“𝐀𝐤𝐮 𝐜𝐚𝐩𝐞𝐤, 𝐍𝐚.”
𝚂𝚞𝚊𝚛𝚊 𝚒𝚝𝚞 𝚕𝚒𝚛𝚒𝚑. 𝙷𝚊𝚖𝚙𝚒𝚛 𝚜𝚎𝚙𝚎𝚛𝚝𝚒 𝚋𝚒𝚜𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚊𝚔𝚞𝚝 𝚍𝚒𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚛 𝚘𝚕𝚎𝚑 𝚍𝚞𝚗𝚒𝚊.
Nala berhenti menulis. Pensilnya 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚐𝚊𝚗𝚝𝚞𝚗𝚐 di 𝘶𝘥𝘢𝘳𝘢, lalu jatuh pelan ke meja.
“𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙘𝙖𝙥𝙚𝙠 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙖𝙥𝙖?” tanyanya tanpa menoleh.
“𝐃𝐚𝐫𝐢 𝐩𝐮𝐫𝐚-𝐩𝐮𝐫𝐚 𝐤𝐮𝐚𝐭.”
Sunyi.
Kipas angin di langit-langit berderit pelan. Cahaya sore masuk dari jendela, memotong ruangan menjadi dua warna: terang dan redup.
Nala menghela napas. “Kamu 𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜 𝙞𝙩𝙪 𝙝𝙖𝙢𝙥𝙞𝙧 𝙨𝙚𝙩𝙞𝙖𝙥 𝙝𝙖𝙧𝙞.”
“𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐫𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐡𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐡𝐚𝐫𝐢.”
Nala akhirnya menoleh. “Yaudah… 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙢𝙖𝙪 𝙖𝙠𝙪 𝙟𝙖𝙬𝙖𝙗 𝙖𝙥𝙖?”
“𝐉𝐮𝐣𝐮𝐫 𝐚𝐣𝐚.”
“𝙅𝙪𝙟𝙪𝙧?” Nala menyandarkan punggungnya ke kursi. “𝘼𝙠𝙪 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙘𝙖𝙥𝙚𝙠.”
“𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚?”
“𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙖𝙙𝙖.”
Hening yang kali ini terasa berbeda.
Seperti ada sesuatu yang retak, tapi belum jatuh.
“𝐀𝐤𝐮 𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐦𝐢𝐧𝐭𝐚 𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐚𝐝𝐚, Na.”
Suara itu terdengar… sakit.
Nala menutup matanya. “𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙖𝙙𝙖.”
“𝐃𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡𝐤𝐮?”
Nala diam.
“𝐉𝐚𝐰𝐚𝐛 𝐚𝐤𝐮, 𝐍𝐚.”
“…nggak.”
“𝐋𝐚𝐥𝐮 𝐤𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐦𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐤𝐞 𝐚𝐤𝐮?”
“𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙗𝙞𝙠𝙞𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙧𝙞𝙗𝙚𝙩!”
Nala berdiri tiba-tiba, kursinya bergeser keras.
“𝘼𝙠𝙪 𝙪𝙙𝙖𝙝 𝙨𝙪𝙨𝙖𝙝 𝙥𝙖𝙮𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙠𝙚𝙡𝙞𝙝𝙖𝙩𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙞𝙠-𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙖𝙟𝙖, 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞 𝙣𝙜𝙜𝙖𝙠 𝙨𝙞𝙝?! 𝙏𝙖𝙥𝙞 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙢𝙪𝙣𝙘𝙪𝙡, 𝙣𝙜𝙤𝙢𝙤𝙣𝙜 𝙠𝙖𝙮𝙖𝙠 𝙜𝙞𝙩𝙪, 𝙗𝙞𝙠𝙞𝙣 𝙖𝙠𝙪… 𝙜𝙤𝙮𝙖𝙝 𝙡𝙖𝙜𝙞!”
“𝐀𝐤𝐮 𝐜𝐮𝐦𝐚 𝐣𝐮𝐣𝐮𝐫.”
“𝘿𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙣𝙜𝙜𝙖𝙠 𝙗𝙪𝙩𝙪𝙝 𝙠𝙚𝙟𝙪𝙟𝙪𝙧𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙮𝙖𝙠 𝙠𝙖𝙢𝙪!”
