Warna jingga yang tumpah di langit sore itu rasanya seperti sebuah pelukan yang tidak pernah sampai. Aku berdiri di tepi dermaga ini, menatap riak air yang perlahan menelan bayangan tiang-tiang kapal, persis seperti caramu perlahan menghilang dari hari-hariku. Ada sesak yang aneh saat melihat matahari pulang ke peraduannya; ia punya tempat untuk kembali, sementara aku masih saja betah menetap pada kenangan-kenangan usang yang seharusnya sudah ikut larut bersama pasang.
"𝘚𝘦𝘯𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘫𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘱𝘪𝘴𝘢𝘩𝘢𝘯,𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘬𝘦𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘬𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘯𝘺𝘢."
Setiap kapal yang tertambat di sini seolah sedang membicarakan tentang jeda dan perpisahan. Aku cemburu pada dermaga yang selalu setia menunggu, meski ia tahu bahwa setiap yang datang pasti akan kembali melaut. Sementara aku, aku belum juga mahir mengikhlaskan langkahmu yang kini kian menjauh menuju cakrawala yang tak lagi bisa kugapai. Jingga ini begitu indah, tapi ia juga pengingat yang kejam bahwa segala sesuatu yang bersinar terang pada akhirnya harus redup dan meninggalkan kita dalam gelap sendirian.
"𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘫𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘬𝘩𝘭𝘢𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘨𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮,𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘭𝘢𝘫𝘢𝘳 𝘪𝘬𝘩𝘭𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘭𝘦𝘱𝘢𝘴𝘮𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪,𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘦𝘯𝘨𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢."
Mungkin begitulah cara semesta menghukumku karena terlalu mencintai sesuatu yang fana. Aku hanya penonton di tepian waktu, menyaksikan kesibukan dunia yang tak peduli dengan patah hatiku yang sunyi. Biarlah sisa cahaya ini membawa pergi semua rasa yang tak sempat terucap, biar ia tenggelam bersama matahari di batas kota. Di sini, di antara bau laut dan angin yang dingin, aku mencoba berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua senja menjanjikan fajar yang sama bagi kita berdua.
"𝘗𝘦𝘳𝘱𝘪𝘴𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘫𝘢—𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳,𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘩𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘱𝘶𝘥𝘢𝘳."
📄 🖋️𝗦𝗼𝗿𝗲𝗺𝗮 𝗣𝘂𝘁𝗶𝗵
.. untuk sang kekasih 𝗝𝗶𝗻𝗴𝗴𝗮 𝗔𝗿𝘆𝗮 𝗗𝗮𝗻𝗮