Udara sore itu terasa menggigit, namun Reyana Febri —atau yang lebih akrab disapa Re—tetap setia dengan jaket hoodie abu-abu dan topi putihnya. Sebagai seorang atlet lari, biasanya ia hanya peduli pada detak jantungnya sendiri dan garis finis. Namun sore ini, langkahnya tertahan di depan kafe sudut kota yang berpendar hangat.
"Masih di sini, Re?"
Suara itu berat namun familiar. Leon Harry, atau Ary, muncul dari balik pintu kaca dengan kamera yang melingkar di lehernya. Ary adalah seorang blogger yang menghabiskan waktunya menangkap momen, sementara Re menghabiskan waktunya mengejar waktu.
"Aku cuma... merasa perlu berhenti sebentar," jawab Re lirih, matanya menatap aspal jalanan yang mulai gelap.
Ary mendekat, menyandarkan tubuhnya pada pilar bangunan.
"Kamu selalu lari, Re. Kadang aku merasa kalau aku nggak benar-benar mengejarmu, kamu bakal hilang dari jangkauan lensaku."
Re menoleh sedikit, menyembunyikan sebagian wajahnya di balik kerah jaket. Tema pembicaraan ini selalu sama: harapan untuk tetap tinggal. Re punya mimpi di lintasan lari internasional, sementara dunia Ary ada di sini, di setiap sudut kota yang ia tuliskan dalam blognya.
"Ary, aku nggak bisa selamanya di sini. Kamu tahu itu," bisik Re.
Ary tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat hati Re mencelos. Ia mengangkat kameranya, membidik Re yang sedang menatap kosong ke arah jalan. Klik.
"Aku tahu. Tapi sore ini, bisakah kita anggap waktu berhenti? Berharap kalau kaki kamu nggak perlu melangkah lebih jauh dari tempat kita berdiri sekarang?"
Re terdiam. Ada keinginan besar untuk mengiyakan, untuk melepaskan segala ambisinya dan hanya menjadi 'Re' yang duduk minum kopi bersama Ary. Ia ingin tetap di sini, di zona nyaman yang diciptakan Ary.
Lampu jalan mulai menyala satu per satu. Re mengencangkan tali topinya, lalu menatap Ary dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ary, kalau aku tetap di sini..."
"Kalau kamu tetap di sini, aku akan berhenti memotret dunia dan cukup memotretmu," potong Ary cepat.
Sebuah notifikasi masuk ke ponsel Re. Jadwal latihan intensif di luar kota untuk bulan depan. Re menatap ponselnya, lalu menatap Ary yang masih menunggu jawaban dengan penuh harap di balik lensa kameranya.
Re menarik napas panjang, melangkah satu langkah maju, lalu tiba-tiba berhenti lagi. Ia menoleh ke arah Ary yang masih mematung.
"Ary, aku..."
Kalimat itu terputus saat angin kencang bertiup, menelan sisa kata-kata Re. Di antara keramaian kota yang mulai bangkit, keduanya hanya saling tatap, berdiri di garis tipis antara keinginan untuk pergi dan harapan untuk tetap tinggal.