Setelah kehilangan suami di malam pertama, Nayla kembali menelan pil pahit. Paman memaksanya menikah lagi dengan lelaki asing dari kota. Antara cinta, kesedihan, dan harapan, akankah dia menemukan kebahagiaan?
Ternyata di KUA itu telah hadir calon lelaki halalnya beserta Ummi juga Abah. Seketika, Nayla menyalami punggung tangan calon mertuanya seraya tersenyum di balik cadar hitamnya.
Acara nikah pun segera dimulai. Di tempat yang sudah di sediakan buat akad nikah. Adam dan Abah sudah siap. Di depan mereka ada meja kecil untuk penyerahan. Di sisi lain, duduk para petugas KUA dan juga Mamang sebagai wali nikah Nayla.
Sedangkan Nayla duduk di samping Umminya Fahri. Penghulu pun memberikan wejangan dan nasihat. Setelah itu, acara dimulai.
"Bismillahirrahmanirrahim ... saudara Adam Faturrahman Bin Rahmat aku NIKAHKAN engkau dengan anak kakak saya yang bernama Nayla Fatimah Az-Zahra Binti Sholehuddin dengan EMAS seberat 5 gram dan seperangkat alat shalat dibayar tunai."
"SAYA TERIMA NIKAHNYA Nayla Fatimah Az-Zahra BINTI Sholehuddin dengan mas kawin TERSEBUT, dibayar TUNAI."
"Bagaimana saksi? SAH?"
"SAH"
"Alhamdulillah," ucap Ummi dengan lirih seraya mengelus pucuk kepala Nayla.
Adam kemudian memasangkan kalung di leher Nayla. Lebih tepatnya di luar hijab yang dikenannya. Kemudian, Adam meniupkan doa ke ubun-ubun dan mencium kening wanita halalnya itu.
Nayla menc ium tangan kokoh Adam dengan tangan yang sedikit bergetar. Wanita itu berharap, dialah satu-satunya lelaki yang mengisi relung jiwanya. Mengisi hari-harinya hingga ajal menjemputnya.
Nayla bersama Adam menanda tangani surat nikah. Setelah semuanya selesai, seluruh keluarga langsung meninggalkan KUA.
"Dek Nay, langsung pulang ke rumah Ummi ya?" pinta Adam seraya menoleh ke arah Nayla dengan wajah yang sedikit menahan senyum. Sehingga tingkah lelaki itu membuat Nayla menunduk malu.
"I---iya, Bang Adam," jawab Nayla. Ia benar-benar gugup dengan jantung yang bertalu-talu hebat di dalam sana.
"Dam, Mamang minta uang, buat bayar sewa motor." Suara Mamang mampu mengagetkan pengantin baru itu.
Nayla yang berdiri di samping Adam langsung menunduk. Namun kali ini, ia menyembunyikan wajahnya karena malu oleh tingkah Mamangnya itu. Jaja.
"Oh iya, Mang," jawab Adam seraya menyodorkan satu lembar uang berwarna merah. Seketika, Mang Jaja berlalu pergi meninggalkan kedunya dengan motor sewaannya tanpa mengucapkan terima kasih.
"Eeeh ... Bang Adam, Nay, belum bawa baju buat ganti. Buat di rumah Abang," jelas Nayla sedikit menoleh wajah kalem Adam.
"Enggak apa-apa, Dek Nay. Di rumah, sudah Abang siapkan pakaian baru buat Adek. Mudah-mudahan Adek suka, ya?" Lelaki itu tersenyum menatap wajah cantik wanita halalnya yang masih tertutup rapat oleh cadar.
Nayla hanya mampu mengangguk seraya menunduk.
"Dek, hayu naik? Kita pulang ke rumah Ummi, ya?" tanya Adam. Dengan seketika menggenggam lengan putih Nayla.
"I--iya, Bang." Nayla berusaha berjalan dengan hati yang menghangat.
Adam langsung menyalakan mesin motornya dan segera melaju dengan kecepatan rendah.
"Dek, pegangan atuh?" pinta Adam di tengah-tengah perjalanan.
"I--iya, Bang Adam."
Namun, tangan Nayla enggan memegang pinggang kokoh lelaki halalnya itu. Sehingga---
Kkiiiiiiit ....
Seketika, tangan Nayla memeluk pinggang kokoh Adam. Wajahnya sedikit menempel di punggung lelaki pekerja keras itu.
"Astaghfirullahal'adziim!" Nayla berucap dengan kaget. Jantungnya tak terkendali.
"Maafkan Abang, Dek Nay. Abang sengaja rem mendadak. Soalnya, Adek disuruh pegangan tapi, malah enggak mau," ucap Adam dengan lirih, bahkan nyaris tak terdengar diiringi senyum tipisnya.
Tak berapa lama, sepasang pengantin itu telah sampai di halaman rumah tembok dengan gaya minimalis. Seketika, Nayla turun dari motor yang disusul oleh Adam.
"Hayu, Dek. Masuuuk," ucap Adam menyambut kedatangan wanita halalnya itu dengan senyum bahagianya.
Lagi-lagi Nayla mengangguk pelan. Tiba-tiba tangan kokoh itu menggenggam erat tangannya. Nayla berjalan dengan jantung yang berdegup kencang. Lalu, ia duduk di kursi bersebelahan dengan Adam.
"Dam, ajak Nayla ke kamar. Jangan di kursi, kasihan," ucap Ummi Ida.
Seketika, anak lelaki satu-satunya itu sedikit salah tingkah.
"Enggak apa-apa Ummi, di sini saja dulu," ucap Nayla berusaha mencairkan suasana.
"H---hayuk, Dek Nay?" ajak Adam dengan terbata.
"I--iya." Nayla membuat lengkungan di ujung bibirnya.
Nayla langsung mengekori langkah Adam. Kamar Adam kini telah resmi menjadi kamarnya juga. Dengan bed yang di baluti dengan seprai dan selimut indah yang di sampingnya di tempati lemari baju yang terbuat dari kayu.
"Dek, Abang mau mandi dulu. Sebentar lagi sudah masuk waktunya shalat ashar," pamit Adam seraya mengambil handuk yang ia kaitkan di belakang pintu kamarnya.
"Iya, Bang."
Tubuh Adam mulai tak terlihat oleh pintu yang mulai tertutup. Sementara Nayla, ia hanya duduk di atas bed. Canggung sekali rasanya, bila ia sekamar dengan seorang lelaki.
Kini, Adam sudah resmi menjadi suaminya. Adam sosok lelaki bertubuh tinggi dengan tubuhnya yang kokoh. Memiliki warna kulit sawo matang, beralis tebal, dan rambut yang sedikit mengembang.
***
Kreek!
Seketika, Adam menghampiri Nayla dengan hanya memakai handuk yang melilit di bagian pinggangnya saja. Sehingga membuat Nayla menutup mata.
"Dek, buka matanya?" pinta Adam.
Dengan perlahan mata Nayla terbuka.
"Ini ... handuknya, mandi dulu. Kalau enggak mandi, nanti badannya bau," katanya terkikik. Tangan kokohnya itu menyodorkan handuk berwarna merah jambu untuk Nayla kenakan.
Nayla menunduk malu, menyembunyikan wajahnya yang memerah itu.