“𝐓𝐚𝐩𝐢 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐛𝐮𝐭𝐮𝐡.”
Nala terdiam.
Matanya berkedip cepat.
“𝙅𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙤𝙠 𝙩𝙖𝙪,” bisiknya.
“𝐀𝐤𝐮 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐤𝐚𝐦𝐮.”
Kata-kata itu menggantung di udara.
Nala tertawa kecil. Bukan tawa bahagia. Lebih seperti tawa orang yang hampir menyerah.
“𝙆𝙖𝙡𝙞𝙢𝙖𝙩 𝙠𝙡𝙞𝙨𝙚 𝙗𝙖𝙣𝙜𝙚𝙩.”
“𝐓𝐚𝐩𝐢 𝐛𝐞𝐧𝐞𝐫.”
“𝙀𝙣𝙜𝙜𝙖𝙠. 𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙗𝙚𝙙𝙖.”
“𝐀𝐩𝐚 𝐛𝐞𝐝𝐚𝐧𝐲𝐚?”
“𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙡𝙚𝙢𝙖𝙝.”
“𝐃𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐦𝐮?”
Nala terdiam lagi.
“…𝙖𝙠𝙪 𝙘𝙪𝙢𝙖 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙟𝙖𝙜𝙤 𝙥𝙪𝙧𝙖-𝙥𝙪𝙧𝙖.”
Hari berikutnya di sekolah terasa normal.
Terlalu normal, malah.
“𝘕𝘢𝘭𝘢! 𝘌𝘩, 𝘭𝘰 𝘯𝘨𝘦𝘳𝘫𝘢𝘪𝘯 𝘗𝘙 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬?” tanya Raka sambil nyenggol bahunya.
“𝙐𝙙𝙖𝙝.”
“𝘈𝘯𝘫𝘪𝘳, 𝘳𝘢𝘫𝘪𝘯 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘭𝘰.”
“𝘽𝙞𝙖𝙨𝙖 𝙖𝙟𝙖.”
“𝘌𝘩 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘪𝘴𝘵𝘪𝘳𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘦 𝘬𝘢𝘯𝘵𝘪𝘯 𝘣𝘢𝘳𝘦𝘯𝘨 𝘺𝘢.”
Nala mengangguk kecil. “𝙄𝙮𝙖.”
Semua berjalan seperti biasa.
Nala tertawa saat teman-temannya bercanda. Ia menjawab guru dengan tenang. Ia bahkan sempat membantu temannya mengerjakan soal.
“𝑳𝒐 𝒕𝒖𝒉 𝒆𝒏𝒂𝒌 𝒚𝒂, 𝑵𝒂. 𝑲𝒂𝒚𝒂𝒌 𝒏𝒈𝒈𝒂𝒌 𝒑𝒆𝒓𝒏𝒂𝒉 𝒑𝒖𝒏𝒚𝒂 𝒎𝒂𝒔𝒂𝒍𝒂𝒉.”
Nala tersenyum tipis. “𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙪𝙣𝙮𝙖 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝.”
“𝑰𝒚𝒂 𝒔𝒊𝒉, 𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒍𝒐 𝒌𝒆𝒍𝒊𝒂𝒕𝒂𝒏 𝒔𝒂𝒏𝒕𝒂𝒊 𝒂𝒋𝒂.”
“𝘾𝙪𝙢𝙖 𝙠𝙚𝙡𝙞𝙖𝙩𝙖𝙣.”
“𝑯𝒂𝒉?”
“𝙂𝙖𝙥𝙖𝙥𝙖.”
Sepulang sekolah, Nala berjalan sendirian.
Langkahnya pelan.
“Aku kangen,” suara itu muncul lagi.
Nala tidak berhenti berjalan. “𝙆𝙖𝙣𝙜𝙚𝙣 𝙖𝙥𝙖?”
“𝐃𝐮𝐥𝐮 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐤𝐚𝐲𝐚𝐤 𝐠𝐢𝐧𝐢.”
