Layar ponsel yang menyala di tengah kegelapan kamar adalah satu-satunya jembatan bagi Elara. Di Jakarta, jam menunjukkan pukul 22.00, sementara di London, Aris baru saja menyelesaikan makan siangnya.
"Sudah ngantuk?" suara Aris terdengar sedikit pecah karena koneksi internet yang tidak stabil, namun tetap hangat di telinga Elara.
"Sedikit. Tapi aku mau dengar cerita hari ini dulu," jawab Elara sambil memeluk bantalnya erat.
Awal Perjalanan
Hubungan LDR (Long Distance Relationship) ini dimulai dua tahun lalu, tepat saat Aris mendapatkan beasiswa riset di Inggris. Mereka tidak memulai dengan janji-janji manis yang muluk, melainkan dengan sebuah kesepakatan sederhana: kejujuran adalah oksigen mereka.
Tahun pertama adalah yang terberat. Ada rasa cemburu yang tak beralasan saat melihat unggahan foto teman masing-masing, atau rasa sesak saat salah satu dari mereka jatuh sakit namun hanya bisa memberikan semangat melalui voice note.
Ujian di Balik Layar
Pernah suatu ketika, mereka tidak berbicara selama tiga hari karena kesalahpahaman kecil tentang jadwal video call. Elara merasa tidak diprioritaskan, sementara Aris sedang bergelut dengan tenggat waktu tesis yang mencekik.
"LDR bukan tentang siapa yang paling kuat menahan rindu, tapi tentang siapa yang paling mampu menurunkan ego saat layar ponsel terasa begitu dingin."
Aris yang pertama kali mengalah. Ia mengirimkan sebuah paket kejutan berisi sweter abu-abu miliknya yang masih beraroma parfumnya, lengkap dengan surat tulisan tangan: "Jarak ini hanya angka, El. Aku sedang menabung hari untuk pulang."
Pertemuan yang Dinanti
Dua belas bulan berlalu dalam siklus panggilan video dan hitung mundur kalender. Hingga akhirnya, pagi itu di Bandara Soekarno-Hatta, Elara berdiri dengan perasaan campur aduk.
Saat sosok pria dengan jaket navy dan koper besar muncul dari pintu kedatangan, waktu seolah melambat. Tidak ada lagi keterlambatan sinyal (lag), tidak ada lagi layar kaca yang menghalangi. Aris berlari kecil dan memeluk Elara begitu erat, seolah ingin memastikan bahwa sosok di depannya bukanlah sekadar proyeksi pixel.
"Aku pulang," bisik Aris di sela rambut Elara.
Elara tersenyum, air matanya jatuh tapi kali ini terasa hangat. Ternyata, perjalanan ribuan kilometer itu tidak pernah terasa jauh jika tujuannya adalah seseorang yang dianggap sebagai 'rumah'.
Jarak memang memisahkan raga, tapi ia juga yang membuktikan bahwa cinta mereka bukan sekadar kebiasaan, melainkan sebuah pilihan yang sadar setiap harinya.