Semua bermula dari sebuah kampus tua di Jawa, berpuluh tahun lalu. Ayah, cowok desa yang terbiasa hidup "satu telur dibagi tujuh nyawa", jatuh cinta pada Ibu, cewek kota yang dididik dengan aturan besi dan kedisiplinan tinggi. Mereka menikah dengan membawa mimpi besar, tanpa menyadari kalau watak yang bertabrakan itu bakal jadi badai buat keenam anak mereka.
Sekarang, di rumah itu, napas setiap orang terasa seperti beban.
Reiyssya (13) turun dari bus asrama dengan langkah berat. Di pelukannya, ada tabung gambar berisi piagam juara satu lomba lukis tingkat provinsi. Dia sudah membayangkan senyum Ibu, atau setidaknya kata "hebat" yang keluar dari bibir Ayah.
Tapi begitu pintu terbuka, aroma tumisan cabai dan suara bising langsung menyambar.
"Bu, Rei pulang," sapa Reiyssya pelan, mencoba mencari mata Ibunya.
Ibu bahkan tidak menoleh dari penggorengan. "Oh, sudah sampai? Itu tas langsung bawa masuk, jangan berantakan di ubin. Ibu sudah capek beberes seharian, jangan bikin kerjaan baru."
Senyum Reiyssya luntur seketika. Piagam di tangannya mendadak terasa seperti sampah tak berguna. Belum sempat dia melangkah, si Kembar (11) lari berkejaran dan menabrak tabung gambarnya sampai terjatuh.
"Hati-hati dong, Dek!" seru Reiyssya refleks.
"Ih, Kak Rei galak banget! Orang nggak sengaja juga!" sahut si Kembar sambil meletin lidah, lalu lari ke depan saat mendengar suara motor Ayah.
Makan malam selalu jadi momen paling canggung. Abang (22) cuma nunduk, fokus ke piring seolah dunianya cuma ada di sana. Mas nomor dua (19) duduk dengan muka ditekuk; dia pendiam, tapi sumbunya pendek banget kalau diganggu. Sedangkan Mas nomor tiga (16) asyik main HP, bahkan nasi pun harus diambilkan Ibu karena dia benar-benar tidak mandiri.
"Yah, tadi Rei juara satu lomba lukis di sekolah," Reiyssya mencoba memecah keheningan.
Ayah tersenyum tipis, tapi tangannya sibuk menyuapi si Kembar yang bergelayut di lengannya. "Pintar anak Ayah. Nanti ya, kalau Ayah ada lemburan, kita beli cat baru. Tapi sekarang ngalah dulu sama Adek, mereka mau beli sepatu roda baru buat ekskul Senin besok."
Reiyssya terdiam. Dia tahu Ayah susah. Dia tahu Ibu pusing mikir cicilan. Tapi kenapa "mengerti keadaan" selalu jadi tugas wajibnya, sementara si Kembar boleh meminta apa saja?
Puncaknya terjadi saat si Kembar masuk ke kamar Reiyssya tanpa izin dan mematahkan pensil warna hijau kesayangannya. Pas Reiyssya menegur, si Kembar langsung akting menangis kencang seolah sedang disiksa.
"REIYSSYA! Apa lagi sih?!" Ibu datang membawa centong, suaranya melengking menyindir. "Sudah SMP kok kelakuannya kayak preman. Kasihan Bapakmu cari uang, kamunya cuma bisa bikin ribut!"
"Tapi Bu, mereka yang patahin pensil Rei! Ini pensil kenangan dari Ayah!" suara Reiyssya mulai bergetar.
Ayah masuk dengan wajah lelah yang langsung berubah kecewa. "Cuma pensil, Rei. Jangan egois. Kasihan Adekmu sampai gemetaran nangisnya. Minta maaf sekarang."
Mendengar kata "egois" dan "minta maaf", bendungan di hati Reiyssya pecah. Piagam di atas meja dia lempar ke lantai sampai bunyinya memekakkan telinga.
"EGOIS YANG MANA LAGI, YAH?!" teriak Reiyssya. Air matanya tumpah deras. "Rei yang selalu diam! Rei yang nggak pernah minta apa-apa karena tahu kita nggak punya uang! Tapi kenapa setiap ada masalah, Rei selalu dianggap monster di rumah ini?"
Meja makan mendadak senyap. Abang berhenti mengunyah. Mas nomor dua berdiri mematung.
"Ibu cuma bisa nyindir Rei! Ayah cuma bisa belain Adek karena mereka manja! Abang cuma kayak patung, Mas cuma bisa marah-marah!" Reiyssya sesenggukan, dadanya naik turun karena sesak. "Rei capek disuruh ngertiin semua orang, tapi nggak ada satu pun dari kalian yang mau ngertiin Rei! Rei juga mau dimanja, Yah! Rei juga pengen dibelain, Bu!"
Reiyssya lari ke kamar, membanting pintu, dan menguncinya rapat-rapat.
Malam itu, pintu kamar Reiyssya diketuk pelan. Pas dibuka, Abang berdiri di sana. Dia tidak pandai bicara, hanya menyodorkan uang dua puluh ribu lecek ke tangan Reiyssya.
"Buat jajan di asrama. Maafin Abang ya, Rei... Abang emang penakut buat belain kamu," bisiknya lalu pergi.
Tak lama, Mas nomor dua lewat. Dia tidak masuk, cuma berhenti di depan pintu. "Tadi aku sudah umpetin sepatu roda si Kembar di atas plafon. Biar mereka tahu rasa. Sudah, nggak usah nangis, besok aku yang antar ke terminal."
Dan terakhir, Mas nomor tiga yang biasanya tidak peduli apa-apa, tiba-tiba masuk dan menaruh sebatang cokelat di bantal Reiyssya. "Tadi dapet nemu di kulkas. Makan aja biar nggak pusing."
Reiyssya melihat uang lecek, cokelat, dan mendengar rencana balas dendam kakaknya. Dia sadar, mereka semua sama-sama sakit. Mereka semua sayang, tapi rumah ini tidak pernah mengajarkan cara bilang "aku peduli" tanpa rasa gengsi atau amarah.
Besok pagi, Reiyssya kembali ke asrama. Saat menyalami tangan Ayah dan Ibu, dia tidak bicara banyak. Dia cuma ingin cepat-cepat duduk di bus, menjauh dari rumah yang penuh orang tapi rasanya sangat sepi itu.