Pagi itu Raka Pradana benar-benar sedang sial.
Alarm ponselnya mati, kakaknya lebih dulu membawa motor, dan gerbang sekolah hampir ditutup saat ia baru sampai.
Dengan napas tersengal, ia berlari melewati koridor menuju kelas XI-B sambil merapikan dasi yang miring.
“Aman… guru belum masuk,” gumamnya lega saat melihat kelas masih ramai.
Tanpa pikir panjang, ia langsung menjatuhkan diri ke kursi kosong dekat jendela. Kursi itu terasa nyaman, angin pagi masuk pelan dari luar, membuat rasa paniknya sedikit mereda.
Namun beberapa detik kemudian suasana kelas tiba-tiba hening.
Raka mengangkat kepala.
Di depannya berdiri Alya Sasmita, ketua kelas XI-B yang terkenal cuek dan terlalu serius. Rambut hitam panjangnya terikat rapi, seragamnya sempurna, dan tatapannya setenang langit pagi.
“Itu tempatku,” katanya datar.
Raka menoleh ke meja dan mendapati gantungan kunci kucing putih kecil tergeletak di sana.
Jantungnya serasa turun ke lantai.
Karena gugup, mulutnya malah bergerak lebih cepat daripada pikirannya.
“Kalau begitu aku pindah hati aja sekalian.”
Satu kelas langsung meledak tertawa.
Raka sendiri membeku, menyesali kalimat yang baru saja keluar. Ia buru-buru pindah ke kursinya sendiri sambil menutup wajah dengan buku.
Dari arah depan kelas, Alya tetap duduk tenang. Hanya saja, Raka sempat melihat ujung telinga gadis itu memerah.
Hari itu, untuk pertama kalinya, ia merasa hidup sekolahnya tidak akan lagi biasa.
Sejak kejadian memalukan itu, entah kenapa Alya jadi sering melibatkan Raka dalam urusan kelas.
Mulai dari menyusun jadwal piket, membawa buku ke ruang guru, sampai membantu menghias kelas untuk festival sekolah.
“Kenapa harus aku terus?” keluh Raka suatu sore saat mereka menyusun arsip di ruang kelas yang sepi.
Alya menutup map lalu menjawab singkat, “Karena kamu paling sering bikin masalah.”
“Itu fitnah yang terdengar masuk akal,” gumam Raka.
Alya tidak menjawab, tapi sudut bibirnya tampak bergerak sedikit, seperti menahan senyum.
Hari-hari sepulang sekolah yang awalnya terasa seperti hukuman perlahan berubah menjadi waktu favorit Raka. Ia mulai melihat sisi lain Alya.
Gadis itu memang dingin pada semua orang, tapi diam-diam selalu perhatian.
Saat jari Raka tergores kertas, Alya tiba-tiba menyodorkan plester dari tasnya.
Saat ia lupa membawa pulpen, Alya meletakkan pulpen cadangan di mejanya tanpa banyak bicara.
Dan saat Raka mengeluh lapar saat lembur dekor festival, Alya diam-diam menyisihkan roti dari bekalnya.
“Jangan salah paham,” katanya datar saat Raka menatapnya heran. “Aku cuma tidak mau partner kerjaku pingsan.”
Raka hanya bisa tertawa kecil.
Semakin lama, semakin sulit baginya menganggap Alya sekadar ketua kelas yang menakutkan.
Puncaknya terjadi saat festival sekolah.
Kelas mereka membuka kafe bertema retro, dan Raka yang ceroboh salah mengenakan kostum pelayan yang seharusnya untuk siswi perempuan.
Begitu keluar dari ruang ganti dengan celemek renda dan pita kecil di kepala, satu kelas langsung heboh.
“RAKA COCOK JADI MBAK-MBAK KAFE!”
“Jangan-jangan pelanggan malah nambah!”
Raka menutupi wajahnya, sementara Alya yang berdiri di dekat kasir menatapnya beberapa detik.
Lalu, untuk pertama kalinya, gadis itu tertawa kecil.
Tawa yang singkat, lembut, dan sangat berbeda dari ekspresi datarnya sehari-hari.
Raka terpaku.
Bukan karena kostumnya yang memalukan, tapi karena untuk pertama kalinya ia melihat Alya tersenyum setulus itu.
Saat itulah ia sadar.
Ia menyukai gadis itu.
Beberapa hari setelah festival, Raka tanpa sengaja melihat Alya pulang bersama seorang siswa laki-laki dari OSIS.
Mereka terlihat cukup akrab.
Sejak saat itu Raka jadi menjaga jarak.
Ia mendadak malas bercanda, tidak lagi menunggu Alya sepulang sekolah, bahkan sengaja pulang lebih dulu.
Alya yang biasanya tenang akhirnya menghentikannya di kelas saat senja.
“Kenapa kamu menghindar?” tanyanya langsung.
Raka menatap jendela, lalu menghela napas.
“Cowok OSIS itu… pacarmu, ya?”
Untuk pertama kalinya Alya terlihat benar-benar terkejut.
Lalu ia tertawa kecil, membuat Raka makin salah tingkah.
“Dia sepupuku.”
Raka merasa ingin membenturkan kepala ke meja.
“Oh.”
“Hanya itu?”
Raka menatap Alya yang kini berdiri lebih dekat.
Pipinya memanas.
“Aku kira… aku nggak punya kesempatan.”
Alya terdiam sesaat, lalu menatapnya lurus.
“Memangnya kamu mau punya kesempatan?”
Ruangan terasa mendadak sunyi.
Jantung Raka berdetak jauh lebih cepat daripada biasanya.
Akhirnya, dengan suara pelan dan gugup, ia berkata jujur.
“Aku suka sama kamu.”
Alya tidak langsung menjawab.
Ia hanya memandang Raka beberapa detik yang terasa seperti selamanya.
Lalu gadis itu mengalihkan wajah, menyembunyikan pipi yang mulai merah.
“Kalau aku tidak suka, mana mungkin aku repot-repot mengurus siswa paling ceroboh di kelas?”
Raka berkedip.
Butuh beberapa detik sebelum otaknya memproses maksud kalimat itu.
“Jadi… kita?”
Alya menatapnya lagi, kali ini dengan senyum kecil yang lembut.
“Kita pacaran. Tapi jangan berharap aku akan berhenti menegurmu kalau telat.”
Raka tertawa lega.
“Siap, Bu Ketua Kelas.”
Alya memukul lengannya pelan, masih dengan pipi merona.
Di luar jendela, cahaya senja masuk ke ruang kelas yang hampir kosong.
Dan di tempat yang dulu menjadi awal rasa malunya karena salah duduk, kini justru menjadi awal kisah cinta mereka.
Bangku yang salah, ternyata membawa hati yang tepat.
Tamat.