Pagi itu, pukul 07.05, seorang siswi bernama Clauretta Audrez Evelly terbangun dengan panik. Alarmnya ternyata tidak menyala, dan tidak ada seorangpun di rumah yang membangunkannya. Tanpa pikir panjang, Clauretta atau biasa dipanggil Clau,ia langsung bangun dari tempat tidurnya, mencuci muka, berganti seragam, dan bersiap berangkat ke sekolah. Setelah berpamitan kepada kedua orang tuanya,ia langsung berangkat dan diantarkan oleh papa nya karena sudah terlambat , setelah sampai sekolah Clau tidak lupa pula memberikan salam kepada papa nya, lalu ia berlari tergesa-gesa menuju gerbang sekolah.
Setibanya di depan gerbang, Clauretta mendapati pintu gerbang sekolah telah tertutup. Ia menjadi satu-satunya siswa yang terlambat pagi itu. Dengan cemas, ia memohon-mohon kepada Pak Satpam agar pintu gerbang dibukakan.
“Pak, tolong bukain gerbangnya ya, saya telat sedikit aja,” pinta Clau dengan wajah memelas.
Namun, karena keterlambatannya sudah mencapai lima menit, Pak Satpam awalnya tidak mengizinkan. Setelah Clauretta terus memohon dengan nada sopan dan bersungguh-sungguh, akhirnya ia dibolehkan masuk. Meskipun begitu, sebagai konsekuensinya, Clau diberi hukuman oleh OSIS untuk membersihkan halaman sekolah.
Setelah menyelesaikan hukumannya, Clauretta yang sudah berkeringat dan lelah akhirnya diperbolehkan masuk ke kelas. Saat itu, pelajaran sudah dimulai, dan di dalam kelas sudah ada Ibu Dea, guru mata pelajaran pertama hari itu. Clau masuk ke kelas dengan mengucap salam dan menjelaskan alasan keterlambatannya kepada Bu Dea. Guru itu memaklumi dan menyuruhnya segera duduk.
Clau pun berjalan ke tempat duduknya yang berada di sebelah sahabatnya, Cathrine Elliana. Sesaat setelah duduk, Cathrine langsung bertanya dengan penasaran, “Kok kamu bisa telat sih, Clau? Biasanya kamu datang lebih pagi dari siapa pun.”
Clau menjawab sambil menarik napas, “Alarm aku mati. Gak ada yang bangunin juga, jadi baru bangun pas udah lewat jam tujuh.”
Cathrine mengangguk memahami, lalu mereka pun kembali menyimak pelajaran. Beberapa saat kemudian, bel istirahat pun berbunyi.
Clau, Cathrine, dan sahabat mereka yang satu lagi, Kelly Zeavanna, berjalan bersama menuju kantin. Namun, suasana kantin ternyata sangat ramai, antrean di setiap stand makanan mengular panjang.
“Weh, gila! Antriannya panjang banget. Bisa-bisa bel masuk udah bunyi,” keluh Kelly sambil menghela napas.
“Iya, kita pasti gak keburu kalau antri di sini,” timpal Cathrine.
“Udah yuk, pindah ke stand lain aja yang antriannya lebih pendek,” usul Clau.
Mereka bertiga akhirnya pindah ke stand makanan lain yang lebih sepi. Setelah mendapat makanan, mereka duduk dan makan bersama sambil berbincang santai dan bercanda. Suasana jadi ceria dengan tawa dan cerita dari masing-masing.
Setelah istirahat selesai, mereka kembali ke kelas. Karena guru pelajaran nya tidak masuk, kelas mereka mengalami jam kosong. Para siswa memanfaatkan waktu untuk ngobrol dan bermain. Beberapa bahkan mulai menggibah sambil tertawa-tawa.
Tak lama kemudian, Mario Reynald, sahabat Malvin yang dikenal jahil, mulai mengganggu Kelly. “Eh, Kelly, kamu hari ini dandan beda ya? Tapi kok malah kaya boneka porselen yang miring,” canda Mario.
