Senja ini bukan lah senja pertama dan terakhir. Serayu, senja yang selalu hadir di hari hari kelamnya. Di pagi hari, malam bahkan subuh. Dia datang berkelabutkan awan jingga hitam menorehkan kedukaan berselimutkan mimpi panjang tiada akhir.
“Kau lihat senja itu? tanyanya menunjuk hantaran langit yang mulai menguning dengan jari telunjuknya yang halus. Sungguh indah!”
“Maukah kutunjukan arti senja sesungguhnya?” katanya lagi dengan lingkaran bola mata me mbesar sebesar bola pingpong. Alisnya pun terangkat.“Jangan kalian habiskan senja ini, sisakan untukku,” harapnya.
Perempuan itu kembali menghadap senja di senja ini.
======
Manusia urban berjalan hilir mudik menunggu kereta dengan roman wajah lusuh dan kuyu. Tentengan tas, wajah tua lenyot, perempuan bunting dan beberapa kepala balita menyembul di ikatan kain jarik maknya menghiasi cakrawala malam. Waktu beranjak malu, kereta serayu tidak juga tiba.
Beberapa orang perempuan berdandan menor ikut serta memajangkan tubuhnya yang penuh tambalan di peron diantara muntah yang berserak. Anak anak menangis merengek di samping ibunya minta makan tetapi hanya cubitan halus yang mereka dapatkan di pantat.
Seorang tukang catut berbisik-bisik menawarkan karcis tersisa. Dia dengan gigih menawarkan kepada orang orang berlalu lalang yang kebingungan. Alamat ada yang kena kibul dan memaki maki.
Aktifitas senja itu terhenti sejenak mendengar sound toa cempreng milik PT KAI berteriak - teriak, “Kereta Api Serayu Jurusan Pasar Senen terlambat beberapa menit. Mohon bersabar.”
“Kebiasaaan !”
“Kampret !”
“Bah, sudah kuduga.”
“Maak, mau makan!”
“Huss diam.“
Wanita penuggu senja itu terpukau oleh suasana di peron malam. Kesunyian hatinya membuatnya hadir di senja ini..
“Tidakah mereka tahu bahwa potongan senja terakhir bisa mengobati luka?” katanya dengan bibir terbuka terkatup bak ikan cupang sedang birahi. “Cahaya akan aku taburkan di peron. Sinarnya akan menyentuh bocah yang menyusui, masinis tua dan bromocorah insyaf.”
“ Orang gila !”
“ Aku bukan gila !”
“ Lalu ?”
“ Aku hanya menunggu senja terakhir ?”
“ Ada apa dengan senjamu?”
“ Tiga buah senja yang lalu berbau anyir. Tinggal satu senja harapanku.”
“ Ooo.“
“ Pulanglah.“
“ Tidak, senja itu akan datang. Aku akan menunggu.”
“Tidakah sekarang senja mau berakhir? apa lagi yang kau tunggu? Jemputlah senja itu.”
“ Ini bukan senja terakhir.”
“ Lho, apakah ada ciri ciri senja terakhirmu?”
“Tidak ada. Kau gila.”
---
Senja pertama di Cimenuk
Desa miskin itu terletak di dataran tinggi bebatuan. Akses jalan sulit ditempuh oleh kendaraan roda empat. Apatah lagi jarak tempuh yang jauh dari pusat kota Kabupaten membuat mereka hidup dengan alam dan budayanya sendiri
Sekolah yang mirip kandang babi, rumah ibadah yang di tinggal kan umatnya dan bantuan desa yang sering raib di coleng oleh tuyul berkepala hitam membuat pemuda dan wanita muda melarikan diri ke kota. Ini pula yang diinginkan bromocarah agar mereka bisa memerah jerih payah petani tua diimingi hiburan rakyat dan pinjaman mencekik pinggang.
Sawah sawah luas peninggalan moyang habis tergadai atau di juali. Tinggal lah sisa sisi kepahitan menjadi buruh tani di bawah tekanan pemilik sawah. Mereka tidak pikirkan itu asalkan liukan tubuh sintal penari dan kerlingan mata ronggeng selalu menghibur di waktu panen tiba.
Hidup melarat merupakan anugrah dari Tuhan Yang Kaya, tidak usah diusik – usik. Lama kelamaan mereka buta, buta ekonomi dan buta Tuhan. Kebodohan yang sengaja di ciptakan
Cimenuk, cerita dari kebodohan yang terstruktur beranak pinak lalu menjalar turun temurun. Perawan desa hilang ke kota menjadi pembantu, buruh di pabrik pabrik atau menjadi tenaga kerja asing di negeri orang, kembali menjadi babu. Para pemuda nganggur ngelayap di pelosok kampung begajulan.
