------------------------------
## 𝘽𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 1: 𝙉𝙚𝙧𝙖𝙠𝙖 𝙙𝙞 𝙇𝙤𝙧𝙤𝙣𝙜 𝙎𝙚𝙠𝙤𝙡𝙖𝙝 (10 𝙏𝙖𝙝𝙪𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙇𝙖𝙡𝙪)
Tahun itu, Jena adalah siswi kelas 12 yang hanya ingin lulus dengan tenang. Namun, bagi Tarra, Jena hanyalah sebuah "properti" untuk menunjukkan kekuasaannya. Tarra, dengan segala kemewahan dan pengaruh orang tuanya, menjadikan Jena target kebencian tanpa alasan yang jelas.
Puncaknya terjadi di gudang belakang sekolah. Tarra dan komplotannya menjebak Jena. Tidak hanya makian, hari itu Tarra melakukan tindakan yang melampaui batas kemanusiaan. Dengan gunting di tangan, ia memotong paksa rambut Jena hingga pitak, dan yang paling kejam, ia menggunakan besi panas dari alat catokan untuk meninggalkan bekas luka bakar permanen di punggung tangan Jena.
"Ini supaya kamu ingat siapa ratu di sini, Jena," bisik Tarra dingin sambil menatap Jena yang mengerang kesakitan di lantai.
Trauma itu menghancurkan mental Jena. Ia mengalami gangguan kecemasan parah dan ketakutan setiap kali melihat seragam sekolah. Jena memutuskan berhenti sekolah. Tanpa ijazah SMA, hidupnya luntang-lantung. Ia menjadi buruh cuci, penjaga toko kelontong, hingga pemulung demi menyambung hidup bersama ibunya yang sakit-sakitan. Setiap malam, Jena menatap bekas luka di tangannya—sebuah pengingat akan janji yang ia buat:𝙎𝙪𝙖𝙩𝙪 𝙝𝙖𝙧𝙞, 𝙏𝙖𝙧𝙧𝙖 𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙧𝙖𝙨𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙝𝙞𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙗𝙚𝙨𝙖𝙧.
## 𝘽𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 2: 𝙏𝙧𝙖𝙣𝙨𝙛𝙤𝙧𝙢𝙖𝙨𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙆𝙚𝙗𝙖𝙣𝙜𝙠𝙞𝙩𝙖𝙣
Sepuluh tahun berlalu. Keberuntungan mulai berpihak pada Jena saat ia bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah seorang pengusaha perhiasan tua yang kesepian. Karena kecerdasan dan kejujurannya, Jena dididik menjadi tangan kanan sang pengusaha. Setelah sang pengusaha wafat, ia mewariskan sebagian besar asetnya kepada Jena.
Jena tidak lagi menggunakan nama lamanya. Ia kini dikenal sebagai Jennifer, seorang investor misterius yang baru saja kembali dari luar negeri. Wajahnya telah berubah melalui prosedur kosmetik minor untuk menyembunyikan identitasnya, namun satu hal yang tidak pernah ia hapus: bekas luka bakar di punggung tangannya. Ia menutupinya dengan sarung tangan sutra atau jam tangan mewah.
## 𝘽𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 3: 𝙈𝙚𝙣𝙮𝙪𝙨𝙪𝙣 𝙅𝙖𝙧𝙞𝙣𝙜 𝙇𝙖𝙗𝙖-𝙇𝙖𝙗𝙖
Jena mulai menyelidiki kehidupan Tarra. Ternyata, Tarra menikah dengan Aditya, seorang arsitek ambisius yang sedang berjuang membangun firma sendiri. Tarra hidup dalam kemewahan palsu; ia sangat bergantung pada citra sosial dan posisi suaminya. Mimpi terbesar Tarra adalah menjadi sosialita nomor satu di kota itu dan memiliki butik fashion ternama.
Jena mulai bergerak.
Pertama, ia masuk ke kehidupan Aditya sebagai investor utama untuk proyek terbesar firma suaminya. Dengan pesona dan kecerdasannya, Jena perlahan-lahan membuat Aditya kagum dan bergantung padanya secara profesional.
Kedua, ia menyewa orang untuk merusak reputasi butik yang baru saja dirintis Tarra. Jena membeli bangunan di samping butik Tarra dan membuka toko serupa dengan harga yang jauh lebih murah dan kualitas lebih tinggi, membuat bisnis Tarra perlahan bangkrut.
## 𝘽𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 4: 𝙆𝙚𝙝𝙖𝙣𝙘𝙪𝙧𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙎𝙞𝙨𝙩𝙚𝙢𝙖𝙩𝙞𝙨
Saat Tarra sedang dalam titik terendah karena bisnisnya hancur, ia mencari pelarian pada alkohol dan pergaulan bebas. Jena memanfaatkan ini. Ia mengirimkan foto-foto "rekayasa" (dan beberapa yang asli) tentang perselingkuhan Tarra kepada Aditya. Di saat yang sama, Jena menunjukkan perhatian lebih kepada Aditya, membuatnya merasa bahwa Tarra adalah beban dalam hidupnya.
Puncaknya terjadi pada sebuah pesta amal mewah. Jena mengundang Tarra dan Aditya. Di sana, Jena secara anonim membocorkan dokumen keuangan ilegal yang dilakukan Tarra untuk menutupi kerugian bisnisnya. Polisi datang ke acara tersebut.
Tarra yang panik mencoba meminta pertolongan suaminya, namun Aditya justru menyodorkan surat cerai. "Aku sudah tahu semuanya, Tarra. Kamu tidak hanya menghancurkan karirku, tapi juga martabatku," ujar Aditya dingin.
## 𝘽𝙖𝙜𝙞𝙖𝙣 5: 𝙋𝙚𝙣𝙪𝙩𝙪𝙥: 𝙎𝙞𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙈𝙚𝙣𝙖𝙣𝙜?
Di ruang interogasi, sebelum Tarra dibawa ke sel, Jena meminta waktu lima menit untuk berbicara secara pribadi. Jena masuk tanpa kacamata hitamnya. Ia melepas sarung tangan sutranya, memperlihatkan bekas luka bakar yang sudah memudar namun tetap jelas.
Tarra terbelalak. "J-Jena?"
Jena tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak mencapai matanya. "Sepuluh tahun lalu, kamu bilang luka ini supaya aku ingat siapa ratunya. Sekarang, aku datang untuk mengambil kembali mahkotamu, rumahmu, suamimu, dan mimpimu."
"Kenapa kamu harus sejauh ini?" tangis Tarra pecah.
"Karena trauma fisik bisa sembuh, Tarra. Tapi trauma mental yang kamu tanamkan membuatku harus mati berkali-kali untuk bisa hidup kembali seperti ini. Sekarang, giliranmu untuk mati perlahan di dalam sana."
Jena berjalan keluar dari kantor polisi. Ia melihat ke langit, menarik napas panjang. Balas dendamnya selesai. Namun, saat ia menatap bekas luka di tangannya, ia sadar bahwa meskipun Tarra sudah hancur, waktu 10 tahun yang hilang tidak akan pernah kembali. Ia kini kaya raya, tapi ia harus belajar bagaimana cara menjadi "Jena" yang bahagia lagi, bukan sekadar "Jennifer" yang penuh amarah.
------------------------------