Kelly melotot kesal, namun sebelum ia bicara, Cathrine sudah menyela, “Mario, bisa gak sih gak ganggu orang terus? Giliran kamu yang diganggu, bawaannya ngamuk.”
Mario tertawa puas, dan kelas pun ikut tertawa. Suasana semakin riuh. Di sisi lain kelas, Mario, Afkar Haris, dan Haidar Putra bermain Mobile Legends dengan suara keras. Teriakan mereka karena kalah membuat suasana makin gaduh.
Melihat hal itu, Clauretta langsung berdiri dan menegur mereka, “Woi! Jangan berisik dong! Kita yang lain juga butuh ketenangan!”
Mendengar suara Clau, suasana langsung hening. Malvin Nero Ardiaz, teman masa kecil Clau yang duduk tak jauh dari sana, ikut membantu menenangkan teman-temannya. “Udah, udah... ayo diam, jangan ganggu yang lain ya.”
Beberapa menit kemudian, guru pelajaran selanjutnya masuk. Mereka pun belajar kembali seperti biasa hingga waktu pulang tiba.
Saat semua siswa mulai berkemas, Malvin menghampiri Clauretta. “Clau, bareng yuk pulangnya. Rumah kita kan searah.”
“Iya, boleh. Sekalian ngobrol juga,” jawab Clau.
Biasanya Clauretta pulang naik angkutan umum, tapi hari itu ia pulang bersama Malvin. Mereka berjalan sambil ngobrol ringan, mengenang masa kecil mereka.
Sore harinya, Malvin mengajak Clau dan teman-teman yang lain untuk nongkrong bareng. Clau setuju.
Keesokan paginya, Malvin kembali menjemput Clau untuk berangkat sekolah bersama. Di parkiran sekolah, mereka bertemu dengan Mario, Afkar, dan Haidar. Mereka berbincang sambil tertawa sebelum masuk ke kelas.
Pelajaran hari itu berlangsung cukup seru karena guru mereka yang gen Z banget sangat asik mengajarnya sehingga mereka yang di kelas mudah mengerti,karena mereka semua yang berada di kelas sama-sama gen Z dengan guru mereka. Namun seperti biasa, Mario mulai membuat keributan di tengah pelajaran.
Akhirnya guru menghukum Mario berdiri di depan kelas. Tapi guru itu bingung akan memberikan hukuman apa, lalu bertanya ke murid lain, “Ada ide gak, mau dihukum apa nih Mario?”
Cathrine langsung angkat tangan dan berkata, “Bu, suruh aja dia baca puisi tentang penyesalan.”
Mario tidak terima, “Lah, kok begitu sih?”
Cathrine menjawab dengan santai, “Ya biar kamu tahu rasanya diganggu pas orang lain serius.”
Guru pun setuju, dan Mario terpaksa menjalani hukumannya. Setelah itu, ia duduk kembali, tapi diledek oleh Afkar. Mario membalas dengan kesal dan mereka berdebat kecil.
Usai pelajaran, mereka semua ke kantin. Tidak hanya kelompok cewek, kali ini cowok-cowok pun ikut gabung makan bareng. Mereka tertawa, bercanda, dan ngobrol seperti biasa.
Tiba-tiba Malvin mengingat sesuatu. “Eh, kalian udah ngerjain PR gak?”
Kelly menjawab, “Udah lah, kamu belum ya?”
Malvin geleng-geleng, “Belum nih…”
Clau langsung berkata, “Ambil aja buku PR aku nanti di kelas, minjem aja dulu. Gurunya juga biasanya telat masuk.”
Malvin tersenyum, “Wah, makasih banyak, Clau.”
“Sama-sama, santai aja,” balas Clau.
Di kelas, Malvin mengerjakan PR-nya. Setelah itu, mereka semua main ular tangga. Haidar yang biasanya pendiam pun diajak main bareng oleh Malvin, dan akhirnya ikut bermain.
