Dulu, aku percaya bahwa cinta adalah hak istimewa bagi mereka yang "berpunya". Berpunya wajah yang rupawan, berpunya harta yang cukup, atau setidaknya, berpunya kepercayaan diri yang tinggi. Sementara aku? Aku hanyalah Maudy. Gadis yang menghabiskan masa sekolah di pojok perpustakaan, merunduk agar tak terlihat, dan selalu merasa menjadi manusia paling cupu di antara keriuhan masa remaja.
Di saat teman-temanku bercerita tentang butterfly era—perasaan berdebar saat tangan tak sengaja bersentuhan dengan sang pujaan—aku hanya bisa menatap pantulan diriku di cermin kusam. Jelek dan miskin. Dua kata itu menjadi label yang aku sematkan sendiri di keningku. Aku yakin, tidak akan pernah ada laki-laki yang sudi menoleh, apalagi menetap.
Namun, hidup terkadang suka bercanda.
Di suatu hari yang cerah, hadirlah dia. Laki-laki pertama yang membuatku merasa "ada". Kami menjalin hubungan selama satu tahun. Bagiku, dia adalah keajaiban. Dia terlihat sangat mencintaiku, menjagaku, dan membuatku percaya bahwa kekurangan bukanlah penghalang. Tapi, keajaiban itu ternyata hanya fatamorgana.
Ia pergi. Bukan sekadar pergi, ia mengkhianatiku dengan wanita lain—wanita yang darinya aku belajar arti kata "sempurna". Cantik, kaya, dan segalanya yang tidak aku miliki. Ia memilih "lebih" daripada "setia".
"Ternyata benar," bisikku pada malam yang dingin setelah pengkhianatan itu. "Laki-laki sepertinya hanya singgah untuk kasihan, bukan untuk menetap."
Dua tahun aku terkurung dalam labirin masa lalu. Aku gagal melangkah. Sampai akhirnya, aku mulai mengagumi seseorang dalam diam. Entah bagaimana semesta bekerja, kami didekatkan. Kami mulai menjalin kasih. Aku pikir, inilah saatnya Tuhan mengganti luka lama. Namun, luka baru justru tergores lebih dalam.
Tanpa kata putus, tanpa alasan, ia menghilang. Ghosting sebelum istilah itu populer. Ia meninggalkanku menggantung dalam ketidakpastian yang menyiksa.
Saat itu, aku benar-benar menyerah. Umurku mulai matang, namun hatiku justru semakin kerontang. Aku menutup diri rapat-rapat. Pintu hatiku aku kunci, kuncinya aku buang ke dasar laut terdalam. Aku sudah putus asa.
"Ya Allah," doaku dalam sujud yang basah oleh air mata. "Aku tidak butuh pangeran. Aku hanya butuh suami yang baik, yang menjadikanku ratu di rumahnya sendiri, yang mencintaiku apa adanya tanpa menuntut aku menjadi orang lain. Jika memang ada, hadirkanlah."
Di tengah keputusasaan itu, sebuah notifikasi muncul di kotak masuk Facebook-ku. Sebuah nama asing. Aku bukan tipe wanita yang mudah merespons orang baru, apalagi yang kenal lewat dunia maya. Namun, pria ini berbeda. Ia gigih namun tetap sopan.
Ternyata, ia sudah memerhatikanku sejak lama. Ia menjadi pengagum rahasia di balik layar monitor, menanti momen yang tepat untuk menyapa. Butuh waktu lama bagiku untuk sekadar membalas "Halo". Ketakutan akan disakiti lagi membuatku menjadi wanita yang dingin. Namun, ia tidak menyerah. Ia tidak memintaku menjadi cantik atau kaya. Ia hanya memintaku untuk "memberinya kesempatan".
Perlahan, benteng pertahananku runtuh. Kesabarannya, ketulusannya, dan cara dia menghargai pemikiranku membuatku luluh. Singkat cerita, ia melamarku. Ia membawaku ke pelaminan, membuktikan bahwa doa yang kupanjatkan dalam sunyi akhirnya menembus langit.
Hari pernikahan kami adalah hari yang paling mengharukan. Aku berdiri mengenakan gaun putih, merasa seperti wanita paling beruntung di dunia. Pria ini benar-benar meratukanku. Ia memandangku seolah-olah aku adalah permata paling berharga, meskipun aku tahu aku penuh dengan kekurangan.
Namun, kejutan terbesar justru datang saat resepsi.
Seorang tamu undangan melangkah mendekat untuk menyalami kami. Jantungku seakan berhenti berdetak saat melihat wajah itu. Dia adalah mantanku—pria yang dulu menghilang tanpa kata putus. Ia berdiri di sana, tampak kaku dan pucat melihatku berdiri di atas pelaminan.
Aku menoleh ke arah suamiku, bingung.
"Mas, kamu kenal dia?" tanyaku pelan.
Suamiku tersenyum tenang, lalu merangkul pundakku dengan posesif. "Tentu saja, Sayang. Dia sepupuku. Aku sudah lama ingin mengenalkanmu secara resmi, tapi aku tidak tahu kalau kalian ternyata saling mengenal sebelumnya."
Dunia terasa berputar. Gong dari perjalanan cintaku ini ternyata begitu luar biasa. Tuhan mempertemukanku dengan suamiku, pria yang jauh lebih baik, yang ternyata adalah bagian dari keluarga pria yang dulu menyakitiku. Pria yang dulu meninggalkanku tanpa kabar itu kini hanya bisa menunduk, menyaksikan betapa bahagianya aku di tangan pria yang lebih hebat darinya.
Kini, kehidupan kami berjalan dengan indah. Di rahimku, insya Allah akan hadir anak kedua kami. Tidak pernah terbayangkan oleh Maudy yang dulu merasa "jelek dan miskin", kini bisa hidup dalam limpahan kasih sayang yang begitu tulus.
Aku belajar satu hal: Jangan pernah menyerah pada doa. Suamiku adalah jawaban dari setiap tetes air mata dan rasa minderku di masa lalu. Ia tidak hanya memberiku cinta, tapi juga harga diri.
Untuk kalian yang masih menanti, yang merasa tidak layak dicintai, atau yang sedang terluka karena dikhianati; percayalah, Tuhan sedang menyiapkan skenario terbaik. Terkadang, Ia harus menjauhkanmu dari orang yang salah dengan cara yang menyakitkan, agar kau bisa menghargai orang yang benar saat ia datang nanti.
Doakan kami agar selalu bersama selamanya, demi anak-anak kami. Dan untukmu yang membaca ini, semoga Tuhan segera menghadirkan pendamping yang meratukanmu, mencintaimu, dan menerimamu seutuhnya.
Sebab, setiap wanita layak menjadi ratu di hati pria yang tepat.
TAMAT