Pagi itu terasa lebih sepi dari biasanya.
Langit mendung.
Angin berhembus pelan, membawa suasana yang entah kenapa… membuat hati Raka terasa berat.
Ia membuka pintu rumah seperti biasa.
Namun langkahnya lebih lambat.
Seolah ada sesuatu yang ia rasakan… tanpa tahu apa.
“Rumah Belajar Arman” tetap berdiri.
Namun hari itu, belum ada anak-anak yang datang.
Raka masuk ke dalam.
Duduk di salah satu kursi kecil.
Menatap ruangan yang tiba-tiba terasa sangat sunyi.
Matanya perlahan berkeliling.
Meja.
Kursi.
Papan tulis.
Semuanya masih sama.
Namun hari itu… semuanya terasa berbeda.
Kenangan datang tanpa diminta.
Ia teringat ayahnya.
Duduk diam di teras.
Menunggu.
Selalu menunggu.
Dengan sabar.
Tanpa pernah mengeluh.
Raka menunduk.
Tangannya mengepal pelan.
“Ayah… aku dulu terlalu sibuk…”
Suaranya lirih.
Penyesalan itu datang lagi.
Namun kali ini… tidak menghancurkan.
Hanya mengingatkan.
Tiba-tiba, suara langkah kecil terdengar.
“Om Raka…”
Raka menoleh.
Seorang anak berdiri di pintu.
Sendirian.
“Yang lain belum datang ya?” tanya Raka.
Anak itu menggeleng.
“Om… aku boleh cerita?”
Raka tersenyum.
“Boleh.”
Anak itu duduk di depannya.
“Semalam… aku dimarahin Ayah…”
Raka terdiam.
Anak itu menunduk.
“Aku kesel… tapi sekarang aku kangen…”
Raka menarik napas pelan.
Hatinya langsung tersentuh.
Ia menatap anak itu dengan lembut.
“Kamu tahu nggak…”
Anak itu mengangkat kepala.
“Kadang… orang tua marah bukan karena benci.”
“Terus kenapa, Om?”
Raka tersenyum tipis.
“Karena mereka takut kehilangan kita.”
Anak itu terdiam.
Seolah berpikir.
“Aku harus gimana, Om?”
Raka menepuk pundaknya pelan.
“Pulang… dan peluk Ayah kamu.”
Anak itu mengangguk.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Iya, Om…”
Saat anak itu pergi, Raka masih duduk diam.
Hatinya terasa penuh.
Namun juga… perih.
“Ayah… aku dulu nggak sempat kayak gitu…”
Ia menutup wajahnya sebentar.
Menahan air mata.
Hari itu, anak-anak akhirnya datang.
Namun Raka tidak mengajar seperti biasa.
Ia mengajak mereka duduk melingkar.
“Hari ini kita nggak belajar pelajaran,” katanya.
“Terus belajar apa, Om?” tanya mereka.
Raka tersenyum kecil.
“Belajar menghargai.”
Ia mulai bercerita.
Tentang waktu.
Tentang kesempatan.
Tentang seseorang yang selalu ada… tapi sering diabaikan.
Anak-anak mendengarkan.
Dengan serius.
Tanpa bercanda.
“Kalau masih punya orang tua…” lanjut Raka pelan,
“jangan tunggu nanti buat bilang sayang.”
Suasana hening.
Beberapa anak menunduk.
Sore itu terasa lebih sunyi.
Namun juga lebih dalam.
Raka duduk di teras.
Seperti biasa.
Namun pikirannya penuh.
Ia melihat setiap sudut rumah.
Dan benar—
Di setiap sudut…
Ada ayahnya.
Di kursi itu.
Di pintu itu.
Di langkah yang dulu ia abaikan.
“Ayah…” ucapnya pelan.
“Aku sekarang ngerti semuanya.”
Angin berhembus lembut.
Seolah menjawab.
Malamnya, Raka membuka buku catatan.
Tangannya sedikit gemetar.
Ia menulis perlahan.
“Hari ini aku belajar…
bahwa waktu itu nggak bisa diulang.
Dan cinta… harus disampaikan sekarang,
bukan nanti.”
Ia menutup buku itu.
Menatap langit.
“Ayah… makasih ya… udah ngajarin aku, walaupun aku telat ngerti.”
Hari itu, Raka tidak hanya mengajar.
Ia juga diingatkan.
Bahwa kehilangan…
Akan selalu meninggalkan jejak.
Namun bukan untuk menyakiti.
Melainkan untuk menguatkan.
Dan kini…
Ia hidup dengan semua itu.
Dengan kenangan di setiap sudut.
Dan cinta… yang tak pernah benar-benar hilang