“𝘿𝙪𝙡𝙪 𝙖𝙠𝙪 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙣𝙜𝙜𝙖𝙠 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙟𝙖𝙙𝙞 𝙠𝙪𝙖𝙩.”
“𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐤𝐮𝐚𝐭 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠.”
“𝘼𝙠𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨.”
“𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚?”
“𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙠𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙖𝙠𝙪 𝙣𝙜𝙜𝙖𝙠 𝙠𝙪𝙖𝙩, 𝙣𝙜𝙜𝙖𝙠 𝙖𝙙𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙖𝙠𝙖𝙡 𝙣𝙤𝙡𝙤𝙣𝙜 𝙖𝙠𝙪.”
“𝐀𝐤𝐮 𝐚𝐝𝐚.”
Nala tertawa kecil. “𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 ‘𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜’.”
“𝐓𝐚𝐩𝐢 𝐚𝐤𝐮 𝐚𝐝𝐚.”
“𝙄𝙩𝙪 𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙣𝙮𝙖.”
Malam hari.
Nala duduk di lantai kamar, punggungnya bersandar ke tempat tidur.
Lampu dimatikan. Hanya cahaya dari layar ponsel yang menerangi wajahnya.
Chat masuk.
Raka: 𝘕𝘢, 𝘭𝘰 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘨𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘥𝘢 𝘺𝘢?
Nala mengetik.
Nala: 𝘽𝙞𝙖𝙨𝙖 𝙖𝙟𝙖 𝙠𝙤𝙠.
“𝐊𝐞𝐧𝐚𝐩𝐚 𝐛𝐨𝐡𝐨𝐧𝐠?”
Nala menghela napas. “𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙣𝙜𝙜𝙖𝙠 𝙨𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙥𝙚𝙧𝙡𝙪 𝙩𝙖𝙪.”
“𝐓𝐚𝐩𝐢 𝐝𝐢𝐚 𝐧𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐝𝐮𝐥𝐢.”
“𝙋𝙚𝙙𝙪𝙡𝙞 𝙣𝙜𝙜𝙖𝙠 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙗𝙚𝙧𝙖𝙧𝙩𝙞 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞.”
“𝐊𝐚𝐬𝐢𝐡 𝐝𝐢𝐚 𝐤𝐞𝐬𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐧𝐠𝐞𝐫𝐭𝐢.”
“𝙆𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙙𝙞𝙖 𝙣𝙜𝙜𝙖𝙠 𝙣𝙜𝙚𝙧𝙩𝙞, 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙖𝙠𝙖𝙡 𝙘𝙖𝙥𝙚𝙠 𝙟𝙚𝙡𝙖𝙨𝙞𝙣.”
“𝐃𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐜𝐚𝐩𝐞𝐤?”
Nala berhenti mengetik.
Lalu layar ponsel dimatikan.
Ruangan kembali gelap.
“Aku benci kamu.”
Suara itu terdengar lebih pelan dari biasanya.
“𝙆𝙚𝙣𝙖𝙥𝙖?” tanya Nala.
“𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐬𝐞𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐧𝐲𝐚𝐥𝐚𝐡𝐢𝐧 𝐚𝐤𝐮.”
“𝙆𝙖𝙧𝙚𝙣𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙡𝙖𝙡𝙪 𝙗𝙞𝙠𝙞𝙣 𝙖𝙠𝙪 𝙡𝙚𝙢𝙖𝙝.”
“𝐀𝐤𝐮 𝐜𝐮𝐦𝐚 𝐧𝐮𝐧𝐣𝐮𝐤𝐢𝐧 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐞𝐛𝐞𝐧𝐚𝐫𝐧𝐲𝐚.”
“𝘿𝙖𝙣 𝙞𝙩𝙪 𝙣𝙮𝙖𝙠𝙞𝙩𝙞𝙣!”
“𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐧𝐨𝐥𝐚𝐤 𝐢𝐭𝐮.”
Nala menutup telinganya.
“𝘽𝙚𝙧𝙝𝙚𝙣𝙩𝙞.”
“𝐀𝐤𝐮 𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐡𝐞𝐧𝐭𝐢.”
“𝘽𝙚𝙧𝙝𝙚𝙣𝙩𝙞!”