Tetapi tidak demikian halnya untuk seorang gadis yang bernama Parmi - kembang desa Cimenuk. Kuntum bunga yang sedang mekar harapan pemuda.
Tubuhnya tinggi semampai menjulang, entah kenapa disaat gizi buruk melanda kampung tubuhnya melonjong kelangit. Hidungnya macung diantara pipi ranum merekah serta senyuman yang menghiasi bibir tipisnya.
Dia mempunyai asa yang tinggi untuk tetap bersekolah namun pikiran bolot maknya membuat ia pasrah dengan situasi bahwa sekolah hanya untuk orang kaya.
Wajah cantiknya membuat cemburu bunga yang lain. Acap kali emak menentengnya di pertunjukan ronggeng. Wajah mulusnya coreng moreng di preteli. Pipi kanan kiri taburi pupur ditambah dengan lukisan bulan separo di alis.
Bibirnya di polesi gincu merah darah.“Aduuh cantiknya anak emak,” puji maknya mematut matut tubuh gadis itu seperti badut di pertunjukan sirkus.
=====
“Kau lihatlah si Dolot itu, Parmi! anak kepala dusun, gagah! Sawahnya bertebaran dimana mana,” emaknya berkata di pertigaan malam ketika mereka merebahkan tubuhnya di dipan kamar.
“Aku ingin sekolah mak.”
“Sekolah? mak mu hanya buruh tani. Apa yang harus mak jual? tidak ada harta peninggalan bapakmu.”
Hening menjemput suasana. Desiran angin menembus dinding bambu. Dua beranak itu menggigil. Anjing menyalak kuat. Sinaran lampu teplok membayang membentuk potongan berhantu ditiup angin
“Dolot itu jahat! sering mengganguku pulang sekolah,” ujar gadis itu menarik kain jarik menyelimuti tubuhnya.“Berdua kita mak ?” tawarnya.
Wanita tua itu diam senyap. Lalu di serongkan kan tubuhnya menghadap anak gadisnya itu,“ Berarti dia suka dengan kau !”
“Aku tidak suka dengannya !”
“Kau cantik Parmi! Kau termasuk gadis beruntung akan di persunting Dolot, anak kepala desa.”
“Aku ingin melanjutkan SMU di kecamatan.”
“Dengar omongan mak mu !”
“Maak! aku tidak mau kawin dengan si Dolot.”
“ Diam !”
Gadis itu senyap. Ingin rasanya ia membungkam mulut maknya yang merocos dengan sambal terasi tetapi ia tidak sanggup. Pikiran kotornya saja yang mengikuti nasehat iblis.
Dan rupanya terbukti. Tanpa ada persetujuannya mak mengikat janji dengan pak Prawira bapaknya si Dolot, orang nomor satu di desa Cimenuk itu.
Laki laki calonnya itu setali tiga uang dengan bapaknya. Wajahnya penuh dengan luka carut marut di kening dan pipi. Tatap matanya liar seperti hewan buas mendapatkan buruan.
Umpatan sering meluber cerepot ceripit di cangkemnya yang berbau alkohol. Kerjaannya nongkrong di warung, petantang petenteng sepanjang kampung, main batu atau mencoel pantat Murni.
Tetapi yang mengherankan Parmi banyak sekali perawan desa suka dengannya termasuk Emak. Mengapa tidak mak saja kawin dengan si Dolot? pikirnya.
25 gram emas dan dua ekor sapi sebagai mahar perkawinan. Dengan cepat mak mengangguk setuju. Harapannya pupus sudah untuk bersekolah, tidak ada yang membela.
Untuk menolak permintaan emak sama saja dengan membunuhnya perlahan lahan di tiang jemuran. Meminta pertolongan ayah rasanya juga mustahil karena ayahnya mati keracunan tempe bongkrek tahun tahun berselang.
Hiburan tarling semalam suntuk di gelar, minuman keras bersileweran di pojok pojok tenda. Pemuda pemudi berjoget dangdut. Emak terseyum girang dengan muka sumringah menyalami tamu.
