Namaku Irfan. Aku seorang insinyur sipil yang baru saja pindah ke kota besar untuk proyek baru. Apartemenku sederhana namun nyaman, menghadap ke sebuah taman kota yang sering kumakani dari jendela. Di unit sebelah, tinggallah Dewi, istri seorang pengusaha tekstil yang selalu bepergian. Dewi adalah wanita yang lembut, dengan senyum yang hangat namun selalu tampak seperti menyembunyikan sesuatu. Aku sering melihatnya sendirian, merawat tanaman di balkon atau hanya duduk diam menatap jalan raya yang ramai.
Hubungan kami dimulai dari kejadian kecil. Suatu malam, aku pulang larut dan menemukan Dewi sedang menangis di koridor. Tas belanjaannya terbalik, barang-barangnya berserakan. Tanpa pikir panjang, aku membantunya membersihkan dan membawanya ke apartemenku untuk minum teh hangat.
Ia bercerita tentang suaminya yang sudah tiga bulan tidak pulang, tentang rasa kesepian yang menguras energi, tentang harapan yang perlahan sirna. Aku mendengarkan dengan penuh perhatian. Di dalam hatiku, aku merasakan rasa iba yang mendalam. Aku sendiri juga merindukan sentuhan cinta setelah lama hidup sendirian.
Sejak malam itu, kami mulai sering berinteraksi. Kadang ia datang membawa makanan yang dibuatnya, kadang aku membantunya memperbaiki barang-barang yang rusak. Perlahan, keakraban kami tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam. Aku melihatnya bukan hanya sebagai tetangga, tapi sebagai wanita yang membutuhkan cinta dan perhatian. Dan ia, ia tampaknya menemukan kedamaian dalam kehadiranku.
Suatu malam, ketika hujan deras mengguyur jendela, Dewi datang ke apartemenku dengan wajah yang pucat. Suaminya telah menelepon, mengatakan ia tidak akan pulang lagi dan telah memiliki keluarga baru di kota lain. Ia menangis di pelukanku, dan dalam keheningan malam yang hanya dipecahkan oleh suara hujan, kami menemukan pelarian satu sama lain.
Kami tidak membuat janji apa pun. Kami hanya hidup dalam momen-momen bersama, menemukan kehangatan dalam pelukan malam yang dingin. Namun, rasa bersalah mulai menghantui kami berdua. Dewi merasa telah mengkhianati pernikahannya, dan aku merasa telah menjadi bagian dari kehancuran itu.
Beberapa minggu kemudian, Dewi memutuskan untuk pergi. Ia akan kembali ke kampung halamannya, memulai hidup baru tanpa beban masa lalu. Saat ia pergi, ia memberikan aku sebuah bingkai foto kecil – gambar kami sedang tertawa di taman kota. Di baliknya tertulis: "Terima kasih telah menjadi bayangan yang menghangatkanku di malam yang dingin."
Aku tetap tinggal di apartemen itu. Setiap kali hujan turun, aku selalu mengingatnya. Aku belajar bahwa perselingkuhan bukanlah jalan keluar dari kesepian, melainkan sebuah luka yang akan selalu meninggalkan bekas. Namun, aku juga tahu bahwa cinta yang kita bagi, meskipun terlarang, telah memberikan kekuatan bagi Dewi untuk bangkit dan menemukan dirinya sendiri.