“𝐀𝐤𝐮 𝐤𝐚𝐦𝐮, 𝐍𝐚. 𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐦𝐚𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐡𝐞𝐧𝐭𝐢𝐢𝐧 𝐚𝐤𝐮 𝐠𝐢𝐦𝐚𝐧𝐚?”
“𝘿𝙄𝙀𝙈!”
Tangis pecah.
Akhirnya.
Beberapa hari kemudian, sesuatu berubah.
Nala mulai… mengabaikan suara itu.
“𝐀𝐤𝐮 𝐝𝐢 𝐬𝐢𝐧𝐢.”
𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐝𝐢𝐣𝐚𝐰𝐚𝐛.
“𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐞𝐫 𝐚𝐤𝐮, 𝐤𝐚𝐧?”
𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐝𝐚 𝐫𝐞𝐚𝐤𝐬𝐢.
“𝐍𝐚…”
Nala tersenyum ke teman-temannya. Tertawa lebih keras dari biasanya.
“𝘈𝘺𝘰 𝘧𝘰𝘵𝘰!” seru salah satu temannya.
Nala ikut berpose.
“1… 2… 3!”
Klik.
Di foto itu, Nala terlihat paling bahagia.
“𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐬𝐞𝐧𝐠𝐚𝐣𝐚 𝐧𝐠𝐞𝐥𝐚𝐤𝐮𝐢𝐧 𝐢𝐧𝐢 𝐲𝐚?”
𝐌𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢.
𝐒𝐮𝐧𝐲𝐢.
“𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐬𝐞𝐧𝐠𝐚𝐣𝐚 𝐩𝐮𝐫𝐚-𝐩𝐮𝐫𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐚𝐝𝐚.”
𝐍𝐚𝐥𝐚 𝐭𝐞𝐭𝐚𝐩 𝐝𝐢𝐚𝐦.
“𝐀𝐤𝐮 𝐧𝐠𝐞𝐫𝐭𝐢 𝐤𝐨𝐤… 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐦𝐚𝐮 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐧𝐨𝐫𝐦𝐚𝐥.”
Tidak ada jawaban.
“𝐓𝐚𝐩𝐢 𝐚𝐤𝐮 𝐧𝐠𝐠𝐚𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐜𝐮𝐦𝐚 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐧𝐠𝐚𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐤𝐮.”
Nala akhirnya bicara.
“𝙆𝙖𝙡𝙖𝙪 𝙖𝙠𝙪 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙙𝙚𝙣𝙜𝙚𝙧 𝙠𝙖𝙢𝙪… 𝙖𝙠𝙪 𝙗𝙖𝙠𝙖𝙡 𝙩𝙚𝙣𝙜𝙜𝙚𝙡𝙖𝙢.”
“𝐃𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐧𝐨𝐥𝐚𝐤 𝐚𝐤𝐮… 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐛𝐚𝐤𝐚𝐥 𝐤𝐨𝐬𝐨𝐧𝐠.”
“𝙇𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙠𝙤𝙨𝙤𝙣𝙜 𝙙𝙖𝙧𝙞𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙖𝙠𝙞𝙩.”
“𝐈𝐭𝐮 𝐛𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩, 𝐍𝐚.”
“𝙎𝙚𝙩𝙞𝙙𝙖𝙠𝙣𝙮𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙩𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜.”
Hari itu hujan deras.
Sekolah pulang lebih cepat.
Nala berdiri di halte, sendirian.
Air hujan memantul di jalanan, menciptakan suara yang menenangkan sekaligus… sepi.
“𝐀𝙠𝙪 𝙩𝙖𝙠𝙪𝙩.”
Nala menatap lurus ke depan.
“𝐊𝐚𝐥𝐢 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐤𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐚𝐤𝐮𝐭, 𝐍𝐚.”
“𝙏𝙖𝙠𝙪𝙩 𝙖𝙥𝙖?”
“𝐓𝐚𝐤𝐮𝐭 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐛𝐞𝐧𝐞𝐫-𝐛𝐞𝐧𝐞𝐫 𝐧𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥𝐢𝐧 𝐚𝐤𝐮.”
“𝙆𝙖𝙢𝙪 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨𝙣𝙮𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙜𝙞.”