Tak lama kemudian, guru memberikan tugas kelompok dengan setiap satu anggota kelompoknya berisikan 7-8 anak dan Kebetulan juga mereka bertujuh Clau,Malvin,Kelly,Cathrine,Mario,Afkar,dan Haider satu kelompok bersama. Kemudian mereka berdiskusi soal lokasi untuk mengerjakan tugasnya.
"Btw ini kita ngerjainnya tugasnya di rumah siapa?" Tanya Kelly.
"Hmm.. gimana kalo ngerjainnya di rumah aku aja? Kebetulan juga nih rumah aku lagi sepi,mama dan papa aku lagi pergi ke rumah nenek dan pulangnya nanti agak maleman " jawab Clau.
Afkar berkata, “Ayo deh kita kerjainnya di rumah Clau aja!”
“Setuju!” sahut Mario. “Seru tuh, bisa tidur di mana aja, makan sepuasnya!”
Malvin langsung menyahut, “Mario! Pikiranmu makanan mulu, tugasnya mana?”
"Hehe.. ya kan makan is number one" jawab Mario dengan cengengesan
Semua pun menggelengkan kepala nya melihat tingkah si Mario
"Oh iya, kita mau ngerjain tugasnya kapan?" Tanya Cathrine
"Hmm.. gimana kalau ngerjainnya hari ini aja pulang sekolah? Mumpung kita lagi nggak ada kegiatan apa-apa lagi kan hari ini? Ekstrakurikuler juga kan lagi di liburin semua selama 1 minggu" sahut Haider dan memberikan saran
"Wah iya juga ya, boleh deh kita ngerjainnya hari ini aja setelah pulang sekolah" sahutnya Clau.
"Boleh boleh gua mah ngikut aja sih" jawabnya Malvin. Dan lalu akhirnya mereka pun sepakat untuk mengerjakan tugasnya setelah pulang sekolah di rumahnya Clau.
Akhirnya, sepulang sekolah, mereka benar-benar berkumpul di rumah Clau. Namun, sebelum mulai mengerjakan, Mario mengeluh, “Aku belum makan. Gak bisa mikir nih!”
Clau mengangguk, “Ya udah, makan aja dulu bebas. Tapi jangan minta yang aneh-aneh ya.”
“Aku mau pizza satu meter!” teriak Mario.
Haidar langsung geleng-geleng kepala sambil beristighfar, “Ya Allah, udah numpang, minta aneh-aneh lagi.”
Mario tertawa, “Tadi Clau bilang bebas, ya udah aku pesen pizza satu meter aja.”
Akhirnya, setelah makanan datang dan mereka kenyang, tugas kelompok pun selesai dikerjakan bersama. Karena hari sudah malam, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
Keesokan harinya, suasana kelas masih dipenuhi sisa-sisa tawa dari kejadian kemarin. Begitu dia datang dan duduk di bangkunya, Catherine langsung menyapanya dengan semangat.
“Eh, kemarin seru banget ya! Si Kelly sampe kesal banget muka nya kemarin karena tingkah si Mario,” katanya sambil terkikik.
Dia ikut tertawa. “Iya, aku kira Kelly bakal beneran marah, ternyata malah jadi hiburan satu kelas.”
Tak lama, Kelly datang sambil membawa roti dari kantin. Ia langsung duduk dan berkata, “Hari ini, kalau Mario ganggu aku lagi, bakal kubales lebih parah.”
Mereka semua tertawa.
Pelajaran hari itu berlangsung seperti biasa. Beberapa guru masuk, beberapa lainnya memberikan tugas dari jauh. Namun, suasana kelas tetap hangat karena kebersamaan mereka.
Saat waktu istirahat tiba, mereka bertiga Catherine, Kelly, dan dia kembali pergi ke kantin. Kali ini, mereka memutuskan untuk membeli es teh manis dan gorengan. Di meja kantin, mereka membicarakan rencana akhir pekan.
“Ayahku ngajakin ke taman kota hari Minggu,” kata Catherine. “Katanya ada festival makanan gitu.”
“Serius?” tanya Kelly. “Kayaknya seru! Kita ke sana bareng, yuk?”
