"Diantara Langkah Kita" berlatar belakang anak SMA, dengan genre romantis komedi, dan saya akan membaginya menjadi 7 part.
Ceritanya akan memiliki nuansa ringan, manis, dan menghibur, seperti tipikal cerita remaja sekolah.
Part 1: Pertemuan Tak Terduga
Di lorong kelas yang ramai, Raka Pratama—siswa kelas XI IPA 2—berlari terburu-buru sambil memegang buku catatan yang hampir terjatuh. Hari itu ada kuis mendadak dari Pak Dimas, guru matematika yang terkenal killer.
Saat berbelok, Raka menabrak seseorang dengan cukup keras. Bruk!
“Auuh!” seru seorang siswi yang jatuh sambil memegang lututnya.
Raka segera mengulurkan tangan.
“Maaf! Aku nggak lihat jalan,” katanya tergesa.
Gadis itu mendongak, menatap dengan wajah sedikit kesal. Nayla Safira, siswi kelas XI IPS 1 yang terkenal kalem dan hobi fotografi.
“Lain kali hati-hati, Mas Raka. Ini bukan arena balap.”
Raka hanya bisa cengengesan, “Eh, kamu tahu namaku?”
Nayla memutar bola mata, “Ya semua anak sekolah ini tahu kamu—si ketua OSIS yang sok sibuk itu.”
Dari situlah, langkah pertama mereka dimulai.
Part 2: Tugas Bersama
Beberapa hari kemudian, guru BK memberi pengumuman: “Untuk acara pentas seni bulan depan, panitia akan dibagi berdua. Ketua OSIS dengan koordinator dokumentasi.”
Semua mata tertuju pada Raka dan… Nayla.
“Aku dokumentasi?!” Nayla memprotes pelan.
“Iya, kamu kan jago foto. Raka bisa urus teknisnya,” jawab guru.
Pertemuan itu berubah menjadi momen canggung tapi lucu. Raka terlalu serius membuat jadwal, sedangkan Nayla sibuk memotret wajah Raka yang panik.
“Eh, hapus fotonya!” seru Raka, mencoba merebut kamera Nayla.
Nayla tertawa kecil, “Nggak bisa. Ini bukti ketua OSIS bisa grogi juga.”
Dari situ, mereka mulai sering berinteraksi—meski sering berujung debat kecil.
Part 3: Kejutan di Hujan
Sore itu, hujan turun deras. Raka menunggu di halte depan sekolah, tapi payungnya tertinggal.
Tiba-tiba, Nayla datang sambil membawa payung biru.
“Eh, kamu belum pulang?” tanyanya.
“Payung ketinggalan…” jawab Raka.
“Ya udah, bareng aku aja. Tapi jangan injek sepatu aku ya.” Nayla mengangkat alisnya.
Mereka berjalan berdampingan di bawah satu payung. Raka merasa canggung, tangannya hampir menyentuh bahu Nayla.
“Eh, kenapa diem?” tanya Nayla.
“Enggak… cuma jarang aja jalan bareng cewek.”
Nayla tersenyum kecil, “Sering-sering aja biar nggak canggung.”
Hujan itu menjadi awal keakraban mereka.
Part 4: Salah Paham
Suatu hari, Raka terlihat bersama Vina, teman sekelas yang sudah lama suka padanya. Nayla yang kebetulan lewat hanya bisa menatap dari jauh.
Vina tersenyum manis, menepuk bahu Raka. “Makasih ya, udah bantuin aku.”
Malamnya, Nayla jarang membalas chat tentang persiapan pensi.
Raka curiga lalu menelpon.
“Kamu marah?”
“Enggak. Lagi sibuk,” jawab Nayla singkat.
Padahal di balik itu, ada perasaan yang ia sendiri nggak ngerti—cemburu.
Raka yang sadar akhirnya menyusul Nayla ke rumahnya, membawa minuman hangat dan kamera pinjaman yang pernah Nayla impikan.
“Maaf kalau tadi bikin salah paham. Aku cuma bantu Vina buat tugas, nggak ada apa-apa kok,” kata Raka.
Nayla pura-pura biasa saja, tapi pipinya memerah.
Part 5: Hari Pentas Seni
Hari H tiba. Aula sekolah penuh siswa. Raka sibuk di belakang panggung, sementara Nayla memotret setiap momen.
Saat acara hampir selesai, Nayla menemukan Raka duduk lelah di pojokan.
“Kamu capek banget ya?” tanyanya.
Raka hanya mengangguk, lalu Nayla menyodorkan sebotol air dan senyum manis.
“Thanks, partner,” kata Raka, menatap matanya lebih lama dari biasanya.
Seketika ada keheningan yang aneh—dan jantung keduanya berdetak lebih cepat.
Part 6: Pengakuan Aneh
Seminggu setelah pensi, Raka dan Nayla jalan ke taman kota untuk mengambil foto mural sebagai dokumentasi OSIS.
Saat duduk di bangku taman, Raka tiba-tiba berkata,
“Nay… aku nggak tahu cara ngomongnya, tapi aku suka kamu. Dari pertama kita jalan bareng, rasanya beda.”
Nayla terdiam beberapa detik, lalu pura-pura fokus ke kameranya.
“Kamu serius? Jangan bercanda, ya.”
Raka menggaruk kepala, “Serius. Tapi… kalau kamu nggak nyaman, aku bisa pura-pura nggak ngomong apa-apa.”
Nayla tersenyum kecil, “Dasar aneh… siapa bilang aku nggak nyaman?”
Raka menatapnya bingung, dan Nayla menyambung,
“Aku juga suka kamu, Rak.”
Part 7: Diantara Langkah Kita
Sejak itu, mereka resmi pacaran—meski sering berantem soal hal-hal sepele, seperti angle foto atau siapa yang harus datang lebih cepat ke rapat OSIS.
Namun, setiap kali mereka berjalan bersama ke sekolah, langkah kaki mereka seirama.
Raka menggenggam tangan Nayla di depan gerbang sekolah.
“Sekarang nggak cuma OSIS yang kita urus, ya. Tapi juga langkah kita berdua.”
Nayla tersenyum, “Iya, tapi jangan sampai injek sepatuku lagi.”
Mereka tertawa bersama, melangkah masuk ke sekolah dengan perasaan baru yang hangat.