“𝐊𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐚𝐤𝐮 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢… 𝐤𝐚𝐦𝐮 𝐣𝐮𝐠𝐚 𝐛𝐚𝐤𝐚𝐥 𝐡𝐢𝐥𝐚𝐧𝐠.”
𝙉𝙖𝙡𝙖 𝙩𝙚𝙧𝙩𝙖𝙬𝙖 𝙠𝙚𝙘𝙞𝙡. “𝘽𝙖𝙜𝙪𝙨.”
“𝐍𝐚…”
“𝐀𝐤𝐮 𝐜𝐚𝐩𝐞𝐤 𝐧𝐠𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚𝐢𝐧 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐚𝐧𝐲𝙖.”
“𝙄𝙩𝙪 𝙗𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙝𝙞𝙙𝙪𝙥.”
“𝐊𝐚𝐥𝐚𝐮 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩 𝐜𝐮𝐦𝐚 𝐛𝐢𝐤𝐢𝐧 𝐬𝐚𝐤𝐢𝐭, 𝐛𝐮𝐚𝐭 𝐚𝐩𝐚 𝐝𝐢𝐩𝐞𝐫𝐭𝐚𝐡𝐚𝐧𝐢𝐧?”
“𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐚𝐝𝐚 𝐡𝐚𝐥 𝐥𝐚𝐢𝐧 𝐣𝐮𝐠𝐚.”
“𝘼𝙥𝙖?”
𝙎𝙪𝙣𝙮𝙞.
“𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐭𝐚𝐮 𝐣𝐚𝐰𝐚𝐛𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚.”
𝙉𝙖𝙡𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙜𝙚𝙡𝙚𝙣𝙜. “𝙉𝙜𝙜𝙖𝙠 𝙖𝙙𝙖.”
“𝐀𝐝𝐚.”
“𝙉𝙜𝙜𝙖𝙠 𝙖𝙙𝙖!”
“𝐀𝐃𝐀!”
Suara itu untuk pertama kalinya… berteriak.
Dan Nala terdiam.
Hujan semakin deras.
Langit gelap.
Lampu jalan mulai menyala.
“Aku nggak mau kamu hilang,” suara itu melemah.
Nala menutup matanya.
“Kenapa kamu peduli banget sama aku?”
“Karena aku satu-satunya yang tau kamu sebenarnya.”
“Dan itu yang bikin aku benci kamu.”
“Kenapa?”
“Karena kamu tau aku lemah.”
“Bukan lemah… kamu cuma lagi luka.”
“Bedanya apa?”
“Orang lemah nyerah. Orang luka butuh sembuh.”
Nala membuka matanya.
Air mata bercampur dengan hujan.
“…aku nggak tau cara sembuh.”
“Aku bantu.”
“Kamu cuma suara di kepala aku.”
“Justru itu… aku selalu ada.”
---
Tiba-tiba…
Sebuah mobil berhenti di depan halte.
“Kalea?!”
Seorang wanita turun dari mobil.
“Nala?! Kamu di sini dari tadi?!”
Nala mengerjap.
“Ibu…”
“Kamu basah kuyup! Astaga…” Ibunya langsung menariknya mendekat. “Kenapa nggak telpon Ibu?”
“Aku… lupa.”
“Ya ampun… ayo masuk mobil, cepat!”
Nala masuk ke dalam mobil.
Hangat.
Untuk pertama kalinya hari itu.
---
Di dalam mobil, suasana hening.
Ibunya sesekali melirik.
“Kamu… lagi ada masalah?”
Nala diam.
“Di sekolah?”
“…nggak.”
“Teman?”
“…nggak.”
“Lalu?”
Nala menggigit bibirnya.
“Aku…”
Suara itu muncul lagi.
“Katakan.”
Nala menutup matanya.
“…aku capek, Bu.”
Ibunya tidak langsung menjawab.
Hanya menggenggam tangannya.
“Capek ya?”
Air mata jatuh lagi.
“Iya…”
“Kenapa nggak bilang dari dulu?”
“Aku takut…”
“Takut apa?”
“Takut nggak ada yang ngerti.”
