Malam itu hujan deras mengguyur indramayu, seolah langit ikut menangisi apa yang akan terjadi. aku, seorang fotografer freelance bernama rian, baru saja pindah ke rumah tua di pinggir sawah yang sudah lama ditinggalkan.
Pemilik sebelumnya bilang, “jangan buka pintu kamar belakang kalau kamu dengar suara anak kecil nyanyi.”
aku tertawa saat itu. bodoh.
pukul dua dini hari, listrik padam. hanya cahaya senter ponsel yang menyala redup. di tengah deru hujan, aku mendengarnya.suara anak perempuan kecil bernyanyi pelan di lorong gelap.
“carolina… carolina… main yuk… potong-potong boneka…”
suara itu manis, tapi ada nada basah, seperti mulut penuh cairan kental. aku bangkit, jantung berdegup kencang. langkahku pelan menuju lorong. bau anyir darah langsung menusuk hidung begitu aku mendekati kamar belakang yang pintunya sedikit terbuka.
Aku dorong pintu itu.
di tengah ruangan kosong, duduk seorang gadis kecil berumur sekitar delapan tahun. rambutnya panjang hitam basah menempel di wajah pucatnya. namanya carolina.
Aku tahu karena dia mengenakan baju tidur putih penuh noda merah tua yang sudah mengering. matanya hitam pekat, tanpa pupil, tapi bibirnya tersenyum lebar, terlalu lebar, hingga sudut mulutnya robek sampai ke pipi.
di pangkuannya ada sesuatu yang dulu mungkin boneka. sekarang itu adalah potongan-potongan daging manusia kecil. tangan mungil yang masih berdarah, kaki yang kulitnya dikupas rapi hingga otot merah terlihat berkilau, dan kepala bayi yang mataannya sudah dicungkil keluar. carolina memegang pisau daging berkarat dengan tangan kecilnya yang penuh luka sayatan.
“kakak… main yuk,” katanya dengan suara imut, tapi lidahnya terjulur keluar lidah yang terlalu panjang, seperti ular kecil yang basah. “carolina suka main potong. lihat, kakak… ini temen carolina yang dulu.”
dia angkat potongan kepala bayi itu ke arahku. dari lubang mata yang kosong, cairan kuning kental menetes pelan. aku mundur, tapi kaki terasa lengket. lantai penuh genangan darah segar yang entah dari mana datangnya.
Tiba-tiba carolina berdiri. tubuhnya kecil, tapi gerakannya cepat seperti serangga. dia lari ke arahku sambil tertawa cekikikan. pisau itu diayunkannya ke betisku. rasa sakit yang panas dan tajam langsung menyayat. aku jatuh berlutut, darahku menyembur keluar, bercampur dengan genangan di lantai.
“jangan lari… carolina kesepian…”
dia naik ke punggungku, tangan kecilnya yang dingin mencengkeram rambutku. aku merasakan pisau itu menggores pelan di punggungku, bukan untuk bunuh, tapi untuk mengupas. kulitku terkelupas seperti kulit buah, perlahan, dengan suara basah yang menjijikkan. rasa sakitnya bukan cuma fisik rasanya seperti jiwa ikut terkoyak.
aku berteriak, tapi suaraku tenggelam dalam tawa carolina yang semakin girang.
“kakak punya banyak daging… carolina bisa buat boneka baru… banyak boneka… semua bisa nyanyi bareng carolina…”
Dia memasukkan jari-jarinya ke luka di punggungku, mengaduk-aduk otot dan urat yang masih berdenyut. aku merasakan jari kecil itu meremas jantungku dari belakang, bukan secara harfiah, tapi setiap sentuhan membuat penglihatanku berkunang-kunang dan penuh bayangan anak-anak lain yang sudah “dipotong” sebelumnya. mereka berdiri di sudut ruangan, tubuh mereka terpotong-potong tapi masih bergerak, mata kosong menatapku dengan senyum robek yang sama.
carolina mencondongkan wajahnya ke telingaku. napasnya bau amis darah dan busuk daging busuk.
“rahasianya… carolina bukan anak kecil. carolina adalah rasa sakit yang suka bermain. setiap orang yang tinggal di sini… akhirnya jadi bagian dari koleksi carolina.”
pisau itu sekarang menusuk pelan ke perutku. bukan sekali, tapi berulang kali, pelan-pelan, seperti sedang mengiris daging untuk barbecue. ususku terasa bergeser, cairan hangat mengalir keluar. aku melihat tanganku sendiri jari-jari mulai bergetar tak terkendali.
dalam kegelapan yang semakin pekat, aku mendengar suara anak-anak lain ikut bernyanyi pelan.
“carolina… carolina… potong kakak… potong kakak… jadi boneka baru…”
Terakhir yang aku ingat adalah carolina mencium pipiku dengan bibir robeknya, lalu menggigit pelan cuping telingaku hingga robek. rasa asin darahku sendiri yang terakhir kurasakan.
Pagi harinya, tetangga menemukan rumah itu kosong. hanya ada genangan darah kering di lantai kamar belakang, dan di dinding, ditulis dengan darah yang masih basah.
“terima kasih sudah main sama carolina. besok giliran kamu yang nyanyi.”
kalau kamu dengar suara anak kecil bernyanyi di malam hujan… jangan jawab.
karena carolina selalu mencari teman baru untuk dipotong-potong.