“Ayo! Kita ajak Mario juga, biar ada yang jahil-jahil dikit biar rame,” sahutnya sambil terkekeh.
Mereka tertawa bersama, membayangkan Mario usil bahkan di acara umum.
Setelah kembali ke kelas, mereka duduk sambil membuka buku pelajaran. Namun, suasana tetap santai karena guru datang terlambat. Tak lama kemudian, Mario masuk dengan gaya sok misterius, membawa sesuatu di balik jaketnya.
“Awas, awas! Hari ini aku bawa kejutan!” katanya.
Semua mata langsung tertuju padanya. Kelly sudah pasang muka curiga. “Jangan macam-macam ya, Mario…”
Mario hanya tertawa, lalu mengeluarkan… sekotak kue donat dari kantin.
“Aku traktir! Tapi yang pertama harus lewat tantangan dulu!”
Dan seperti biasa, kelas kembali riuh oleh tingkah konyol Mario dan teman-temannya. Mereka tertawa, saling mengejek dengan penuh canda, dan saling mengingatkan soal tugas yang belum selesai.
Hari itu berakhir dengan cerita baru, tawa baru, dan persahabatan yang makin erat.
Hari demi hari berlalu, dan suasana di kelas mereka selalu saja penuh warna. Seperti biasa, tawa, canda, dan sedikit keributan kecil jadi bagian dari rutinitas. Tapi hari ini agak berbeda ada pengumuman mendadak dari wali kelas.
“Besok kita akan ada lomba kebersihan antarkelas. Jadi, hari ini semua kelas wajib bersih-bersih,” kata Bu Rina saat masuk kelas.
Sontak satu kelas mengeluh bersamaan.
“Astaga, baru juga enak-enaknya santai,” kata Kelly sambil memukul pelan meja.
“Tenang, kita bagi tugas aja,” sahut Catherine. “Yang cowok nyapu dan angkat-angkat bangku, yang cewek bersihin jendela sama papan tulis.”
Mario langsung angkat tangan. “Saya bagian nyemangatin aja, Bu.”
Satu kelas langsung tertawa.
“Mario, kamu bagian ngangkat semua kursi ya,” jawab Bu Rina sambil menunjuknya.
“Lhoooo...!” seru Mario kaget, membuat semua kembali tertawa.
Mulailah mereka bersih-bersih kelas. Meski awalnya malas-malasan, lama-lama jadi seru juga. Mario, tentu saja, tetap dengan tingkah lucunya. Saat Kelly sedang bersihkan jendela, Mario menyemprotkan air ke kaca dari luar sambil membuat muka konyol.
“Mario! Sumpah, kalau bajuku basah, kamu mati!” teriak Kelly, yang kemudian langsung berlari keluar mengejar Mario.
Lalu terjadilah kejadian kejar-kejaran antara Mario dan Kelly , membuat semua yang masih di kelas ikut menonton sambil ngakak.
Setelah satu jam, kelas mereka bersih dan rapi. Catherine menambahkan bunga kecil di pojok kelas, dan beberapa anak lainnya menggantungkan hiasan buatan tangan.
“Sumpah, kelas kita cakep banget sekarang,” kata Kelly sambil melihat sekeliling. “Kalau kita menang lomba, harus traktiran ya, Mario!”
“Siap! Asal nggak ngejar aku lagi,” jawab Mario.
Sore hari, mereka pulang dengan badan sedikit lelah, tapi hati senang. Ada sesuatu yang terasa berbeda: rasa kebersamaan yang makin kuat. Mereka bukan cuma teman sekelas mereka seperti satu keluarga kecil yang penuh tawa dan cerita.
Hari yang ditunggu akhirnya tiba hari lomba kebersihan antarkelas tingkat SMA.
Pagi itu, suasana kelas 12 IPA 3 sudah ramai bahkan sebelum bel masuk berbunyi. Catherine datang lebih awal membawa sapu dan serbet bersih dari rumah. Kelly sibuk menata hiasan buatan tangannya di sudut kelas. Dia sendiri membantu menyusun bangku dan mengecek kebersihan papan tulis.