Penduduk desa berpesta dengan luka hati dihatinya. Gadis itu menangis sesugukan di malam pertama ketika perawannya hilang diregut oleh laki laki bedebah itu di rumah pak Prawiro
Angin malam mulai menggigit. Manusia manusia itu belum juga beranjak hilang. Spur hitam belum datang. Wanita itu masih duduk di bangku peron menunggu senja yang terakhir, senja yang sekarat. Keyakinanan lah yang membuat dia menunggu dan selalu menunggu akan kedatangannya.
---
Siapa yang menduga kereta bergerbong enam itu telah mengantarkannya di suatu tempat yang tidak bertepi, mati hati. Tak ada yang perlu ia tangisi dan tidak sesorang pun menangis melihat kepergiannya.
“Kau cari uang yang banyak untuk anakmu !”
“Iya mak !
“Sudah kau hubungi Lastri ?”
“Kemarin sore!”
“Kau minta kerja sama Lastri, kerja apa kek, jadi pembantu, tukang gosok, jaga swalayan, pokoknya yang halal.”
“Memang itu keinginanku mak.”
“Cepat kau pulang jika uangmu sudah terkumpul. Tak sanggup aku lama lama memberi anakmu makan.”
“ Baik mak.”
Dua bola mata bening menatap dari gendongan neneknya seakan akan bocah lima tahun itu tahu akan derita ibunya dan mengisyaratkan, ‘Ibu cepat pulang.’ Air mata wanita itu mulai basah dihapusnya cepat dengan sapu tangan.
Semburat siluet jingga ditutupi awan malam merangkak pelan. Sorot lampu dari lokomotif memedarkan mata. Bunyi gesek roda kereta dengan rel terdengar makin lama makin kuat.
Orang –orang yang duduk di peron berhamburan berlarian menuju kereta. Kereta yang menghantarkan mereka ke jantung negara itu berjalan pelan meninggalkan batas cakrawala diiringi lengkingan pluit.
=====
Tidak ada pemandangan yang indah seperti dikampungnya di Stasiun Senen. Gedung gedung tinggi menjulang semraut. Orang –orang berlalu lalang seperti robot, tidak mau tahu. Belum hilang rasa penatnya turun dari kereta beberapa orang berusaha merebut tasnya.
“Mau ke mana mbak ?”
“Ayo ikut dengan mikrolet ini mbak !”
“Kali Deres! Kampung melayu ?”
Parmi bingung terheran –heran melihat stokar oplet macam lebah mengerubunginya. Dia seperti bola di tarik kian kemari baju nya hampir koyak.
“Cilaka dua belas”,gumamnya jengkel.
“ Hey, Jangan kalian ganggu adikku !
Panggilan itu membubarkan orang yang tidak tahu adat itu ketika ada tangan menariknya pergi.
“Lastri ? dimana tempat tinggalmu, Las?
Tangan itu terus menyeretnya pergi menyelusuri jalan besar, di prampatan belok kiri kemudian masuk kedalam gang berliku macam ular kadut bergelung.
Penat rasanya kaki Parmi mengikuti langkah Lastri yang panjang - panjang. Rasa penasarannya terjawab sudah disaat wanita seumurannya itu membawanya kesebuah rumah petak bersusun paku berdinding triplek
“Ini rumahmu Las?”
Di dalam benaknya yang kampungan napasnya terasa sesak. Lastri, sahabat kecilnya dulu, dalam sangkaannya tinggal di rumah beton berpagar di temani beberapa orang pembantu ternyata di dalam ruangan mirip penjara. Ukuran tiga kali tiga tumplek blek bercampur baur, tv 14 inch , kompor, kuali , pakaian dalam bertaburan di atas tikar pandan.
“Duduklah Parmi.“
Dimana dia mau duduk?
Sehari dua hari Parmi hanya makan tidur dirumah Lastri. Tidak banyak dia kerjakan hanya membersihkan rumah yang berantakan. Bibirnya pun tidak pernah terucap untuk menanyakan apa pekerjaannya. Yang dia tahu perempuan itu berangkat ba’da Isya dan pulang menjelang shubuh dengan keadaan mata kuyu dan mulut berbau alkohol.
Parmi terkejut alang kepalang melihat perubahannya. Lastri yang dulu dia kenal bukanlah Lastri sesungguhnya. Wajahnya yang dulu manis hancur lebur tidak berbentuk. Pipinya, bibirnya, alisnya di permak kian kemari menor ditambah dengan bau parfum memekakan hidung.
