Langit sore itu berwarna jingga, seolah sedang melukis perpisahan yang indah. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah setelah hujan. Di halte kecil yang hampir sepi, Raka berdiri sambil menatap jalan, menunggu seseorang yang entah akan datang atau tidak.
Sudah hampir satu jam ia di sana.
“Kalau dia gak datang, ya udah… mungkin memang bukan hari ini,” gumamnya pelan.
Namun tepat saat ia hendak melangkah pergi, suara langkah kaki terdengar dari kejauhan. Raka menoleh, dan di sanalah dia—Alya. Rambutnya sedikit basah, mungkin karena sisa hujan tadi, dan napasnya tampak terengah seperti habis berlari.
“Maaf… aku telat,” kata Alya, mencoba tersenyum.
Raka terdiam sejenak. Semua rasa kesal yang tadi sempat muncul tiba-tiba hilang begitu saja.
“Gak apa-apa. Aku juga baru sampai,” jawabnya, walaupun jelas itu bohong.
Alya tertawa kecil. “Kamu masih sama ya… selalu gak mau bikin orang lain merasa bersalah.”
Mereka pun duduk berdampingan di bangku halte. Sejenak, tidak ada yang berbicara. Hanya suara kendaraan yang lewat dan tetesan air dari atap halte yang menemani.
“Aku bakal pindah minggu depan,” ucap Alya tiba-tiba.
Raka menoleh cepat. “Pindah? Ke mana?”
“Ke kota lain. Ikut orang tua,” jawabnya pelan.
Hening kembali menyelimuti mereka. Kali ini terasa lebih berat.
“Jadi… ini terakhir kita ketemu?” tanya Raka, suaranya hampir tak terdengar.
Alya mengangguk. “Mungkin… iya.”
Raka menunduk, menggenggam tangannya sendiri. Banyak hal yang ingin ia katakan, tapi semuanya terasa tertahan di tenggorokan.
“Alya,” akhirnya ia berkata, “sebenarnya aku—”
“Aku tahu,” potong Alya lembut.
Raka terdiam.
“Aku tahu kamu suka sama aku,” lanjut Alya, menatap lurus ke depan. “Dan… aku juga.”
Jantung Raka seakan berhenti sesaat.
“Tapi kenapa kita gak pernah bilang dari dulu?” tanya Raka.
Alya tersenyum tipis. “Karena kita sama-sama takut. Takut kalau semuanya berubah.”
Raka menghela napas panjang. “Dan sekarang semuanya tetap berubah…”
Alya menoleh, menatap Raka dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. “Tapi bukan berarti perasaan itu hilang, kan?”
Raka menggeleng pelan. “Gak akan pernah.”
Hujan mulai turun lagi, kali ini lebih deras. Namun mereka tetap duduk di sana, seakan tidak peduli dengan dunia di sekitar.
“Aku gak janji kita bakal selalu bisa komunikasi,” kata Alya. “Tapi aku janji… aku gak akan lupa kamu.”
Raka tersenyum, meskipun hatinya terasa berat. “Aku juga.”
Beberapa menit kemudian, bus yang ditunggu Alya akhirnya datang. Ia berdiri, ragu sejenak, lalu menatap Raka sekali lagi.
“Jaga diri ya.”
“Kamu juga.”
Alya naik ke dalam bus, lalu duduk di dekat jendela. Saat bus mulai bergerak, ia mengangkat tangannya dan tersenyum.
Raka membalas dengan senyum yang sama, meskipun matanya mulai terasa panas.
Bus itu perlahan menjauh, membawa Alya pergi bersama kenangan yang belum sempat menjadi cerita yang utuh.
Raka tetap berdiri di sana, di bawah hujan yang semakin deras.
Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa cinta tidak selalu tentang memiliki.
Kadang, cinta hanya tentang… mengikhlaskan.