Dan tentu saja, Mario datang dengan gaya santainya yang khas.
“Tenang, selama aku ikut bersihin kelas, kemenangan di tangan,” ucapnya sambil menyender di pintu kelas, lalu tertawa sendiri.
“Bersihinnya mulut kamu aja dulu, Mario,” sahut Kelly sambil melempar lap ke arahnya. Satu kelas langsung tertawa.
Meski banyak canda, mereka tetap serius bekerja. Mario ternyata cukup niat hari itu dia bahkan naik ke meja buat bersihin atas lemari dan mengganti lampu yang redup. Catherine menyemprotkan pengharum ruangan, Kelly membersihkan jendela hingga kinclong, dan teman-teman lain sibuk menyapu, mengepel, dan menata pojok baca.
Ketika tim juri dari OSIS dan guru-guru mulai keliling menilai, kelas mereka sudah rapih. Bangku tersusun sejajar, kaca jendela bening, lantai wangi sabun, bahkan papan tulis bersih tanpa segores kapur pun. Beberapa guru sampai tersenyum saat melongok ke dalam kelas mereka.
“Semoga usaha kita dihargai ya,” bisik Catherine pelan.
Sore harinya, seluruh kelas dikumpulkan di lapangan untuk pengumuman pemenang lomba kebersihan. Semua terlihat deg-degan.
Ketua OSIS berdiri di depan membawa mikrofon. “Dan... pemenang lomba kebersihan tahun ini jatuh kepada... kelas 12 IPA 3!”
Seketika kelas mereka bersorak.
“WOOOOOO!!!” Kelly langsung lompat kecil sambil tepuk tangan. Catherine dan yang lain saling peluk dengan semangat. Bahkan Mario berdiri di atas bangku sambil mengangkat sapu seperti piala. “Inilah hasil dari kerja keras dan... sapu keberuntungan!”
“Yang paling kerja kamu cuma ganti lampu doang,” celetuk salah satu temannya sambil tertawa.
Mereka semua foto bareng di depan kelas dengan wajah bahagia dan bangga. Bukan karena menangnya saja, tapi karena mereka sadar kelas itu bukan cuma tempat duduk dan belajar. Kelas itu juga tempat tawa, tempat kenangan, tempat kebersamaan yang akan mereka rindukan setelah lulus nanti.
Hari itu ditutup dengan senyum di wajah mereka semua.
Beberapa bulan setelah hari-hari sibuk di sekolah berlalu, Clauretta Audrez Evelly bersama keenam temannya, Malvin Nero Ardiaz, Cathrine Elliana, Kelly Zeavanna, Mario Reynald, Afkar Haris, dan Haidar Putra, memutuskan untuk pergi liburan bersama-sama. Mereka ingin menghabiskan waktu bareng sebelum kelulusan tiba.
Hari itu mereka bertujuh pergi ke pantai. Mereka bermain air, mengumpulkan kerang, membuat istana pasir, dan tertawa sepanjang hari. Saat matahari mulai tenggelam di arah barat, mereka mulai mendirikan tenda dan menyalakan api unggun.
Suasana malam itu begitu hangat dan damai. Di bawah langit berbintang, mereka saling berbagi cerita, bercanda, menyanyi bersama, dan tertawa lepas. Namun di antara gelak tawa itu, terselip rasa haru karena mereka tahu, waktu mereka bersama tinggal sebentar lagi.
Dua minggu kemudian, sekolah mengumumkan hari kelulusan. Saat hari itu semakin dekat, suasana kelas menjadi lebih sunyi. Bahkan Mario yang biasanya cerewet, kini lebih banyak diam.
Untuk menghibur diri, sekelas mereka memutuskan untuk mengadakan acara perpisahan. Mereka makan bersama di sebuah restoran, lalu lanjut menonton film di bioskop. Suasana mulai mencair lagi, mereka tertawa, bersenda gurau, dan kembali merasa seperti dulu kompak, lucu, dan penuh cerita.
