Dulu, sebelum aku mengenalnya, aku baru saja kehilangan seseorang yang pernah kuanggap rumah. Hampir dua tahun kami bersama, tapi semuanya runtuh begitu saja karena sebuah pengkhianatan. Sejak itu, aku memilih pergi tanpa menoleh lagi. Tidak ada pesan, tidak ada kabar—benar-benar selesai.
Luka itu tidak sederhana. Ia diam, tapi dalam.
Dan jujur saja, aku lelah.
Di suatu malam yang sunyi, aku berdoa. Kepada Tuhan, dan juga kepada Bunda Maria, aku memohon sesuatu yang mungkin terdengar aneh:
“Kalau memang bukan waktunya, tolong tutup saja hatiku rapat-rapat. Aku tidak ingin merasakan hal yang sama lagi.”
Saat itu, hidupku hanya tentang satu hal: skripsi.
Aku menenggelamkan diri dalam kesibukan, berharap waktu bisa menyembuhkan apa yang tak mampu kujelaskan.
Sampai suatu hari, di sela-sela lelahku, aku membuka TikTok.
Seperti biasa, hanya scroll tanpa tujuan. Tapi entah kenapa, aku berhenti di satu video—tentang grup doa rosario.
Aku tertarik.
Tanpa banyak pikir, aku bergabung.
Di dalam grup itu, ada syarat sederhana untuk anggota baru: mengisi nama, paroki, dan keuskupan.
Aku pun mulai menulis.
Namun, tepat di saat yang sama, ada seseorang yang juga melakukan hal yang sama.
Nama kami muncul hampir bersamaan.
Dan anehnya… aku kesal.
“Ih, kenapa dia duluan sih?” batinku, entah kenapa ikut terganggu hal sepele seperti itu.
Bad mood, aku pun berhenti. Tidak jadi melanjutkan.
Beberapa waktu berLlalu.
Sampai akhirnya, muncul satu pesan masuk di ponselku.
“Hai.”
Singkat. Sederhana.
Dari orang yang bahkan belum kukenal.
“Orang mana?” lanjutnya.
Dari sapaan kecil itu, sesuatu mulai bergerak pelan.
Kami mulai berbicara. Awalnya biasa saja—sekadar tanya jawab, basa-basi, tanpa arti.
Tapi waktu punya caranya sendiri.
Hari demi hari, percakapan itu menjadi lebih panjang.
Lebih hangat.
Lebih… berarti.
Tanpa kusadari, aku mulai membuka hati yang dulu kupinta untuk ditutup rapat-rapat.
Namun, tidak semua cerita berjalan mulus.
Suatu hari, kesalahan itu terjadi.
Kesalahan yang sebenarnya sederhana, tapi cukup untuk melukai.
Aku kembali berkomunikasi dengan masa lalu—dengan seseorang yang seharusnya sudah benar-benar selesai. Bukan karena perasaan itu kembali, tapi karena ada hal yang belum benar-benar kututup dengan baik.
Sayangnya, dia tahu.
Dan sejak saat itu, ada yang berubah.
Sapaan yang dulu hangat, kini terasa dingin.
Pesan-pesannya singkat.
Perhatiannya tak lagi sama.
Aku tahu, aku yang salah.
Rasanya seperti kembali ke titik di mana aku takut kehilangan lagi. Tapi kali ini berbeda—aku tidak ingin lari. Aku tidak ingin menghindar.
Aku memilih untuk tetap tinggal.
Dengan hati yang penuh penyesalan, aku mencoba meminta maaf. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Aku menjelaskan, aku meyakinkan, dan yang terpenting… aku berusaha memperbaiki.
Tidak mudah.
Ada jarak yang terasa.
Ada diam yang menyakitkan.
Ada ragu yang tak langsung hilang.
Tapi aku tidak menyerah.
Perlahan, aku belajar menjadi lebih jujur. Lebih terbuka. Lebih menjaga apa yang sudah Tuhan berikan.
Dan waktu… sekali lagi menunjukkan caranya.
Sedikit demi sedikit, sikapnya mulai berubah.
Dingin itu tidak lagi sedingin sebelumnya.
Perhatiannya mulai kembali, meski pelan-pelan.
Sampai akhirnya, aku tahu—
dia mulai luluh.
Di tengah hubungan kami yang perlahan kembali hangat, ada satu hal lagi yang tak pernah kuduga.
Suatu hari, kami saling bercerita lebih dalam—tentang keluarga, tentang asal-usul, tentang marga. Hal yang sebelumnya terasa biasa saja, tiba-tiba menjadi sesuatu yang mengejutkan.
“Tunggu… mamaku boru Silaen,” katanya.
Aku terdiam.
“Serius?” tanyaku, memastikan.
“Iya… kenapa?”
Aku tersenyum, masih sedikit tidak percaya.
“Karena aku juga boru Silaen.”
Hening sejenak, lalu kami sama-sama tertawa kecil.
Ternyata, di balik pertemuan yang terasa kebetulan ini, ada garis yang sudah terhubung sejak lama.
Dalam adat kami, itu berarti kami marpariban.
Ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan.
Seolah-olah, bukan hanya hati kami yang dipertemukan, tapi juga cerita keluarga yang sudah ada jauh sebelum kami saling mengenal.
Dari sekadar “hai” yang sederhana,
dari doa yang kupanjatkan dengan air mata,
dari luka yang pernah hampir membuatku menutup diri sepenuhnya—
semua perlahan terangkai menjadi sesuatu yang utuh.
Di titik itu aku sadar,
cinta bukan tentang tidak pernah salah,
tapi tentang mau tetap bertahan dan memperjuangkan setelah kesalahan itu terjadi.
Dan mungkin…
pertemuan ini bukan kebetulan.
Karena di antara jutaan kemungkinan,
aku dipertemukan dengannya—
seseorang yang bukan hanya hadir sebagai pasangan,
tapi juga sebagai bagian dari cerita yang terasa begitu dekat… bahkan sejak awal.
Dan lagi-lagi…
doaku dulu ternyata tidak pernah salah alamat.