"Aku sudah memberikan segalanya, hanya untuk melihatnya menggunakan ketulusanku sebagai naskah sandiwara. Sekarang, ketika seisi kelas menjauh karena hasutannya, aku tidak lagi merasa sesak. Empatiku sudah mati di tangannya. Bagiku, kebencian merreka kini hanyalah derau yang tak lagi mampu menyentuh kulitku."
Hari ini adalah hari kesekian kali nya aku berangkat di sekolah yang masih terasa asing bagi ku. Suatu hari, aku berkenalan dengan seorang siswi di kelas ku, namanya gadis.
Awalnya aku mengira gadis adalah orang yang baik, namun ternyata aku salah. Ia sering kali merekayasa cerita hidup nya yang ia ceritakan pada ku dan teman teman lain nya.Namun, perlahan lahan aku tersadar. Di saat ia bercerita bahwa ia memiliki sepupu tiri dari jepang yang bernama yui, ia tak mengenalkan marga nya pada ku karna itulah aku merasa janggal. Karna jelas, marga adalah sebuah formalitas dalam perkenalan di sana
Dan pada suatu hari, kejanggalan ku terbukti seorang teman ku bercerita padaku bahwa ia menemukan sebuah bukti tentang yui adalah hasil rekayasa gadis. Lega rasanya bagiku, karna aku bukan satu - satunya yang merasa janggal.
Akhirnya, aku mencoba mengungkapkan kebenaran itu terhadap teman ku yang sangat menyukai yui, yes she is fall in love with him. Tetapi hasilnya nihil, aku malah di jauhi oleh beberapa teman ku yang menyukainya, mereka membela nya sehingga membuatku terpojokkan saat itu.
Aku awalnya merasa hampa, karna jelas empati ku di permainkan oleh gadis dengan rekayasa nya. Entah mengapa aku percaya saat itu, mungkin karna aku berfikir bahwa bisa saja itu adalah sebuah fakta.
Tiba tiba, ada sebuah konflik yang meledak karna itu. Jelas aku sangat membenci gadis, jadi aku bukan di pihaknya ataupun pihaknetral. Ku tak tahu bagaimananya cara ia menghasut teman ku yang ada di pihaknya agar mereka membenci ku, namun yang jelas karna itu aku di jauhi. Sering kali mereka menggosipi ku di hadapan ku, dan aku sudah tak peduli dengan itu karna aku terlalu lelah tuk hadapi makian yang terus datang padaku. Konflik mereda, aku memilih tuk mengalah karna aku sudah muak dengan tangisan nya itu.
9 bulan pun berlalu, tiba tiba Nayra teman ku yang ada di pihak gadis menelfon ku, ia bilang bahwa ia sudah sadar dan bercerita tentang kebohongan apa saja yang gadis sudah sampaikan padanya. Aku terkejut, karna kebohongan itu seperti kebohongan anak kecil. Karna sangat terlihat jelas, dan anehnya kebohongan itu lah yang bisa membuatku di jauhi. Satu hal yang pasti, aku ingin sekali menamparnya, tapi aku ingat bahwa
"besi akan rusak dengan karatnya sendiri."
"Cerita ini tak bisa ku lanjutkan.. mungkin nanti kan ku jadikan novel"
Cerita ini ku tulis berdasarkan hal yang ku alami.Apabila ada kesalahan di penulisan ku, mohon maaf sebesarnya. Sekian dari ku semoga kalian menyukai cerpen ku ini.
- Senaa.