Ibunya tersenyum kecil. “Coba dulu.”
Malam itu.
Untuk pertama kalinya.
Nala bercerita.
Tentang rasa capeknya.
Tentang pura-pura kuat.
Tentang suara di kepalanya.
Tentang semuanya.
Ibunya tidak memotong.
Tidak menghakimi.
Hanya mendengarkan.
---
“Aku masih di sini.”
Suara itu muncul lagi.
Tapi kali ini… terasa berbeda.
Lebih lembut.
Nala tersenyum kecil.
“Aku tau.”
“Kamu nggak benci aku lagi?”
“…nggak.”
“Kenapa?”
“Karena aku akhirnya ngerti.”
“Ngerti apa?”
“Kamu bukan musuh aku.”
“Lalu?”
Nala menarik napas panjang.
“Kamu… bagian dari aku yang selama ini aku tolak.”
Plot Twist
Suara itu tertawa pelan.
“Akhirnya kamu sadar juga.”
Nala tersenyum.
“Selama ini aku kira kamu gangguan.”
“Aku bukan gangguan.”
“Aku kira kamu kelemahan.”
“Aku bukan kelemahan.”
“Kamu itu…”
“…”
“Perasaan aku sendiri yang aku kubur.”
Sunyi.
Hangat.
Untuk pertama kalinya… damai.
Moral Cerita
Kadang yang paling kita lawan bukan 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖, 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙖𝙞𝙣
𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙗𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 𝙙𝙖𝙧𝙞 𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙨𝙚𝙣𝙙𝙞𝙧𝙞 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙩𝙤𝙡𝙖𝙠.
𝘿𝙖𝙣 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙖𝙗𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖, 𝙨𝙚𝙢𝙖𝙠𝙞𝙣 𝙠𝙚𝙧𝙖𝙨 𝙞𝙖 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙧𝙞𝙖𝙠.
𝘽𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙜𝙝𝙖𝙣𝙘𝙪𝙧𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙞𝙩𝙖,
𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙙𝙞𝙙𝙚𝙣𝙜𝙖𝙧.
Catatan Penulis:
Cerita ini bukan tentang “suara aneh” atau hal mistis.
Ini tentang bagaimana seseorang bisa memisahkan dirinya dari perasaan sendiri karena terlalu sakit untuk dihadapi.
Kadang kita jadi “dua orang”:
yang terlihat kuat di luar
dan yang diam-diam rapuh di dalam
Dan sering kali… kita memusuhi sisi rapuh itu.
Padahal, justru di situlah kita paling butuh didengar.
Kalau kamu pernah ngerasa kayak Nala, capek, tapi nggak bisa cerita…
itu bukan berarti kamu lemah.
Itu berarti kamu manusia.
Dan kamu nggak harus hadapi semuanya sendirian.
Pertanyaan untuk Pembaca
1. Kalau kamu jadi Nala, kamu bakal memilih mendengarkan suara itu… atau terus mengabaikannya? Kenapa?
2. Pernah nggak kamu merasa seperti punya “dua versi diri”—yang terlihat kuat dan yang diam-diam lelah? Mana yang lebih sering kamu tunjukkan ke orang lain?
3. Menurutmu, kenapa manusia sering menolak perasaannya sendiri, padahal itu bagian dari dirinya?
4. Kalau seseorang di sekitarmu bersikap “baik-baik saja”, apakah itu benar-benar berarti dia baik-baik saja?
5. Apa yang biasanya kamu lakukan saat merasa capek secara emosional, tapi nggak bisa cerita ke siapa-siapa?
6. Menurutmu, lebih berbahaya mana: menyembunyikan perasaan atau menghadapi perasaan yang menyakitkan?
7. Kalau kamu adalah teman Nala, apa yang akan kamu katakan padanya?
8. Apakah menerima sisi rapuh dalam diri itu tanda kelemahan… atau justru kekuatan? Jelaskan pendapatmu.
9. Bagian mana dari cerita ini yang paling kamu rasakan dekat dengan dirimu? Kenapa?
10. Setelah membaca cerita ini, apakah pandanganmu tentang “kuat” berubah? Seperti apa arti kuat menurutmu sekarang?