Sampul yang terlihat sempurna tak selalu menyampaikan isi yang sebenarnya. Ini tentang perjuangan dalam menjaga kekuatan di dalam, sementara dunia hanya melihat apa yang ada di luar.
Di tepi jembatan, senja membeku dalam bingkai
Seperti sampul album yang tersusun rapi dan abadi
Jubah cokelat membalut sunyi yang tak usai
Menyimpan rahasia di balik citra yang terpuji
Gelas putih digenggam, menyesap pahitnya kopi
Pandangan lurus menantang arus yang kian menderu
Indah di mata, namun siapa tahu isi hati yang sepi
Ada melodi luka yang sengaja dikunci rapat membiru
Ia berdiri tegak saat angin mencoba meruntuhkan
Tak membiarkan retak terlihat di permukaan kaca
Sebab dunia hanya peduli pada apa yang ditampilkan
Bukan pada lelahnya jiwa yang terus berjuang membaca
~~~~
Joe—begitu rekan bisnisnya memanggil—menutup pintu mobil BMW-nya dengan dentuman yang solid. Di bawah lampu lobi kantor yang benderang, ia adalah perwujudan sempurna dari kesuksesan: setelan blazer cokelat tanpa cela, langkah kaki yang mantap dengan high heels lima inci, dan sorot mata yang tak pernah ragu.
Malam itu, setelah memenangkan tender besar yang melelahkan, Joe tidak langsung pulang. Ia berhenti di sebuah jembatan tua di pinggiran kota, tempat di mana hiruk pikuk Tianjin hanya terdengar seperti dengung rendah.
Ia menyandarkan siku di pagar besi, menggenggam segelas kopi hitam yang sudah mendingin. Di bawah sana, arus sungai mengalir deras dan gelap, kontras dengan pantulan lampu kota yang cantik di permukaannya.
"Kerja bagus, Joe," bisiknya pada diri sendiri.
Suaranya parau. Di balik jubah cokelatnya yang elegan, bahunya sebenarnya merosot lelah. Hanya di tempat sepi inilah ia berani melepas topeng 'wanita besi'. Pikirannya melayang pada cicilan yang menumpuk, ekspektasi keluarga yang menekan, dan rasa kesepian yang seringkali datang tepat saat ia berada di puncak prestasi.
Dunia mengenalnya sebagai Joe yang ambisius dan tak terkalahkan. Mereka melihat sampulnya yang berkilau, namun tak pernah tahu bahwa di dalam sana, Joe sedang berjuang menjahit kembali retakan-retakan kecil di hatinya agar tidak hancur saat matahari terbit besok pagi.
Ia menyesap kopi pahitnya, menarik napas panjang, lalu memperbaiki tatanan rambutnya. Saat ia kembali ke mobil, Joewita Tabitha Sutedjo sudah kembali menjadi 'sampul' yang sempurna.