Aku dulu adalah seorang penulis yang sangat ambisius. Aku ingin menjadi terkenal, ingin memiliki ribuan penggemar yang mengidolaku. Aku menulis dan menulis, tapi semakin aku menulis, semakin aku merasa kosong.
Aku memiliki semua yang aku inginkan: ketenaran, uang, dan popularitas. Tapi, aku merasa tidak bahagia. Aku merasa seperti aku sedang berjalan di atas panggung, tapi tidak ada yang benar-benar mengenal aku.
Hari itu, aku sedang berada di puncak ketenaran. Aku memiliki ribuan penggemar yang mengidolaku, tapi aku merasa seperti aku sedang kehilangan diri aku sendiri.
Tiba-tiba, aku mendengar suara yang lembut, "Apa yang kamu kejar, wahai hamba?" Aku tahu itu adalah suara Allah, yang maha kuasa.
Aku menjawab, "Aku ingin ketenaran, Tuhan. Aku ingin diakui dan diapresiasi."
Suara itu menjawab, "Ketenaran tidak akan membawa kamu ke kebahagiaan. Apa yang kamu kejar, kamu akan kehilangan diri kamu sendiri."
Aku merasa tersentak. Aku sadar bahwa aku telah salah. Aku telah mengejar ketenaran, bukan karena aku ingin berbagi kebaikan, tapi karena aku ingin diakui.
Aku memutuskan untuk berubah. Aku menghapus akun media sosialku, aku berhenti menulis untuk ketenaran. Aku mulai menulis untuk diri aku sendiri, untuk Allah, dan untuk kebenaran.
Dan, aku merasa damai. Aku merasa bebas. Ketenaran tidak lagi berarti apa-apa bagiku. Keimanan adalah yang terpenting 😊.