Pakaiannya terbuka di depan terpampang dibelakang menampakan ketiak hitamnya. Manakah wajah lembutmu yang dulu Lastri? Parmi tidak berani menegur atau menanyakan lebih detail mengapa gadis itu selalu pulang larut
Yang ia dengar dari orang kampung Lastri hidupnya makmur di Jakarta. Memakai emas sebesar tali kerbau waktu lebaran dan sering mengirimkan barang aneh aneh dari kota.
==
“Anakmu sakit keras! belum juga kau kirimkan uang? apa saja kerjamu di kota ?”
Kata kata pedas mak terngiang ngiang di gendang telinganya dua hari yang lalu ketika ia menelpon emak menanyakan kabar si bungsu. Sudah hampir sebulan dia menumpang dalam kebingungan. Apa yang harus ia perbuat di tengah rimbanya Ibu kota?
“Jangan kau risau Parmi, uang kita banyak!” kata Lastri seolah olah tahu perasaannya.
“Dari mana engkau dapatkan Las ?”
“ Engkau tenang saja.”
“ Aku ingin tahu.”
“Yang penting kau makan.”
“ Anak ku sakit Las ? aku perlu uang untuk pengobatan. Aku ingin bekerja Las.”
“ Berapa yang kau butuhkan ?
Parmi terdiam. Seratus alasan yang ia sodorkan tidak membuat Lastri goyah.
Bukanlah tipikal Parmi menggantungkan hidup seperti benalu. Lama lama pikirannya mumet memikirkan biaya anaknya. Tidak mungkin dia meminta terus menerus dengan sahabatnya.
Hingga suatu malam diam - diam dia membututi sahabatnya itu. Ojek itu membawanya ke suatu tempat komplek perumahaan. Rumah berderet – deret panjang seperti siput
Ia perhatikan sahabatnya masuk kedalam sebuah rumah bergambar perempuan sexy di dindingnya,”
Lastri mau kemana ?
Senja ketiga di rumah Prawira.
Awan hitam sudah merangkak naik. Sinar kuning lama hilang di peraduan ibu. Ingin ia rangkai senja itu menjadi sebuah cerita bahagia ternyata sembilu menorehkan luka di awal, kedua, ketiga atau apakah untuk senja yang terakhirnya?
Lepas sudah penderitaan Emak menjadi buruh tani dalam beberapa tahun. Asupan makanan dikirimkan bapaknya Dolot, saban minggu. Inikah keinginan Emak bersikukuh mengawinkannya dengan Dolot untuk meningkatkan taraf hidup. Menjual diri? Emak tega? pertanyaan tidak akan pernah terjawab.
Sesekali gunjingan hadir juga di gendang telinganya ‘Parmi memasang susuk, anak janda miskin. Mengapa bukan Marni, Sekar atau Puji yang di persunting oleh Dolot ?’
Hari hari hidupnya seperti putri di sangkar emas. Semua kebutuhannya di penuhi. Sekilas mata ini rezeki besar buat Parmi dan emaknya tapi bagi Parmi itu tidak.
Dia tidak perlu harta seperti keinginanan emaknya. Permintaannya hanya satu Dolot berubah. Cinta akan tumbuh dengan sendiri, doanya
Faktanya berkata lain, Dolot semakin menjadi jadi. Ia sering pulang larut begajulan bersama teman temannya. Bau muntahan di baju dan pesingnya beer di mulutnya.
Yang Parmi lakukan hanya sekedar mengepel lantai berserak bekas muntahan. Bertahun ia menanggung itu sampai perutnya buncit. Ia ceritakan perihal ini kepada emaknya, emak hanya diam dan memberikan saran, “Sabar-sabar sajalah,” katanya.
==
Prawira, seorang nama, dari panggilannya saja sudah bisa ditebak dia seorang pejabat bukanlah penjahat kelas kampung. Umurnya kira kira 50 tahun an. Beberapa kali duda ini mendatangi rumah emak untuk melamar dirinya.
Diawal, syak hatinya pak Prawira akan melamar emaknya melihat status pak Prawira duda kematian bini. Kalaulah melihat kecantikan emak belumlah kalah dengan mbok Surti penjual jamu keliling
Tubuh emak berisi tidak reot. Menurut eyang , darah nyai Roro Kantil penari ronggeng jelmaan ratu buaya putih mengalir di darah emak. Irisannya masih tersurat jelas di wajahnya.
Perkawinan dengan Dolot kesan pertama wanita itu melihat Prawira adalah sesosok wajah kebapak’an. Dia menghormati sebagai ayah mertua tetapi hari demi hari wajah klimis itu berubah.
