur pada pukul lima pagi. Dia segera merapikan tempat tidurnya dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Arga adalah siswa kelas dua belas di SMA Negeri 1 Jakarta. Usianya tujuh belas tahun. Dia memiliki tubuh yang tinggi dan rambut hitam yang dipotong rapi. Setiap hari, Arga mengendarai sepeda motor miliknya menuju sekolah.
Sebelum berangkat, Arga mengeluarkan sepeda motornya dari garasi rumah. Di depan rumah, dia melihat Citra sedang menunggu di depan pagar rumahnya. Citra adalah tetangga Arga sejak mereka masih kecil. Citra berusia tujuh belas tahun dan berada di kelas yang sama dengan Arga. Citra memiliki kepribadian yang tenang dan jarang berbicara jika tidak diperlukan.
"Sudah siap, Citra?" tanya Arga sambil memakai helmnya.
"Sudah, Arga. Terima kasih sudah mau memberiku tumpangan lagi hari ini," jawab Citra.
Citra naik ke jok belakang motor Arga. Jarak dari rumah mereka ke sekolah adalah sekitar empat kilometer. Selama di perjalanan, tidak banyak yang mereka bicarakan. Arga fokus pada jalanan yang mulai ramai dengan kendaraan lain, sementara Citra memegang tas sekolahnya dengan erat. Hubungan mereka memang sangat dekat sebagai sahabat, namun keduanya sama-sama tidak pandai memulai pembicaraan yang panjang.
Sesampainya di sekolah, Arga memarkir motornya di area parkir khusus siswa. Mereka berjalan bersama menuju kelas. Di koridor sekolah, banyak siswa lain yang sudah datang. Arga dan Citra masuk ke dalam kelas dua belas IPA satu. Mereka duduk di barisan tengah, namun meja mereka tidak bersebelahan. Citra duduk bersama teman perempuannya yang bernama Lani, sedangkan Arga duduk bersama sahabatnya yang bernama Dimas.
Pelajaran pertama hari itu adalah matematika. Guru matematika mereka, Pak Bambang, masuk ke kelas dan mulai memberikan soal-soal tentang kalkulus. Arga sangat menyukai matematika. Dia bisa mengerjakan soal-soal sulit dengan cepat. Hal ini membuat Arga cukup dikenal di kelas sebagai siswa yang cerdas.
Saat istirahat pertama dimulai, Arga dan Citra pergi ke kantin bersama Dimas. Mereka memesan nasi goreng dan teh botol. Saat mereka sedang makan, suasana kantin yang sangat ramai tiba-tiba menjadi sedikit lebih tenang ketika sekelompok siswi masuk. Di tengah kelompok itu ada Bella.
Bella adalah siswi yang sangat terkenal di sekolah. Dia memiliki banyak pengikut di media sosial dan menjadi pemimpin tim pemandu sorak. Bella memiliki suara yang nyaring dan selalu terlihat percaya diri. Arga sudah menyukai Bella sejak mereka masih di kelas sepuluh. Arga menyukai Bella karena Bella sangat aktif dan selalu terlihat bersemangat.
"Arga!" panggil Bella sambil berjalan menuju meja Arga.
Arga hampir tersedak nasi gorengnya. Dia segera meminum teh botolnya. "Iya, Bella? Ada apa?"
Bella berdiri di samping meja Arga. Dia mengabaikan Citra dan Dimas yang juga ada di sana. "Aku sedang bingung dengan tugas matematika tadi. Pak Bambang bilang kamu mendapatkan nilai sempurna di kuis minggu lalu. Apakah kamu bisa mengajariku sore ini?"
Arga menatap Bella dengan wajah yang sangat terkejut. "Mengajarimu? Di mana?"
"Di kafe yang baru buka di depan sekolah. Pukul empat sore. Bagaimana? Kamu punya waktu, kan?" Bella bertanya sambil tersenyum lebar.
Arga teringat bahwa sore ini dia sudah berjanji pada Citra untuk membantunya merapikan tanaman di kebun belakang rumah Citra. Namun, permintaan Bella adalah sesuatu yang sangat dia inginkan sejak lama. Arga merasa ini adalah kesempatan baginya untuk bisa lebih dekat dengan Bella.
