Asap tipis naik perlahan dari tungku tanah di sebuah kampung kecil di Papua Selatan. Bau sagu bakar menguar, hangat dan akrab—seperti kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi.
Di tempat itu, sagu bukan sekadar makanan.
Ia adalah hidup.
Ia adalah tubuh.
Dan bagi sebagian orang tua… sagu juga adalah ingatannya sendiri.
---
1. Kembali ke Tanah Asal
Yefta tidak pernah benar-benar ingin kembali.
Sejak kecil, ia dibesarkan di Merauke. Sekolah di kota. Hidup di antara jalan aspal dan bangunan beton. Baginya, kampung hanyalah cerita dari ibunya—tentang hutan sagu, rawa, dan tradisi yang terasa semakin jauh.
Namun ketika ibunya meninggal, satu pesan ditinggalkan:
“Pulang… dan bakar sagu untuk saya.”
Itu saja.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada alasan.
Yefta mencoba mengabaikannya.
Tapi setiap malam setelah pemakaman—
ia mencium bau sagu bakar.
Padahal tidak ada siapa-siapa yang memasak.
---
2. Tungku yang Tidak Dingin
Akhirnya, Yefta kembali.
Kampung itu sunyi, seolah waktu berjalan lebih lambat di sana. Rumah panggung tua milik keluarganya masih berdiri, namun kosong. Hanya satu hal yang terasa… tidak berubah—
tungku tanah di belakang rumah.
Abu di dalamnya… masih hangat.
Padahal rumah itu sudah lama ditinggalkan.
Yefta menelan ludah.
Ia menyentuh abu itu.
Dan seketika—
sebuah suara muncul.
Pelan.
Dekat.
“Belum selesai…”
Yefta menarik tangannya cepat.
Menoleh ke belakang.
Tidak ada siapa-siapa.
---
3. Sagu yang Harus Dibakar
Keesokan harinya, seorang mama tua datang.
Wajahnya penuh garis usia, matanya dalam, seperti menyimpan banyak hal yang tidak pernah diceritakan.
“Kamu anaknya Maria?” tanyanya.
Yefta mengangguk.
Mama itu menatap tungku.
“Sudah bakar sagu?”
“Belum.”
Mama itu menghela napas panjang.
“Itu harus dilakukan.”
“Kenapa?”
Mama itu menatapnya lama.
“Karena tidak semua yang mati… sudah selesai.”
---
4. Proses yang Dilupakan
Dengan bantuan mama tua itu, Yefta mulai menyiapkan sagu.
Ia diajarkan kembali cara memeras batang sagu, mengendapkan patinya, dan membentuknya menjadi adonan.
Namun ada satu hal yang terasa berbeda—
Setiap kali tangannya menyentuh sagu basah, ia merasakan sesuatu.
Dingin.
Seperti menyentuh kulit.
Dan sesekali—
ia mendengar bisikan.
“…ingat…”
“…ingat…”
Yefta mulai gelisah.
“Tante… kenapa saya dengar suara?”
Mama tua itu tidak langsung menjawab.
Ia hanya berkata pelan:
“Karena kamu bukan baru di sini.”
---
5. Mimpi yang Terbakar
Malam itu, Yefta bermimpi.
Ia bukan dirinya.
Ia seorang lelaki tua.
Duduk di depan tungku.
Membakar sagu.
Asap mengepul.
Namun wajahnya… penuh ketakutan.
Di belakangnya—
orang-orang berteriak.
Hutan terbakar.
Api menjalar.
Dan suara—
“Kenapa kamu bakar tanpa izin?!”
Namun lelaki itu tidak menjawab.
Ia terus membakar.
Terus.
Sampai api itu tidak lagi hanya di tungku—
tapi di seluruh hutan.
---
6. Dosa yang Kembali
Yefta terbangun dengan napas berat.
Tangannya panas.
Saat ia melihat—
kulitnya memerah.
Seperti terbakar.
Padahal tidak ada api.
Di luar, tungku menyala sendiri.
Api kecil… namun hidup.
Seolah menunggu.
---
7. Kebenaran yang Disembunyikan
Mama tua itu datang lagi.
Kali ini, ia tidak menyembunyikan apa-apa.
“Kamu dulu orang itu,” katanya.
Yefta membeku.
“Apa maksudnya?”
“Kamu yang bakar sagu… tanpa adat.”
“Itu cuma masak—”
“Bukan!” suara mama itu meninggi. “Sagu itu hidup! Tidak bisa diambil dan dibakar sembarangan!”
Sunyi.
“Waktu itu,” lanjutnya pelan, “kamu bakar tanpa izin. Kamu ambil terlalu banyak. Kamu tidak dengar peringatan.”
Yefta menatap tangannya.
“Dan kebakaran itu…”
Mama tua itu mengangguk.
“Kamu mulai.”
---
8. Yang Belum Selesai
“Kenapa saya kembali?” tanya Yefta lirih.
Mama tua itu menatap tungku.
“Karena kamu belum minta maaf.”
“Dan kalau tidak?”
Mama itu menatapnya tajam.
“Api tidak pernah lupa jalan pulang.”
---
9. Sagu Bakar Terakhir
Malam itu, Yefta berdiri di depan tungku.
Sagu sudah siap.
Api menyala.
Namun kali ini, ia tidak langsung membakar.
Ia menunduk.
Tangannya gemetar.
Lalu berbisik:
“Saya minta izin…”
Angin berhenti.
Hutan diam.
Api di tungku… mengecil.
Yefta melanjutkan:
“Saya minta maaf…”
Api kembali hidup.
Namun tidak liar.
Tenang.
Hangat.
Ia mulai membakar sagu perlahan.
Tidak terburu.
Tidak serakah.
---
10. Yang Kembali
Saat sagu matang, sesuatu terjadi.
Asap yang naik… berubah.
Membentuk bayangan.
Wajah-wajah.
Orang-orang.
Dan satu sosok di tengah—
lelaki tua dari mimpinya.
Dirinya sendiri.
Namun lebih tua.
Lebih lelah.
Sosok itu menatapnya.
Lalu mengangguk pelan.
Api di tungku meredup.
Dan untuk pertama kalinya—
tidak ada bau terbakar.
Hanya… aroma sagu yang hangat.
---
Penutup
Pagi itu, kampung terasa berbeda.
Lebih tenang.
Lebih ringan.
Yefta duduk di depan tungku, memegang sagu bakar yang sudah matang.
Ia tahu—
ini bukan sekadar makanan.
Ini adalah penebusan.
Di tanah Papua Selatan, tidak semua kesalahan bisa dilupakan.
Sebagian… harus dijalani kembali.
Melalui hidup yang baru.
Melalui api yang sama.
Dan melalui satu hal yang sederhana—
meminta izin… sebelum mengambil dari alam.
Karena jika tidak—
api itu tidak akan hanya membakar sagu.
Ia akan membakar ingatan.
Dan memanggilnya kembali…
hingga semuanya selesai.