Firasatnya mengatakan bahwa tabiat laki laki ini aneh. Laku nya akan berubah disaat Dolot meninggalkan rumah main gaple. Laki laki bertubuh tambun itu dengan segera beramah tamah menanyakan hal – hal kecil yang tidak perlu dipertanyakan, “Sudah makan nduk ? seduhkan kopi buat ayah. Kamu capek Parmi, ayah kusukan!”
Ketakutan yang menghantui Parmi dalam hari hari nya bersama orang tua itu adalah ketika malam tiba disaat Dolot tidak ada di rumah. Sorot mata laki itu tajam seolah ingin menerkam dan menelan tubuh sintalnya.
Sedangkan suaminya acuh tak acuh saja. Jarang jarang tubuhnya di mamah oleh laki laki itu namun sesekali berkarya menghasilkan perut buncit hampir 5 bulan. Anak titipan Tuhan yang tidak dikehendakinya.
Burung malam berbunyi menambah ketakutan wanita itu. Ia kunci pintu kamarnya dengan grendel besi di tambah lagi dengan palang kayu sebesar lengan dewasa. Dolot, suaminya sudah hilang sebelum azan maghrib, entah shalat dimana laki laki tengil itu. Malam malam gelap menghiasi tidurnya saban hari.
Parmi merebahkan tubuh bulatnya kepayahan didipan kamar. Pikiranya melayang layang meruyak kemana mana menembus fentilasi kamar. Ruang ingatannya tertumbuk kepada mamaknya, Dolot dan ayah mertuanya
Tiga orang saksi yang merusak hidupnya. Ingin rasanya ia lari meninggalkan semuanya tetapi mau kemana arah?. Balik kerumah sama saja dengan memanggil malaikat Isra’il untuk mencabut nyawa.
Simburat cahaya putih menerpa pupil matanya bermain main didalam di namika yang berbeda. Menghantarkannya kedalam suatu tempat yang tidak berujung, lorong kegelapan. Ia terus berjalan dan terus berjalan tanpa ada secercah cahaya.
Tubuh Parmi menggigil. Dingin menyergap langkahnya dengan tertatih tatih. Kepalanya terasa berat serasa di hujam dengan godam besar. Ia limbung dan terjatuh dalam sebuah pelukan, pelukan yang kuat dan menghimpit. Ada semburat cahaya menembus retina matanya dan terbuka, ya Tuhan tubuh tambun itu. Wanita itu menjerit kuat !
Malam menyergap kelam. Burung hantu bernyanyi memangil iblis menemani kegilaan laki laki itu. Entah dari mana ia masuk. Yang jelas pintu sudah terkoyak dengan sebatang linggis di balik pintu. Wanita itu meronta ronta tetapi himpitan itu kuat
Dengan sisa sisa tenaga yang ada ia menerjang ke segala arah membuat laki laki itu terjengkang. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh wanita itu berlari menuju arah pintu tetapi apa dayanya laki laki berbadan tambun itu kembali menangkap tangannya dan menyergap.
Setan sudah merasuki tubuh laki laki itu. Ia seakan akan tidak perduli bahwa wanita berperut buncit itu anak minantunya. Dalam kepayahan wanita itu mendapatkan pertolongan, ujung linggis tepat di depan matanya
Sebuah ciuman manis dari ujung linggis menerkam perut laki laki itu membuatnya terkapar dengan bersimbah darah
Serayu senja yang terakhir ?
Parmi menyadari bahwa kehidupan dunia sebatas jalan menuju Jannahnya. Ia pasrah dan menerima kalah ketika ketukan palu hakim membuatnya terpuruk dalam sebuah ruangan berterali besi dipenuhi manusia manusia penebus dosa dan coretan dinding. “5 tahun!” itu saja kata hakim tanpa bersuara lagi.
Ia tidak marah tetapi maknya mengamuk seperti kemasukan setan. “Anak jadah! setan !” teriaknya berulang – ulang disaat Parmi dimasukan sipir kedalam mobil.
Dolot, kemanakah laki laki itu? Ketika ayahnya mati tidak ada gambaran kesedihan diwajahnya. Hanya sorot matanya saja yang kelam mendapatkan ayahnya terbujur kaku di shalati. Ia tidak menangis apa lagi mengamuk ngamuk seperti mertua perempuannya itu.
Tanpa ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya, suami Parmi itu berlalu meninggalkan rombongan pelayat di tanah merah sebelum doa-doa panjang berakhir.