"Iya, aku punya waktu. Aku akan datang ke sana pukul empat sore," jawab Arga.
Bella terlihat sangat senang. "Hebat! Sampai jumpa nanti sore, Arga."
Setelah Bella pergi, Dimas langsung menyenggol lengan Arga. "Wah, Arga, kamu sangat beruntung. Bella jarang sekali meminta bantuan pada siswa laki-laki secara langsung seperti itu."
Arga hanya tersenyum malu. Namun, saat dia menoleh ke arah Citra, dia melihat Citra sedang menatap piring nasi gorengnya yang masih setengah penuh. Citra tidak mengatakan apa-apa, tapi dia mulai mengaduk-aduk nasi gorengnya tanpa memakannya.
"Citra, maaf ya. Sore ini sepertinya aku tidak bisa membantumu di kebun," kata Arga dengan nada merasa bersalah.
Citra mendongak dan menatap Arga. Wajahnya terlihat datar. "Tidak apa-apa, Arga. Aku bisa melakukannya sendiri nanti. Belajar untuk ujian lebih penting daripada mengurus tanaman."
"Aku akan membantumu besok sore, aku janji," tambah Arga.
Citra hanya mengangguk pelan. Dia kemudian berdiri. "Aku sudah kenyang. Aku ingin kembali ke kelas lebih dulu karena ada buku yang harus aku baca."
Citra pergi meninggalkan kantin sendirian. Arga menatap punggung Citra yang menjauh. Dia merasa ada yang aneh dengan sikap Citra, namun rasa senangnya karena akan bertemu Bella menutup rasa herannya tersebut.
Pukul empat sore, Arga sudah berada di kafe depan sekolah. Dia memilih meja di pojok ruangan agar suasana lebih tenang untuk belajar. Tidak lama kemudian, Bella datang. Dia tidak membawa buku pelajaran sebanyak yang Arga bayangkan. Dia hanya membawa satu buku tulis kecil dan sebuah pulpen.
"Halo, Arga! Maaf aku terlambat sepuluh menit," kata Bella sambil duduk di depan Arga.
"Tidak apa-apa, Bella. Mari kita mulai. Bagian mana yang menurutmu sulit?" tanya Arga sambil membuka buku paket matematikanya.
Bella justru meletakkan ponselnya di atas meja. "Sebenarnya, matematika memang sulit, tapi aku ingin kita mengobrol santai dulu. Aku ingin tahu lebih banyak tentangmu, Arga. Kamu terlihat sangat serius setiap hari."
Arga merasa bingung. "Tapi ujian tinggal dua minggu lagi, Bella."
"Aku tahu. Tapi belajar akan lebih menyenangkan jika kita sudah merasa akrab, kan?" Bella mulai bercerita tentang kegiatannya di tim pemandu sorak. Dia bercerita tentang konflik yang terjadi di antara anggota timnya dan bagaimana dia harus mengatur jadwal latihan yang sangat padat.
Arga mendengarkan semua cerita Bella. Dia merasa Bella adalah orang yang sangat menarik. Namun, setelah satu jam berlalu, mereka belum mengerjakan satu pun soal matematika. Setiap kali Arga mencoba mengarahkan pembicaraan kembali ke pelajaran, Bella selalu punya cara untuk mengalihkan topik.
"Arga, kamu punya pacar?" tanya Bella tiba-tiba.
Arga terkejut. "Belum. Aku tidak punya pacar."
"Benarkah? Padahal kamu pintar dan tidak sombong. Kalau Citra? Dia itu pacarmu?" Bella bertanya lagi dengan nada menyelidik.
"Citra adalah sahabatku sejak kecil. Kami bertetangga," jawab Arga jujur.
Bella mengangguk-angguk. "Oh, hanya sahabat. Baguslah kalau begitu. Aku pikir kalian punya hubungan khusus karena kalian selalu terlihat bersama."
Percakapan sore itu berakhir pada pukul enam sore. Mereka hanya mengerjakan dua soal matematika, namun Bella terlihat sangat puas. Dia meminta Arga untuk mengantarnya pulang ke rumahnya. Arga menyetujui hal itu. Selama perjalanan menuju rumah Bella, Arga merasa sangat bangga karena dia bisa membonceng siswi paling populer di sekolah.