Namun saat hari kelulusan benar-benar tiba, tak ada yang bisa menahan air mata. Satu per satu murid naik ke panggung, menerima surat kelulusan, dan disambut tepuk tangan. Tapi saat mereka semua berdiri bersama mengenakan seragam putih abu terakhir kalinya, suasana berubah jadi sendu. Tangisan pun pecah di antara pelukan dan salam perpisahan.
Hari itu menjadi awal dari perpisahan mereka.
Beberapa Tahun Kemudian...
Waktu berjalan. Mereka mulai menjalani kehidupan baru masing-masing.
Clauretta Audrez Evelly melanjutkan kuliah di Kyoto University, Jepang, mengambil jurusan Sastra Jepang.
Malvin Nero Ardiaz melanjutkan studi di Tiongkok, jurusan Teknik Informatika.
Haidar Putra dan Afkar Haris langsung masuk dunia kerja. Haidar menjadi staff di perusahaan desain interior, sedangkan Afkar bekerja di industri kreatif.
Mario Reynald, Kelly Zeavanna, dan Cathrine Elliana kuliah di Universitas Indonesia, walaupun mereka mengambil jurusan yang berbeda. Cathrine mengambil Psikologi, Kelly mengambil ilmu Komunikasi, dan Mario masuk Teknik Sipil.
Mereka mulai jarang bertemu. Hanya sesekali berkabar lewat media sosial, saling menyukai postingan, saling balas komentar, atau sekadar bertanya kabar lewat chat.
Namun rasa rindu tak bisa dibohongi.
Suatu hari, Clauretta yang sudah kembali ke Indonesia menghubungi grup lama mereka.
“Hai, aku udah balik ke Indo nih. Kalian sempat gak buat kumpul-kumpul?Aku kangen banget...” -chat Clau di grup lama mereka
Tak butuh waktu lama, satu per satu menjawab. Dan saat Malvin juga mengabari bahwa ia sedang cuti dari kuliahnya di China, semua langsung setuju untuk bertemu.
Mereka sepakat bertemu di sebuah restoran yang dulunya sering mereka kunjungi.
Saat hari itu tiba, suasana jadi canggung dan haru. Para cewek Clau, Cathrine, dan Kelly langsung saling peluk, mata mereka berkaca-kaca. Rasa rindu yang dipendam selama bertahun-tahun tumpah dalam pelukan hangat.
Sementara para cowok Malvin, Mario, Afkar, dan Haidar saling menepuk bahu, saling rangkul, diselingi canda khas anak lama:
“Wah, lu makin gendut ya!”
“Eh, muka lu masih sama aja kayak dulu!”
Setelah duduk dan memesan makanan, suasana pun mencair. Mereka mulai tertawa, saling bertanya kabar pekerjaan, kuliah, bahkan hubungan asmara.
Clau tertawa melihat Mario yang masih suka melempar lelucon aneh. Kelly dan Cathrine saling tukar cerita tentang perkuliahan, sementara Afkar dan Haidar saling menyindir pekerjaan masing-masing. Malvin duduk di dekat Clau, dan mereka berdua mengenang masa-masa kecil mereka yang dulu sering pulang sekolah bareng.
“Masih ingat gak waktu kita dihukum bersihin halaman sekolah?” kata Clau sambil tertawa.
“Dan waktu kita main UNO yang kalah harus tarik orang random?” tambah Kelly.
Semua tertawa mengingat kenangan itu. Mereka seolah kembali menjadi remaja SMA yang lugu dan penuh semangat.
Sebelum pulang, mereka meminta pelayan restoran untuk memotret mereka bersama. Mereka berdiri dalam formasi yang sama seperti saat foto kelulusan dulu. Kali ini dengan pakaian dewasa, wajah lebih matang, tapi senyum dan rasa hangat yang tetap sama.
Klik!
Satu foto.
Satu momen.
Satu kenangan baru dari persahabatan yang tidak akan pernah pudar oleh waktu dan jarak.
Tamat.