Wanita itu, Parmi terlelap panjang didalam hari hari penantiannya sampai perutnya meletus di penjara, buah hasilnya bersama Dolot.
Waktu menggilas zaman meninggalkan hidup, derita dan kebahagiaan. Hidup harus dimulai tetapi kemana ia akan melangkah? Wanita itu tidak tahu jawabannya karena jiwanya rengsa arah.
5 tahun ia berjibaku menahan hati melawan cercaan cemoohan orang kampung. 5 tahun gendang telingannya error mendengar cerepet mulut Emaknya dan hampir 5 tahun pula suaminya Dolot hilang ditelan bumi. Kamar pengap itu ia tinggalkan berangkat hijrah meninggalkan dukanya
Awan hitam menyelubungi sinar matahari membuatnya terpecah memedar kesegala arah kemerah merahan. Burung burung pulang ke sarangnya, rumah yang tidak mereka temukan lagi. Angin bertiup syahdu berirama.
Senja ini adalah senja terakhirnya. Ia sudah bulat hati untuk menyusul ‘Ayahnya’ disaat senja terakhir. Semua derita itu pasti hilang di telan air mata. Orang orang akan menangisi tubuh kakunya dilindas kereta Atau hanya ada satu satu teriakan manusia berkumpul berjamaah, “Wanita bunuh diri, usah dikubur.”
Apa yang dapat ia banggakan kepada Tuhan? sudah beberapa kali ia melewati senja tetapi selalu berbuah sedih dan busuk. Dua minggu ia kehilangan kontak dengan emak dan anaknya.
Telponnya tidak pernah berdering lagi atau setiap kali ia menghubungi hanya kata – kata manis operator seluler yang menjawab. Kabar itu ia tunggu lama, menit ke menit, jam, hari minggu akhirnya terdengar berita dari orang Cimenuk emak dengan anaknya sudah raib meninggalkan desa.
Apa yang akan ia ceritakan nanti kepada malaikat? jika sahabat sejatinya Lastri telah berubah. Bulan bulan awal ia bersama gadis itu mulutnya berbuah manis tetapi bulan berakhir tahun cangkemnya berubah arah bak mucikari, pedas dan menusuk.
Parmi tahu bahwa ia hanya menumpang oleh karena itu dengan penuh kesabaran ia hadapi. Sehingga disuatu malam ia utarakan maksudnya
“ Dimana engkau berkerja, Las?”
“ Mengapa engkau bertanya seperti itu ?”
“ Kalau bisa masukan aku ketempat pekerjaanmu itu.”
“Tidak usah!”
“Tolong aku Las.”
Lastri menatap lamat wajah Parmi menghiba. Mulutnya antap tanpa membuka lalu ia menyeringai, “Engkau mau ?” Perempuan itu mengangguk dalam.
Dan apa yang ia jawab nanti kepada malaikat ketika tubuhnya di bawa Lastri ke sebuah tempat yang penuh dengan bunga bunga dan cinta sesaat?
Janjinya kepada emak hilang sudah disaat Lastri tertawa terbahak bahak di ruangan gelap penuh asap dan birahi. Perempuan berdandan menor itu duduk di kursi panjang menyaksikan dirinya ditarik laki laki berkepala plontos kedalam kamar jahanam itu. Amplop tebal terselip di kutangnya. Parmi terjerembab dalam baunya lendir dan peluh keringat asam. Ia menangis.
=====
Wajah wajah kusut masai di peron masih setia menunggu kereta serayu di senja ini. Tetapi tidak untuk wanita itu. Didalam pengharapannya Serayu akan menggilas semuanya dalam satu bingkai kematian.
Bunyi roda kereta berdesis dari kejauhan menyentuh rel. Teriakan nyaring peluit sayup sayup sampai. Gerbong kereta tampak membesar menggeliat seperti ulat bulu. Orang – orang di peron kasak kusuk tak tentu arah berdesak – desakan mendahului.
Wanita itu dengan sigap bangkit dari tempat duduknya. ‘Inilah serayu itu, senja yang terakhir,’bisiknya. Sinaran senja menerpa tubuhnya membuat langkahnya terhenti dipukau sihir.
Mata perempuan itu menatap nanap seorang ibu tua menggendong anak berusia lima tahun bersama seorang laki laki berwajah carut berdiri tepat di depannya.
"Parmi, kami menjemputmu !”
Pangkalan kerinci, Rumah hutan
Medio April 2018,