Sesampainya di rumahnya sendiri, Arga melihat lampu di kamar Citra sudah padam. Padahal biasanya Citra masih belajar pada jam seperti ini. Arga masuk ke rumahnya dan segera menuju kamarnya. Dia merasa sangat lelah namun juga merasa senang.
Keesokan harinya di sekolah, suasana mulai berubah. Bella mulai sering mendatangi meja Arga saat jam istirahat. Dia sering membawakan Arga minuman atau cokelat kecil. Hal ini membuat teman-teman sekelas mereka mulai membicarakan Arga dan Bella. Arga menjadi lebih sering berkumpul dengan teman-teman Bella di kantin.
Sementara itu, Citra semakin menjauh. Dia tidak lagi menunggu Arga di parkiran motor saat pulang sekolah. Citra lebih sering pulang menggunakan bus umum atau dijemput oleh ayahnya. Arga merasa kehilangan teman bicaranya, namun dia terlalu sibuk mengikuti keinginan Bella yang sering mengajaknya pergi ke mal atau menonton film di bioskop setelah pulang sekolah.
Suatu sore, hujan turun dengan sangat deras. Arga baru saja selesai menemani Bella berlatih pemandu sorak di aula sekolah. Saat mereka hendak pulang, Arga melihat Citra sedang berdiri di depan lobi sekolah, menunggu hujan reda. Citra tidak membawa payung.
"Arga, ayo antar aku pulang. Aku tidak mau pakaianku basah," kata Bella sambil memegang lengan Arga.
Arga menatap Citra yang berdiri sendirian. Dia merasa tidak tega melihat sahabatnya kedinginan. "Bella, tunggulah sebentar. Aku ingin memberikan jaket atau payung ini pada Citra. Dia tidak bisa pulang karena hujan."
Bella terlihat tidak suka. "Dia kan bisa menunggu bus. Lagipula dia sudah besar, dia pasti bisa mengurus dirinya sendiri. Ayo, aku sudah lapar."
Arga merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya saat mendengar ucapan Bella. Namun, karena dia tidak ingin membuat Bella marah, Arga akhirnya berjalan melewati Citra tanpa menyapanya. Dia melihat Citra menoleh ke arahnya, namun Citra segera membuang muka saat melihat Bella menggandeng tangan Arga dengan erat.
Malam itu, Arga tidak bisa tidur dengan tenang. Dia teringat wajah Citra di lobi sekolah tadi. Dia merasa telah menjadi teman yang sangat buruk bagi Citra. Arga memutuskan untuk mengirim pesan kepada Citra.
"Citra, apakah kamu sudah sampai di rumah? Maaf tadi aku tidak menyapamu," tulis Arga.
Pesan itu terkirim, namun tidak ada balasan dari Citra hingga keesokan paginya.
Satu minggu berlalu. Sekolah mulai sibuk dengan persiapan festival seni. Setiap kelas harus membuat proyek pameran. Arga dan Citra berada dalam satu kelompok yang sama untuk membuat pameran ilmiah tentang energi terbarukan. Namun, Arga sangat jarang ikut dalam diskusi kelompok karena dia lebih sering membantu Bella menyiapkan panggung utama festival.
Pada suatu sore, saat anggota kelompok yang lain sudah pulang, Citra tetap tinggal di laboratorium untuk menyelesaikan maket pameran mereka. Arga datang ke laboratorium untuk mengambil tasnya yang tertinggal. Dia melihat Citra sedang mengecat bagian miniatur kincir angin dengan sangat teliti.
"Citra, kenapa kamu masih di sini? Ini sudah pukul lima sore," kata Arga.
Citra tidak menoleh. Dia tetap fokus pada pekerjaannya. "Seseorang harus menyelesaikan proyek ini, Arga. Jika aku tidak mengerjakannya sekarang, kelompok kita tidak akan punya apa-apa untuk dipamerkan lusa."
Arga mendekati meja kerja Citra. Dia melihat bahwa Citra sudah mengerjakan hampir delapan puluh persen dari seluruh proyek tersebut sendirian. "Maafkan aku, Citra. Aku terlalu sibuk membantu Bella."
