Hujan turun perlahan di sore itu, membasahi jalanan kota yang dipenuhi kenangan yang tak sepenuhnya bisa kuingat.
Namaku Alena.
Sejak kecil, aku selalu merasa… berbeda. Aku sering bermimpi tentang kehidupan yang bukan milikku—tentang istana tua, pedang berlumuran darah, dan seorang pria yang selalu memanggilku dengan nama yang bukan “Alena”.
“Lira…”
Nama itu terus menghantuiku.
Di kehidupan yang lain—yang kini mulai kembali dalam ingatanku—aku adalah seorang wanita bernama Lira. Seorang ksatria. Seorang pelindung kerajaan.
Aku bukan putri yang menunggu diselamatkan. Aku adalah pedang yang melindungi mereka.
Aku ingat bagaimana tanganku gemetar saat pertama kali mengangkat pedang. Dan bagaimana aku berjanji… tidak akan pernah lemah lagi.
Aku bertarung. Berkali-kali. Melawan musuh, melawan pengkhianatan… bahkan melawan takdir.
Namun di tengah semua itu, ada satu hal yang tidak pernah berubah.
Dia.
Seorang pria yang selalu tersenyum tenang meski dunia runtuh di sekitarnya.
“Selama aku masih hidup, aku akan melindungimu,” katanya waktu itu.
Dan aku menjawab, “Bodoh. Seharusnya aku yang melindungimu.”
Kami tertawa.
Namun takdir tidak seindah janji.
Aku mati di medan perang.
Darahku mengalir di tanah yang kucintai. Nafasku terhenti saat tanganku masih mencoba meraih dirinya.
Dan dia… menangis.
Itulah pertama kalinya aku melihatnya hancur.
“Apa kamu percaya reinkarnasi?”
Suara seorang pria membuyarkan lamunanku.
Aku tersadar. Aku kembali ke masa kini.
Seorang pria berdiri di depanku di halte bus, memegang payung hitam. Tatapannya… anehnya terasa familiar.
Aku mengerjap.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” jawabku hati-hati.
Dia tersenyum tipis.
“Karena aku merasa… aku sudah mencarimu sangat lama.”
Jantungku berdegup kencang.
Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang membuat dadaku sesak.
“Siapa namamu?” tanyaku.
“Ravian.”
Dunia seakan berhenti.
Nama itu.
Nama yang sama.
Nama pria yang dulu memanggilku “Lira”.
Sejak hari itu, semuanya berubah.
Kami sering bertemu. Awalnya kebetulan… lalu menjadi kebiasaan.
Kami berjalan bersama, berbagi cerita, tertawa… seolah sudah saling mengenal sejak lama.
Namun ada sesuatu yang tidak pernah kami ucapkan.
Kami berdua tahu—ini bukan pertemuan biasa.
Suatu malam, hujan kembali turun.
Kami berdiri di tempat yang sama seperti pertama kali bertemu.
“Ada sesuatu yang ingin aku katakan,” katanya.
Aku menatapnya, jantungku kembali berdebar.
“Aku sering bermimpi,” lanjutnya. “Tentang seorang wanita… yang selalu berdiri di garis depan. Yang tidak pernah mundur, bahkan saat semua orang menyerah.”
Aku menahan napas.
“Dia kuat. Sangat kuat. Tapi… dia selalu sendirian.”
Air mataku mulai menggenang.
“Dan di setiap mimpi itu,” suaranya melembut, “aku selalu terlambat menyelamatkannya.”
Hujan semakin deras.
Aku melangkah mendekat.
“Namanya… Lira, kan?” bisikku.
Dia terdiam.
Matanya melebar.
“Bagaimana kamu—”
Aku tersenyum, meski air mata jatuh.
“Karena aku adalah dia.”
Keheningan menyelimuti kami.
Namun bukan keheningan yang canggung—melainkan keheningan yang penuh makna.
Seolah dua jiwa yang telah lama terpisah… akhirnya menemukan jalan pulang.
“Aku gagal melindungimu waktu itu,” katanya pelan.
Aku menggeleng.
“Tidak. Kita hanya kalah oleh waktu.”
Aku menggenggam tangannya.
“Tapi sekarang kita punya kesempatan lagi.”
Dia menatapku dalam-dalam.
“Kalau begitu… izinkan aku tinggal di sisimu kali ini.”
Aku tersenyum.
“Tidak.”
Dia terkejut.
Aku mendekat, menatap matanya dengan tegas.
“Kali ini, kita saling melindungi.”
Hujan terus turun.
Namun untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan…
Aku tidak merasa sendirian.
Karena aku tahu,
di kehidupan mana pun,
aku akan selalu menemukan dia.
Dan kali ini—
kami tidak akan kalah lagi.