Abella selalu percaya kalau Marcel adalah rumahnya.
Bukan karena Marcel pernah bilang apa-apa, tapi karena setiap kali Abella jatuh, Marcel selalu ada. Selalu jadi tempat pulang.
Dan mungkin… dari situlah semuanya jadi salah.
“Marcel…”
“Iya?”
“Kamu suka aku, kan?”
Marcel tersenyum santai. “Iya, tentu.”
Abella terdiam sebentar, lalu menarik napas kecil.
“Kalau gitu… kamu mau nikah sama aku?”
Hening.
Senyum Marcel perlahan hilang.
“Bella… maksud kamu apa?”
“Kamu bilang suka aku…” suara Abella pelan, tapi jelas gemetar.
“Bukannya itu berarti kamu juga cinta aku?”
Marcel menghela napas panjang, lalu menatapnya serius.
“Enggak, Bella. Itu beda.”
Abella langsung diam.
“Aku suka kamu… tapi bukan cinta.”
“Aku nganggep kamu kayak adik aku sendiri.”
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Sederhana… tapi cukup untuk bikin hati Abella retak.
“Tapi aku cinta kamu…”
Suara Abella makin pelan.
“Aku bisa lakuin apa aja… asal kamu mau nerima aku. Aku gak butuh siapa-siapa lagi… aku cuma mau kamu.”
Marcel menatapnya lama. Entah kenapa, ada rasa gak enak di dadanya. Tapi dia tetap memilih bicara—
“Kalau kamu mau buktiin…”
Abella langsung mengangkat kepala.
“Buat aku 99 sweater hitam.”
“…hah?”
“Sendirian, Di tempat gelap.”
“Kalau kamu bisa… aku bakal nikahin kamu.”
Abella membeku.
Dia gak bisa merajut.
Dia takut gelap.
Dia bahkan gak bisa sendirian terlalu lama.
Semua yang diminta Marcel… adalah hal yang paling dia takuti.
Tapi—
“Baik…”
suara Abella pelan, hampir gak terdengar.
“Aku bakal lakuin.”
Marcel sempat terdiam.
“Janji?” tanya Abella.
“…iya. Janji.”
---
Hari pertama, Abella gak bisa bikin apa-apa.
Benangnya kusut, tangannya kaku, jarumnya malah melukai jari sendiri.
Dia sempat nangis… lama.
Tapi dia gak berhenti.
Hari ketiga, dia mulai ngerti sedikit.
Walaupun hasilnya masih jelek, bolong, dan gak jelas bentuknya.
Dia tetap nyimpen semuanya.
Hari ketujuh…
dia masuk ke ruangan gelap itu.
Lampunya redup. Hampir mati.
Sunyi. Sepi. Menyeramkan.
Tangannya gemetar.
“Aku… bisa…” bisiknya pelan.
“Untuk Marcel…”
Hari demi hari berlalu.
Sweater mulai bertambah.
1…
5…
10…
20…
Tangannya penuh luka kecil.
Matanya sering bengkak karena kurang tidur.
Tubuhnya makin lemah.
Kadang dia berhenti, memeluk dirinya sendiri di tengah gelap.
“Aku harus kuat…”
“Aku mencintai nya…”
Dan dia lanjut lagi.
---
Sementara itu, Marcel…
Awalnya dia yakin Abella bakal nyerah.
Itu cuma cara biar Abella berhenti berharap.
Tapi satu minggu berlalu.
Dua minggu.
Satu bulan.
Abella gak pernah datang lagi
Gak ada suara cerewetnya
Gak ada senyumnya
Dan anehnya… Marcel mulai ngerasa kosong
“Harusnya dia udah nyerah…” gumamnya
Tapi kenapa malah dia yang kepikiran?
Akhirnya, Marcel nyari Abella
Dan saat pintu ruangan itu dibuka—
Langkahnya langsung berhenti
Abella duduk di lantai
Dikelilingi sweater hitam yang gak sempurna
Tangannya gemetar, masih pegang rajutan.
Di sampingnya… tersusun banyak sweater
“...Bella?”
Abella menoleh.
Dan dia masih sempat tersenyum
“Marcel… kamu datang…”
Suara itu lemah banget.
Marcel mendekat cepat.
Matanya gak bisa lepas dari Abella.
“Kenapa kamu jadi kayak gini…?”
“Aku… hampir selesai…”
Abella mengangkat sweater terakhir dengan susah payah.
“Ini… yang ke 99…”
Jarum rajutnya jatuh.
Tubuhnya ikut lemas.
“Bella!” Marcel langsung nangkep dia.
“Apa kamu gila?! Aku gak pernah serius sama itu!” suaranya panik.
Abella cuma tersenyum kecil.
“Tapi… aku serius…”
Hening sebentar.
“Mencintamu…”
Kalimat itu pelan… tapi cukup untuk bikin dada Marcel sesak.
Air matanya jatuh.
“Kenapa sih…?” suaranya pecah.
“Kenapa harus sejauh ini…?”
“Karena… kamu segalanya…”
mata Abella mulai tertutup.
“Aku takut… kehilangan kamu…”
“Enggak! Kamu gak bakal kehilangan aku!”
Marcel memeluknya erat.
“Aku di sini… aku gak ke mana-mana…”
Tapi Abella gak jawab.
“Bella…?”
Sunyi.
“Bella… bangun…”
Tetap gak ada jawaban.
Marcel mulai gemetar.
Dan di saat itu… dia sadar.
Perasaan yang dia tolak selama ini…
ternyata udah berubah jadi sesuatu yang lebih dalam.
Cinta.
Tapi—
Dia telat.
---
Di ruangan gelap itu,
99 sweater hitam tergeletak diam.
Menjadi bukti…
kalau cinta yang tulus bisa bertahan sampai akhir.
Tapi tidak selalu… mendapatkan balasan.
---
Tak semua yang diperjuangkan akan dimiliki.
Dan tak semua yang pergi… bisa kembali.
#baru bljr bikin cerpen 🙃