Citra meletakkan kuas catnya. Dia menatap Arga dengan mata yang terlihat sangat lelah. "Arga, sejak kapan kamu menjadi asisten pribadi Bella? Kamu bahkan mengabaikan tugasmu sendiri."
"Aku tidak bermaksud begitu. Bella membutuhkanku untuk mengurus peralatan suara di panggung," Arga mencoba membela diri.
"Bella memiliki banyak teman yang bisa membantunya, Arga. Tapi kelompok ini hanya punya kita. Dan aku merasa seperti tidak punya sahabat lagi," kata Citra dengan suara yang sedikit bergetar.
Arga merasa seperti tersambar sesuatu yang sangat keras di dadanya. Dia melihat Citra mulai merapikan peralatan catnya dengan terburu-buru.
"Citra, tunggu. Aku akan membantumu sekarang," kata Arga.
"Tidak perlu, Arga. Pergilah ke panggung. Bella pasti mencarimu sekarang," jawab Citra sambil mengambil tasnya dan berjalan keluar dari laboratorium.
Arga berdiri terpaku di dalam laboratorium yang sepi. Dia melihat maket kincir angin itu. Dia menyadari bahwa dia telah mengabaikan tanggung jawabnya dan mengabaikan perasaan orang yang selama ini selalu mendukungnya.
Saat Arga berjalan menuju panggung utama, dia melihat Bella sedang tertawa bersama beberapa siswa laki-laki dari kelas lain. Mereka terlihat sangat akrab. Saat Bella melihat Arga, dia melambaikan tangan.
"Arga! Kamu ke mana saja? Tolong bantu angkut kotak-kotak ini ke belakang panggung," perintah Bella.
Arga melihat ke arah kotak-kotak besar yang sangat berat. Dia merasa lelah. Selama ini, Bella hanya memintanya melakukan hal-hal fisik dan jarang sekali membicarakan hal-hal yang benar-benar penting bagi Arga. Arga mulai menyadari perbedaan antara Bella dan Citra. Bella membutuhkannya sebagai seseorang yang bisa diperintah, sedangkan Citra membutuhkannya sebagai teman untuk berbagi beban.
Malam harinya, Arga menemukan sebuah buku catatan kecil di dalam tasnya. Dia baru menyadari bahwa itu adalah buku milik Citra yang tertukar saat mereka mengumpulkan tugas kemarin. Arga membuka buku itu untuk mencari catatan kimia miliknya yang mungkin terselip di sana.
Namun, di halaman belakang buku itu, Arga menemukan sebuah tulisan tangan yang sangat rapi. Itu adalah jurnal pribadi Citra. Arga tahu dia tidak seharusnya membaca jurnal orang lain, namun ada satu paragraf yang menarik perhatiannya karena ada nama "Arga" di sana.
"Hari ini Arga tidak datang lagi untuk belajar bersama. Dia lebih memilih pergi dengan Bella. Aku merasa sangat sepi. Ternyata benar kata orang, persahabatan selama belasan tahun bisa dengan mudah dilupakan hanya karena kehadiran orang baru yang lebih bersinar. Aku ingin marah padanya, tapi aku sadar aku tidak punya hak. Aku hanyalah sahabat lamanya, bukan seseorang yang spesial di hatinya."
Arga menutup buku itu dengan tangan yang gemetar. Dia merasa sangat bodoh. Dia selama ini mencari perhatian dari wanita yang hanya menganggapnya sebagai pembantu, sementara dia menyia-nyiakan wanita yang memberikan ketulusan luar biasa kepadanya.
Hari festival seni tiba. Suasana sekolah sangat meriah. Banyak orang tua murid dan tamu dari luar sekolah datang berkunjung. Bella tampil di panggung utama dengan sangat memukau. Banyak orang memberikan tepuk tangan untuknya. Bella terlihat sangat bahagia menjadi pusat perhatian.
Setelah tampil, Bella menghampiri Arga yang sedang berdiri di dekat panggung. "Arga! Lihat, penampilanku tadi hebat kan? Sekarang ayo temani aku makan di stan luar. Aku sangat lapar."
Arga menatap Bella. "Maaf, Bella. Aku harus pergi ke stan pameran ilmiah kelas kita. Proyekku sedang dinilai oleh juri sekarang."
Bella mengerutkan kening. "Pameran itu kan tidak penting, Arga. Kamu bisa ke sana nanti. Sekarang temani aku dulu."
"Tidak, Bella. Ini penting bagiku. Dan ini penting bagi Citra," kata Arga dengan tegas.
Bella terlihat sangat terkejut. "Citra lagi? Kamu lebih memilih melihat miniatur kincir angin itu daripada menemaniku?"
"Iya. Karena di miniatur itu ada kerja keras yang aku abaikan. Dan di sana ada sahabat yang lebih menghargaiku daripada kamu menghargaiku," jawab Arga.
Arga meninggalkan Bella yang berdiri terpaku dengan wajah merah karena marah. Arga berlari menuju laboratorium tempat pameran ilmiah diadakan. Dia melihat Citra sedang menjelaskan cara kerja kincir angin kepada dua orang juri. Citra terlihat gugup namun dia berusaha menjelaskan dengan sangat baik.
Arga berdiri di belakang para juri. Saat Citra selesai menjelaskan, para juri memberikan pujian atas detail maket tersebut. Setelah juri pergi, Arga mendekati Citra.
"Penjelasanmu sangat bagus, Citra," kata Arga.
Citra terkejut melihat Arga ada di sana. "Kenapa kamu di sini? Bukannya kamu harus membantu Bella di panggung?"
"Aku sudah selesai dengan semua itu, Citra. Aku di sini karena aku ingin bertanggung jawab pada kelompok kita. Dan aku ingin meminta maaf padamu secara langsung," kata Arga sambil menatap mata Citra.
"Arga, aku tidak ingin membahas itu sekarang. Banyak tamu yang lewat," kata Citra sambil mencoba menghindari kontak mata.
"Aku serius, Citra. Aku membaca tulisanmu di buku catatanmu. Aku minta maaf karena sudah menjadi teman yang sangat jahat selama sebulan terakhir ini. Aku menyadari bahwa kepopuleran dan perhatian dari Bella tidak ada artinya dibandingkan persahabatan kita," ujar Arga.
Citra terdiam. Dia menundukkan kepala. "Aku hanya merasa aku kehilangan kamu, Arga."
"Kamu tidak akan kehilangan aku lagi. Aku janji. Mulai besok, aku yang akan menunggumu di parkiran motor. Aku yang akan membantumu di kebun setiap sore. Dan aku akan selalu ada di sampingmu, bukan karena kita tetangga, tapi karena aku ingin tetap bersamamu," kata Arga dengan suara yang tulus.
Citra perlahan mengangkat kepalanya dan tersenyum. Kali ini senyumnya tidak terpaksa. Senyum itu adalah senyum yang selama ini Arga rindukan.
Beberapa minggu kemudian, suasana di sekolah kembali normal. Arga dan Bella tidak lagi terlihat bersama. Bella sudah menemukan pengagum baru yang bersedia menuruti semua kemauannya. Arga sendiri merasa jauh lebih tenang. Dia tidak lagi merasa harus berpura-pura keren atau sibuk.
Setiap sore, Arga dan Citra belajar bersama di teras rumah. Mereka membicarakan tentang ujian nasional yang semakin dekat dan rencana mereka untuk masuk ke universitas yang sama. Arga menyadari bahwa cinta tidak selalu tentang siapa yang paling bersinar di sekolah, namun tentang siapa yang tetap ada saat lampu panggung sudah padam dan suasana menjadi sunyi.
Arga merasa sangat bersyukur karena dia diberikan kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungannya dengan Citra. Dia belajar bahwa dalam hidup, kita harus berani memilih mana yang benar-benar berharga dan mana yang hanya merupakan kesenangan sesaat. Dan bagi Arga, Citra adalah pilihan terbaik yang pernah dia buat.
Cinta segitiga itu memang pernah membuatnya bingung, namun pada akhirnya, kejujuran dan ketulusan hati yang membawanya kembali pada orang yang paling tepat. Arga menatap Citra yang sedang serius membaca buku biologi di depannya. Arga tersenyum sendiri, merasa sangat bahagia dengan pilihannya.
Tamat